PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Episode 69



"Haaaa!!."


"Genggam pedangmu lebih kuat!."


*Cling!


"Haa!!."


"Masih belum! jangan mengayunkan pedangmu sembarangan, perhatikan gerakan lawanmu, dan prediksi serangan yang akan datang, lalu cari kesempatan untuk menemukan celah kelemahannya."


"Hiyaa!!."


Ditengah hutan yang menjulang tinggi, aku terus mengajarkan dirinya cara memperkuat tehnik berpedang miliknya.


Semua pasukan yang melihatnya hanya bisa melebarkan mulutnya sambil menatap pertarungan itu dengan serius.


"Tuan Jyde masih belum selesai berlatih dengannya..."


"Bahkan aku berlatih satu jam dengannya saja sudah tidak sanggup untuk mengangkat senjataku kearahnya."


"Tuan Jyde... sangat hebat sekali."


"..."


Tuan Putri yang heran karena pagi ini dia melihat sikap asistennya yang sangat berbeda, apalagi saat ini dia terlihat begitu semangat saat berlatih.


"Kenapa dia menjadi berubah seperti ini saat mengobrol dengan Kaito tadi malam?."


Biasanya dia melihat Asistennya yang selalu menjauhi Kaito dari dirinya sendiri, namun sekarang sudah seperti seorang guru dan murid.


*Cling!


"Bagus, kuatkan lagi tenaga yang ada di lenganmu, jangan biarkan ujung pedangmu jatuh ke tanah!."


"Khk!."


Semangat yang tiada henti hentinya terus bergerak sesuai dengan apa yang aku ucapkan... semakin lama ayunannya pun menjadi lebih cepat.


Aku merasa dirinya memang sudah ahli menggunakan pedang besar yang ia miliki, hanya saja gerakannya yang begitu buruk.


Mungkin pelatihan di kerajaan tidak cocok dengan apa yang bisa ia pahami, maka dari itu dirinya memiliki poin yang kurang dalam akselerasi.


Dia mengangkat pedangnya setelah serangan darinya berhasil aku tangkis, dan itu terus ia lakukan berulang-ulang.


Namun karena hal yang berulang-ulang itu, membuatku jadi terbiasa dan langsung terkejut ketika dirinya merubah pola serangannya.


*Swuushh!


"!!."


Dia memposisikan pedangnya secara samping, dan mendorongnya kearahku.


Tipe pedangnya yang memiliki lebar yang cukup besar dan panjangnya yang dua kali lebih panjang dari Yansei milikku, membuatnya bisa menjadikan senjata itu untuk bertahan.


Aku langsung membalas mendorongnya, dan kali ini posisinya hanya bisa menggunakan dua tangannya untuk menahan senjatanya sendiri.


"Ada apa? kau tidak ingin menyerang lagi?."


"..."


Tiba-tiba dia menarik pedangnya dari samping hingga membuat ujung pedangku tergeser kebawah.


Dan dia langsung mengangkat kembali pedangnya lalu ingin menjatuhkannya kearah kepalaku tanpa keraguan sama sekali.


Kecepatannya yang kini sedikit lebih cepat daripada sebelumnya, membuatku sedikit bangga... namun aku bukanlah orang yang menerima sebuah penghargaan kecil seperti itu.


Jika dia sudah menyelesaikan level pertama, maka lawannya akan naik ke level kedua.


"Begitu, yang aku suka!."


Aku kembali menarik pedang milikku dan mengambil posisi menyerang dalam kurun waktu yang singkat.


Lalu dalam sekejap mata...


*Swuutt!!


Dirinya yang masih dalam posisi mengangkat pedangnya, seketika terjatuh dan melepaskan senjatanya...


"Guhuk!!."


Karena aku yang sebelumnya berada di depannya, langsung menebas menggunakan belakang pedangku agar dirinya hanya merasakan sakit seperti dihantam oleh batang besi, jika sebaliknya maka tubuhnya sudah terpotong menjadi dua bagian.


"Tuan Jyde, dikalahkan dengan sangat mudah..."


"Padahal tadi tuan Jyde sudah hampir berhasil menyerangnya."


"Sayang sekali."


"..."


"Yang tadi itu cukup lumayan."


"Tapi aku mengatakan hal demikian hanya untuk membuatmu senang, yang sebenarnya kau hanya bertambah kuat kurang dari satu persen saja."


"Eh?."


"Orang itu niat untuk memuji atau tidak?."


