
*Dum!!!
*Clingg!!
"Bukankah serangan barusan lumayan baik?."
"Aku tidak berpikir seperti itu..."
*Cling!!
Setelah hantaman dari kedua pedang yang membuat keduanya saling terpukul mundur.
"Seorang Pasukan Revolusioner tanpa kekuatan bumi? jarang sekali aku melihat hal yang seperti itu..."
"Aku pun sedikit terkejut... jika seorang iblis kematian mempunyai bawahan yang lebih berbeda dariku..."
"Memangnya ada apa? apa ada yang salah dariku?."
"Kau memanglah Servus iblis kematian... tapi kau adalah manusia..."
Aku menghadapi manusia yang telah menerima kekuatan iblis hingga menjadi seorang Sevus, yaitu bawahan terkuat para iblis kematian.
"Terkadang setiap orang memiliki keyakinan dan keinginan tersendiri bukan?."
Tubuh tinggi dan memakai kacamata bulat, dengan sebuah tangan yang bisa berubah menjadi sebilah pedang yang tajam.
"Kalau begitu... jangan salahkan aku jika kau tidak bisa meneruskan keyakinan kau lagi..."
"Dunia yang sudah kotor ini, tidak akan bisa melindungi umat manusia dari kehancuran, apalagi orang yang mereka percaya dan harapkan hanyalah seonggok daging tidak berguna yang hanya menikmati segala hal sembari melihat penderitaan mereka, maka dari itu... lebih baik menjadi iblis daripada berpura-pura seperti seorang iblis."
"..."
Dia berkata sembari menggerakkan kedua tangannya seperti seseorang yang sedang berpidato, cara bicaranya sangat lihai, mungkin dia adalah seorang juru bicara di hidupnya.
"Didunia ini... yang terkuatlah yang menikmati hidup nyamannya, dan yang terlemah hanya bisa memakan sampah para penguasa dan meminta tolong hingga menjatuhkan harga diri mereka... sungguh kebodohan yang begitu je-."
*Cling!!
Disaat dia masih berbicara, dengan pergerakan yang cepat aku menyerangnya dan dia masih bisa menahan pedangku dengan tangannya yang berubah menjadi sebilah pedang.
"Sebaiknya kau berhenti berbicara..."
"Apa kau sebegitu pedulinya dengan mereka yang hanya bisa hidup membebani dunia? kita sudah kehilangan ketentraman... tidak ada lagi momen disaat manusia menghirup udara segar dan melihat anak mereka bermain di taman dengan bahagia!"
"Apa kau tidak mendengar apa yang aku ucapkan..."
"Pastinya berat untukmu yang hidup terpaksa menjadi tumbal hidup... dan aku.."
"..."
Sambil menahan pedangku, dia tersenyum menyeringai didepan wajahku.
"Orang orang yang berada di dekatmu ditakdirkan mati konyol...!!."
"Tutup mulutmu sialan!!"
Aku langsung terpancing akan omongannya dan mendorong pedangku lebih kuat hingga dia melompat mundur.
Begitu aku sadari... pedang ini sangatlah berat... hingga aku hanya memegang dan menyeretnya diatas tanah.
"Aku benar benar beruntung menjadi seorang iblis, dengan kekuatan dan posisi... aku mungkin bisa menikmati kehidupanku selamanya!"
"Kau akan segera mengetahuinya... bahwa aku akan membunuhmu tepat ditempat teraman milikmu..."
"Kau tidak akan bisa mengalahkan dirku... karena didalam hatimu hanyalah rasa empati yang tidak berguna."
"Berhenti berbicara!!."
*Wuusshhh!
Aku melompat langsung kearahnya dan menyerangnya berkali kali... tetapi kami langsung saling mengadu pedang dengan begitu sengit... meskipun pedang ini cukup berat... aku bisa menggerakkannya dengan kecepatan yang tidak biasa...
Tetapi gerakannya bisa mengimbangi kemampuanku, hanya dengan menggerakkan kedua tangannya, dia bisa menangkis semua seranganku.
Hingga dimana terjadi titik hantaman keras sehingga kedua pedang itu memantul cukup jauh.
Aku segera mengambil posisiku dan memutarkan tubuhku sambil mendorong pedangku untuk menebasnya.
Tetapi berhasil dihentikan oleh kedua tangannya.
"Berapa banyak pengorbanan yang mereka berikan untukmu? sampai kau bisa sekuat ini dan berdiri disini sebagai pahlawan impian mereka?"
"..!!!"
Emosiku meluap dan membuat pedangku menjadi begitu berat, aku berusaha untuk mengangkatnya sekuat tenaga, namun rasanya seperti membawa ratusan liter air.
Melihat celah untuk menyerangku, dia langsung menendang perutku hingga terpelanting kebelakang.
"Kekuatan fisikku puluhan kali lipat lebih kuat darimu... kau tidak akan bisa membunuhku..."
"Berisik! ( Sial! kenapa benda ini sangat berat! )"
"Jika kau tidak ingin menyia-nyiakan hidupmu... aku akan memberikanmu kesempatan untuk tunduk pada raja iblis dan kau akan mendapatkan kekuatan secara instan!."
"Aku tidak butuh mendengarkan orang yang ingin aku bunuh..."
"..."
Aku berusaha berdiri dan mengangkat pedangku yang sudah lumayan ringan... tetapi iblis itu langsung menghampiriku dan meninjuku berkali-kali ditambahkan tendangan yang membuatku kembali terpental...
Lalu dia meloncat begitu tinggi dan mengarahkan tangannya kearahku.
