
"Hehe, apa kau sudah siap? Akemi!."
"Kapanpun kau mau!."
"Aku akan menunjukkan kekuatan baru milikku!."
"Aku pun sama..."
Aku menarik nafasku dalam dalam dan menghembuskan secara perlahan... lalu Yansei-ku langsung mengeluarkan sebuah aliran air yang mengelilinginya.
"Kau sudah membuka kekuatannya?!."
"Hehe! bagaimana?."
"Cukup baik, tapi bagaimana kalau ini! Fuuton! mengamuklah!."
"Fuu!."
Begitu Fuuton melompat kearah Akemi, tubuhnya langsung dikelilingi oleh cahaya hijau dan berubah bentuk menjadi sebuah pedang.
"Woaahh!! keren sekali!!."
"Bagaimana?.'
"Itu sangat baik, tapi aki masih belum melihat kekuatannya!."
"Kalau kau mau, aku akan memberikan padamu..."
"Aku terima!."
Kita berdua langsung melompat dan mendekat dengan sangat cepat, lalu mengadukan pedang kami sehingga kedua elemen saling menghantam diujung bilah.
*Dufff!!!
"Boleh juga kekuatannya!."
"Kau juga... jauh lebih kuat dari terakhir kali.."
Lalu kami berdua terus mengadu pedang hingga dentuman dari hantaman kedua elemen tersebut terdengar begitu nyaring.
Tetapi aku masih bisa bergerak lebih cepat karena pedangku yang memiliki keringanan maksimal saat pikiranku tenang, dan dia hanya unggul dalam serangan yang bisa menyerangku dengan jarak jauh, seperti menembakkan pusaran angin yang dia ciptakan dari ujung pedangnya.
"Masih belum selesai!!."
"Aku pun belum puas!!."
Angin yang tidak teratur berhembus ke segala arah, dan disana terdapat Ayumi yang sedang duduk sambil meletakkan dagunya diatas kedua tangannya seperti bosan karena dia tidak bisa bertarung seperti itu.
"Enak sekali... mereka berdua mempunyai senjata warisan yang hanya ada sepuluh senjata didunia... aku juga menginginkannya.."
"Bukannya kamu tidak memerlukan hal semacam itu?."
Master yang mendengar keluhannya langsung duduk disebelahnya... dan mereka terlihat seperti seorang ayah yang sedang menghibur anaknya.
"Tapi mempunyai senjata yang langka... pasti akan menjadi kebanggaan sendiri."
"Aku mendengar tentang kamu yang menghabisi tiga Tyrant sekaligus dengan kekuatanmu dari ketua divisi keenam.. aku sangat bangga."
"Itu hanya kekuatanku saja... tidak ada yang hebat juga."
Nadanya seperti sedang merajuk dan memalingkan wajahnya.
"Setiap orang memiliki kekuatannya masing-masing... dan kekuatan itulah yang akan menjadi inti dari kebanggaan tersendiri... maka, jika kamu menginginkan kekuatan yang dimiliki orang lain... berarti kamu tidak bangga akan apa yang telah kamu miliki."
"..."
Ayumi berpikir sejenak hingga dia merasa itu semua benar.
"Perkataan Master memang benar...maaf, aku terlalu berlebihan.."
"Yang terpenting adalah bagaimana kamu bisa menjadikan kekuatanmu sebagai jati dirimu... maka kekuatan itu akan sendirinya memahami apa yang kamu inginkan..."
"Terima kasih untuk nasihatnya... aku akan terus berusaha dan menjadi lebih ku-."
*Buzzzhh!!!
Tiba tiba angin kencang berhembus melewati mereka.
"Hei! jangan menyerang sembarangan!."
"Maaf! kami terlalu bersemangat! sekarang kami lapar.."
"Dasar... seenaknya saja... kalau begitu aku ingin memasak makanan dulu didalam."
"Yosha! makanan!."
"Berisik!."
Lalu Ayumi dengan jengkel kembali kedalam untuk memasakan makanan untuk makan siang kita semua.
Dan Master pun menghampiri kita berdua yang telah selesai berduel.
"Jadi... bagaimana? siapa yang menang?."
"Sayang sekali, kekuatan berpedang milikku masih jauh dibandingkan Kaito."
"Hehehe!! aku dan Yansei lebih lama bersama dibandingkan dengan Fuuton milikmu, jadi jika kalian bisa bertarung bersama-sama setiap hari, aku yakin kekuatan kalian bisa lebih menyatu."
"Fuu!."
