PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Episode 22



"Mmh..."


"..."


"Gawat! aku ketiduran!." Ayumi yang terkejut saat melihat dirinya yang tidak sengaja tidur karena kelelahan..


"Kakak, kau sudah bangun." dirinya yang sedang mengurus Mouwton langsung mendekati Ayumi saat dia bangun.


"Akemi... dimana Kaito?." Dia mengucek matanya karena masih merasa kantuk.


"Dia ada dibawah air terjun... seperti biasa dia selalu berlatih."


"Begitu ya... apa yang sedang kau lakukan?."


"Aku sedang melatih dia."


"Dia... maksudmu Mouwton?."


"Ya... lihat ini."


Saat sedari tadi dia menumpuk beberapa batang pohon yang cukup besar hingga menjadi sebuah dinding yang terlihat kokoh, tetapi Ayumu tidak melihat keberadaan Mouwton disekelilingnya.


"Dimana kucingnya?."


"Dia akan datang."


( Danzo!! )


Dia mengeluarkan pedang anginnya, dan melemparkan pusaran angin keatas langit.


"Hm?."


Saat Ayumi masih belum tahu mereka sedang melakukan apa, tiba tiba dari kejauhan tengah hutan, sebuah bola angin yang sangat cepat seperti meteor berbentuk pusaran angin melesat kearah tanda angin yang Akemi berikan, lalu Akemi membanting pedangnya kearah bawah yaitu tumpukan batang pohon itu sehingga menandakan jika bola angin itu harus menyerang kesana...


*Swuusshhh!!


*Bumm!!!!


"Wahh!! serangannya sangat dahsyat!."


Dari bola angin itu ternyata adalah Mouwton yang mengendalikan angin dari kekuatan pedang Akemi, lalu berputar dan menyerang kearah yang ditandai olehnya.


"Mouwton! ternyata itu kau ya."


"Mouw!."


"Kerja bagus, Mouwton."


Sebagai hadiah, Akemi mengelus kepalanya dan memberikannya sebuah ikan.


"Mouw!."


"Apa sekarang para petinggi membiarkan Mouwton bersamamu?."


"Ya... dan juga dia diizinkan untuk menyelesaikan misi bersamaku, dan aku sudah berjanji untuk bertanggung jawab melindunginya."


"Jadi, kau punya sebuah rekan yang baik ya."


"Benar.."


*Byurrr!!!!


Dari arah timur, sebuah pancuran air yang besar muncul tiba-tiba dari sana.


"Ada apa disana?."


"Disana tempat air terjun dimana Kaito sedang berlatih... sebaiknya kita melihatnya kesana."


"U-Um."


.


.


.


"Aw aw aw.... aku masih belum cepat."


"Kaito."


Saat aku sedang berlatih, mereka berdua menghampiriku karena mungkin melihat pancuran air yang besar tadi.


"Akemi, Ayumi... selamat pagi."


"Ada apa denganmu? pagi pagi sudah basah kuyup seperti ini.."


"Aku sedang mencoba hal baru... tapi masih terlalu cepat untuk bisa menguasainya."


"Tadi seranganmu cukup besar, sebaiknya hati hati, jangan sampai merusak alam kota." Akemi melihat keadaan air terjun yang sepertinya masih belum hancur.


"Baik, aku akan berhati-hati... selanjutnya pasti akan bisa!."


"Kaito, kamu sudah tidak apa apa kan?." Ucap Ayumi khawatir.


"Aku tidak bisa berbohong jika aku baik baik saja... aku masih bisa merasakan emosiku dan mengeluarkannya kapan saja... tetapi... untuk mereka yang nyawanya direnggut oleh iblis itu... demi mereka, aku akan membalas semua perbuatannya."


Mereka berdua pun tersenyum.


"Kali ini aku setuju denganmu..."


"Kita harus menjadi lebih kuat untuk itu.."


......................


Setelah kami bertiga berlatih begitu keras, hingga larut malam, kami masih bersiaga untuk menjaga kota agar aman dari serangan iblis seperti kemarin.


Dari laporan petugas keamanan kota, seluruh warga sudah tidak ada yang terkena parasit itu, jadi dari tadi siang mereka sudah berada dirumah masing-masing sambil tetap waspada dengan sekitarnya.


Tujuan dari iblis itu masih belum kita ketahui, dan serangannya yang membuat 50 orang lebih meninggal membuat sebuah bekas yang begitu mendalam untuk sanak saudaranya.


