
*Suara siulan *
Didalam ruangan bengkel yang penuh dengan alat alat buatannya, dirinya dengan santai memperbaiki Jeep miliknya sambil melantunkan lagu lewat siulannya.
"Padahal saat ini negeri kita sedang terancam hancur... namun dia justru bersantai disini dan bermain dengan rongsokannya, apa dia benar benar anak dari seorang profesor yang membangun negeri ini lebih maju?"
"Aku juga tidak akan bisa mempercayai hal itu, dia terlihat seperti sama dengan rongsokannya... tidak berguna."
Mendengar cibiran dari beberapa orang yang melewati ruangannya sama sekali membuatnya tidak marah atau tersentuh sama sekali, dirinya hanya membuang mentah mentah perkataan mereka dan fokus memperbaiki mesin buatannya.
Didalam pikirannya sama sekali tidak peduli jika dirinya adalah anak seorang yang menjadi orang paling dihormati di negeri ini... karena sejak saat itu dia sudah membulatkan tekadnya, untuk mengambil jalan yang berbeda...
......................
Beberapa tahun yang lalu...
"Ingin sampai kapan ayah terus berjuang untuk negeri ini?? kenapa anda selalu saja begitu terobsesi dengan ilmu pengetahuan? hal sebodoh itu tidak akan bisa membuatmu bahagia!"
"G, aku tahu perasaanmu kalau kamu mengkhawatirkan ibu dan ayah, namun ayah melakukan ini tidak hanya untuk negeri ini saja, namun ini untuk dirimu... karena negeri ini adalah tempat tinggal kamu satu satunya."
"Itu semua tidak penting!"
"G, kamu harus mendukung tekad ayahmu untuk melindungi negeri ini, karena sudah menjadi tugas kita untuk mengabdikan diri kita untuk keamanan para umat manusia suatu saat nanti."
"Apanya yang mengabdikan... kalian hanya berpura-pura mengatakan seperti itu, namun yang sebenarnya kalian berdua hanya ingin mengabulkan permintaan mereka saja bukan? kalau begitu lakukan semau kalian... aku sudah muak dengan semua ini."
Aku meninggalkan mereka berdua yang saat itu sedang bersiap-siap untuk pergi mencari sebuah bahan penelitian.
Dan sehari kemudian mereka telah pergi, tanpa mendengarkan perkataanku kembali.
Rasanya begitu kesal dan seakan diriku tidak pernah dianggap benar oleh mereka, aku sudah begitu muak dengan ilmu pengetahuan ini... semua perkembangan teknologi yang sangat menjijikkan... pada akhirnya dunia akan menghancurkan segala yang ada didalamnya, termasuk semua perkembangan didalam kehidupan ini dan kehidupan kembali menjadi semula...
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua datang dan berjalan dengan sempoyongan menuju gerbang masuk negeri Euditoria, dan semua pasukan juga presiden datang untuk menjemput mereka...
Aku mendengar informasi ini dari mulut salah satu prajurit dan ikut keluar dan melihat mereka.
"Jangan mendekati kami! jangan sentuh kami sedikitpun!."
"Tuan Gride, ada apa?" Presiden mencoba untuk menenangkannya.
Tampang mereka berdua sangatlah pucat dan kulit mereka sedikit berwarna ke ungu-unguan.
"Kami berdua terkena penyakit kulit menular, jika kalian menyentuh kulit kami, kalian akan terkena juga..."
"Ayah, ibu!"
"G..."
"Ada apa dengan kalian?? kenapa?"
"Ayah mohon, jangan mendekati kami, tetap disana."
"Semua akan baik baik saja, kamu tidak perlu khawatir."
"Apa yang sedang kalian bicarakan...?"
"G, lebih baik kamu pergi terlebih dahulu, aku akan membicarakan hal ini kepada orang tuamu."
"Pergi? mereka orang tuaku! kenapa aku harus meninggalkan mereka!"
"Bukan seperti itu, tapi kedua orang tuamu sedang-"
"Ini semua juga salah kau!! dan juga kalian! kalian memaksa kedua orang tuaku untuk melakukan semua ini demi negeri ini..."
"G, hentikan!"
"Apanya yang tujuan... apanya yang keinginan... ini semua hanya untuk memuaskan kalian!! dengan teknologi sampah yang telah ada disini... kalian membuat orang lain menderita!! persetan dengan negeri ini juga ilmu pengetahuan... kalian hanya-"
*Plak!!
Tiba tiba ayah menarik lenganku dan menamparku begitu keras hingga aku tersungkur di tanah.
