
"Dalam memahami sebuah serangan, maka kita juga harus memahami senjata yang kita genggam."
"..."
"Sekarang, aku ingin melihat sejauh mana kemampuan berpedang kalian."
Aku berdiri didepan mereka semua dengan merangkul pedangku, dan memancing mereka.
"Kita semua?."
"Terserah kalian, ingin menyerangku satu persatu atau beramai-ramai... apapun itu aku bisa melihat kemampuan kalian dalam sekilas."
"Kita serang dia secara bersamaan saja, lagipula kita beramai-ramai sedangkan dia sendirian, tidak mungkin bisa mengalahkan kita."
"..." Mendengar ocehannya aku hanya bisa tersenyum dalam diam.
"K-Kau benar, ayo kira serang secara bersamaan!."
"Terima ini!!."
Bersamaan mereka berlari ke arahku dengan mengangkat pedang mereka.
"Gerakan awal kalian... terlalu lambat."
( Sword Style : One Hundred Lightning Slashes )
*Sring!!
Sekejap diriku sudah menghilang dari hadapan mereka semua dan kini aku berdiri di belakang mereka.
"Eh?."
*Clak!
Semua pedang yang mereka gunakan seketika terbelah menjadi dua, dan semuanya hancur kecuali diri mereka.
"P-Pedang kita?!."
Tuan Putri dan asistennya pun ikut tercengang ketika melihat gerakan dari seranganku saat menghadapi puluhan pasukan miliknya.
"B-Bagaimana mungkin?!"
"Dia benar-benar hebat.."
"..."
"Sudah aku katakan, kalian terlalu lambat."
"Bagaimana bisa kami menang melawanmu, kalau perbedaan level antara kita jelas berbeda sangat jauh!." Salah satu prajurit itu memberikan sebuah keluhan pada latihanku.
"Memangnya, jika kalian bertemu dengan monster tipe menengah keatas seperti tadi, monster itu ingin melihat kemampuan kalian terlebih dahulu?."
Semuanya langsung terdiam begitu mendengar perkataanku.
"Gerakkan tangan kalian seakan-akan satu ayunan tersebut adalah ayunan terakhir didalam hidup kalian, jangan mengira kalian bertarung untuk diri kalian sendiri, seakan kalian adalah satu satunya orang yang bisa melindungi orang lain, hingga pada akhirnya... hanya diri kalian yang tersisa."
"..."
"Sekarang aku sudah melihat bagaimana cara kalian menggunakan pedang kalian untuk bertarung."
"S-Secepat itu? padahal kita melakukannya bersama-sama."
"Jangan meragukan apa yang orang lain ajarkan, karena sudah malam, sebaiknya kalian istirahat saja, aku juga sangat mengantuk... Hooaam."
"Itu saja?."
"Waktu perjalanan masih panjang, dan berlatih malam malam hanya membuang-buang energi kalian untuk berjaga-jaga... ini adalah hutan yang dipenuhi oleh banyak monster monster tipe rendah sampai tinggi, jadi jangan menghilangkan kewaspadaan kalian."
"B-Baik!!."
Seketika semua pasukan berdiri tegak dan mengatakan sebuah kata serentak kepadaku.
Rasanya seperti memiliki pasukan sendiri namun tetap saja terasa aneh.
"Y-Ya... terserahlah."
Setelah itu karena waktu sudah malam, terpaksa perjalanan kita terhenti sampai menjelang pagi, dan semua pasukan berada dalam posisi siaga mengelilingi kereta kuda milik putri kerajaan, dan berpatroli di sekitar area hutan secara berkelompok.
Tidak lupa menyalakan sebuah api unggun di tengah untuk pencahayaan dan penanda kamp sementara... aku cukup ahli dengan hal itu, karena dulunya aku adalah seorang budak yang telah melakukan banyak perjalanan untuk melindungi perjalan anggota kerajaan.
*Krek!
"Ah, maaf membangunkan tidurmu."
"Tidak apa apa."
Aku yang sedang rebahan didalam kereta kuda yang cukup besar dan nyaman, kini didatangi oleh tuan putri yang berada dibalik tirai...
Meskipun kita berada di satu kereta yang sama, namun entah kenapa terdapat sebuah tirai yang memisahkan tempatku dan tempat duduknya.
"R-Ryo-."
"Kaito saja, aku lebih nyaman dipanggil dengan nama itu."
"O-Oh, kalau begitu... Kaito."
"Terasa lebih baik." Sambil membenarkannya posisi tidurku yang rasanya terlihat tidak sopan saat berbicara dengan se
.. kamu mengatakan kalau dirimu adalah seorang pengembala?."
"Y-Ya, seperti itu."
"Bagaimana rasanya?."
"Huh?."
Tiba tiba dia begitu antusias bertanya padaku sampai matanya terlihat berbinar-binar.
"M-Maaf! aku suka bersemangat jika tentang dunia i- maksudku Dataran Pax ini."
"A-Aku paham bagaimana perasaanmu... namun aku tidak bisa dikatakan sebagai seseorang yang telah berkelana jauh."
"Tapi, kamu sangat kuat."
"Memangnya aku terlihat seperti itu?."
"Um!."
"Jika kau mempertanyakan bagaimana keadaan diluar sana, maka sama halnya dengan apa yang saat ini kau lakukan."
