PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Episode 53



( Control Element : Sword )


*Cling!!


Kedua Barats yang kini sedang berduel pedang didalam arena bertanding ditempat markas divisi pertama...


"Sejujurnya aku tidak mau melawan orang yang sedang terluka..."


"Jangan banyak omong, aku sama sekali tidak terluka!!."


*Wuushh!


Aku mengayunkan pedangku lebih kuat sehingga dia terdorong dan melompat mundur untuk menjaga jarak...


"Mudah sekali!."


"Jangan cepat sombong!."


( Control Element : Disc! )


Dua buah cakram yang berputar dan melesat kearahku, dengan mudah aku menangkisnya dan langsung maju untuk menyerangnya.


"Masih belum.."


"...!!."


Cakram itu berputar kembali kearahku, saat aku sudah telat untuk menyadarinya...


Tetapi aku langsung berbalik badan dan menangkis salah satunya, dan yang satunya menghantam pedangku lalu terlepas dari genggamanku.


Aku langsung mengangkat kakiku dan menendang pedangku hingga pedang itu kembali padaku.


"Tidak ada yang lebih huh?."


"Kalau kau memintanya."


( Control Element : Machine gun )


Sebuah senapan mesin keluar dari bola tanahnya dan dia langsung mengendalikan senapan mesinnya itu.


"Izo! jangan terlalu berlebihan!."


Melihat senjata yang ia keluarkan terlalu beresiko, seniornya merasa begitu khawatir karena aku juga masih dalam kondisi belum pulih sepenuhnya.


"..."


Berbeda dengan ketua divisi pertama yang hanya diam mengamati mereka berdua.


"Senjata yang bagus... tapi Yansei-ku lebih mengerikan."


"Kita lihat siapa yang terbaik.."


Aku mengatur nafasku hingga pikiranku menjadi lebih tenang dari sebelumnya... dan secara bersamaan, pedangnya langsung terasa sangat ringan, hanya seperti mengangkat sebuah ranting kayu.


Izo mulai menyalakan senapan mesin tersebut, dan ratusan peluru langsung melesat menuju kearahku.


Aku mengambil posisiku dan menghembuskan nafasku...


"Huftt.."


*Cling!


Satu peluru pertama berhasil ditangkis dan...


Suara pantulannya menjadi begitu cepat seperti mesin penghancur, gerakan tanganku yang sangat cepat mengayunkan pedangnya dapat menebas semua peluru itu, tanpa menggerakkan seluruh tubuhku selain lengan dan tanganku.


"Dia sangat cepat! semua pelurunya bisa ditangkis hanya dengan satu pedang..."


"Seorang Barats tanpa memiliki kekuatan elemen... tetapi kemampuannya setara dengan Barats unggulan para divisi, dan juga pedang itu. Adalah salah satu dari sepuluh senjata Warisan... Pedang yang dibuat dari kekuatan elemen Aqua... Yansei."


Tidak ada satu biji peluru pun yang berhasil melewatiku, dan akhirnya senapan mesin tersebut berhenti akibat kehabisan peluru.


Izo pun memasukkan senjata itu kembali kedalam bola tanahnya dan mengeluarkan beberapa bola yang muncul dari telapak tangannya.


"Jangan begitu keras kepala, sebaiknya kau menyerah."


"Menyerah? kebetulan aku ingin mencoba hal baru... hihi!."


*Wuzhh!!


"..!!."


Seketika, pedangku dilapisi oleh aliran air yang mengelilingi pedangku.


"Tunggu!? itu..."


Mereka sedikit terkejut karena melihat sesuatu yang harusnya sudah tidak bisa mereka lihat.


"Guru, bagaimana dia bisa memiliki elemen... itu?."


Ketua divisi pertama menyipitkan matanya dan melipat tangannya cukup keras.


"Itu bukan dari kekuatan elemennya... tetapi pedang warisan tersebut telah bangkit..."


"Memangnya ada yang seperti itu...?."


