
"Haaaahh~ beristirahat seharian disini sangatlah membosankan... lagipula luka perutku sudah jauh lebih baik..."
Sudah 2 hari setelah aku tersadar ditempat markas divisi pertama... dan rasanya tubuhku justru lebih tersiksa jika aku tidak menggerakkannya.
Shion sudah kembali ke markasnya kemarin, dan Izo sudah mulai berlatih seperti latihan Barats biasanya.
Dengan rasa bosan yang sudah mulai mengoyak tubuhku, aku memaksakan untuk pergi keluar kamar dan sekalian melihat lihat markas divisi pertama.
Dan seluruh tempatnya penuh dengan bangunan bangunan yang memiliki model bangunan jepang kuno yang sangat besar dan dipenuhi oleh corak kayu yang begitu menawan... rasanya benar benar seperti sebuah kastil kuno.
"Mereka memiliki tempat yang sangat bagus..."
Saat aku berjalan cukup lama, tiba tiba aku bertemu dengan seorang gadis yang sedang membawa sebuah keranjang berisi tumpukan kain tetapi itu hanya sekilas... karena setelah itu kami berdua bertabrakan saat di persimpangan jalan kayu ini...
Dan karena itu, semua kain kain yang ia bawa terlempar kemana mana dan kami berdua jatuh bersamaan.
"Aw!."
Dia sedikit terkejut sedangkan aku jatuh dengan merasakan kembali rasa sakit pada luka di perutku.
"K-Kamu tidak apa apa?."
Dengan posisi yang masih menungging, dia segera mendekatiku dan menanyakan keadaanku.
Mata dan rambut panjangnya yang berwarna merah muda, seakan membuat wajahnya terlihat begitu cantik...
Wajahnya begitu dekat hingga aku tidak sempat untuk merasakan sakit pada lukanya.
"Y-Ya... aku tidak apa apa."
"Tapi kamu bukannya seorang Barats yang sedang terluka bukan?! apa benar baik baik saja??."
Dia menjadi lebih khawatir dari sebelumnya, karena melihat perban yang melilit perutku.
"Tenang saja aku benar benar tidak apa apa... lagipula harusnya aku yang bertanya apa kau baik baik saja?."
"Aku tidak apa apa kok... tenang saja."
Dia tersenyum dengan lembut kearahku hingga kami berdua sadar wajah kita terlalu dekat dan langsung bergegas berdiri hingga suasana menjadi canggung.
"M-Maaf."
"T-Tidak apa apa..."
Saat beberapa detik kami saling terdiam, akhirnya dia langsung kembali sadar akan semua kain kainnya yang berantakan.
"Aku akan membantumu."
"Kamu masih sedang dalam tahap penyembuhan... sebaiknya jangan memaksakan dirimu."
"Aku benar-benar sudah sembuh kok!."
Aku pun membantu memunguti kain kain itu dan memasukkannya kedalam keranjang.
"Terima kasih."
"Apa aku boleh membantumu membawanya?."
"Eh? tapi kamu..."
"Sudahlah, aku sebenarnya sudah bosan berada didalam kamar... berkeliling tempat ini juga tidak buruk bukan?."
"Um.."
Dia pun memberikan keranjang yang sedikit besar itu kepadaku, lalu kami berdua berjalan bersama melewati lorong yang terbuat dari kayu yang sangat berkualitas.
"Anu... apa kau seorang Barats juga?."
"Bisa dikatakan... seperti itu."
"Eh? benarkah?."
"Aku juga tidak terlalu kuat, dan juga aku menjadi seorang Barats... hanya ingin meneruskan perjalanan kakakku."
"Begitu ya..."
"Kamu sendiri?."
"Aku... sebenarnya awalnya aku tidak tahu apa itu Octagram ataupun menjadi seorang Barats... tetapi... semenjak aku mengenalnya, mungkin aku bisa melakukan apa yang ingin kulakukan."
"Seperti?."
"Aku ingin merubah dunia ini... dan menjadikan tempat umat manusia bisa hidup bebas dan adil... karena bisa dibilang, aku berasal dari keluarga yang cukup... tidak dipandang tinggi..."
"Maaf! aku jadi menanyakan yang tidak-tidak."
"Tidak apa apa... kan aku juga yang duluan bertanya denganmu."
"Iya!."
Dia kembali memberikan senyuman yang manis kepadaku.
......................
"Terima kasih sudah membantuku membawakannya.."
"Tidak tidak, itu sudah menjadi tanggung jawab untukku."
"Tanggung jawab?."
"M-maksudku, sebagai seorang lelaki harus membantu wanita, karena kau tahu? ya seperti itu."