"Sekarang kalian bisa memahami... bahwa kekuatan datang bukan secara langsung dari dalam diri kalian... tetapi bagaimana kalian bisa menyelaraskan kekuatan elemen pada tubuh kalian... semakin bisa kalian memahaminya, semakin kuat mereka menerimanya..."
"Aku pun berpikir seperti itu... semakin tenang pikiranku, pedang ini akan semakin menerimaku."
"Itu adalah salah satu contohnya... lalu jika Akemi, mungkin kamu bisa lebih dekat dengan Fuuton, seperti menemaninya bermain ataupun bertarung bersama."
"Baik... aku akan selalu terus bertarung dengannya... karena lagipula aku sudah berjanji untuk bertanggungjawab akan dirinya."
"Fuu!."
"..."
"Kaito... tentang peperangan yang kita lakukan beberapa waktu yang lalu... aku ingin mendengar bagaimana pendapatmu saat melawan iblis kematian BlackJack."
"..."
"Sebenarnya itu adalah salah satu hal yang terburuk bagiku... dia sangat kuat... bahkan seranganku bisa dihindarkan olehnya hanya dengan sekali gerakan... lalu, saat aku menggunakan kekuatan itu... sepertinya energiku yang begitu sedikit hingga leluhur tidak bisa melawannya dengan baik dan maksimal..."
"Iblis kematian BlackJack adalah iblis yang mengabdi langsung kepada raja iblis, dan didalam hal itu... terdapat sebuah perkumpulan didalamnya yang sering kita sebut iblis kematian... tetapi, biasanya mereka memiliki sebuah panggilan untuk mereka.." Jelas Akemi.
"Aku tidak pernah tahu akan hal itu.."
"Mereka bertujuh memiliki nama yang telah terdengar dalam puluhan tahun... yaitu Diabolo Mors."
"Diabolo Mors...."
"Benar, dan iblis BlackJack yang kamu hadapi, dia adalah iblis terkuat kedua dari ketujuh iblis kematian Diabolo Mors." Master menambahkan apa yang Akemi jelaskan.
"Terkuat kedua... berarti dia masih belum memberikan kekuatan yang sebenarnya."
"Menyelamatkan hidup dari dirinya sudah menjadi sebuah keberuntungan untukmu... karena iblis Morbus pun hanya iblis kematian terkuat keempat.."
"Ternyata kita sudah melawan sesuatu yang mengerikan..."
"Hidup kita bertujuan untuk memberikan kedamaian kepada umat manusia, dan maka dari itu... iblis maupun manusia, keduanya hanya berbeda nama dan terkadang hasrat mereka hampir sama.."
"..."
"Tetapi kita kesampingkan hal itu, dan lakukan apa yang harus dilakukan sekarang... ingat, besok kalian bertiga sudah akan menjalankan misi bersama kembali."
"Sudah lama kita tidak menjalankan misi bersama."
"Aku semakin semangat untuk haru esok!."
"Master!! Akemi!! Kaito!! saatnya makan siang!."
"Woaah!! makan makan! hahaha!."
Aku langsung berlari tanpa pikir panjang kedalam markas, sedangkan Akemi dan Master hanya menggelengkan kepalanya.
......................
"Emm... kenapa benda ini tidak ingin bekerja? seharusnya aku sudah memasang semuanya dengan benar... apa energinya kurang kuat? mungkin aku harus... membesarkan... energinya... sedikit... la-."
*Duaarr!!!
Seketika wajahnya menjadi gosong dan benda yang ia ciptakan langsung hancur tak tersisa..
"Lagi lagi aku gagal... uwaaahh sial! aku harus mega semangat!!."
Beberapa detik kemudian...
*Duaarr!!
Detik kemudian kembali.
*Duarr!!
Dan kembali.
*Duaarr!
Kembali...
*Duaarr!!
"..."
"Aarrghhh!! aku sudah berulangkali mencoba membuatnya... tetapi selalu gagal!."
"Lihatlah anak itu, dia terus menerus menggabungkan teknologi dan elemen dengan caranya sendiri... tetapi selalu gagal."
"Bagaimana bisa teknologi yang sudah menjadi perkembangan zaman modern bisa digabungkan dengan elemen dengan tehnik mekaniknya, sungguh aneh."
"Woi! kalian berdua, aku mendengarnya!!."
"Gawat! dia melihat kita! lari!."
Orang yang membicarakan dia pun langsung lari terbirit-birit setelah dia tahu keberadaan mereka yang sedang membicarakan buruk tentangnya.
"Huh... selalu saja seperti ini... memang lahir tanpa kekuatan elemen sangat memuakkan!! aku akan membuat senjata modern kembali dengan gabungan elemen!! karena aku mega pantang menyerah!!."
*Duaarr!!