
*Dumm!!
"Dasar monster rendahan... sadarilah tempat kalian berhadapan dengan siapa.."
*Dumm!!
Ledakan bertubi tubi yang dibuat olehnya dengan sebuah meriam yang keluar dari bola tanahnya.
Saat dia sedang sibuk-sibuknya meledakkan kesana kemari, tiba tiba banyak tubuh monster berjatuhan dimana mana, hingga ada yang hampir mengenai kepalanya.
"Dia benar-benar menyerang secara brutal! dasar tukang rusuh!."
*Sring!!
*Duar!!
Satu, dua, tiga, hingga puluhan musuh dengan cepat dibantai olehku, sambil berlari dan mengayunkan pedang Yansei-ku, mengambil posisi, lalu menebas, dan hal itu dilakukan berulangkali bahkan aku menggunakan beberapa jurus tehnik pedang milikku untuk menyerang mereka secara sekaligus hingga musuh berterbangan.
"Oi bocah pedang! jangan membuang sampahmu sembarangan!."
Mendengar anak divisi 1 itu berteriak, aku pun langsung berhenti sejenak sambil mengatur nafasku.
"Hah?!!."
"Apa kau tidak bisa menyerang dengan baik?!."
"Apa kau meremehkanku? aku tidak perlu berdiam diri dan menembakkan sebuah meriam seperti seorang pengecut!."
"Meskipun begitu meriam milikku lebih berguna daripada pedang milikmu!."
"Benarkah? kalau begitu siapa yang bisa membunuh lebih banyak, dia yang terkuat!."
"Hem! siapa yang takut!."
Ditengah medan pertempuran, kami berdua justru bertanding untuk mengungkap senjata siapa yang lebih kuat.
Lalu dia langsung mengarahkan meriamnya kearah sekumpulan monster yang sedang berlari untuk menyerang kita.
*Duar!!
Sehingga kumpulan monster itu berhamburan entah mati atau tidaknya mungkin Barats lain yang akan mengurusnya.
Aku pun berlanjut untuk mulai menyerang... aku mengambil posisi ancang-ancang dan memejamkan mataku untuk mempertajam insting dan lebih mengetahui letak musuh berada.
Setelah aku bisa mulai merasakannya, aku langsung melesat berlari sangat cepat dan mengayunkan pedangku secepat angin yang bertiup.
Berputar, menebas dari atas dan bawah, maupun menghantam tanah kulakukan hingga banyak musuh yang berjatuhan.
Saat ritme seranganku terus berjalan lancar, tiba tiba sebuah hentakan dari atas datang dan aku segera melompat mundur.
*Dum!!!
Tidak salah lagi itu adalah iblis bawahan dari iblis kematian.
"Iblis ya..."
"Kalian terlalu sombong akan kekuatan... aku akan mengajarkan kalian apa itu kekuatan..."
"Berisik... kekuatan juga aku yang punya, jadi aku bebas melakukan apapun yang aku mau!."
Aku langsung berlari kearahnya yang tubuhnya 5 kali lebih besar dari tubuhku, hingga aku menyerangnya dengan melompat dan mengayunkan pedangku keatas kepalanya.
Tetapi perbedaan kekuatannya dengan monster monster yang sudah aku bunuh jauh berbeda, karena dia langsung menggerakkan tangannya dengan cepat dan menangkis pedangku hanya dengan tangan kosong.
"Lemah."
Dia menghempaskan tangannya sehingga aku terlempar kembali keatas tanah.
"Sial, tubuhnya begitu keras... aku harus segera menenangkan diriku..."
Tetapi tiba-tiba seseorang datang dengan sangat cepat dan menyerang tepat kearah dada iblis itu hingga dia terpukul mundur.
"Shion!."
Sadar jika serangannya tidak bisa melukai lebih lagi, kakinya yang seperti sebuah ceker itu menendang rahang bawah iblis itu hingga kepalanya terbawa keatas dan dia langsung melompat mundur kearahku.
"Kaito... kau baik-baik saja bukan?."
"Darimana saja kau? serangan tadi cukup keren.."
"Bukan waktunya memuji seranganku! tapi terima kasih... maksudku kita harus membunuh iblis itu!!."
"Tenang saja, jika ada dirimu... aku jadi mempunyai sedikit ide."
"Apa itu?."
"Kau ingat saat kita melawan seekor naga?."
"Dengan cara itu?."
"Memancingnya tidak akan dapat respon yang sama seperti naga itu... tapi lebih ditambahkan gerakan yang baru..."
"Aku tidak mengerti, jelaskan saja intinya!."
Lalu aku menjelaskan dengan beberapa kalimat dan syukurnya dia langsung mengerti... lalu kami pun berpencar agar membuat fokusnya berantakan.
