
Tanpa sadar Trisyel tertidur cukup lama hingga waktu sudah menjelang pukul 8 malam, entah efek obat atau mungkin gadis itu memang kelelahan karena beberapa hari ini ia tidak cukup tidur
Saat bangun ia melihat Prince yang duduk di sofa sambil memainkan laptop. Trisyel beranjak dan berjalan mendekat tanpa di ketahui cowo itu Trisyel duduk dan memeluk lengan cowo itu erat. Tentu saja hal itu membuat Prince kaget, tangan kirinya mengelus rambut Trisyel "Kenapa hm?"
Trisyel mendongak "Maafin gue" Satu kalimat yang membuat Prince mengernyit bingung
"Buat?" Tanya Prince
"Gue udah ngerepotin lo semua, dan gue juga udah bikin lo semua khawatir sama gue"
Prince tersenyum "Kita gak ngerasa di repotin kok, kita semua di sini sayang sama lo"
Mata Trisyel berkaca kaca "Thanks ya" Ucapnya bergetar
"Syuuttt, gue gak pengen lo nangis terus" Trisyel mengangguk
_____
Trisyel turun dengan di temani oleh Prince. Keadaan gadis itu sudah lebih baik, ia juga sudah mandi dan merasa sedikit lega sekarang
Saat di tangga terakhir Trisyel berlari ke arah Fanyya dan Aurin, memeluk kedua sahabatnya itu dengan erat
"Syel" Ucap Fanyya kaget karena di peluk tiba tiba
"Kenapa lo lari sih, kalau lo jatoh gimana?" Khawatir Aurin
Trisyel melepaskan pelukkannya dan beralih menggenggam tangan kedua sahabatnya itu dengan seulas senyum di bibirnya "Gue cuman pengen minta maaf sama kalian semua karena udah ngerepotin kalian dan bikin kalian khawatir"
"Hus, lo ngomong apaan sih!" Ucap Aurin
"Enggak syel, kita gak ngerasa di repotin sama sekali" Ucap Fanyya menimpali
Trisyel beralih menatap Felix, Bara, dan Jeje yang berdiri tak jauh dari mereka. Ketiga cowo itu mengangguk sambil tersenyum padanya
"Thanks ya kalian semua udah selalu suport gue, selalu ada buat gue, bahkan gak pernah ninggalin gue saat keadaan gue lagi berantakan kayak gini. Kalian emang sahabat yang terbaik, gue beruntung punya kalian. thank you so much" Ucapnya lirih
Fanyya dan Aurin langsung memeluk Trisyel erat. Tangis ketiga gadis itu pecah dalam pelukkan mereka. Sedangkan keempat cowo yang melihat interaksi itu pun ikut terharu
"Gue pengen ikutan peluk juga boleh gak sih" Ucap Jeje yang sontak mendapat tatapan tajam dari ketiga cowo di sampingnya
"Pengen gue patahin tulang lo" Ancam Prince
Jeje langsung mengangkat tangannya sambil menyengir "Enggak ampun ampun" Ucapnya
"Ah elah, posesif amat jadi orang lagian cuman pengen peluk dikit doang gitu aja ngamuk" Gerutu Jeje pelan namun masih bisa di dengar oleh semuanya
Mereka semua tertawa mendengar gerutuan Jeje namun tidak dengan Prince, cowo itu nampak kesal sendiri
πππ
Ia merasa sedikit lebih baik, meskipun kepalanya masih terasa cukup berat. Trisyel ingin menjalani hidup lebih baik dan tidak berlarut larut dalam kesedihan, ia tau itu akan membuat keluarganya akan sedih jika tau ia berantakkan seperti ini
"Udah siap?" Tanya Prince lembut. Gadis itu tersenyum sambil mengangguk
"Fanyya Aurin, ayo ke kelas" Ucapnya bersemangat. Gadis itu menarik kedua tangan sahabatnya dan memawa mereka berlari menuju kelas
"Hey hati hati!" Peringat Bara
Prince tersenyum melihat itu, meskipun mata Trisyel tidak bisa berbohong bahwa ia masih sangat terpukul, namun setidaknya gadis itu sudah tidak menangis lagi dan juga bibir gadis itu sudah mampu tersenyum kembali membuat hati Prince sedikit tenang
