
( Sword Style: Hundred Razor Slashes )
*Sringg!!
Sebuah serangan yang tiba-tiba membuat tubuh monster itu terbelah berkeping-keping...
"M-Monster itu..."
Mereka semua begitu shock dan terkejut, namun aku yang muncul didepan mereka, justru membuat mereka menjadi semakin takut.
"K-Kau..."
"Huh... aku pikir apa... eh? h-halo... apa... kabar?."
Aku menyapa mereka yang begitu ketakutan ketika melihat kekuatanku yang begitu besar...
Dan setelah beberapa saat, mereka langsung kembali mengambil posisi bertahan dan mengarahkan ujung senjata mereka kepadaku.
"O-Oi! kenapa kalian juga ingin menyerangku??."
"Siapa kau?!."
"Aku? aku adalah seorang pasu- maksudku pengembara... ya! aku baru saja memasuki area hutan ini!."
"Pengembara?."
"Kalian semua! turunkan senjata!."
Suara perempuan yang sedang menaiki seekor kuda datang dari belakang mereka.
"Tuan putri! kenapa anda tidak melarikan diri??."
"Jyde... kita tidak perlu waspada lagi..."
"Memangnya... ada apa?."
"Apa kalian tidak melihatnya?... dia mengalahkan monster yang sudah kalian lawan dengan susah payah hanya dengan satu serangan... menganggap dirinya musuh pun hanya menjadikan langkah yang bodoh..."
"..."
Mereka semua langsung menyetujui Tuan Putri, lalu menurunkan senjata mereka...
"Oh... pemikiran kau cukup bagus juga..."
"K-Kau! beraninya memanggil tuan putri dengan sebutan yang tidak sopan!."
"Hm?."
"Hentikan, Jyde... jangan terlalu keras kepada orang asing..."
Dia pun turun dari kuda itu dan mendekatiku, berjalan dengan penuh anggun, benar-benar menggambarkan seorang putri.
"Maaf atas perlakuan prajurit milikku yang sudah sedikit membuatmu kebingungan... Pertama, saya mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa pasukan kerajaan saya.."
"Y-Yah... Baiklah... ( Padahal aku hanya ingin mencoba tehnik berpedang terbaruku... )."
"Kalau boleh tahu... siapa nama anda?."
"Aku?."
"Ya."
"Namaku... ( Tunggu... Apa aku boleh memberitahukan nama asliku? terserah deh, asalkan bukan tempat asal..)."
Tanpa ragu sekalipun, aku langsung memberikan namaku didepan mereka.
"Namaku Kaito Ryoku."
"Ryoku, saya sangat berterimakasih..."
"Sudahlah, aku tidak terlalu ingin seperti itu..."
"Kalau begitu, didalam kereta kami, terdapat beberapa harta atau makanan, dan juga senjata."
"T-Tuan putri..."
Asistennya yang begitu kewalahan dengan sikap tuan putrinya yang begitu ramah kepada orang yang baru saja ia kenal.
"Penawaran yang kau berikan lumayan bagus juga..."
"A-Apa yang ingin kau rencanakan??."
"Hehe... bagaimana kalau aku mengambil semuanya."
"Semuanya?."
"Semuanya??!!!."
"Um.."
"Tuan putri! dia pasti bukanlah pengembara, tapi seorang penjajah!! semua yang ada didalam kereta begitu mahal dan pastinya baginda raja akan marah!."
"..."
Dia terdiam dan berpikir dengan omongan yang asistennya katakan, sehingga dia menemukan akhirnya.
"Baiklah, anda boleh mengambil semuanya."
"Tuan putri!!."
Jyde begitu kebingungan hingga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh tuannya.
"Eh? benarkah?." Aku pun juga sama bingungnya dengan jawaban darinya.
"Benar... Anda boleh mengambil semuanya."
"Kenapa kau begitu mudahnya memberikan harta itu kepadaku yang sebagai orang asing disini.."
"Harta tidaklah seberapa... Anda telah menyelamatkan puluhan nyawa manusia, dan satu nyawa manusia pun lebih berharga dari apa yang ada didalam kereta itu."
"..."
"Tuan putri..."
"Yah... Kau memang seorang tuan putri, dan sikapmu begitu mengesankan... Namun yang tadi itu hanya bercanda."
"Eh?."
"Apa maksudnya?."
"Aku tidak ingin meminta imbalan sedikitpun, dan juga saat ini aku sedang buru-buru, jadi senang bertemu denganmu."
