
Waktu yang sudah melewati tengah malam...
"..."
Hyugo yang terbangun dari tidurnya, lalu tidak melihatku didalam kamarnya.. hanya ada Akemi yang masih terlelap tidur.
Karena penasaran hilangnya diriku disini, dia pun bangkit dari tempat tidurnya dan berencana ingin keluar.
"Kau ingin keluar?."
Alangkah terkejutnya saat dia tiba-tiba mendengar suara yang ternyata itu adalah Akemi.
"Maaf! apa aku membangunkan tidurmu??."
"Tidak... aku memang mudah terbangun jika ada pergerakan.."
"B-Begitu ya... oh iya, apa kau melihat Kaito? dimana dia tengah malam seperti ini?."
"Kalau tidak ada, mungkin dia sedang berlatih."
"Malam malam seperti ini??."
"Justru lebih mudah untuk menggerakkan tubuhnya, katanya seperti itu."
"..."
"Kalau kau mau menemuinya, cari saja diluar, aku ingin lanjut tidur."
"Baik, maaf mengganggu."
"..."
Akemi pun kembali menutup matanya untuk tidur, sedangkan dia keluar dari kamar dan ingin mencari Kaito.
Saat dia keluar, ternyata di ruang tengah terdapat Ayumi yang masih terduduk dan sedang membaca sebuah buku dengan satu penerangan lampu kecil.
"Ayumi? kau tidak tidur?."
"Oh Hyugo, tidak... aku masih ingin melakukan hal lain."
"Apa itu?." Perhatiannya tertuju pada sebuah buku tua yang sedang Ayumi baca.
"Ini? buku elemen milikku... semua tentang pembelajaran elemen Ventus, kau mau baca?."
Saat melihat banyak sekali tulisan kecil didalamnya saja membuatnya berpikir dua kali untuk membacanya.
"M-Maaf, tengah malam seperti ini sepertinya.."
Ayumi pun tertawa kecil..
"Benar juga."
"Kau melihat Kaito?."
"Ah, dia sedang berlatih diluar."
"Begitu ya, kalau begitu aku ingin melihatnya berlatih."
"Um."
Hyugo pun pergi keluar rumah untuk melihatku berlatih... suasana pusat kota yang sudah tengah malam begitu sunyi dan hanya terdengar suara jangkrik atau suara langkah kakinya yang berada diatas tanah pasir.
Hyugo mencari keberadaan Kaito hingga mencari-cari di setiap jalan kecil, namun dia tidak menemukannya sama sekali.
*Swuutt!!
Setelah berjalan beberapa saat, dia pun mendengar sebuah ayunan pedang yang menciptakan suara dari gesekan terhadap angin diatas...
Saat dia mencari asal sumber suaranya, ternyata Kaito berada diatas bangunan yang paling tinggi tepat di pinggiran pusat kota.
"Kaito!."
Hyugo berteriak namun sedikit pelan agar tidak mengganggu orang lain.
Aku pun merespon suara itu dan langsung melihat kebawah dimana dia berada.
"Oh Hyugo!." Aku melambaikan tanganku seakan menyuruhnya untuk naik.
.
.
.
"Kau sudah terbiasa berlatih tengah malam seperti ini?."
"Um, semenjak aku mulai berlatih pedangku.."
"Kenapa harus waktu seperti ini?."
"Aku merasa lebih mudah menggerakkan tubuhku, karena cuaca malam hari sangatlah dingin, jadi jika bergerak aku bisa menghangatkan tubuhku langsung."
"Meskipun aku sudah tahu dari Akemi, tapi aku baru tahu alasan jelasnya.."
"Akemi?."
"Ah tidak, aku hanya bergumam."
"Oh, baiklah."
"..."
Dia terus melihatiku berlatih dengan pedangku, dan setiap ayunannya, kekuatannya terasa begitu hebat dirasakan oleh Hyugo.
"Hei Kaito... apa kau pernah merasa putus asa saat dirimu tahu kalau kau tidak mempunyai kekuatan elemen bumi?."
"Pernah... aku pernah merasakannya."
"Benarkah?."
"Ya... saat itu... aku menjadi anak yang terbuang akibat takdir ini... namun pada waktu yang sama... aku menemukan sebuah jalanku sendiri... yaitu dengan pedang ini."
"Kalau tidak salah... pedang itu warisan elemen Aqua, kau mendapatkannya dari kecil?."
"Aku diberikan pedang ini oleh guruku... beliau adalah pengguna elemen Aqua."
"A...qua... jangan-jangan... kau."
Aku langsung sadar jika aku telah memberitahukan sesuatu hal yang benar-benar tidak boleh dikatakan, karena selama ini semua orang yang berada disekitar diriku berbeda dengan orang biasa, jadi aku terbiasa mengatakannya dengan mudah.