"Maksud...nya?."
"Tempat yang berada diluar batas kerajaan-kerajaan, hanya menjadi sebuah tempat yang beresiko, dan menjadi pertaruhan nyawa untuk kita sendiri, pertolongan hanya menjadi sebuah harapan, dan kekuatan kita yang akan mempertahankan hidup kita sendiri... untuk menjadi lebih kuat... dan kita bisa menolong seseorang..."
"..."
"Benarkah?."
"Ya!."
"Tuan putri!."
Tiba tiba asistennya masuk kedalam dan mencarinya.
"Ada apa Jyde?."
"A-Ah tidak, saya hanya ingin mencari dimana keberadaan di- ternyata kau ada disini!."
"Aku memang berada disini sedari tadi."
"Kalau begitu, ikut denganku sebentar."
"Ha?."
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu, jadi ikut denganku sebentar saja!."
"Jyde, apa kamu masih tidak menerimanya disini? jika memang begitu pasti kita bisa bicarakan ini baik baik, tidak perlu memaksakan keadaan seperti ini."
"B-Bukan seperti itu tuan putri! A-Aku hanya..." Wajahnya terlihat menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin tuan putrinya tahu, aku menyadari hal tersebut hingga aku paham dengan apa yang dia inginkan.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu."
"Kaito."
"Kau- hei! sejak kapan kau menghipnotis tuan putri untuk dekat denganmu!?."
"Hah? siapa yang menghipnotis dirinya?!."
"Kau- tidak jadi..."
".??."
Biasanya dia sebagai seorang asisten dari tuan Putri begitu was-was dan tidak ingin aku berada di dekat tuan putri, namun sekarang dia seperti menahan ucapannya dan tidak melabrak diriku secara terang-terangan.
Hal itu membuat keheranan sampai saat dia membawaku ke tempat ditengah hutan yang cukup jauh dengan kamp sementara kita.
"Apa yang ingin kau bicarakan?."
"..."
Secara tiba tiba dia menarik pedangnya dan menyerangku langsung di depanku.
"..!!."
Aku pun juga langsung menarik pedangku dan menangkis serangannya.
*Cling!!
"Apa ini?."
"..."
Tanpa menjawab perkataanku dia langsung kembali menyerangku dengan serangan yang cukup terlatih namun kekuatannya terlalu lemah, aku masih bisa menahan pedangnya yang terbilang beberapa kali lipat lebih besar daripada Yansei milikku dengan cukup mudah.
Berkali-kali dia mencoba menyerangku namun hasilnya nihil...
Melihat wajahnya yang terlihat tidak ada niat untuk membunuhku, karena matanya hanya fokus ke tangannya yang saat ini sedang berusaha mengayunkan pedangnya cukup kuat, dan juga dirinya terlihat sangat berusaha untuk mengayunkan setiap serangan.
"Begitu ya..." Aku yang sudah paham maksud dari tujuannya langsung mengubah pola bertahan menjadi ke pola serangan.
Dengan menghempaskan pedang miliknya hingga tangannya terhempas ke samping, dan aku langsung menendang perutnya hingga dia terpukul mundur.
"Guhuk!!."
Lalu aku kembali maju dan menyerangnya dari atas hingga membuatnya terpaksa menggerakkan tangannya meskipun dirinya masih kesakitan akibat tendangan keras di perutnya.
*Cling!
"Kenapa? kau menjadi lebih lemah."
"Khk! aaaa!!."
Dengan sekuat tenaga dia mendorong pedangnya dan membuatku mundur...
"Woo."
Begitu aku menapakkan kakiku, dia langsung menyerangku dengan serangan dadakan yang sangat berantakan... dirinya sudah terpojok hingga tidak bisa memikirkan cara yang tepat untuk menyerangku.
"..."
Aku merasa sudah saatnya untuk mengakhiri pertarungan ini...
*Klang!!
Aku mengayunkan pedangku dengan sangat kuat langsung menghantam pedangnya, hingga pedangnya terlepas dari genggamannya dan terlempar.
"..."
Dirinya langsung merasa jatuh hanya karena kekalahan sementara ini, dan terduduk kelelahan sambil mengatur nafasnya yang berat.
"..."
"Kau bisa mengikuti latihan sementara denganku besok..."
"Mana mungkin... diriku yang sudah mencoba membunuhmu... tidak mungkin bisa seperti itu." Ucapannya yang terdengar nyata, namun dari awal aku sudah sadar kalau hanya sebuah kebohongan.
Aku berjalan ke tempat pedang miliknya jatuh, dan mengambilnya.
"Aku tidak tahu apa yang ingin kau tuju, atau apa yang ingin kau lakukan... tapi aku tahu keinginan dirimu seperti apa."
Aku memberikan pedang itu kembali kepadanya.
"..."
"Kau ingin menjadi lebih kuat bukan?."
Seketika dirinya terlihat tersentak dan terdiam seperti perkataanku tepat mengenai pikirannya.
Dia pun bangkit dan memasukkan pedangnya kembali kedalam sarung pedangnya.
Lalu membungkuk langsung didepanku dengan sepenuh hati.
"Tolong ajari aku!."
Aku tersenyum begitu mendengar apa yang sejak awal aku ingin dengar dari dirinya.
"Itu yang ingin aku dengar!."