"Kami sudah meneliti monster parasit tersebut... mereka datang dari hewan yang dari awal sudah mereka bunuh dan dibawa lewat kereta pangan yang biasa datang ke kota... dan dari pemeriksaan seluruh kota, seratus persen sudah aman dan tidak ada monster tersebut." Profesor Kiro menjelaskan dengan detail tentang parasit itu.


"Kami juga sudah melakukan penjagaan ketat di setiap gerbang masuk, dengan mengecek barang bawaan dari kereta kereta itu." Para penjaga warga kota pun ikut serta.


Kota ini dilindungi oleh kami pasukan revolusioner, jadi beberapa orang yang memiliki hubungan untuk keamanan kota sengaja diberitahu keberadaan kami, tetapi hanya dua atau tiga orang warga penjaga saja yang mengetahui keberadaan kami.


"Kalau begitu tetap pertahankan keamanan... terus awasi setiap barang yang masuk kedalam kota." Ayumi mewakili master untuk memerintahkan penjagaan kepada mereka.


"Baik!."


"Menurut penelitian kita, sepertinya monster parasit ini tidak dikirim sembarangan oleh iblis itu..."


"Kenapa?."


"Lihat... parasit ini seperti memiliki tujuannya untuk mencari korban, dan mereka terus terusan berjalan kearah tujuan mereka tanpa mengubah arahnya."


"Jadi... mereka dikendalikan."


"Benar."


"Jika tidak dimusnahkan, mereka akan terus mencari mangsa untuk ditinggali... lalu menjadi monster yang begitu kuat... apakah ada tujuan dari ini?."


"Pasukan... iblis itu sedang membuat pasukan..." Ayumi yang sedang berpikir, akhirnya ia tiba dalam satu petunjuk.


"Maksudmu... mengambil pasukan dari mayat manusia?."


"Ya...jadi kupikir, tidak hanya kota ini saja yang terkena serangannya."


"Apakah mereka sudah ingin memulai perang?."


"Ck! jika memang seperti itu... kita harus benar-benar waspada dan tetap berada dibawah lindungan para ketua divisi?."


"Master belum kembali, kau harus tenang dulu."


"Aku tahu..."


.....................


Markas besar revolusioner...


"Oi oi, ini bukan bercanda kan? kita menyerbu tempat iblis kematian?."


"Tidak ada pilihan lain bukan? mereka sudah memulainya dengan kita!."


"Bagaimana menurutmu? ketua divisi satu..."


"Aku tidak masalah..."


"Bukannya kita terlalu berlebihan? apa kita harus maju sebagai pasukan revolusioner, sedangkan pemerintah dan kerajaan Impius tidak turun tangan dengan masalah ini?!."


"Kita juga harus memikirkan itu... jika kita terjebak oleh kedua hal, maka akan jadi malapetaka nantinya."


"Bagaimana jika kita membagi kelompok..."


"Apa maksudnya? divisi ketiga?."


"Kita tidak menyerangnya secara sekaligus semua pasukan divisi... tetapi satu dari perwakilan untuk satu divisi, lalu nantinya hanya ada tiga kelompok untuk menyerang wilayah iblis kematian."


"Maksudmu... menyuruh salah satu barats untuk bergabung dengan barats divisi lainnya?."


"Ya... lalu kita bisa menyerang tiga tempat yang sudah diketahui adalah wilayah iblis kematian itu.."


"Kita sudah menemukan petunjuk... wilayah iblis itu ada pada salah satu dari tiga tempat yang sudah ditandai... pegunungan Moete, Gua bawah tanah yang besar disebelah utara, dan satu lagi yaitu pulau kecil yang berada ditengah danau diatas daratan Pax."


"Jadi sudah diputuskan? aku akan segera menghubungi Barats milikku."


"Saat ini, ada tiga divisi yang akan terpilih untuk pusat kelompok..."


"Divisi 2..."


"Oi oi, yang benar saja?."


"Divisi 6..."


"Oh ratu idaman... maukah kamu berjuang bersamaku hingga mati?."


"Divisi 4."


"Baik! kami akan melakukan misi ini dengan sangat baik!."


"Tolong bekerja sama... kita sudah tidak ada waktu untuk berbeda pendapat."


"Untuk pasukan divisi yang lain... segera berikan Barats kalian!!."


Pada pertemuan yang panjang, akhirnya mereka sudah memiliki sebuah tujuan...


Untuk menerima peperangan dari salah satu bawahan raja iblis Vilis yaitu...


Iblis Kematian Morbus!!!