Saat Shion berlari memutarinya, iblis itu langsung mengayunkan tangan besarnya tepat kedepan wajah Shion.
Tetapi Shion sudah mengetahui dia akan menyerang dan langsung melompat keatas udara.
Saat iblis itu sedikit kesal tidak bisa menghentikannya, dan itu membuat perhatiannya teralihkan hingga ada jalan serangan untukku.
Aku dengan senyap berlari dan siap mengayunkan pedangku.
Iblis itu mengangkat tangannya untuk meraih tubuh Shion yang sedang melayang diatas udara akibat lompatan tingginya.
Saat hal itu tiba, aku langsung menebas salah satu kakinya.
( Sword Style : Razor Slash! )
*Sring!!
Salah satu kakinya terpotong begitu jelas dan tubuhnya langsung terjatuh kedepan.
"Shion! lakukan!."
"Oke!."
Diatas langit tubuhnya berputar dan sayapnya mengeluarkan api yang membara.
( Change Skill: Meteor Kick )
Dengan kecepatan seperti meteor dan api yang terus membuat kecepatannya bertambah, kakinya yang menjadi ujung tombak berputar, benar benar seperti meteor yang jatuh dari atas langit.
*Dum!!!
Getaran tanahnya begitu hebat dan ledakan yang sangat besar sehingga membuat area sekitar ikut hancur dengan monster monster yang berada didekat sana.
Seketika tubuh Iblis itu hancur tak tersisa dan dia langsung menghampiriku dengan wajah yang begitu lega.
"Serangan yang bagus... kapan kau mempelajarinya?."
Dengan nafas yang terengah-engah dia berusaha mengatakannya.
"Sebenar...nya... sudah... lama... tapi... aku... kurang percaya... dengan itu..."
"Baiklah, sepertinya kau perlu istirahat."
"Beri aku... satu menit..."
"Berapapun juga kau tidak akan mati disini..."
Medan perang yang masih ramai dengan ledakan, kehancuran, dan serangan elemen yaang terlihat dari kejauhan begitu membuat sang iblis kematian merasa pasukannya yang seharusnya menang jumlah tetapi daya tempurnya kalah jauh dengan mereka para Barats.
"Sepertinya situasi sekarang menjadi gawat... aku harus melakukan sesua-."
*Ciuuutt!
*Duarr!!
Saat dia sedang mengamati dengan tenang, tiba tiba sebuah papan seluncur datang menghantam singgasananya hingga hancur berkeping-keping.
Lalu papan seluncur itu kembali seperti sebuah mesin yang nyatanya ada kekuatan elemen api yang mendorong kekuatan papan seluncur itu.
"Reiido Koton... begitu beraninya kau menghancurkan tempat milikku."
"Oi oi~ ini adalah medan perang... jangan duduk malas seperti itu dong."
Ucap seseorang yang sedang duduk diatas papan baja dan hanya melemparkan papan baja lainnya untuk menyerang...
"Ternyata anak anakmu kekuatannya boleh juga... aku sedikit terkejut dengan itu."
"Meskipun bukan semuanya anak anakku... tetapi mungkin tanggung jawab mereka sekarang berada padaku..."
"Tenang saja... lagipula sebentar lagi pasukan milikmu akan menjadi budak budakku karena kekuatan mereka tidak boleh disia-siakan begitu saja... ehem."
"Maaf nona, tetapi aku tidak akan memberikanmu satu pun dari mereka meskipun tanpa diskon."
"Kalau begitu aku akan merebutnya dengan paksa!."
Dia mengeluarkan sebuah tumbuhan dari dalam tanah, batangnya yang begitu panjang hingga bisa menyerang ketua dengan mudah meskipun berada diatas langit.
Tetapi ketua dengan mudah berpindah tempat dan menangkis mereka hanya dengan papan selancar baja miliknya.
Tetapi iblis kematian yang memiliki kekuatan gelapnya yang begitu kuat, tidak hanya memiliki satu jurus saja.
Dia melompat begitu tinggi dan mengeluarkan sebuah jarum dari lengannya yang mengarah kearah ketua.
Dan dengan cara yang sama ketua menggerakkan salah satu papan miliknya untuk menjadi perisai.
Tapi saat jarum itu menusuk papan selancar yang terbuat dari sebuah baja, seakan akan seperti racun, papan baja itu langsung meleleh berubah menjadi cairan yang jatuh keatas tanah.
"Ehem... berapa banyak papan yang kau punya?."
"Gawat juga... lama lama papan milikku yang sangat mahal ini habis hanya untuk bertahan ya..."
"Kali ini aku akan memberikanmu kejutan spesial.."
"Kalau begitu... aku juga akan mulai sedikit serius..."