
Kini pertempuran menjadi lebih sulit, dengan adanya Servus yaitu bawahan terkuat dari seorang iblis kematian, dan mereka tercipta dari monster yang berevolusi menjadi sangat kuat, dan juga ada manusia yang menyerahkan jiwanya menjadi sebuah kekuatan yang sangat menyeramkan, dan dia menjadi seorang Servus.
*Dum!!
"Hanya segini kekuatanmu?"
"Berisik... ( Tenagaku benar benar terkuras sejak dua hari ini... sial sekali aku bertemu seorang Servus! )"
"Yah, hal ini bisa memudahkan pekerjaanku... cepatlah mati!"
Dia mengangkat keenam tangannya yang berotot besar itu dan menghantam tanah, seketika tanah di sekitar kita langsung bergetar hebat dan hancur menjadi bebatuan pasir.
Aku langsung melompat agar tidak terjatuh kedalam bebatuan, namun saat di udara dia langsung menghantam perutku dengan salah satu tangannya.
"Arrghh!!"
Pukulannya yang secepat peluru dan sekuat meriam itu sangat berbahaya, rasanya isi tubuhku bisa hancur jika dia terus memukulku dengan tinjunya.
"Sial!"
Mulutku mengeluarkan banyak darah, dan juga kaki dan tanganku sudah gemetaran akibat kekurangan tenaga, kalau situasi terus seperti ini, jangankan mendekati bangunan tinggi itu, aku pasti tidak akan bisa selamat darinya.
"Kau boleh saja menjauhiku, namun para monster ini tidak akan menunggumu pulih."
"!!"
Karena pandanganku teralihkan oleh dirinya, aku pun lupa jika di sekitarku masih ada puluhan monster yang berdatangan menyerangku.
Aku pun terpaksa dengan sekuat tenaga mengangkat pedangku dan menghabisi satu persatu monster yang tidak ada habis habis habisnya, namun Servus itu juga mengambil kesempatan ini untuk menyerangku diam diam.
Aku masih bis menyadari keberadaannya dan berbalik untuk menangkis pukulannya, namun kekuatannya yang sangat besar itu masih bisa melemparku jauh hingga puluhan meter.
Aku yang masih dalam posisi berdiri dan bertahan langsung di datangi olehnya, dan serangan terus menerus datang dengan cepat hingga aku hampir melepaskan genggamanku karena sempat kehilangan kesadaran ditengah pertarungan ini.
Aku pun mengambil langkah mundur untuk mengatur nafasku, dan juga berusaha agar tidak kehilangan kesadaran disini.
"Memang benar... manusia saat ini sudah kehilangan kehidupannya, sekarang sudah saatnya kegelapan yang akan menguasai dunia ini dan menindas para manusia lemah!"
"Kau... juga manusia."
"Aku? hahahaha!! aku tidak pernah menganggap diriku sedikitpun seorang manusia! aku adalah sang pelayan iblis kematian! aku telah memberikan seluruh jiwaku kepada raja iblis Vilis!"
"Dasar maniak iblis... seharusnya kau sadar, dengan apa kau tercipta."
"Masa lalu hanyalah sebuah aib yang pantas dibuang... saat ini pun aku sudah tidak pernah mengingat masa lalu yang menjengkelkan itu lagi... karena itu aku disini!"
"Masa lalu... ya."
"..."
Aku kembali berdiri dan mengambil posisi untuk menyerang.
"Memang benar, orang lemah sepertimu tidak pantas kembali ke jalan yang sebenarnya... kau akan melihat siapa yang akan berdiri hingga akhir."
Dia tersenyum pahit dengan urat urat yang menonjol di sekitar kepalanya, menandakan bahwa dirinya sudah begitu terpancing oleh kata kataku.
"Aku akan benar benar membunuhmu kali ini!"
"Coba saja."
Aku mengangkat pedangku sembari mengontrol nafasku, agar aku bisa menjadi lebih tenang.
aku pejamkan mataku dan didalam kegelapan ini terdapat sebuah suara yang hanya bisa di dengar olehku, lebih terdengar olehku dari pada teriakan para monster yang masih berdatangan untuk membunuhku.
Bangunan tabung raksasa itu berada di depan mataku... Servus itu pun juga datang dengan serangannya yang terlihat sangat kuat.
Rasanya aku bisa merasakan semua yang ada di sekitarku... dan waktu terasa seperti sangat lambat.
Seperti tetesan air...
( One Million Divine Slashes : Kyanzen Daisekai )
"Matilah, manusia rendahan!!"
"..."
*Sringg!!
Rasanya kejadian itu terjadi dalam sekejap mata... aku telah berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan jurus pedangku...
"..."
Suasana hening... tempat di sekitarku dipenuhi oleh mayat monster monster yang baru saja terbelah hingga berkeping keping.
Dan juga Servus itu...
"Boleh... aku akui serangan yang barusan cukup hebat."
"!!!"
Aku terdiam membeku tak percaya, jika dirinya masih berdiri dengan tenang di belakangku.
Dan begitu dia berbalik, tiba tiba keempat tangannya terpotong dan terjatuh keatas tanah.
"..."
Tidak ku sangka... serangan khusus milikku hanya bisa memotong empat dari keenam tangannya.
"Sekarang giliran ku."
"Gawat!"
Aku yang tersadar langsung bergegas untuk menghindar, namun kakiku seperti membeku dan tidak bisa digerakkan sama sekali.
"( Kakiku... tidak bisa di gerakkan...)"
Dia mengeluarkan aura merah yang sangat mengintimidasi diriku, dan berlari dengan kecepatan penuh menarik salah satunya lengannya yang terlihat berubah bentuk menjadi lebih besar.
"( Aku akan mati!! )"
Hamparan tanah yang terbelah menjadi dua akibat terkena jalur serangannya, dan angin yang berhembus begitu kencang seperti sebuah roket bertenaga besar yang datang untuk menghancurkan tubuhku berkeping-keping.
"Rasakan ini!!"
"!!"
( Fire Seal!! )