"Karena pedang warisan dibuat oleh tangan seorang pengrajin yang memiliki kekuatan elemen... jika pembuatnya memiliki kekuatan elemen yang besar, maka dia bisa menyimpan kekuatan elemen mereka didalam pedang warisan..."


"Jadi... pedang itu..."


"Ilegal... tetapi saat ini anak itu memilikinya... entah darimana dia mendapatkan senjata itu."


"..."


...


"Apa kau tidak ingin bersiap??."


"Tch, jangan meremehkan orang lain."


( Control Element : Grenades! )


Izo melepaskan nola tanah itu dan bola itu berubah menjadi sebuah bom tangan yang melayang kearahku.


"Itu akan meledak!."


*Sring!!


Tanpa ada ledakan... bom tangan itu terbelah menjadi dua bagian, dan keadaannya sudah mati.


"Sekarang giliran aku!."


Aku langsung melesat kearah sambil menarik pedangku dan bersiap untuk mengayunkannya.


( Control Element : Shield! )


Izo mengeluarkan perisai besinya, tetapi itu hanya akan menebus hingga mengenai tubuhnya.


"Hanya papan besi tidak akan bisa menghalangiku!."


"Siapa yang mengatakan hanya papan besi?."


( Control Element : Flamethrower! )


Sebuah mesin lonjong yang ujungnya mengeluarkan hembusan api yang dia selipkan ditengah perisai yang memiliki lubang untuk memasukkan ujung senjata.


"Siapa takut!."


Tetapi aku tetap menggenggam pedangku dengan kuat, dan pedang itu memutarkan aliran air yang berada disekelilingnya.


"Rasakan ini!."


"...!."


"Hentikan mereka .."


*Tap... Tap...


Saat Izo yang ingin menyalakan mesin api tersebut dan juga aku yang sudah mengayunkan pedangnya, tiba tiba kedua serangan kami ditahan hanya dengan kedua telapak tangannya.


Telapak tangannya menutup lubang yang ingin mengeluarkan hembusan api, dan yang satunya menahan pedangku hanya dengan satu tangannya.


"Senior?!."


"Kau?!."


Sebuah bola api yang menutupinya kedua tangannya itu adalah kekuatan elemen miliknya yaitu kekuatan bumi elemen Ignis, dengan tipe pengontrol elemen...


"Hentikan sampai disini... aku tidak mau ada yang terluka... jadi simpan senjata kalian... mengerti?."


"Baik!."


"Y-Ya... baiklah."


Kami berdua langsung menyimpang senjata kami, karena Senior itu menghentikan pertarungannya.


"Tunggu... perasaan aku melihat ada orang lagi yang melihat kita..."


Aku melihat lihat sekitar tempat arena tetapi tidak ada seorang pun disana.


"Hm? bukannya guru ada di-."


Senior pun langsung terdiam begitu melihat tempat yang ia tunjuk sudah tidak ada siapa siapa... yang seharusnya Ketua Divisi Pertama berdiri disana.


"Benarkan? tidak ada siapa-siapa."


"Aa... yah... mungkin hanya perasaanmu saja.."


"Kenapa senior menghentikan pertarungannya... lagipula kita tidak melukai satu sama lain.."


Izo mengatakan hal itu setelah dia mengeluarkan banyak senjata berat saat latih tanding tadi dengan santai.


"Itu karena kau sudah kalah... yang seperti itu pun kau tidak mengerti."


"Hem!! mengalahkan diriku hanya mimpimu saja!."


"Hentikan... aku sengaja melakukannya... karena teman pasukan Barats divisinya sudah datang."


"Mereka sudah datang?."


"Um... maka dari itu aku akan mengantarmu ke depan gerbang."


"Tch, aku akan menghajarmu lain kali saat aku melihat batang hidungmu!."


"Baiklah! aku akan menunggu hal itu... kalau kau masih punya keberanian."


"Omong kosong.."


