PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Episode 27



"989...990..."


"Apa kita akan benar benar pergi berperang melawan iblis kematian..."


"991...992...993."


"Menurutmu, apa iblis kematian sangat kuat?."


"994...995."


"Kaito! aku bertanya padamu!."


"996...997...998...999...99-."


"Oi! apa kau mendengarkanku!."


Suaranya terus menggangguku.


"Sabar dulu!! aku sedang latihan!!."


"Kau tinggal menjawab pertanyaannya!."


"Huh... iblis Kematian memang sangat kuat, mereka memiliki tehnik kekuatan mereka sendiri... dan pasukan tentaranya yang begitu banyak.."


"Aku jadi tidak ingin ikut kesana..."


"Kalau begitu tidak perlu menjadi Barats."


Aku melanjutkan mengayun pedangku.


"Yang aku herankan... bagaimana kau bisa bertarung dengan salah satu panglima jenderal hanya dengan tehnik berpedang yang kau kuasai? apa skill mu sangat hebat?."


"Entahlah, tanya saja pada gurumu... ( Aku tidak bisa mengatakan jika aku hampir mati dan diselamatkan oleh kekuatan misteriusku ini...)"


"Tch, dasar sombong."


"Kenapa kau tidak latihan? jangan terus-terusan menggangguku!."


"Apa yang perlu aku latih?."


"Naga ayam milikmu itu! kenapa tidak kau kembangkan saja kekuatannya!."


"Sebenarnya aku sudah mencoba memperkuat kekuatan bumi milikku... tetapi aku tidak percaya diri."


Aku pun berhenti mengayunkan pedangku dan memberikannya sebuah cara yang bagus.


"Baiklah... kalau begitu bagaimana kalau kau latih tanding denganku?."


"Eh? yang benar?."


"Aku serius! cepat keluarkan kekuatan bumi milikmu." Aku mengangkat pedangku dan mengambil posisiku.


Meskipun sedikit ragu, tetapi dia tidak ada salahnya untuk mencoba.


"B-Baiklah... aku akan bersiap!."


( Element Change : Coacktrice )


*Zwuzzhhh!!


Kobaran api yang menutupi tubuhnya seketika berubah menjadi seekor naga berkepala dan berkaki ayam.


"Serang aku bagaimana kau menyerang musuh seperti biasa."


"Oke!."


Baru saja sesaat aku mengawasinya, tiba tiba satu kedipan dia menghilang dari pandanganku.


"Cepat sekali!."


Aku mencoba tenang untuk tidak memperlihatkan sisi kelemahanku...


Dan tiba-tiba serangannya begitu cepat datang dari belakangku.


*Cling!!


"Lumayan juga!."


"Bagaimana kau bisa melihatku?!."


Aku menangkis cakar kakinya yang begitu tajam dan panas.


"Aku sudah lama bertarung dengan banyak musuh... ini yang dinamakan pengalaman!."


Aku mengayun lebih kuat sehingga dia terpukul mundur.


"Baiklah, bagaimana dengan ini!."


*Zuusshhh


Dia kembali menghilang dari pandangan dan aku pun bersiaga dengan serangan selanjutnya.


Dia bergerak dengan cepat, tetapi arah serangannya hanya berada di sekelilingku saja... jadi jika aku memutarkan tubuhku, aku bisa menangkis bahkan menyerangnya.


Tetapi ternyata aku salah, serangan cepat kembali datang tetapi bukan di sekelilingku... dia datang dari atas.


Aku yang tidak menyadarinya dengan cepat hanya bisa menghindar dan sedikit terkena cipratan apinya yang menghantam tanah.


"Tch! kukira sayapnya itu hanya pajangan!."


"Bagaimana? apa kau sudah merasakannya?."


"Ya! benar benar panas!."


Saatnya giliranku menyerang, aku melompat cepat kearahnya sambil mengayunkan pedangku.


Dia meresponnya dan menghindari serangannya dengan begitu mudah.


Kini wujudnya sudah kembali menghilang...


"Hehe, kena kau."


Aku merasakan sedikit hawa panas didekat ku, dan aku percaya jika dia akan menyerangku entah darimana...


Satu satunya cara adalah menghalangi semua akses jalan serangannya.


Aku menancapkan pedangku diatas tanah, dan memberikan kekuatan untuk menggetarkan bawah tanah.


*Krak!


Ini adalah serangan yang aku pelajari saat berada didalam kota Sun Of Peace...


Serangan area.


"A-Apa ini?!."


"Itu adalah area shocked... kau tidak bisa berjalan disekitar ku kecuali terbang diatas langit!."


Aku langsung menyerangnya dengan bagian punggung pedangku agar tidak terlalu melukainya.


"Arrgh!."


Dia terjatuh karena seranganku dan wujudnya kembali seperti semula.


"Sebaiknya kau belajar cara menyerang musuh dengan melipatgandakan kecepatan mu... aku yakin tidak akan ada yang bisa menghindar dari kecepatan milikmu."


Aku memberikan tanganku untuk membantunya berdiri.


"Terima kasih... aku merasa tidak bisa diharapkan."


"Baru saja berusaha, sekarang sudah kembali terpuruk... sebenarnya apa tujuanmu berada didalam pasukan revolusioner?."


"Tentu saja aku punya alasan!, aku akan menjadi kuat dan mengembalikan kehormatan orang tuaku!."


"Mengembalikan kehormatan?."


"..."


