PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Episode 64



"..."


*Duaarr!!


"Guhuk!!."


Disaat Akemi yang sedang tertidur, tiba tiba sebuah serangan datang kearahnya hingga dia terlempar dan menghantam dinding bangunan.


"Apa... itu."


"Ternyata kau orang luar itu? terlihat lemah."


Seorang pria tinggi berbadan besar berdiri dihadapan Akemi yang sudah terkapar akibat serangan darinya.


"Siapa kau!."


"Kau tidak perlu tahu siapa diriku, namun satu hal yang harus kau ketahui... ini adalah balasan untuk kalian karena sudah mengganggu saudara kami."


"Saudara...?"


( Gada )


"...!!"


*Dum!!


Akemi yang kembali diserang namun dia bisa menghindari serangan orang itu...


Senjata yang terbuat dari tanah berbentuk tongkat dengan sebuah bola besar diujungnya, mirip seperti palu namun titik hantamannya berasal dari bola besar tersebut.


"Boleh juga kau, bisa menghindar dari seranganku."


"Tch! Fuuton!."


"Hm?."


*Swusshh!!


*Swuutt!!


Akemi berlari kearah pria itu dan dengan senyum menyeringai yang terpampang dari wajah orang itu mengira jika dia sudah pasrah...


Namun tiba tiba sebuah angin mendorong belakang tubuhnya hingga dia terkejut, lalu Akemi menendang belakang tepat kearah tubuhnya hingga terpukul mundur cukup jauh.


Dan ternyata angin tersebut berasal dari kekuatan Fuuton yang berada dibelakangnya.


"Fuu!."


"..."


"Begitu ya... aku mengerti... meskipun kau tidak akan bisa mengalahkanku.."


"Tidak... aku pasti akan membunuhmu."


( Fuuton! )


*Swuushh!!


Fuuton pun berubah menjadi sebilah pedang yang kini digenggam erat oleh Akemi.


"Ternyata kucing itu adalah sebuah pedang! menakjubkan!."


"Beritahu siapa dirimu, atau kau akan menyesal!."


Akemi yang sudah berada dalam posisi untuk menyerang, namun dia hanya berdiri santai seperti membiarkanku untuk menyerangnya.


"Bagaimana ya..."


"Eh?."


"Kakak! kita sudah mendapatkan gadisnya!."


Tiba tiba dari belakangnya, terdapat dua orang lagi namun salah satu darinya adalah orang yang Akemi kenal... saat berada didalam jalan kecil kemarin.


Namun yang paling membuat Akemi marah, adalah sosok kakaknya Ayumi yang kini sudah terlapisi oleh tanah liat dan menjadi patung yang tidak bisa bergerak.


"Kakak!!."


"Ohh, ternyata dia adalah kakakmu, kebetulan sekali... kita memiliki seorang saudara!."


"Bajingan! lepaskan kakakku!."


Dengan penuh amarah, Akemi berlari kearahnya dengan menarik pedang Fuuton miliknya.


( Wind Slash!! )


*Cling!!


Namun serangannya berhasil ditahan oleh tongkat bola miliknya itu.


"Haha."


Saat mereka berdua masih saling mengadu senjata mereka.


( Togean )


"..!!"


*Dum!!


"Ughkk!!."


Salah satu saudaranya menghantam tubuh Akemi hingga terlempar keluar bangunan.


"Sial!."


"Usaha yang sia sia... sayang sekali, kakakmu harus kita bawa untuk diberikan kepada tuan raja untuk menjadi wanitanya... jadi, dia tidak akan bisa kembali denganmu.."


"A-Apa... APA YANG KAU KATAKAN!!??"


*Duaarr!!


"Apa?!."


Tiba tiba atap bangunan yang berada diatas mereka hancur dan dua orang muncul dengan langsung menyerang mereka.


*Cling!!


*Klang!!


"Akemi! bertahanlah!."


"Kaito... Kaito!! selamatkan kakak!."


"Kakak?."


Saat aku menoleh mencari Ayumi, pandanganku langsung tertuju pada sebuah patung tanah yang sangat mirip dengannya.


"Sial! apa yang kalian lakukan dengan Ayumi!!."


*Dum!!


Seranganku membuatnya terpukul mundur akibat kekuatanku yang besar.


"Tch... yang satu ini cukup kuat!."


"Kakak! dia adalah orang yang melawanku kemarin!."


"Ternyata kau..."


"Kau... babi tanduk!! apa yang kau lakukan!??."


"Heh!! kau benar-benar orang luar yang sangat bodoh! kalian pikir kalian kuat melawan kami?! jangan harap!."


"Khinzir... Lhinzir... sebaiknya kalian berdua bawa gadis itu ke kerajaan... jangan sampai gadis itu cacat!."


"Tapi, bagaimana dengan kakak!."


"Aku akan menahan mereka... tenanglah, aku akan membunuh mereka dengan cepat!."


"Baik!."


Mereka berdua langsung melarikan diri dari tempat ini membawa Ayumi pergi.


"Tunggu!! mau kemana kalian!!."


*Cling!!