"T-Tidak! maksudku! bukan itu!."
"Tunggu! kau benar-benar keturunan Aqua??."
"B-Bukan! aku hanya seorang anak yang kebetulan sa-."
"Jika kau adalah keturunan Aqua yang masih tersisa... aku benar benar merasa berhutang budi kepadamu!."
"Eh?."
Rasanya sedikit aneh, bukan karena aku yang keceplosan, namun responnya yang sangat berbeda dari orang biasanya.
"T-Tunggu, aku masih tidak paham."
"Aya- maksudnya sang raja yang sebelumnya... memiliki hubungan baik dengan pilar terakhir Aqua... karena beliau, kerajaan ini menjadi sebuah kerajaan yang sangat makmur dan merdeka... kami semua tidak pernah melupakan jasa jasanya.."
"Ternyata kejadian itu pernah terjadi."
"Berarti kau benar-benar keturunan Aqua??."
"E-Eh... ya... seperti itu... tapi aku tidak mempunyai kekuatan elemen sejak lahir."
"Apa mungkin karena hal itu kau selamat dari pembantai waktu itu??."
"Seperti itu."
"Lalu... bagaimana dengan keluargamu..."
"Aku benar-benar tidak tahu siapa orang tuaku... aku pun tidak peduli juga... namun guruku, sahabatku... dan juga..."
"..."
"Saat itu aku yang masih begitu lemah... tidak bisa berbuat apapun selain melihat mereka semua mati didepan mataku... aku benar-benar sangat payah... tidak bisa melindungi siapapun... hingga akhirnya menyesal."
"..."
"..."
"Aku sangat iri terhadapmu.."
"Hm?."
"Meskipun tanpa kekuatan elemen, kau sekarang sangatlah kuat... kau berkelana ke seluruh penjuru dataran Pax... pasti kau sudah menghadapi banyak hal diluar sana, sedangkan aku sekarang... bahkan aku tidak bisa membantu ayahku..."
"Apa yang kau katakan... bahkan kau belum memperlihatkan kekuatanmu padaku."
"A-Aku tidak bisa.."
Aku pun langsung menarik pedangku dan mengarahkannya kearah dirinya.
"..."
"Tunjukkan kekuatanmu.."
"Aku benar-benar tidak..."
Setelah melihat wajahku yang begitu yakin untuk menghadapinya, dia pun merasa begitu tergerak...
"Kau yakin?."
"Kau tidak melihat pedangku ini mengarah kemana? mau atau tidak, aku tetap akan menyerang dirimu.."
"..."
Tidak ada pilihan lain untuknya selain menerima sebuah pertandingan dariku, diatas bangunan yang bisa melihat seluruh kota yang memiliki cahaya redup dan sinar bulan yang menerangi seluruh tempat ini.
"Baiklah... aku akan menerimanya.."
Dia membuka kain baju yang menutupi senjatanya, yaitu sebuah pedang pendek yang bentuknya melengkung dan ujungnya begitu tajam seperti sebuah ujung ekor kalajengking.
Saat dia menariknya, secara bersamaan salah satu tangannya mengeluarkan sebuah pasir tanah yang perlahan menyatu membentuk sebuah pedang yang sama..
( Damaskus!! )
*Bwuushh!
Dua buah pedang Damaskus yang dia gunakan sebagai senjatanya, salah satunya adalah senjata yang dia bentuk menggunakan kekuatan elemen miliknya.
"Oh! senjata yang bagus!."
"Yang kau punya juga lebih mengerikan."
"Ahaha.."
"..."
"..."
*Clingg!!
Dengan kedua serangan yang begitu cepat, keduanya saling menghantamkan pedangnya dan tidak ada dari mereka yang terpukul mundur.
Suara decitan dari pedang mereka begitu nyaring hingga mengeluarkan percikan api saking kuatnya.
"Boleh juga! kedua pedang milikmu bisa menghentikan Yansei milikku!."
"Aku pun bisa menahannya jika hanya seperti ini..."
"Oh... sifat sombong dirimu akhirnya keluar juga."
"Kau yang memancingnya!."
*Cling!!
Kita berdua melompat mundur akibat hantaman dari masing-masing serangan, dan kami kembali mengambil posisi bertarung.
"..."
"..."
*Swushh!!
Keduanya berlari dengan sebuah serangan dari pedangnya...
"Haaa!!."
*Duaarr!!!
Tiba tiba sebuah ledakan satang dari kejauhan, hingga hal itu mengangetkan kita berdua dan serangan itu terhentikan.
"Apa tadi?!!."
"Ledakan itu..."
"Bukannya... disana.."
"Yura!!!."