
"Apa kalian sudah menemukan korban?."
"Aku masih mencari... disekitar sini sangat sunyi."
"Masih ada beberapa warga yang belum mengungsi, tetapi aku masih belum melihatnya lagi."
Kami saling memberikan informasi lewat alat komunikasi yang biasa disebut Dial Phone, benda ini bisa menghubungi lebih dari sepuluh dial dan bisa saling bertukar informasi antar kelompok.
Aku turun dari atap rumah untuk memperingatkan warga yang masih berada ditempat itu dan segera pergi ketengah kota untuk mengungsi dan diperiksa.
"Hei! Apa yang kalian tunggu? Cepat pergi dari tempat ini... Segera periksa tubuhmu disana."
"Tapi!."
"Ada apa?!."
"D-Disana, ada orang yang sedang duduk dan punggungnya mengeluarkan balon aneh."
Dia menunjuk ke sebuah rumah kayu tua yang sedikit besar.
"Itu..."
Aku begitu syok saat menyadari jika rumah yang ia tunjuk adalah rumah yang berada tepat disebelah kamar apartemenku... Tidak lain atau tidak bukan... Itu adalah rumah nenek Chiyo.
Begitu aku berjalan mendekati rumah itu, didepan teras rumah ada seorang nenek yang sedang duduk diatas kursi goyang sambil bersenandung dengan sebuah monster parasit yang cukup besar dipunggungnya.
"Nenek... Chiyo..."
"Oh, Kaito! Kamu sudah pulang?."
Dia berbicara dengan terbata bata karena menahan rasa sakit yang begitu mendalam.
"Nenek... Anda..."
"Maaf ya... Nenek tidak tahu saat nenek tergigit oleh seekor anjing yang tiba tiba datang menggigit nenek saat nenek sedang membeli bahan masakan."
Dia mengeluarkan sebuah kotak makan yang berada disebelahnya.
"Nenek sempat membuatnya untukmu... Kamu suka ikan bakar bukan? Nenek sudah memasak banyak."
Dia tersenyum dengan rasa sakit yang bisa ia kalahkan.
Aku berdiri putus asa saat melihat beliau masih bisa tersenyum meskipun parasit itu berdetak dibelakang punggungnya.
"Nenek... Maaf... Aku sungguh minta maaf." Aku berlutut didepannya sambil meratapi kesedihan yang tidak aku duga.
Telapak tangannya mengelus-elus kepalaku dengan lembut...
"Entah mengapa... Rasanya tubuh nenek semakin sakit... tapi nenek bisa mengatasinya, tenang saja."
Mendengar itu aku langsung berteriak sekeras-kerasnya untuk melampiaskan kemarahanku.
Aku tidak bisa mengambil pilihan untuk membunuhnya... Dia sudah seperti nenekku yang selalu memberikanku makanan setiap hari...
Dia adalah orang yang baik... Tapi mengapa dia menemui ajalnya seperti ini.
"Kaito... Apa nenek boleh meminta satu hal?."
Saat itu aku berhenti dan mendengar suaranya yang kecil.
"Tolong... Jangan membiarkan nenek hidup lebih lama... Nenek tahu, apa yang ada ditubuh nenek... Adalah monster."
"Aku... tidak bisa!"
"Tolong... Untuk terakhir kalinya..."
Aku menatapnya yang masih tersenyum sambil menahan rasa sakit itu, seluruh tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin.
"Kaito..."
"Sial!! Aku tidak bisa!."
"Tubuh nenek... sangat sakit..."
Rasanya kepalaku ingin meledak saat merasakan emosi yang begitu besar.
Aku tahu jika terus seperti ini, beliau akan terus menderita kesakitan.
Tetapi, karena kemarahanku yang begitu dalam... Aku tidak bisa menarik pedangku karena terasa begitu berat.
"Berat sekali!! Aku... Tidak bisa mengangkatnya!!."
Beliau terlihat semakin menderita... Bahkan dia sudah tidak bisa berbicara dengan lancar.
"Kumohon!!! Yansei!! Bergeraklah!!!."
Semakin aku menariknya dengan penuh emosi, rasanya berat pedangku hampir seperti sebuah ratusan kilo baja.
"Kai...to."
"Aku tidak bisa!!!."
"Kai.."
"Bergeraklah!!."
"Kaito!!." Suaranya saat terakhir kali memanggilku... Darah yang keluar dari mulutnya begitu banyak... Aku terdiam dan terpaku saat melihatnya.
"Kaito... Ne...nek senang... Bisa bertemu denganmu... Rasanya seperti... Nenek memiliki seorang cucu..."
"..."
"Tolong bantu nenek... Untuk menghentikan rasa sakit ini... Kaito?."
Dia berbicara dengan lembut dan menggenggam tanganku yang masih berada di genggaman pedang.
