PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Episode 41



"Shion! bangunlah!."


"Mh! lima menit lagi..."


"Oi!! apa kau tertidur dari tadi disini?."


"Dia tidak akan bangun jika kau seperti itu..."


"Lalu, apa kau bisa membangunkan ha?."


"Hmph! hal seperti ini bukanlah halangan bagiku."


Lalu Izo mendekati Shion yang sedang tertidur lelap, lalu menutup hidungnya.


"..."


"..."


Lama kelamaan wajahnya terlihat berbeda dari biasanya.


"..."


"APA YANG KAU LAKUKAN DASAR BODOH!"


"Lihat, dia bangun..."


"K-Kau! apa kau yang barusan menahan nafasku?!."


"Dia menyuruhku untuk melakukannya.." Sambil menunjukku tanpa merasa bersalah.


"Hah?! aku tidak menyuruhmu menahan nafasnya!!."


"Tapi dia berhasil bangun bukan?."


"Tapi tidak dengan cara itu!!."


"Sama saja..."


"Kalian berdua sudah menganggu tidurku... padahal aku sedang mimpi indah!!! aku tidak ingin melawan iblis lagi!! tulang tulangku terasa sedang berteriak kesakitan!!."


"Namanya juga kau lemah... terluka seperti itu hal wajar..." Dia berkata sedemikian, padahal darah masih berceceran dari tangan dan pundaknya.


"Kau juga terlihat sedang terluka..."


"Ini lebih tepatnya adalah bukti kekuatanku... iblis bawahan itu kuat, tidak seperti lawanmu yang begitu lemah, bahkan kau tidak terlihat terluka sedikitpun..."


"Apa kau tidak melihat aku sudah berusaha keras untuk melawannya?!! mungkin kau saja yang lemah hingga kesulitan melawan iblis itu."


"Lemah? siapa yang kau bilang lemah, lemah?."


"Kau yang lemah tidak berhak mengatakan lemah, lemah!."


"Kenapa nama kalian langsung berubah menjadi lemah? yang lebih penting, bagaimana sekarang? aku sudah tidak ingin bergerak lagi..."


"Kita masih harus berjalan keatas puncak..."


"..."


"Apa kalian tidak tahu?! punggungku seperti ada beberapa bagian yang retak!! aku tidak bisa membawa kalian berdua!."


"Kau sudah aku lindungi hingga bisa bertahan hidup sampai disini... apa kau tidak bisa membalas budi?."


"AKU TIDAK MAU MENDENGAR DARI ORANG YANG MERUSAK MIMPI INDAHKU!!."


*Drrrr...


Disaat mereka sedang berdebat, aku sedikit merasakan adanya getaran yang semakin lama semakin besar.


"Hei... apa kalian tidak merasakan sesuatu?."


"Tanahnya bergetar..."


"Sudah kukatakan!! aku tidak mau berhadapan dengan iblis lagi!!."


Getarannya kini semakin kuat... dan dari bawah lereng gunung tiba tiba ada sesuatu yang muncul kearah kita bertiga.


"Benda apa itu?!!."


"Rongsokan?."


"Tidaa- eh?."


Shion yang ketakutan langsung terdiam begitu melihat benda yang melesat cepat kearah kita.


"Hei gawat! benda besar itu mengarah kearah kita!."


"Aku akan menghancurkannya!."


"Tidak jangan!! dia tidak akan mengenai kita!."


"Ha?."


Shion menghentikan Izo yang ingin menghancurkan benda itu...


*BUUZZZHHHHHH!!!!


Dan benar saja, benda besar itu melewati atas kepala kita dan terlihat ada dorongan api yang begitu besar dibelakangnya... benda itu sudah seperti sebuah roket.


"Apa... yang terjadi.."


"Bagaimana benda sebesar itu terbang begitu cepat?."


"Itu... adalah senjata guru..."


"Maksudmu... ketua divisi kedua?."


"Senjata utamanya yang bisa dia kendalikan dimana pun benda itu berada... dan jika benda itu terbang melesat, berarti guru sudah mulai serius..."


"Apa yang sebenarnya terjadi diatas sana?."


"..."


Begitu melihat benda yang ternyata adalah senjata ketua divisi kedua, Reiido Koton.


......................


*Dum!!


Pertarungan yang sebelumnya diunggulkan oleh Reiido Koton sang ketua divisi kedua... kini sang iblis kematian Morbus mendominasi pertarungan ini dengan kekuatan Awakening miliknya.


Iblis penghasut ini memiliki banyak kekuatan yang bisa menghilangkan konsentrasi seseorang, dan dia menggunakan kekuatan itu padanya hingga membuat sulit untuk bertarung.