Aku berhasil menahannya namun entah mengapa serangannya menjadi lebih berat hingga aku melompat mundur.


"Aku tidak akan membiarkanmu lewat."


"Menyingkir dari sana!."


*Swusshh!!


Sebuah serangan angin datang dari belakangku dan membuat pria itu terlempar keluar bangunan.


"Akemi!."


"Kaito! kejar mereka! aku akan menahannya disini!."


"Baikla-."


"Tidak akan!!."


*Swuutt!!


Dia mengayunkan tongkat bola tersebut namun tongkat itu tiba-tiba memanjang dan bola besar yang berada diujungnya melesat dengan cepat.


".!."


*Cling!!


Seseorang menahan nola itu dengan kedua pedang yang dia gunakan.


"Hyugo!."


"Kalian berdua cepat pergi dan kejar mereka!."


"..."


"Cepat! aku akan menahannya disini!!."


"Baiklah! jaga dirimu!."


Kami berdua langsung pergi meninggalkan Hyugo untuk mengatasi pria itu sendirian.


"Tidak a-."


*Klang!!


Pria itu ingin mengayunkan tongkatnya kembali, namun Hyugo dengan tangkas langsung melompat dan menahan kembali serangannya dengan kedua pedang Damaskus miliknya.


"Lawanmu adalah aku bukan?! Jhinzir!!."


"Kau... anak raja bodoh itu!! ternyata kau masih hidup!."


"Aku akan terus hidup hingga bisa membunuh tuan kalian!!."


"Hm!! besar kepala!!."


*Dum!!


.


.


.


"Sepertinya kakak tertua berhasil menghentikan kedua orang itu."


"Ya! kita harus segera membawa gadis ini kepada ra-."


( Razor Slash )


( Wind Gust!! )


*Sringg!!


*Swuushh!!


Tiba-tiba dari belakang mereka datang sebuah serangan namun mereka masih bisa menghindar dari serangan itu sehingga kedua serangan itu mengenai bangunan dan menghancurkan dindingnya.


"Apa itu barusan!!??."


"Kalian tidak akan bisa melarikan diri lagi..."


"J-Jangan jangan!!?."


"Kembalikan kakakku sekarang..."


Dua orang yang kini memiliki sebuah marah yang begitu besar, datang menuju mereka berdua yang sedang panik dan ketakutan.


"K-Kakak! bagaimana ini?!."


"Linzhir... kau pergi duluan."


"T-Tapi!!."


"Aku akan menghalangi mereka... jika kau sudah berada didalam kerajaan, maka mereka tidak akan bisa mengejar dirimu lagi."


"B-Baiklah kalau begitu..."


"Akemi! dia ingin melarikan diri!! aku akan mengurus orang ini! cepatlah!."


"Baik!!."


"Tidak akan aku biarkan... kalian menyentuh adikku!!."


( Togean!! )


*Dum!!!


Tiba tiba tanah disekitar kami hancur dan kami berdua langsung kehilangan keseimbangan dan sulit untuk berjalan.


"Sial!! aku tidak bisa pergi!!."


Saudaranya yang satu pun berhasil melarikan diri dari tempat itu, dan kita berdua masih sibuk mengurus salah satu saudaranya.


"Ayumi!!."


Aku menghentakkan kakiku begitu kuat, hingga aku melompat sangat tinggi diatas udara.


"Tidak akan!!."


Namun usahaku hanya berakhir sia sia karena dia yang memiliki bentuk seekor babi taring panjang itu ikut melompat dan menghantam tubuhku dengan kepalanya hingga aku terpental kebawah dan terkubur dalam reruntuhan.


"Ugh!! sial!!."


Aku bangkit dari reruntuhan tersebut dan ingin kembali berkumpul dengan Akemi, namun apa yang aku lihat ini adalah sebuah ancaman buruk... karena diseluruh jalan yang ada di sekeliling kita... kini sudah dipenuhi oleh ratusan tentara kerajaan yang telah mengepung kita berdua.


"Akemi... sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya!."


"Apa yang kau katakan!? kakak masih berada dengan mereka!."


"Tetapi... kita sudah dikepung oleh mereka!."


Akemi yang tersadar pun langsung melihat sekelilingnya dan tidak percaya akan hal ini.


Seluruh tentara kerajaan tersebut mengeluarkan sebuah kekuatan elemen yang terkumpul dari berbagai arah... cahayanya yang begitu menyilaukan hingga membuat kita berdua tidak bisa melihat begitu jelas.


"Akemi!!."


"Tidak!!."


"Hahaha!! raja hanya menginginkan gadis itu... dan kalian berdua akan mati!!."


"Tch!!."


"Habisi mereka berdua!!."


*Swuutt!!


Sebuah serangan dari mereka kini diluncurkan dan sebuah kekuatan elemen yang datang di berbagai arah menuju kearah kita berdua yang kini sudah tidak berdaya...


*Duaarr!!!


Sebuah serangan gabungan dari sebagian tentara kerajaan, membuat area tersebut hancur tak tersisa dan begitu juga dengan tubuh kita berdua yang sudah tidak ada ditempat itu...