PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Episode 44



( Awakening!! )


*Buzzzz!!!!!


"Hihihihihi!!! ini dia!!! ini dia!! ini dia!!."


*Swuutt!! Swuutt!!


Iblis itu terus melemparkan tombaknya yang kali ini bukanlah dua tombak, tetapi berapapun yang bisa ia keluarkan dari lengannya dan dia akan melemparkannya.


Akemi berusaha keras untuk menangkis dan menghindari dari puluhan tombak yang dilapisi darah tersebut.


"( Gawat! sejak kapan Servus mempunyai kekuatan Awakening?? kekuatannya sudah begitu besar! dan juga Kage terluka hingga aku tidak tahu bagaimana keadaannya! bagaimana ini?!...)"


Akemi terus berpikir sambil melompat kesana kemari sambil mengayunkan pedangnya itu.


Begitu juga dengan Mouwton yang bisa dengan mudah mengecilkan tubuhnya lalu menghindari semua tombak tersebut.


Didalam tempat yang sedikit gelap dan luas ini, hanya ada kita berempat disini, dan tempat ini tidak terhubung langsung dengan gua yang mereka sedang tempati.


*Dum!! Dum!!


Seiring dengan waktu, ada beberapa tombak yang mengenai dinding gua hingga menghancurkan batu batu yang ada didalam dindingnya.


Jika terus seperti ini mungkin akan menghancurkan tempat ini dan menimpa kita semuanya.


"Tidak ada yang berubah jika seperti ini! Mouwton! gunakan bola angin untuk mengubah arah tombak tombak itu!."


"Mouw!."


Dia berubah bentuk kembali menjadi seekor harimau dan menyelimuti tubuhnya dengan angin hingga tubuhnya tidak terlihat.


Akemi mengarahkan pedangnya tepat kearah iblis itu, sambil berlari dan menghindari tombaknya.


( Bola Angin! )


*Swuusshhh


Karena kekuatan angin dari Mouwton cukup kuat, sehingga jalur tombak tombak itu menyebar dan terpental jauh dari arahnya.


"Hihihi!! tidak akan mempan!!." Dia menempelkan kedua lengannya dan muncullah sebuah tombak besar dengan darah hitam menyelimuti ujung mata pedangnya.


Tombak itu melesat tepat kearah bola angin Mouwton hingga terjadi hantaman kekuatan.


"Mouwton! bertahanlah!."


"Mouuww!!."


*Wuuzzzzhhh!!!


Kedua bentrokan tersebut membuat seisi ruangan dipenuhi angin panas dan bebatuan bebatuan yang hancur mulai berterbangan.


Kesempatan ini juga dipakai oleh Akemi untuk menyembunyikan dirinya dengan mengikuti bebatuan bebatuan tersebut hingga mendekati iblis itu.


Dan saat dia sudah berada didekat iblis itu, dia langsung menyerang dengan salah satu ujung pedangnya.


( Wind Blow!! )


Dia menusuk tepat dibawah perutnya hingga menembus setengah pedangnya..


******!!


"( Berhasil?!!...)"


Saat Akemi sudah berharap untuk serangan tersebut bisa melukainya, ternyata senjatanya tertahankan oleh tombak yang keluar dari perutnya.


"Mustahil!!."


"Hihi!! sudah aku bilang percuma saja!."


*Swuutt!!


Karena senjatanya yang masih tersangkut, dia tidak bisa menghindari dari tusukan tombaknya hingga mengenai pundak kanannya.


"Arkhh!."


Akemi terjatuh dibawah bebatuan bebatuan yang sudah hancur, dan melihat iblis itu berdiri diatas sana.


"Tinggal yang ini saja!."


*Wuuzzhhh!!!


"Mouwton!."


Iblis itu menyerang Mouwton dari ketiga sisi secara bersamaan, sehingga Mouwton terdorong mundur akibat tidak bisa menahan ketiga tombak tersebut lalu terpental kebelakang dan menghantam dinding.


*Dum!!!


"Mouw!!!."


Akemi segera mendekatinya dan terlihat dia terluka cukup parah dibagian kedua kaki depannya.


"Jangan memaksakan dirimu kembali... istirahat disini, dan aku akan segera mengobatimu..."


"Mouw."


Akemi berdiri sambil membelah pedangnya menjadi dua bagian...


"Hihihi!! tersisa satu lagi!!."