"Apa yang kamu katakan, G?"
"..."
"Semua yang ayah lakukan... semua yang ibumu lakukan... bukanlah sekedar untuk melindungi negeri ini... namun kami berdua membalas budi kebaikan mereka yang tiada tara... bahkan apa yang sedang kami berdua lakukan tidaklah cukup untuk membalasnya."
"Apa yang... ayah katakan."
Tiba tiba kulit yang di sentuh olehnya terasa sangat menyakitkan, pipi dan lengan kiriku terasa sangat panas dan menyakitkan.
"Arrrghhh!!"
Tanpa bertanya presiden langsung menyuruh tentaranya untuk membawaku kedalam dan ke sebuah ruangan milik ayahku.
"Ayah..."
"Tenang nak... ayah akan menyelamatkan dirimu."
"Apa yang akan anda lakukan, tuan Gride?"
"Penyakit ini akan terus menjalar ke seluruh kulit, namun sebelum hal itu terjadi, aku akan mencoba mengangkat virusnya."
"Mengangkat... maksud anda..."
"Presiden... tolong berikan beberapa bahan pembuatan robot yang baru dirancang kemarin."
"Tuan Gride, ini terlalu berbahaya!"
"Aku tahu... tapi ini adalah tanggung jawabku, sebelum dia terlambat, saya mohon..."
Dengan rasa yang begitu resah, presiden langsung mengambil semua bahan yang sebelumnya ingin digunakan untuk membuat sebuah robot penjaga model terbaru.
"Ayah... mengapa kau begitu ingin melakukan semua ini.."
"Karena ayah telah bersumpah nak... beliau adalah orang yang telah menyelamatkan kami berdua, dan juga dirimu... dan ayah ingin mewujudkan keinginan beliau untuk terakhir kalinya, yaitu menjaga negeri yang beliau tinggalkan."
"Siapa... dia..."
"Dia adalah... Kakek kamu."
"..."
"Semua ini ayah lakukan untuknya, dan juga untuk semuanya... maafkan ayah karena selalu membuatmu marah dan resah, ayah tahu bagaimana perasaanmu, namun ayah harap kamu mengerti dengan tujuan ayah dan ibu, kamu mengerti?"
"..."
"Pejamkan matamu nak, semua akan terasa sangat menyakitkan, namun ayah tahu kamu bisa melewatinya."
"..."
Rasanya perasaanku yang entah memikirkan apa, seperti begitu berat untuk menerima semua yang ayah katakan, namun melihat tatapannya yang sangat menyakinkan... aku sedikit paham tentang jalan pikirannya.
"Presiden, aku akan memulainya."
Presiden yang sudah membawa semua bahannya mengangguk setuju dan membantu Gride untuk menyembuhkan diriku.
"Kamu siap nak?"
"Lakukan..."
Begitu dia memulainya dari wajahku, rasanya seperti tidak bisa di bayangkan... aku hanya berteriak dengan sangat kencang dan tanganku mencengkeram hebat hingga mengeluarkan darah, dan tenggorokanku seperti sangat sakit akibat suara yang aku keluarkan.
Karena menerima rasa sakit yang begitu luar biasa, aku kehilangan kesadaranku... dan aku tidak tahu lagi apa yang sudah terjadi dengan diriku..
.
.
.
Hari dimana aku terbangun...
"( Dimana aku? apa aku sudah tertidur cukup lama... apa yang sedang aku lakukan..? )"
Aku terbangun dan melihat ruangan kosong yang hanya terdapat beberapa kasurku dan alat nafas buatan yang masih bekerja.
Aku mencabut alat tersebut dari tubuhku, dan duduk di tepi tempat tidur.
Aku sadar saat tangan kananku memegang wajah kiri dan terasa begitu dingin, seperti memegang sebuah besi.
Lalu aku melihat tangan kiri ku yang saat ini sudah bukan lagi tanganku yang biasanya... dari bagian lengan ke pinggang kiri ku, dan juga wajah bagian kiri... kini sudah bukan diriku yang biasanya.
Saat aku turun dari tempat tidur dan ingin berjalan keluar, aku terjatuh karena kehilangan keseimbangan...
Hingga aku sadar kaki kiri milikku juga sudah berubah.
"Kenapa...?"
Lalu aku bangkit kembali dan pergi keluar untuk mengecek kondisi saat ini...
Langkahku masih sangat berantakan, namun aku berusaha untuk berjalan sampai menahan posisiku dengan memegang dinding di sebelahku.
"( Ayah... ibu... )"