Itu karena aura yang dipancarkannya... jika seseorang melihat aura tersebut, maka apapun hal itu, dia akan terkena halusinasi hingga membuat korban bahagia, kebingungan, marah, menangis, ketakutan, dan lainnya.


Seorang ketua divisi kedua pun juga bisa terkena aura itu karena serangan dari tentakel ungu yang memanjang dari tanah itu mengenai satu satunya papan selancar yang tersisa dan membuatnya terjatuh dari atas langit.


"Ehem... sekarang bagaimana kau bisa menahan seranganku?."


Sambil mengelus lembut bibir merah mudanya dengan jari telunjuknya, dia dengan tenang berjalan membawa aura besar yang mematikan.


"Sungguh kekuatan yang sangat merepotkan... ( Aku tidak bisa menyerangnya!! karena... )"


"Maka dari itu, berikanlah nyawamu!."


Dia menyerangnya kembali dengan monster yang ia ciptakan meskipun berhasil dihindari olehnya.


Dan saat ketua divisi kedua ingin menyerang dengan melemparkan sebuah pisau, tiba tiba dia melihat seseorang yang membuatnya tidak ingin menyerang iblis itu...


"..."


Iblis kematian itu tersenyum seakan kekuatannya bisa memancing seseorang seperti Reiido Koton.


Lalu Morbus melesat kearahnya dan menendangnya hingga menghantam bebatuan.


*Dum!!!


"Uhuk!."


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak bisa kau lakukan... sungguh kasihan..."


"( Jika bukan karena aura Awakening miliknya... tch! bagaimana aku bisa lolos dari halusinasi itu!!.)"


*Wushhh!


Morbus kembali melemparkan sebuah bola parasit yang berdetak... benda itu akan meledak dan membuat korban terkena parasit itu.


Ketua divisi kedua langsung melompat dan menusuk bola itu dengan pisau yang diterbangkan dengan apinya..


*Duar!


Ditengah asap yang menutupinya, tiba tiba sebuah tentakel muncul dari dalamnya, dan tiga sampai lima serangan dihindari dengan gerakan akrobatik dengan sangat cepat...


Lalu ketua divisi kedua memanfaatkan asap itu untuk menyerang Morbus iblis kematian.


*Wuuzhhh!


Pisau yang tersisa didalam bajunya diterbangkan kearahnya, dan sempat mendengar suara pisau itu tertancap oleh sesuatu...


Dan sayangnya itu bukanlah Morbus... lalu Reiido melihat sekelilingnya dan bersiap siap dari serangannya.


*Wusshh!


Sebuah benda panjang yang dilemparkan kearahnya bukanlah benda bisa...


Disaat Reiido ingin menghindar dari itu, tiba tiba dari dalam batang itu keluar sebuah biji bijian yang beberapa terkena kearahnya, dan anehnya sebuah tanaman merambat muncul dari tangannya...


"Bagaimana? apa kau suka dengan monster kecil itu?."


"Ya... aku begitu terima kasih!."


Meskipun tanaman itu masih menempel seperti sebuah Parasit, Reiido berlari dan menerbangkan beberapa besi dari papan yang hancur kearahnya.


Begitu dia melemparkan kearah Morbus, tiba tiba seluruh tubuhnya mati rasa dan terjatuh lemas.


"Apa ini..."


"Kau sudah merasakannya? dampak dari tumbuhan itu..."


Tumbuhan yang berbentuk bunga bulat berwarna hitam yang bergerak mengendur dan mengembang.


Pada akhirnya dia tidak hanya menempel di lengannya, tetapi dia juga menyerap energi elemennya.


"Sial..."


"Perlahan kau akan mati karena kehabisan energi kehidupan... menyesalinya adalah hal yang tepat untuk mengisi waktu sisa milikmu-."


*Wuuzzhhh!!


Tiba tiba sebuah mesin yang berukuran sebuah drone datang dan membakar tanaman itu hingga ke akar akarnya.


"Akhirnya... sudah datang ya..."


"A-Apa itu..."


Drone itu kembali dan menempel pada tangannya, seperti sebuah perisai tangan.


Lalu Reiido mengangkat tangannya dan api yang bersinar tepat ditengah benda itu mengkilat.


*Drrrrr


Tanah mulai bergetar, dan hawa panas menyertai tempat itu.


Iblis kematian itu perlahan mundur karena sesuatu hal yang membuat dia merasa takut.


Dan benar saja..


Benda yang sangat besar dari baja keras yang terbang dari bawah pegunungan akhirnya telah tiba...


"Jika kau ingin bertarung dengan kekuatan normal... aku sudah siap..."


Benda yang sangat besar dan bisa dibentuk apapun karena ketua divisi kedua bisa mengontrol apinya untuk menggerakkan mesin yang berada didalamnya...


Kekuatannya bisa mengendalikan benda apapun dengan tenaga api, karena dia adalah sang Machine Running.