"( Serangannya adalah jarak jauh... dia bisa mengeluarkan tombak dari mana saja... maka dari itu aku harus menyerangnya langsung hingga menghancurkan tombak tersebut...)."


Dia menganalisis kekuatan iblis itu, sambil mengamati serangannya yang akan datang.


Kali ini dia mengeluarkan dua tombak yang sama saat menghantam bola angin milik Mouwton...


"Sekarang hanya ada kau yang tersisa... dan setelah ini, mereka yang berada disana juga akan mati... betapa malangnya seorang Pasukan Revolusioner yang tidak pernah dihormati dan terus mati satu persatu tanpa ada yang mengetahuinya!."


"Jika aku mati, tidak akan ada rasa penyesalan sedikitpun didalam diriku... karena kami, tidak memerlukan sebuah kehormatan..."


"Membosankan sekali... melakukan hal seperti itu pastinya begitu sulit... tetapi jika kau menjadi iblis... kau bisa mendapatkan kekuatan yang sangat besar!!."


"Apa maksudmu..."


"Apa kau tahu? seseorang yang kau lawan saat ini dan berada di depanmu yaitu aku.... adalah seorang manusia!."


"..."


Akemi terdiam karena terkejut begitu mendengar hal itu.


"Manusia yang sama seperti kalian!! tetapi dengan kekuatanku... mereka tidak pernah menghormati dan menghargaiku!! mereka hanya menganggapku sebagai budak!! yang setiap harinya berjuang mempertahankan nyawa mereka dan membuang nyawaku secara sia sia...


"Jika Nona Morbus tidak pernah bertemuku... maka aku akan menjadi seseorang yang dianggap anjing pemerintah! rasanya begitu mendebarkan saat mencincang mereka!! aku kira ini adalah sebuah takdir untukku!! karena mereka takut hingga bersujud dibawah kakiku, dan aku membunuh mereka dengan perasaan yang sangat bahagia!! hihihi!!! hidupku lebih sempurna meskipun aku adalah iblis sekalipun!! dan dunia ini akan dipenuhi dengan kegelapan! karena tidak ada yang bisa membangkang sang penguasa!."


Dia tertawa begitu keras hingga kepalanya mendongak keatas terlalu berlebihan...


"Seharusnya kau tidak akan pernah membicarakan masa lalumu tersebut kepada orang lain..."


"..."


"Karena semua itu hanya terlihat seperti seorang pecundang yang hanya ingin hidup..."


"Apa yang kau katakan!."


"Beberapa menit yang lalu aku merasa sedikit enggan untuk membunuhmu... tetapi sekarang..."


Akemi memutarkan kedua pedangnya dan mengambil posisi untuk menyerang.


"Siapapun dirimu, aku akan membunuhmu... ( Meskipun aku tidak tahu cara untuk mengalahkannya... tetapi terdapat dua nyawa yang saat ini aku lindungi... maka dari itu...-)."


"M-Mouwr!."


"Mouwton... apa yang sedang kau lakukan disini..."


Meskipun jalannya sedikit pincang... tetapi dia tetap berusaha untuk terus bertarung dengan Akemi.


Dan sesuatu terjadi pada dirinya... saat dia mulai meringkuk dan menjadi bola hijau berkilau yang melayang-layang.


Bola hijau bercahaya tersebut sangat mengkilap hingga menyinari seluruh ruangan besar didalam gua ini.


"Mouwton..."


Sungguh terkejutnya Akemi saat mengetahui Mouwton berubah menjadi sebuah pedang...


"Mouwton... jangan jangan kau!."


Tidak salah lagi... sebuah pedang hijau murni dengan bentuknya yang panjang dan memiliki sebuah gear didekat pegangannya...


Itu adalah salah satu pedang warisan dari elemen Ventus... yaitu Fuuton.


Dan pedang itu memberikan pertanda kepadanya untuk menjadikan Akemi sebagai tuannya.


"Kau... benar benar ingin menjadikanku pemilikmu..."


"..."


Dengan itu Akemi yakin, jika Mouwton memilihnya untuk menjadi pemilik pedang warisan Ventus... Pedang Angin Fuuton.


"Baiklah... mari kita berjuang bersama-sama kembali..."


"Sepertinya kau mendapatkan sesuatu yang bagus..."


Tiba tiba terdengar suara dari belakangnya yang ternyata dia adalah Kage.


"Kage?!."