Senyumannya membuatku sadar... Jika aku terus menyiksanya...
Aku menatap wajahnya yang lesu dan pucat... entah mengapa tubuhku sangat ringan, dan aku bisa menarik pedangku... begitu ringan.
Saat ini, aku berada dalam posisi yang begitu tenang... didalam kepalaku, terus membayangkan masa masa dimana saat dia selalu membantu hidupku.. tetapi sungguh aneh... Saat ini aku tidak bisa mengeluarkan emosiku sama sekali.
Tanpa adanya emosi...
*Srekk!!
Sebuah bilah pedang yang menembus dari depan dadanya hingga ketengah tubuh parasit itu...
Tangannya berhenti bergetar... Beliau perlahan menutup matanya... Untuk terakhir kalinya... Dia pergi dengan meninggalkan senyuman diwajahnya...
Monster itu berhenti berdetak, menandakan dia sudah tidak bernyawa...
Aku menarik pedangku lalu menjatuhkannya... Diujung pedangnya terbungkus oleh warna merah darah dari beliau...
Berdiri diam tak bergeming... Suaranya sudah begitu sunyi...
Aku kembali mengalami sebuah kejadian yang terus berulang didalam mimpi...
Apakah momen ini akan muncul didalam mimpiku seperti biasanya?
......................
"Kakak... bagaimana?."
"Aku hanya membunuh satu..." terpampang diwajahnya rasa bersalah yang mendalam.
"Kita tidak ada pilihan lain... aku pun sudah membunuh lima orang... mereka penuh dengan kesedihan."
"Dimana Kaito?."
"Terakhir dari dial dia menghubungiku kalau dia masih mengerjakannya... aku sedikit khawatir dengannya."
"Kau benar... monster parasit ini menyerang dengan perantara hewan... dan yang terkena tidak akan bisa selamat."
Disaat mereka berdua sudah berkumpul, aku yang baru tiba disana dengan berjalan perlahan sambil menyeret pedangku yang sudah berlumuran darah.
"Kaito... kau tidak apa apa?."
"Kaito..."
"Tidak apa-apa... aku hanya sedikit lelah."
"Meskipun sangat disayangkan... kita harus bersyukur karena korbannya tidak lebih dari sepuluh ora-." Akemi mencoba untuk menenangkan suasana, tapi tidak dengan apa yang sudah aku lakukan."
"Lima puluh..."
"Apa, maksudmu?."
"Aku sudah membunuh... aku sudah membunuh Lima puluh orang."
Begitu tidak mempercayai apa yang sudah terjadi, Ayumi terjatuh lemas karena terkejut.
"Yang benar... saja..."
Akemi begitu emosi dan sangat marah karena perbuatan iblis itu telah menyerang kota.
"Kaito... apa kau benar-benar tidak apa apa?." Akemi yang melihat wajahku sangat datar dan tidak berekspresi, begitu khawatir denganku.
"Nenek Chiyo... aku membunuhnya... aku menusuknya menggunakan pedang ini..."
"Tidak mungkin..."
Ayumi berlari dan memelukku, seakan bahwa dirinya mengerti perasaanku saat ini, meskipun dirinya juga meneteskan air matanya karena kenyataan ini.
"Khkk!!!."
Kami bertiga diam meratapi kesedihan ditengah malam yang begitu dingin... angin malam yang membawa kenyataan pahit yang kita rasakan...
Kita membunuh warga kota, dengan tangan kita sendiri...
Begitu banyak korban yang mati akibat iblis itu...
"Aku sudah tidak bisa merasakan amarah lagi di hatiku... dan rasanya sangat menyebalkan..."
Aku mengangkat pedangku, dan menancapkan keatas tanah.
"Jika kita tidak bisa membunuh iblis itu... mereka yang mati tidak akan pernah terbalaskan..."
Semuanya geram akan hal itu...
"Master belum kembali... kita tidak bisa bergerak seenaknya..."
"Lagipula musuh kita adalah iblis..."
"Sial!! aku selalu saja tidak bisa berbuat apapun!!."
Kami bertiga duduk ditengah halaman luas dengan menatap bulan purnama yang menerangi gelapnya malam...
Seiring ingatan yang muncul didalam kepalaku... aku membunuh satu persatu warga yang terkena parasit...
Bahkan aku masih tidak bisa melupakan beliau disaat terakhirnya...
Malam yang begitu panjang...
Setelah semua hal yang sudah kita lakukan...
Aku tertidur kelelahan diatas rumput hijau dan dibawah langit malam...
Tidak hanya aku, mereka berdua pun juga tidak bisa menahan lelahnya memikirkan masalah yang terjadi pada malam itu...
Saat itu... terasa seperti sebuah mimpi buruk...