Entah mengapa aku menjadi sangat gugup saat berbicara dan menjadi salah paham.
"Hahaha, ternyata kamu orangnya sangat baik ya."
"B-Benarkah..."
Aku hanya bisa menjawabnya sambil mengusap rambut belakangku.
"Oh iya... selepas ini, kau ingin kemana?."
"Aku? mungkin aku ingin kembali ke kamp pelatihan."
"Apa aku boleh ikut?? aku ingin melihat bagaimana pelatihan yang dilakukan divisi pertama."
"Boleh kok, tapi sebelum itu, aku harus memberikan informasi kalau aku membawamu pergi... agar tidak menjadi masalah."
"M-Maaf, aku jadi merepotkanmu.."
"Kamu sudah membantuku... jadi sekarang giliran aku yang membantumu."
"..."
Lalu kami berdua pergi ketempat dimana ruangan pengawas berada, dan dia masuk kedalam untuk melaporkan tentangku.
Dan beberapa menit kemudian dia keluar dari sana.
"Ayo, kamu sudah diizinkan untuk berkeliling juga kok."
"Wah, terima kasih..."
"Um... dan juga, katanya rekan pasukan Barats divisimu juga sedang dalam perjalanan kesini, untuk menjemputmu."
"Cepat sekali... padahal aku masih ingin melihat lihat tempat ini."
"Masih ada waktu kok, ayo."
Dia mengajakku dengan begitu lembut, wajahnya yang sangat manis dan tubuh yang sedikit lebih tinggi dariku berusaha untuk menemaniku untuk berkeliling markas ini...
Lalu aku diperlihatkan banyak sekali tempat, seperti kelas pengajaran, lapangan latihan, arena bertanding, dan macam macam tempat yang begitu besar... sepertinya ini memang seperti sebuah istana kerajaan kuno, semuanya dibuat dengan kayu yang harganya sangat mahal, dan mengeluarkan sebuah keharuman seperti berjalan ditengah pepohonan rindang...
"Oh ya... daritadi kita berkeliling, tetapi aku tidak melihat Izo berada."
"Izo? kamu mengenalnya ya?."
"Ya... bisa dibilang seperti itu." dengan nada yang cukup malas untuk menganggapnya.
"Dia sedang berlatih diatas puncak gunung yang berada didalam desa ini... biasanya tempat itu menjadi tempat latihan para Barats untuk mempelajari konsentrasi dalam mengontrol elemen.
"..."
"Tapi sepertinya sebentar lagi juga dia pulang kok."
"Seperti itu ya... ( Aku tidak berharap dia pulang, sebaiknya pergi sana latihan!. )"
"Apa kamu sedikit tidak menyukainya?."
"Eh? t-tidak kok, aku hanya bisa dibilang sudah cukup mengenalnya."
"Sifatnya memang seperti itu, meskipun begitu dia adalah orang yang sangat baik... tetapi karena sifatnya itu, tidak ada orang yang berani mendekatinya... makanya aku sedikit senang jika ada yang berteman dengannya."
"..."
Baru saja kita sedang membicarakannya, tiba tiba dia datang dari pintu dalam ruangan.
"Ternyata kau disini! kenapa kau keluar dan berkeliaran sembarangan?!."
"Ha?? memangnya aku tidak boleh berjalan ditempat ini?? aku juga hanya melihat lihat saja!."
"Izo... tidak baik berbicara seperti i-."
"Senior, kenapa anda mengizinkan orang ini berkeliaran sembarangan??."
"Senior??."
Aku langsung terkejut saat Izo memanggil gadis itu senior.
"Tenanglah, lagipula aku sudah meminta izin dengan pengawas."
"Orang ini tidak bisa dibiarkan begitu saja."
Sambil menunjukkan jarinya kearah wajahku.
"Kau ingin bertengkar hah?!."
"Hm! siapa takut!."
"Tunggu, kalian berdua..."
Mereka tidak mendengarkan perkataan gadis itu dan semua itu berlanjut menjadi sebuah pertarungan satu lawan satu.
...
Sekarang mereka berdua sudah berada ditempat arena bertanding.
"Sebaiknya kau menyerah sekarang agar tidak malu."
"Hm!! aku hanya perlu menghajar wajahmu saja!."
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini... aku harus mengatakannya kepada gu-."
"Tidak apa apa... biarkan mereka bertanding.."
Tiba tiba sosoknya yang besar sudah berada dibelakang wanita itu.
"Guru! tapi.."
"Aku ingin melihat... sebenarnya apa kekuatan yang dimiliki oleh Barats itu..."