"Jangan sampai senyum itu luntur oleh TC" Ucap Felix tiba tiba membuat Prince terdiam mematung
Ya beberapa hari ini ia melupakan ancaman dari Dedric. Tidak, ia tidak akan membiarkan Dedric menyakiti Trisyel, gadis itu sudah cukup terluka jangan sampai ia kembali terluka lagi
"Kita harus berhati hati dan secepatnya menjadi si penghianat itu" Kata Prince
"Gue gak tega kalau Trisyel jadi korban lagi. Padahal dia itu baik kenapa ada aja masalah yang menimpa dia" Ucap Jeje
_____
Trisyel tak menyangka ternyata banyak orang yang peduli padanya. Teman teman satu kelasnya semuanya mendekati dan menanyakan kabarnya. Sungguh ia tak menyangka ternyata teman temannya itu juga khawatir padanya
"Gue gapapa kok. Thanks ya kalian semua udah peduli sama gue" Kata Trisyel tulus
"Kalau lo mau cerita kita siap dengerin kok syel, jangan merasa sendiri ya" kata salah satu teman satu kelasnya
Trisyel mengangguk "Iya" ucap Trisyel
Tak lama setelah itu guru bernama bu Vina pun masuk ke dalam kelas, ia terus menatap wajah pucat dan sendu Trisyel "Syel, are you oke?" Tanya bu Vina
Trisyel tersenyum lalu mengangguk. Guru itu berjalan mendekat dan menarik tangan Trisyel untuk berdiri. Tanpa di duga guru itu memeluk Trisyel erat "You are a strong girl" Ucap sang guru sambil mengelus punggung Trisyel
"Ibu tau kamu masih merasa sedih dan sakit yang mendalam, mata kamu tidak bisa berbohong Trisyel. Tapi ibu juga yakin kamu adalah anak yang kuat. Datang lh pada ibu jika kamu merindukan mama kamu, anggap bahwa ibu adalah ibu kandung kamu" Tangis Trisyel kembali pecah, ia memeluk guru itu dengan sangat erat
"Hiks.. terimakasih" Ucapnya lirih
Guru itu melerai pelukkannya dan memegang kedua pipi Trisyel, menghapus jejak air mata dari mata sembab itu "Ibu juga pernah merasakan hal yang sama. Beberapa tahun yang lalu anak satu satunya ibu meninggalkan ibu untuk selama lamanya, hingga sekarang tidak ada yang bisa menggantikan dia dalam keluarga kecil kami. Jadi kamu jangan pernah merasa sendiri, oke?" Trisyel mengangguk
"Trisyel yang terlalu lemah" Bu Vina menggeleng keras
"Tidak tidak! Kamu tidak lemah. Menangis, terpukul dan terpuruk itu wajah ketika kita di tinggalkan oleh orang yang kita sayang" Ucap sang guru "Mulai sekarang mulai lah untuk tersenyum kembali. Ikhlaskan yang sudah pergi, jika kamu sayang dan merindukan mereka maka doakan lah mereka agar nanti kamu bisa di pertemukan dengan mereka di tempat terindah menurut tuhan"
Hati Trisyel berdesir hebat, banyak teman temannya yang juga ikut menangis di dalam kelas itu saat melihat dirinya yang tampak begitu rapuh.
Benar yang di ucapkan guru itu, ia harus bangkit. Ia tak sendiri, banyak orang yang menyayanginya di sini. Seulas senyum kembali terukir di bibirnya, ia yakin kedua orang tua dan kakaknya sedang melihatnya dari atas sana. Ia tak ingin mereka bersedih
"Hidup adalah roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Begitu juga dengan takdir, ada pertemuan pasti juga akan ada perpisahan. Hidup hanyalah waktu, setiap orang pasti akan pergi dan kembali pada pencipta jika waktu itu sudah tiba"