Aku langsung berjalan santai melanjutkan perjalanan dengan tatapan mereka yang nampak kebingungan.
"T-Tunggu! Ryoku... Setidaknya, ada sesuatu yang anda inginkan?."
"Aku hanya ingin pergi keluar dari hutan ini saja, dah."
"..."
"Ryoku!."
"Ada apa lagi?."
"Anda bilang ingin keluar dari hutan ini?."
"Benar..."
"Kalau begitu!.."
......................
*Tuk Tak Tuk Tak
Suara langkah kaki kuda yang sedang membawa sebuah kereta tarik, dan karena ada sesuatu kejadian yang membuatku kini ikut dengan mereka untuk melewati hutan ini...
Kebetulan saja mereka juga ingin pergi ke lapangan hijau, dan karena tujuan kita sama... Aku bisa menumpang di keretanya dan lumayan mempercepat waktu perjalanannya.
"Jadi... Perjalanan kalian dihadang oleh monster tadi?."
"Benar..."
"Memangnya para tentara kerajaan yang mengawal kau disini... Apa mereka tidak begitu kuat?."
"B-Bukannya seperti itu... tetapi sebagian dari mereka, tidak memiliki kekuatan elemen."
"Ehh... jadi seperti itu."
"Hanya ada beberapa dari prajurit pasukan yang memiliki kekuatan elemen bumi, karena itu, cukup sulit jika kita dihadapkan oleh seekor monster tingkat tinggi."
"Tetapi, bukan berarti mereka tidak bisa melawan monster itu."
"Maksud... anda?."
"Tanpa kekuatan elemen bumi sekalipun. Kita masih memiliki kekuatan didalam diri kita masing-masing... dan aku yakin, mereka semua bisa menjadi lebih kuat didalam bidangnya masing-masing."
Mata tuan putri yang mengkilap sesaat begitu melihatku yang berbicara hal itu.
"K-Kalau boleh... Apakah saya boleh mengetahui, kekuatan elemen milik anda? t-tentu saja! aku akan memberitahukan kekuatan ele-."
*Sreett!!
Tiba-tiba tirai terbuka dan asistennya yang terlihat begitu panik langsung memberhentikan pembicaraan ini.
"Tuan putri!! s-saya mohon, apapun itu, namun jangan memberitahukan hal itu.."
"Tidak apa apa Jyde... Lagipula ini tidaklah seberapa."
"Itu bukanlah tidak seberapa! namun sangatlah penting!."
"..."
"Sudahlah, tidak ada gunanya kalian meributkan hal yang seperti itu, karena aku tidak mempunyai kekuatan elemen bumi."
"Eh?."
"Tidak mungkin!!."
Mereka berdua langsung terkejut dan lebih syok saat mengetahui hal tersebut daripada melihat seranganku kepada monster itu sebelumnya.
"Ryoku... anda sedang tidak, bercanda bukan??."
"Aku benar-benar serius... Aku hanya menekuni kekuatan berpedang milikku saja."
"Tapi... meskipun hanya sebuah pedang... anda bisa membunuh monster itu dengan mudah.."
"Itu semua berasal dari kekuatan yang berada didalam diriku... Karena itu, sebelumnya aku sudah mengatakannya.."
"..."
"..."
Keduanya langsung terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius, dan saat setelah itu...
"Ryoku... ini terdengar sangat tidak sopan dan terlalu tiba-tiba... Tetapi, saya ingin meminta satu hal kepada anda... dan juga, sebagai balasannya nanti, saya akan mengabulkan segala permintaan dari anda."
"..."
"T-Tuan putri! apa yang anda bicarakan?!."
"Ini untuk kepentingan kalian dan juga kerajaan... Jadi, aku hanya bisa memikirkan satu hal ini, dan aku harap anda ingin menerimanya.
Tatapannya begitu serius, hingga ucapan nasehat dari Asistennya pun tidak dipikirkan olehnya lagi...
Aku tidak tahu apa yang dia inginkan, namun... Karena dia sudah membawaku bersamanya keluar hutan, mungkin aku akan menerimanya jika hal itu masih berada dibawa penguasaan diriku.
"Baiklah... Katakan apa itu.."
Aku dengan yakin dan percaya kepadanya... Menunggu sebuah kata-kata yang keluar dari mulutnya...
Asistennya pun ikut merasakan khawatir dan ketakutan dengan apa yang Tuan Putri inginkan.
"Aku ingin... Anda mengajarkan ilmu berpedang milik anda... Kepada pasukan kerajaan milikku disini..."