"Sebenarnya, dulu aku adalah keluarga dari pemerintahan... lebih tepatnya keluarga pemerintah."


"..."


"Lalu karena ayahku yang mencoba untuk berbicara pada kepala pemerintahan untuk berdamai dengan Octagram... hal itu membuat ayahku direndahkan dan diusir dari pemerintahan."


"Bodoh sekali ayahmu."


Aku dengan ringan mengatakan seperti itu.


"Ayahku bukanlah orang bodoh!! dia berusaha untuk menciptakan kedamaian dan menyatukan kekuatan untuk mengalahkan para iblis!."


"Tetapi dia seperti mencari ikan didalam selokan... kedamaian ditempat kotor itu tidak akan ada benarnya..."


"..."


"Kita pasukan revolusioner bukan untuk mencari kedamaian untuk kita sendiri... tetapi untuk umat manusia, agar kehidupan menyedihkan tidak akan ada lagi di dunia ini..."


Dia begitu terpukul saat mendengar perkataanku, dan diam tak bisa berkata-kata.


"Kau adalah seorang Barats! pasukan garda terdepan dalam Octagram! apa begitu rendahnya harga dirimu untuk mencari damai dengan pemerintah?."


"T-Tentu saja tidak!!."


"Kalau begitu katakan kepada ayahmu! jika kita bisa mencari kedamaian sejati tanpa adanya campur tangan dengan pihak kotor."


"Tapi... ayahku sudah tiada."


"..."


"..."


"Kalau begitu lebih baik terus berlatih untuk menjadi kuat." Aku langsung menghindar dari persoalan itu.


"Apa aku sanggup.."


"Sanggup atau tidaknya bukan kita yang memutuskan... terus berusaha hingga ototmu meledak!."..


"I-Itu terdengar mengerikan..."


"..."


"Sekarang cepat kita akan berlatih lagi! jangan malas atau kau akan mati ditengah misi!!."


Dari balik pohon ketua divisi dua mengamati kami berdua sejak tadi lalu tersenyum lega akan khawatiran yang ia rasakan pada anak buahnya.


"Sepertinya membiarkan dia dekat dengan orang orang di sekitarnya bukan hal yang buruk... perlahan anak itu pasti akan menjadi sangat kuat."


Dan dirinya pergi agar tidak menggangu latihan mereka.


......................


Setelah begitu lama waktu berjalan, langit yang gelap mulai menutupi kota dan kami semua berkumpul kembali untuk beristirahat.


"Lelah sekali! rasanya aku tidak bisa menggerakkan kakiku lagi..."


"Ini hanya permulaan... besok kita akan kembali berlatih hingga bisa membunuhnya."


"Hah~ aku tidak mau memikirkan hal itu sekarang..."


"Orang seperti kalian yang banyak mengeluh akan segera mati oleh ketakutan kalian sendiri." Tiba tiba seseorang ikut berbicara dengan kita...


Karena kami berada dalam satu kamar, dan satu kamar hanya diisi oleh tiga orang.


"Apa yang kau katakan huh?!."


"Hem! aku sudah mendengar rumor tentangmu, Kaito Ryoku..."


Dia adalah orang sekamar kita, yaitu Barats divisi 1.


"Rumor seperti apa yang membuatmu mengenalku? konyol sekali!."


"Kau berhadapan dengan salah satu panglima jenderal, dan juga orang yang membunuh salah satu iblis kematian..."


"(Bagaimana dia tahu itu??!.)"


"Kaito... apa perkataannya benar?! kau... kau membunuh salah satu iblis... kematian.."


"..."


Orang itu tersenyum menyeringai seperti mengejekku.


"Ya... tetapi lebih tepatnya aku dengan tim Barats divisi tiga..."


"Sulit dipercaya..."


"Bagaimana cara kau mengalahkannya? menangis hingga iblis itu merasa kasihan?."


"Apa kau bilang!?."


Dia yang sedang tidur santai diatas tempat tidur dan terus memancing emosiku tiada hentinya.


"Yang aku maksud adalah..."


Lalu dia berdiri dari atas tempat tidurnya.


"Kau tidak akan bisa menjadi yang terkuat, karena aku... Kyuraki Izo, yang akan menjadi Rex Barats!!."


"R-Rex... Barats..."


"Ha? apa itu?."


"Kaito! kau tidak tahu hal itu?? itu adalah julukan bagi Barats yang memiliki kekuatan terkuat! saat ini ada tiga Rex Barats yaitu pasukan dengan kekuatan bumi elemen terkuat!."


"Benar... dan kalian tidak akan bisa mencapai kesana."


"Tch, aku bisa kapan saja menduduki posisi itu..." Aku pun tidur dan tidak ingin menambah masalah.


"Heh! coba saja! mungkin kau akan mati saat melawan iblis kematian... jangan meremehkan kekuatan seorang iblis, kau mungkin hanya beruntung karena mendapatkan iblis yang lemah.."


Lalu dia dan Shion naik kembali keatas tempat tidur dan mematikan lampu kamarnya.


Tentu saja aku tidak akan langsung tertidur... karena aku terus menerus memikirkan bagaimana jika kita berada dalam medan perang... apakah emosiku akan mudah terpancing seperti tadi...


Tetapi aku tidak akan melupakannya... saat dimana mereka membunuh para warga... dan juga nenek Chiyo...


"( Aku pasti akan menjadi lebih kuat!! pasti!!...)"