PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Episode 56



"Fuuton... kemarilah~."


Kucing itu masih mengamati diriku yang ingin memancingnya menggunakan seekor ikan..


"Kemarilah~ ini ikan yang sangat lezat~."


"Percuma saja... Fuuton tidak ingin mengambil makanan yang kau berikan."


"Siapa yang tahu? aku ini cukup disukai oleh banyak hewan, kucing ini hanya perkara keci-."


Saat dia memalingkan wajahnya kembali, tiba tiba ikan yang ada di tanganku sudah hilang.


"Eh?."


Dan aku langsung mencarinya yang sedang berada diatas rak kamar kita berdua.


"Oi! kembalikan ikan itu!."


Aku terus berlari mengitari kamarnya hanya untuk mengejar kucing yang begitu lincah.


Tetapi karena aku adalah seorang ahli pedang, aku bisa membaca gerakannya langsung dan berhasil menggapainya...


"Kena kau!."


Tetapi tanganku justru menembus pada tubuhnya, karena tubuhnya langsung berubah menjadi kumpulan angin...


"Hei! itu sangat curang!."


"Sudah aku katakan kau tidak bisa menangkapnya..."


"Lalu, bagaimana denganmu?."


"Aku yang merawatnya, jadi aku sangat mudah."


"Kalau begitu, cobalah, ambil ikan itu darinya..."


"Kalau kau ingin begitu... Fuuton, berikan ikannya.."


Saat Akemi menyuruhnya untuk memberikan ikan tersebut, justru dia hanya menatap Akemi dengan wajah yang cukup menyebalkan.


"F-Fuuton... berikan ikan itu..."


Aku yang masih melihatnya sambil melipat kedua tanganku, dan menepuk-nepuk lantai menggunakan telapak kakiku..


"..."


"Fuuton... cepat berikan..."


Fuuton tetap diam dan seakan-akan sengaja untuk mengerjainya.


"Lihat? dia tidak mau..."


Dengan sikapnya yang masih bisa menahan diri dan tetap tenang, dengan lembut dia menjulurkan tangannya untuk mendekatinya.


"Berikan itu..."


"..."


Saat tangannya sudah sedikit dekat, Akemi langsung mencoba merampas paksa ikan itu darinya, tetapi Fuuton bisa menghindar dari tangannya.


"Hahaha!! kau juga tidak bisa!."


Akemi yang sudah terpancing langsung membalasku...


"Tetapi... sebenarnya aku tidak peduli, karena ikan itu milikmu..."


"B-Benar juga!."


Aku pun langsung mengejarnya terus menerus hingga hampir membuat kamar ini berantakan.


"Hei! kembalikan ikan itu!!."


Kegaduhan tersebut sampai mengganggu orang yang berada diluar dan akhirnya ada yang datang dan membuka pintu itu.


*Brak!!


"Apa kalian tidak bisa tenang??!! aku sedang fokus mengendalikan kekuatanku diba-umph!."


Tiba tiba wajahnya tertutup oleh tubuh seekor kucing hingga kucing itu kembali melompat ketempat lain.


"A-Awas!!."


Saat aku ingin menangkapnya, aku tidak sadar jika didepanku ada orang yang baru saja masuk kedalam kamar.


"Eh!."


*Buk!!


Kami berdua pun akhirnya terjatuh dan aku masih bisa bangun karena aku jatuh diatas tubuhnya... dan aku seperti memegang sesuatu yang begitu lembut.


"Hm??."


Saat aku masih mencoba merabanya, dan melihatnya... ternyata apa yang aku sentuh adalah sebuah hal yang lumayan besar, lembut dan empuk...


Wajahnya begitu merah saat melihatku yang tidak sengaja memegang miliknya.


"T-Tunggu... aku bisa jelas-."


"Dasar mesum!!."


*Plak!!


.


.


.


"Benar benar menyebalkan...!."


