
Istana Kerajaan Alabama.
"T-Tuan, ahh! jangan melakukan itu tuan.."
"Tidak apa apa, karena kalian adalah wanitaku bukan?."
"Tuan, aku juga ingin merasakan kenikmatan dari tuan!."
"Kemarilah, kalian semua juga... aku akan memeluk kalian dengan penuh kenikmatan!."
"Tuan memang sangat hebat!."
Seorang raja yang kini sedang bersenang-senang diatas singgasananya bersama beberapa wanita yang berada didalam pelukannya...
"Lapor, baginda raja! ada sebuah pesan yang ditujukan kepada anda."
"Huh, apa kau tidak melihat situasi yang sedang aku alami? selalu saja menggangguku! bunuh dia!."
"T-Tunggu baginda raja! maafkan saya! baginda ra-."
Seketika seorang prajurit yang berencana memberikan sebuah pesan tersebut terpenggal hingga kepalanya menggelinding jatuh dari tangga besar menuju singgasananya.
Seorang pengabdi sang raja yang terus berdiri didekatnya pun mengambil sebuah kertas yang kini sudah dilumuri oleh darah, dan dia membuka isi dari kertas tersebut lalu membacanya.
Alangkah terkejutnya dia begitu membaca isi dari pesan tersebut.
"Ada apa? kenapa wajah kau begitu terkejut?."
"I-Isi dalam surat ini... dari salah satu lima bersaudara Khinzir..."
"..."
"Disini tertulis... jika seorang penyusup asing masuk kedalam pusat kota."
"Oh? ada berapa orang?."
"Dua laki-laki dan satu gadis."
"Gadis?."
"Ya.."
Wajahnya yang begitu menjijikkan kembali terpampang dengan senyum bejatnya sama seperti saat dia sedang menginginkan seorang wanita untuknya bersenang-senang..
"Sudah lama aku tidak mencicipi seorang gadis... jika mereka berada didalam pusat kota, maka... perintahkan Khinzir dan dua saudaranya lagi untuk menculik gadis itu."
"Lalu, bagaimana dengan dua orang sisanya?."
"Bunuh saja."
"Baik, saya akan segera memerintahkannya."
Lalu dia pergi meninggalkan ruangan besar tersebut untuk memerintah kedua saudara kembar lima tersebut untuk menangkap seorang gadis asing yang berada didalam pusat kota...
......................
"Akemi! Kaito! sarapannya sudah siap."
"Aku datang!."
"Hyugo dan juga Yura juga ikut bergabung disini."
"Wah, aromanya sangat lezat."
"Um! terlihat sangat enak!."
"Masakan Ayumi memang tiada tanding! kalian harus mencobanya."
Kami semua yang kini berkumpul untuk sarapan pagi, dengan masakan yang dimasak oleh Ayumi sendiri.
"Selamat makan..."
Mereka berdua mulai mencicipi masakan Ayumi, dan begitu satu sendok makanan itu masuk kedalam mulut mereka, rasanya seperti belum pernah merasakan makanan seenak itu.
"Enak sekali! ini lebih enak daripada makanan yang dijual di pasar!."
"Sangat lezat! aku ingin menambahnya!."
"Baik baik, kamu bisa menambah sebanyak mungkin."
"Asik!."
Yura begitu gembira saat menyantap masakan Ayumi.
"Bagaimana? enak bukan?."
"Benar sekali... bahkan aku pun tidak akan bisa membuat makanan selezat ini.."
"K-Kalian terlalu berlebihan... aku hanya memasak makanan yang hanya aku tahu saja, jadi mungkin makanan yang aku masak sering dijumpai didalam kedai atau pasar."
"Tetapi rasanya sangat berbeda dengan yang dijual diluar sana." Hyugo yang begitu tertarik dengan masakannya langsung begitu lahap memakannya.
Aku yang tidak mau kalah pun langsung mengambil makanan yang berada ditengah meja makan dengan sangat banyak.
"Kaito! jangan mengambil terlalu banyak!."
"Tapi kau bilang aku boleh mengambil sepuasnya..."
"Tapi hari ini ya hari ini, dan esok hari aku akan memintanya kembali!."
"Kau memang sangat pintar dalam mendapatkan makanan."
"Jika itu masakan yang kau buat, maka tidak ada halangan bagiku!."
Tanpa aku sadari, perkataanku membuatnya tersipu malu.
"T-Terserahmu ingin memakan seberapa banyak... aku akan memasak lebih banyak."
"Itu baru yang aku inginkan.."
"Hahaha! dilihat lihat, kalian sangat akur ya..."