.


.


.


Setelah pertarungan latih tanding yang cukup sengit, meskipun tidak ada hasil dari siapa yang menang, sudah saatnya aku untuk kembali ke markas divisiku, dan menemui mereka setelah sudah beberapa minggu kita tidak berjumpa.


Sambil berjalan dan menunggu kedatangan mereka, aku yang penasaran dengan kekuatan milik gadis yang ternyata adalah seorang senior itu lalu menanyakan tentang kekuatannya.


"Kau- maksudku senior... kekuatan apa yang senior miliki?."


"Tania..."


"...??."


"Itu namaku... kamu boleh memanggil namaku."


Dia kembali tersenyum lembut kepadaku dan memberikan namanya.


"B-Baiklah... kalau begitu kau boleh memanggilku Kaito..."


"Kaito... aku mengerti."


Hanya memanggil namaku saja tubuhku langsung bergetar akibat suaranya yang sangat lembut itu.


"( Aku bisa mati perlahan jika terus mendengarkan suaranya saja!...)"


"Apa aku boleh meminjam salah satu tanganmu?."


"Eh? y-ya..."


Aku memberikan tanganku dan dia membuka telapak tanganku lalu mengangkatnya dengan telapak tangannya yang berada dibawah tanganku.


Dan dari telapak tanganku muncul sebuah bola api, dan bola itu seketika terbuka menjadi bunga yang mekar, dan terlihat begitu indah.


"Ini..."


"Aku bisa mengontrol api milikku menjadi sebuah bunga kekuatan... lihat ini."


*Wuzzhh!


Saat bunga itu semakin menyala, tubuhku langsung terasa sangat ringan, seperti semua luka yang ada menghilang entah kemana.


"Lukanya semakin membaik!."


"Aku bisa menyembuhkan, menetralkan dan menghantamkan kekuatan elemen... meskipun kekuatanku tidak terlalu kuat."


"Apa yang kau katakan... ini sangatlah menakjubkan! kekuatanmu pasti akan bisa menjadi lebih kuat... aku ingin melihat kekuatanmu..."


Beberapa detik wajahnya memerah dan langsung menutupnya dengan kedua tangannya.


"C-Cukup... aku jadi malu."


Suaranya yang sangat imut membuatku kembali merasakan hantaman yang kuat didalam hatiku.


"( Tidak! jika diteruskan... aku akan mati bahagia...)"


Tiba tiba dia menggenggam kedua tanganku, dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca... lalu memberikan senyuman yang begitu manis.


"Terima kasih... jika kita bertemu kembali... aku akan menunjukkan hal itu padamu."


"..."


......................


"Huh... sebenarnya dimana Kaito?? bukannya pengawas gerbang mengatakan kalau dia berada ditempat Arena Bertanding?."


"Markas ini sangat luas... jadi kita tidak tahu dimana tempatnya berad-."


Akemi yang menabrak tubuh kakaknya karena dia berhenti berjalan...


"Kakak, apa yang kau laku-."


"Padahal kita sudah rela menemuinya disini... tetapi dia dengan asiknya bermesraan dengan perempuan..."


"K-Kakak..."


...


*Swusshh!!


"Hm? apa cuacanya sedikit buruk?."


"Benar... anginnya sangat ku- ekk!!."


Aku langsung terkejut saat melihat Ayumi yang sudah naik darah menuju kearahku.


"Jadi begitu... kau betah berminggu-minggu disini... karena itu?."


"Eh? tidak! tapi aku hanya bertemu dengannya dan-."


"Tidak ada alasan!."


Ayumi menarik kerah bajuku dan membawa paksa tubuhku untuk pulang.


"S-Sampai bertemu lagi!! Tania!!."


Saat aku memanggil namanya, wajahnya langsung memerah dan terdiam hingga aku sudah tidak terlihat didepan pandangannya.


"Kamu memanggilku terlalu kencang... sampai bertemu lagi, Kaito."