
1 hari sebelum dimulainya peperangan melawan salah satu iblis kematian Morbus.
Situasi ditempat kelompok yang dipimpin oleh ketua Divisi 4, Iwei Oku.
"Besok kita akan memulai peperangan!!! apa kalian sudah menyiapkan tekad kalian dan meninggalkan ketakutan kalian ditempat ini!?."
"Siap!! sudah!!."
"Apa kalian sudah percaya dengan kekuatan kalian sendiri?!!!."
"Siap! sudah!!."
"Bagus! aku akan benar benar mengharapkan kemenangan dengan kalian! kita tidak tahu siapa yang akan menjadi korbannya...tetapi aku sebagai ketua kelompok ini, akan melindungi kalian meskipun bertaruh dengan nyawa!."
Beliau berpidato didepan para Barats yang sedang berbaris seperti pasukan tentara yang siap untuk merenggut kemenangan.
Dan Akemi bersama dengan Mouwton, sebuah senjata biologis juga sudah lebih kuat selama dia berlatih dengan beliau.
"( Aku harus menjadi lebih kuat, Kakak!! Kaito! kita harus kembali bertemu!!..)
......................
Situasi ditempat kelompok yang dipimpin oleh ketua divisi 6, Sir Lythir.
"Apakah kalian sudah siap? para gadis gadisku yang begitu cantik mempesona?."
"..."
"Anu guru... kami para lelaki juga siap untuk berperang!."
"Kalau begitu jangan tanya padaku!."
"P-Padahal kita hanya ada lima lelaki... berat sekali berada di kelompok ini.."
"Ehem... besok kita akan mulai berperang... tunjukkan pesona kalian yang begitu indah dihadapan para iblis! aku yakin kecantikan kalian tidak bisa dikalahkan oleh siapapun!."
Dia berbicara dengan nada yang begitu manis hanya kepada para gadis... dikelompok ini perbandingan para gadis dan lelaki begitu jauh...
G-Guru! apa guru akan melindungi kami?."
Mereka begitu imut saat menatapnya hingga ia kejang kejang akibat keimutan mereka semua.
"P-Pasti!! demi kalian aku akan rela melindungi kalian bahkan hingga taman bunga di syurga!."
Disana adalah kelompok yang diisi oleh Ayumi, dia pun berada dikelompok ini dengan terpaksa.
"( Aku harus bertahan dan mengembangkan kekuatanku untuk menjadi kuat! Akemi! Kaito! Ayo kita kembali bersama!..)
......................
Dan kini kelompok terkahir yang dipimpin oleh ketua divisi 2, Reiido Koton.
"Besok adalah hari dimana peperangan akan dimulai... apa kalian sudah siap?."
Dia mengatakan hal itu didepan kami, tetapi tampilannya seperti orang yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.
"H-Harusnya kami yang bertanya pada anda..."
"Sebenarnya kita hanya bertaruh dengan tiga tempat, dan salah satunya itu dimana iblis kematian singgah... jadi mungkin pegunungan Moete bukan tempat iblis kematian itu."
"Itu adalah pemikiran positif... tapi apa kita bisa setenang ini?."
"Kenapa? apa kalian begitu takut karena kalian sangat lemah? aku bisa melihat keringat yang berjatuhan."
Mendengar itu, serompak semua Barats berteriak dengan kuat.
"TIDAK!!! KAMI SIAP!!."
"Hem, bagus... aku percaya kepada kalian." sambil mengeluarkan senyum bangganya kepada mereka.
Aku yang berada dalam kelompok ini sudah semakin mengerti akan kekuatan diriku... aku berusaha untuk terus menembus batas kekuatanku sampai esok hari.
"( Besok adalah penentuannya!! hingga saat itu, aku pasti akan menjadi lebih kuat! Ayumi! Akemi! Ayo kita kembali!!...)
......................
Markas Besar Octagram.
"Apa ada informasi tentang ketua divisi delapan?."
Seseorang dengan menggunakan peralatan yang sangat modern hingga bisa merasakan adanya bencana yang akan datang, dan juga ia bisa membuat jalur informasi dari jarak sejauh manapun mereka berada, dia adalah Penerawang.
"Sayang sekali, ketua Divisi delapan masih belum dapat ditemukan dengan sinyal yang saya pancarkan... keberadaannya seperti menghilang dari dataran ini, atau kemungkinannya dia tertangkap oleh pasukan iblis."
Saat ini, hanya ada ketua divisi 1, divisi 3, divisi 5, dan divisi 7. Karena ketiga ketua divisi sudah ditugaskan untuk memimpin pasukan penyerbuan terhadap iblis kematian Morbus.
"Sangat mengecewakan sekali! bagaimana bisa dia begitu mudah dikalahkan oleh bawahan iblis itu? hem! tidak bisa diharapkan!."