"Bukannya itu sudah jelas? karena kami satu pasu-."
Lagi-lagi aku hampir mengatakan sebuah hal yang tidak boleh dikatakan, dan Akemi yang tadinya sedang bersantai sambil makan, langsung terkejut dan menutup mulutku.
Ayumi pun langsung berinisiatif membenarkan perkataanku kembali.
"Karena kami ini sudah tinggal selama bertahun-tahun, jadi kita memang serasi, benar kan?."
"Y-Ya... benar." Balas Akemi.
"U-Um... benar seperti itu! haha!."
Dengan santainya aku melanjutkan makan makananku tanpa merasa bersalah sedikitpun karena sudah hampir membocorkan identitas kita.
"Ngomong-ngomong, aku sudah penasaran sejak awal... kalian bertiga datang dari negeri mana?."
Kita semua langsung terdiam untuk mencari alasan yang tepat, namun aku tidak bisa memikirkan apapun, lagipula saat aku menatap mereka berdua, wajah mereka seakan-akan tidak membolehkan diriku untuk menjawab.
Jadi Ayumi yang berinisiatif untuk menjawabnya.
"K-Kami datang dari wilayah Ventus."
"Benarkah?? kalian sudah berjalan cukup jauh, memangnya kalian ingin pergi kemana?."
Lagi-lagi Hyugo mempertanyakan sebuah hal yang sangat sulit untuk dijawab, tetapi aku yang sudah mengerti tidak diperbolehkan menjawab, jadi aku hanya menikmati makananku sambil sesekali menambah makanannya.
Ayumi sedikit melirik kearah Akemi, tetapi Akemi menggelengkan kepalanya sedikit agar tidak diketahui oleh Hyugo..
Maka dari itu Ayumi tidak ingin menjawab dengan tujuan yaitu negeri Euditoria, karena itu juga akan membuatnya curiga, karena negeri Euditoria adalah negeri yang tertutup dan tidak akan pernah membolehkan orang asing untuk masuk kedalam negeri tersebut.
"Yah, kami bertujuan untuk pergi ke sebuah negeri yang belum pernah kami temui."
"Jadi kalian seorang petualang??."
"B-Bisa dikatakan seperti itu."
"Wahh... pantas saja kalian mempunyai kedua senjata warisan elemen... sepertinya petualangan kalian sudah begitu jauh."
"U-Um..."
"Aku pun sedikit memiliki rasa untuk melihat dunia luar, tetapi... dengan kondisi seperti ini, aku tidak bisa keluar dari negeri ini."
"Memangnya kenapa?." Tanyaku.
"Ada banyak hal yang membuatku tidak bisa melakukannya, salah satunya karena aku mempunyai Yura, dan aku tidak mungkin membawanya maupun meninggalkannya."
"Sayang sekali... jika kau bisa melihat bagaimana dunia yang berbeda, aku pikir kau bisa lebih mendapatkan banyak pandangan dari segala hal."
"Um... sepertinya memang terdengar begitu menarik, namun aku tetap tidak bisa, haha."
"Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh setiap manusia."
"..."
"Setiap orang berhak memiliki kebebasan mereka, namun karena pemikiran mereka yang sudah terlalu direndam oleh sebuah kenyataan, maka pemikiran tersebut hanya akan terus terbentuk seperti itu... kau harus sesekali memikirkan sesuatu yang ingin kau lakukan diluar tempat ini... percayalah... dunia luar akan menjadi begitu menyenangkan jika kau menantikan kesempatan itu datang padamu."
Dia langsung terdiam kagum mendengar diriku yang berbicara tentang dunia luar, karena mungkin Hyugo tidak pernah keluar dari negeri ini seumur hidupnya... namun kesempatan masih bisa datang kepada seseorang yang memiliki tekad yang kuat...
"Sepertinya kau benar... sesekali aku harus merubah pandanganku terhadap dunia ini..."
Aku mengangguk senang sambil memakan makanannya.
"Terima kasih atas apa yang telah kau berikan kepadaku... aku jadi merasa tidak enak karena kalian sudah berkali-kali membantuku."
"Ahaha, tidak apa apa, lagipula kau juga menyediakan tempat tinggal untuk kami.." Ucap Ayumi yang ikut membalasnya.
"Apa kalian akan pergi besok?."
"Ya... besok kita harus segera pergi."
"Kalau begitu kalian harus beristirahat disini agar energi kalian terisi sempurna bukan?."
"Apa kau mempunyai makanan lebih?."
"Kalau itu serahkan saja padaku!."
"Kau pikirannya hanya ingin makan saja!."
"Ahaha!!."