Dia terlihat masih berdiri tegak sambil memegang kedua kapaknya dengan santai, meskipun dahinya masih dipenuhi darah yang berceceran.


"Kali ini selesaikan dengan cepat... kepalaku sudah berdenyut-denyut dari tadi."


"Apa kau sanggup?."


"Berikan saja dua atau tiga ledakan padaku..."


"..."


"Sialan!! kalian benar benar membuatku semakin jengkel!!."


*Swwuuttt!!


Dua tombak besar mengarah kearah kita berdua..


"Ayo kita lakukan..."


"Ya!."


*Wuushh!!


Keduanya berlari begitu cepat seperti tidak ada luka yang mereka terima...


Kali ini Kage menerima secara terang-terangan tombak besar itu dan...


*Duarr!!


Sekali hentakan dari kedua kapaknya dam tombak itupun hancur...


Lalu dia melempar kedua kapaknya dan berlari menuju iblis itu.


"Tidak mungkin!."


Dia berlari sangat cepat hingga iblis itu tidak sempat menghindar, dan Kage melakukan rolling depan dan menendang dagunya, dan melompat menggunakan tangannya, lalu diatas langit dia melakukan tiga tendangan berturut-turut yaitu disamping pinggang, bahu kanan, dan wajah sebelah kiri... lalu diakhiri dengan tendangan belakang tepat ditengah dadanya hingga iblis itu terpukul mundur.


"Gakhh!!."


Dibelakangnya, Akemi melompat dan menebas secara garis miring dari bahu kirinya, hingga memotong beberapa tombak yang ingin iblis itu keluarkan.


"Arrkhh!."


"Berikan aku ledakan!!."


Akemi melompat mundur disusul dengan Kage yang sudah begitu bersemangat dengan darah diwajahnya, sambil membentangkan kedua tangannya untuk mengambil kedua kapaknya.


"Ini balasan untuk benturan dikepalaku!."


Kapak tersebut menjadi dua kali lipat lebih besar dan berputar hingga membentuk putaran api merah membara yang sedang kembali menuju tangannya.


"Rasakan!!."


( Hell beat!!! )


*DUARRRRR!!!!


Ledakan besar hingga seluruh tempat ini bergetar hebat dan tercipta reruntuhan besar...


"Si...al.."


Kepala iblis itu sudah hancur setengah, dan berdiri dengan sempoyongan.


"Selesaikan ini... Akemi!."


Dibelakang Kage sudah terdapat Akemi yang berdiri sambil mengambil kuda kuda dengan pedang barunya...


"Mouwton, tidak... kali ini aku yang akan melakukannya... berikan kekuatanmu yang sebenarnya... berikan angin hijau milikmu yang terkuat... Fuuton!!."


*Wusshh.


Pedang tersebut bercahaya hijau terang dan Akemi mengayunkannya langsung kearah iblis tersebut.


"Mustahil!!!."


"Mengamuklah!!!."


( Wind Gust!!! )


*WUUZZHHH!!!


Tebasan yang sangat kuat hingga menggemparkan tanah disekitarnya...


Anginnya begitu kuat berhembus hingga membuat Kage kesulitan untuk berdiri ditempatnya.


"Kekuatan gila apa ini!! hahaha!!."


*Buzzhhh!!!


"..."


"..."


Angin telah terhempas dan seluruh tempat langsung diisi oleh kesunyian... tanpa terlihat tubuh iblis itu satu inci pun...


Akemi menjatuhkan lututnya dan pedang itu berubah menjadi seekor kucing kecil yang menggemaskan.


"Fuu!!."


Kini dia telah berubah dengan bulu hijaunya yang lebih lebat dan lembut.


"Kerja bagus... Fuuton..."


"Yaahh... yang tadi itu benar benar menyeramkan... tidak kusangka kucing ini adalah senjata warisan Ventus..."


"Kage... kau juga telah bertarung dengan sangat hebat..."


"Kau terlalu memujiku... tetapi benturan dikepala tidak terlalu buruk..."


"Sepertinya itu benar..."


"Oh iya! kita harus kembali dengan yang lain!."


"Benar juga... ayo cepat kits bergegas, Fuuton."


"Fuu!!."


Akhirnya pertarungan mereka berdua selesai dengan sangat sengit... dan kini Akemi mendapatkan senjata Warisan Ventus Fuuton yang sebenarnya dia adalah Mouwton yang sudah mengeluarkan kekuatannya...