"Setelah ini kau hanya perlu melatih tangan dan kecepatan serangan, jangan lupa untuk melatihnya ke sesuatu yang bergerak, jika ada monster yang datang melewati kita selama perjalanan, jadikan itu sebagai latihan."


"Lalu, bagaimana denganmu?."


"Aku akan mengetes dirimu sehari sekali, sampai kau bisa melancarkan serangan itu padaku, maka kau sudah lolos."


"Aku lolos dan sudah bisa mengalahkan dirimu?."


"Tidak, maksudku berhasil menjadi lebih kuat sebesar dua puluh persen."


Tiba tiba dirinya seakan jatuh seakan-akan hancur motivasinya hanya dengan perkataanku.


"Baiklah, saatnya makan... aku sudah sangat lapar."


"..."


Mereka yang melihatku pergi langsung berbondong-bondong menolong Tuan Jyde, dan membantunya untuk berdiri... namun Jyde menolak hal itu, karena dia tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya kepada pasukan yang telah menjaga tuan Putri.


.


.


"Jyde, ada apa denganmu? tidak seperti biasanya kamu melakukan hal seperti itu, apalagi dengan orang yang sejak kemarin kau waspadai." Tanya tuan putri yang kini sedang bersama Jyde duduk di tangga kecil kereta tersebut.


"Bagaimanapun, aku tidak bisa membahayakan diri anda jika sesuatu hal kembali terjadi, maka dari itu... saya rela menjatuhkan harga diri saya untuk menjadi lebih kuat."


"Kamu tidak perlu memaksakan sampai seperti itu."


"Tidak... ini adalah janji saya kepada tuan paduka raja, sebagai seseorang yang telah melindungi anda bertahun-tahun lamanya... tidak mungkin saya menghancurkan kebanggaan paduka raja kepada saya... jika hal itu terjadi, saya lebih memilih untuk mati daripada menunjukkan wajah saya ke hadapan tuan putri dan paduka raja."


"Aku sudah memikirkan hal ini cukup lama, namun... dimana kerajaan kalian berada? dan apa nama kerajaan kalian?."


"Kami berasal dari keraja-."


"Hentikan tuan putri!! a-anda tidak boleh memberitahukan lokasi Kerajaan anda kepada orang asing."


"Tapi."


"Tidak boleh tetap tidak bo-."


"Ooh... jadi seperti itu."


Aku yang berada di belakangnya memegang kepalanya dengan cukup keras, sambil memasang senyum mematikan hingga membuatnya merinding.


"Kau mengatakan kepada orang yang telah mengajarimu bertarung menjadi orang asing?."


"T-Tidak, maksud saya ya! apapun demi keselamatan tuan putri!."


"Baiklah kalau begitu, latihannya akan aku tambah menjadi lebih berat lagi."


"A-Apa?."


"Tiga kali lipat." Sambil menunjukkan wajah mengejek kepadanya.


"B-B-Baik..."


"Saatnya cari makan lagii."


"T-Tuan putri, orang itu sangat kejam."


"Itu karena ulah darimu sendiri, dia sudah mengajarkan kamu latihan, tapi kamu tidak menghormati dirinya."


"Tapi, satu satunya hal yang saya hormati adalah anda beserta keluarga terhormat anda."


"Tapi dirinya sudah membantumu untuk lebih kuat melindungi diriku, dan siapa saja orang itu... jika kamu memiliki hutang budi kepadanya, maka kamu harus menghormatinya."


"..."


"Tapi kamu benar-benar baik-baik saja berlatih seperti itu?."


"Tidak..."


"Benar juga... aku paham." Melihat wajahnya yang seperti orang sengsara saja sudah membuatnya yakin dengan nasib Asistennya yang mendapatkan guru yang buruk, namun dia yakin, jika aku bisa membantu Asistennya menjadi lebih kuat.


Dan hari demi hari terus berlanjut, sampai dirinya hampir kehabisan tenaga untuk bergerak...


Berlari menghindari rintangan ditengah hutan, bertahan dibawah terjangnya air terjun, mengayunkan pedang yang sangat berat dan besar puluhan kali, dan setiap harinya bertanding sampai dibuat terkapar diatas tanah.


Berusaha sekeras apapun dirinya masih belum bisa menandingi diriku, namun dia tidak bisa menyerah begitu saja pada dirinya.


Karena sudah sampai saat ini... perjuangannya yang sangat besar, tidak ingin ia buang sia sia begitu saja...