"Ugh... sakit sekali..."


Saking kuatnya tamparan itu, pipiku sampai memberikan bekas tangannya yang terlihat sedikit membengkak dan berwarna merah..


"Rasanya pasti sangat sakit."


"Siapa suruh kau menerjang kearahku! dan juga kau menyentuh dadaku!."


"S-Sudah aku katakan kalau aku tidak s-sengaja!."


Wajahku yang sedikit memerah langsung diketahui olehnya.


"Wajahmu memerah! pasti kau sedang memikirkan hal yang aneh dengan tubuhku bukan?!."


Sambil menutup dirinya dengan kedua tangannya.


"M-Mana ada!."


"Aku harus memukul kepalamu sekali lagi, agar ingatannya menghilang!."


"Sudah aku bilang aku tidak memikirkannya!."


*Jlep!!


Tiba tiba ruangan menjadi sangat gelap dan aku tidak bisa melihat apapun.


"Tunggu, kenapa jadi gelap seperti ini?!."


"Aku tidak bisa melihat!."


"Kakak? Kaito??."


"Akemi? kau ada dimana??."


Karena mereka yang hanya berjalan sambil meraba-raba tempat karena tidak bisa melihat apapun, tiba tiba aku dan Akemi merasakan sesuatu yang begitu lembut kembali.


"Tung- hei!!."


"Aku tidak bisa melihatnya?."


"Apa ini? sangat lembut..."


"H-hentikan..."


*Jlep!!


Dan lampu kembali menyala dan kami berdua langsung terkejut dengan apa yang kami pegang.


"K-Kalian... sangat buruk!!."


*Plak!! Plak!!


......................


"..."


"..."


"Hmph!."


"Ada apa dengan wajah kalian berdua?."


Saat kita semua berkumpul dengan Master, beliau nampak kebingungan dengan wajah kita berdua.


"I-Itu..."


"Tadi ada banyak sekali nyamuk, jadi aku bantu menepuknya."


"..."


Kita berdua yang takut dengannya hanya diam dan tidak ingin mengatakan yang sebenarnya...


"Nyamuk itu berada di kedua pipi Kaito?."


Jika Akemi yang hanya memiliki bekas tamparan pada satu sisi, kalau aku kedua sisi pipiku memiliki bekas tangan yang sangat merah...


"Karena nyamuknya sangat banyak..."


"Baiklah... selain itu, masih ada yang harus kita bicarakan..."


Master memberikan sebuah gambaran didepan layar yang menunjukkan sebuah negeri yang terlihat sangat berbeda dari biasanya...


"Kalian pasti tahu... jika semua teknologi modern yang ada didalam markas ini, sangatlah berbeda dengan perkembangan zaman kota yang kita tinggali."


"..."


"Dan hal itu bukanlah tanpa alasan... karena semua ini membutuhkan sebuah alat dari inti yang mengatur segala teknologi yang ada disini... lalu-."


"Tunggu dulu."


Aku menghentikan pembicaraan dari master karena aku merasa ada yang baru saja aku ketahui.


"Aku masih tidak mengerti... teknologi? modern? apa yang sedang kita bicarakan?."


"Apa yang kau sedang katakan? semua yang ada disini, semuanya terbuat dari teknologi modern, dan tidak akan dimiliki oleh sebuah negeri atau desa yang perkembangannya terbilang tidak akan bisa mencapai hal itu..."


"Maksudmu... semua ini? layar yang didepan itu?."


"Um."


"Benar juga... aku baru sadar! kenapa tempat tempat seperti ini sangat berbeda??."


"Ha?."


"Ha?."


"Ha?."


Mereka bertiga mengatakan hal yang sama termasuk Master.


"Ada apa?."


"Tunggu... kau benar benar tidak tahu apa yang telah menutup keberadaan dirimu disini sekarang?."


"Tidak..."


"Jadi... dari awal saat kau masuk kesini... kau belum mengerti apa itu teknologi modern??."