"Tetapi, ada yang lebih penting untuk diperhatikan... apakah anak anak kita baik baik saja disana... benar kan? manusia banteng."
"Benar... saat ini, hanya kita yang tersisa untuk mengurusinya... aku harap kalian dapat bekerja sama."
"..."
"Jika seperti itu aku tidak keberatan... tapi apa kalian tidak terganggu dengan patung yang bersama kita disini?."
Dia berdiri dengan kedua tangannya menyentuh pinggulnya yang ramping, dan hawanya terasa begitu panas begitu melihatnya saja.
Perkataannya jelas mengarah ketempat ketua divisi kesatu yang sedari tadi hanya diam tak berbicara sedikitpun.
"Berpikir positif saja, mungkin dia memiliki penyakit atau kekurangan fisik yang membuatnya tidak sanggup untuk berbicara? sungguh pria malang."
Sambil mengelus rambutnya yang begitu halus, suaranya yang lembut tetapi kata katanya begitu tidak nyaman didengar.
"Hem! mungkin kau benar... aku tidak habis pikir, bagaimana orang kedua dan ketiga yaitu banteng bermata satu bisa diajak olehnya.."
Meskipun mendengarkan perkataan tidak enak dari mereka berdua, dia masih diam tak bergeming sedikitpun.
"Kalian hentikanlah... divisi lima, bukannya kau sendiri yang mengatakan untuk mementingkan para Barats kita?."
"Ara, maaf... aku terbawa suasana tadi."
"Baiklah... sudah waktunya untuk pergi... sesuai rencana yang sudah dibahas, kita akan berkumpul ditempat itu."
Kita semua berdiri dan bersiap untuk meninggalkan ruangan.
Mereka berdua pergi dengan meninggalkan percikan api dan hembusan angin lalu menghilang seketika.
Begitu pula dengan ketua divisi 3 yang ingin segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Waktu..."
Dia berhenti seketika ketika mendengar sebuah kata yang keluar dari orang itu.
Lalu sang banteng bermata satu itu menjawab dengan datar.
"Semua masih berjalan dengan lancar..."
Dan dia menghilang meninggalkan orang itu.
......................
"Oi oi, besok adalah hari pentingnya, dan kalian semua masih berlatih?."
Melihat semua Barats yang sedang berlatih mati matian hingga tempat yang luas itu menjadi tempat yang penuh dengan kerusakan kerusakan yang dibuat oleh mereka.
"Sepertinya aku butuh segelas cola, sekarang dimana bocah ayam itu berada?."
"Anda masih saja bersantai? padahal besok adalah hari yang sangat penting."
Tiba tiba dia sudah berada dibelakangnya sambil memegang segelas cola.
"Aku bahkan belum memintamu... terserah deh, terima kasih colanya."
Dia membuka tutup botolnya dan meneguknya begitu cepat sambil beristirahat dibawah pohon besar yang rindang.
"Apa kekuatanmu mulai berkembang?."
"Kurasa iya... Kaito mengajariku begitu banyak hal yang ia kuasai dari pengalamannya..."
"Oh~ itu bagus kan?."
"Aku tahu... tapi semakin lama aku berpikir jika inilah perbedaan kekuatan antara aku dengannya... bahkan ia tidak memiliki kekuatan bumi, tetapi tehnik berpedang nya sudah diluar batas wajar.."
"Hal itu bukanlah sesuatu yang perlu kau pikirkan... janganlah menjadi katak yang terjebak didalam dasar sumur... dunia ini begitu luas, bahkan kita masih hidup dengan ketidaktahuan, apa yang ada diluar dataran besar ini... maka dari itu, kau bisa menjadi lebih kuat... kau sanggup kan?."
"Mendengar perkataan guru, memang sedikit meringankanku... tetapi mengingat apa yang akan kita hadapi esok, hal itu langsung membuat tubuhku gemetaran.."
"Hilangkan rasa takutmu... jika tidak kau akan benar benar mati disana... kita sudah membahas hal ini bukan? iblis itu bisa mengontrol manusia yang memiliki ketakutan yang semakin besar maka iblis itu akan lebih mudah untuk mengontrolnya."
"Aku tahu! tapi itu bukanlah hal yang mudah!."
Dia berdiri dan seketika gelas plastik itu dengan sekejap meleleh menjadi cairan dan jatuh keatas tanah.
"Jika kau takut, maka tinggallah disini... masih banyak tempat yang cocok untukmu." Lalu dia meninggalkannya dengan perasaan yang begitu gundah.
Dia harus melawan ketakutannya sambil berfokus untuk melawan iblis... dia tidak percaya dengan dirinya sendiri...
Karena dia masih belum menang melawan rasa takutnya.