"Benar..."


Mereka semua kembali menghela nafasnya secara bersamaan...


"Sebenarnya apa yang telah kau pikirkan hingga sekarang ini..."


"A-Aku pun mempunyai hal yang lebih baik aku pikirkan."


"Setidaknya hal ini kau harus tahu."


"Ya... kalau begitu jelaskan..."


"Kau serius?."


Aku mengangguk pelan dan siap untuk mendengarkannya...


"Huh... master, bisakah anda jelaskan kepada orang ini?."


"Baiklah, aku akan menjelaskannya.."


Lalu master menjelaskan kepadaku tentang teknologi modern...


Teknologi yang telah dikembangkan dan hanya bisa dimiliki oleh orang yang memiliki sebuah inti energi, yaitu benda yang bisa menggerakkan semua teknologi, seperti layar biru yang melayang-layang dan ruangan lab yang penuh dengan banyak hal.. hingga alat komunikasi yang bisa digunakan dari jarak jauh...


Semua itu karena adanya inti energi yang berasal dari kekuatan elemen setiap pengguna kekuatan...


Dan teknologi modern ini diciptakan oleh orang orang jenius yang berada didalam sebuah negeri yang perkembangan zamannya sudah jauh lebih cepat daripada negeri lainnya, dan nama negeri itu adalah negeri Euditoria....


Mereka menciptakan banyak hal, hingga semuanya begitu berguna dalam kehidupan manusia, namun karena teknologi modern ini begitu liar... orang yang bisa menguasai hal ini dipastikan dialah yang bisa menguasai seluruh dunia... maka teknologi ini hanya tersimpan di suatu negeri tepatnya negeri ini berada diluar area kerajaan maupun empat wilayah... dan tidak ada yang bisa mengetahui tempat ini...


Tetapi Octagram yang memiliki sebuah tujuan penting untuk menyelamatkan umat manusia, memiliki hubungan dengan orang orang yang berada didalam negeri modern sana...


Lalu setiap markas pasukan revolusioner memiliki sebuah inti energi yang menjadikan teknologi modern ini sebuah kekuatan kita...


"Apa kau sudah paham?."


"Ya... aku paham, jadi kita mendapatkan sesuatu hal yang sangat besar."


"Tetapi sayangnya... sekarang kita akan kehilangan sesuatu yang besar tersebut..."


"Apa maksud master?."


*Jleb!


Tiba tiba semua lampu kembali padam dan semuanya menjadi gelap.


"Aku tidak bisa melihat!."


"Jangan bergerak! yang bergerak dari tempat... aku akan benar-benar membuat bekas yang sangat besar..."


"B-Baik!."


*Jleb!


Akhirnya semua lampu menyala dan kami semua sudah seperti sebuah patung yang tidak ingin bergerak...


Aku dan Akemi yang sudah tidak ingin merasakan tamparan itu hanya ingin diam dan mematung... tetapi...


"Master... kenapa kau ikut diam?."


"M-Maaf, aku hanya sedikit terkejut dengan apa yang Ayumi katakan.."


"Huhh..."


"Ehem... baiklah... seperti yang kalian lihat... semua lampu mulai kehilangan energi mereka, dan sewaktu-waktu mungkin markas ini akan menjadi markas mati..."


"Kenapa hal itu bisa terjadi??."


"Karena ini."


Dia menunjukkan sebuah benda yang terlihat sekitarnya sedikit mengeluarkan sebuah energi yang bocor, dan terkadang benda itu mengeluarkan suara yang nyaring.


"Ini adalah inti energi yang menggerakkan seluruh teknologi disini... dan sayangnya benda ini semakin lama semakin rusak..."


"Jadi?."


"Jadi... misi yang akan aku berikan kepada kalian adalah..."


"..."


"...."


"..."


"Kalian akan pergi ke negeri Euditoria..."