Aku bergegas mengangkat pedangku dan menepisnya.
*Cling!!
Aku berusaha memaksimalkan keseimbangan ku saat dia terus menerus memberikanku serangan yang tiada hentinya.
"Kau hanyalah manusia yang terlalu sombong dan tidak tahu diri... hanya karena sebuah kekuatan yang diberkati padamu... kau bertekad untuk menolong umat manusia?."
*Clingg!! Cling!! Cling!!
Sembari dia mengayunkan tangannya dengan santai dan berjalan perlahan... aku yang sudah sulit untuk menyeimbangkan tubuhku karena setiap aku menangkis serangannya, aku langsung terkena dampak hantaman itu dan kembali terjatuh karena tidak bisa menahan hantamannya.
"Harapan mereka yang terus menerus menjadi beban... bahkan kau hanya menjadi bahan lawakan dan akan mati disini!."
Jika hal ini terus berlanjut, lama lama aku kehabisan tenaga hanya untuk bertahan dari serangannya.
Aku menyerang langsung serangannya dan meloncat mundur cukup jauh lalu kembali memperbaiki posisiku.
Kali ini aku sudah begitu tenang, dan pedang ini sudah jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya.
Aku menarik nafasku dalam dalam untuk mengembalikan dan menjernihkan pikiranku.
"Kau tidak akan tahu... seberapa besar harapan mereka untuk hidup di dunia yang kejam ini..."
"Maka dari itu... harapan mereka hanyalah doa kecil yang sia sia dan hanya membimbing mereka menuju kesengsaraan."
"Itu karena keberadaan kalian yang merusak harapan mereka..."
"..."
Pertarungan kedua dimulai, dan kini aku bisa lebih mudah menggunakan pedangku... hingga terlihat bahwa seranganku lebih unggul dan lebih cepat daripada ayunan tangannya...
Aku melihat sedikit celah dan tidak ingin membuang-buang kesempatan, aku langsung mengayunkan pedangku dari arah samping menuju pinggangnya.
Tetapi dia menyadarinya dan langsung mengambil langkah mundur untuk menghindar dari seranganku.
"Pola serangan kau lebih baik dari sebelumnya."
"Aku tidak merasa ingin dipuji olehmu."
"Sudah kuduga... bergabunglah dengan kami... kau akan mendapatkan kekuatan ya-."
*Suuwwshhh
Aku tidak mendengarkan perkataannya dan langsung menyerangnya dengan cepat.
Dia terkejut dengan sedikit lengah karena kakinya yang spontan melangkah mundur terpeleset oleh bebatuan kecil.
Karena hal itu tangannya telat untuk menangkis pedangku dan terkena tebasan panjang dari bahu kiri melewati dadanya.
"Arkhh!."
Aku kembali menyerangnya dua kali dan ditahan olehnya yang bersusah payah untuk bergerak, lalu aku mendapatkan kesempatan untuk menendangnya hingga terjatuh.
*Buk!!
Sebelum dia bangkit menggerakkan tangannya, aku menusuk langsung kearah bahu kanannya hingga tangan kanannya tidak bisa digerakkan.
Dia merasa tidak percaya dengan perubahan seranganku yang begitu berbeda dengan beberapa waktu yang lalu.
"Lucu sekali... kau yang melindungi umat manusia dengan segenap hati, dengan wajah yang tenang itu ingin membunuh seorang manusia..."
"..."
Aku berusaha untuk menghiraukan ucapannya dan menarik kembali pedangku hingga dia kembali merasa kesakitan.
Aku mengarahkan ujung pedangku tepat kearah kepalanya...
"Apa kau tahu... bagaimana rasanya mendapatkan kekuatan iblis ini? rasanya begitu menyenangkan hingga kau bisa melakukan banyak hal... seperti membunuh seseorang..."
Tanpa menunggu terlalu lama, aku langsung mendorong pedangku begitu dia mengatakan sesuatu yang membuatku berhenti bergerak.
"Dan membunuh mereka yang menghancurkan keluargaku!!!."
Aku terdiam dan berhenti menggerakkan pedangku yang ingin menghunuskan pedangnya kearah wajahnya.
"Kau tahu bukan? melihat keluargamu tersiksa... mereka menganiaya ayahku dan adik laki-lakiku hingga mati mengenaskan, menyiksa dan memperkosa ibuku dan kakak perempuanku begitu kejam dan tidak memperdulikan mereka seakan mereka lebih menginginkan nafsu mereka, semua itu terus tergambarkan didalam tidurku, mimpiku, bahkan aku bisa mendengar suara mereka yang meminta tolong padaku."
Aku berhenti untuk mendorong pedangku, setelah melihatnya telah menyerah dan mengeluarkan semua rasa sakitnya.
"Lalu datang pasukan iblis yang dipimpin oleh seorang iblis kematian, dia membuat mereka semua saling membunuh... yang sebelumnya rekan, berubah menjadi musuh mereka sendiri, dia datang menyelamatkanku, dari kumpulan manusia yang hanya menikmati penderitaan rakyat mereka..."
"..."
"Aku hanya ingin membalas dendam... dan hanya ini yang bisa aku lakukan. Kekuatan ini sungguh merubah hidupku!!."
Disaat dia terbaring lemas... aku memilih untuk meninggalkannya terluka parah disana... dan berjalan meninggalkannya.
"Apa kau akan terus memihak mereka yang terus mengotori tangan mereka..."
Disaat aku berjalan pergi, dia berdiri dengan aura kekuatan yang sangat besar... tanpa aku sadari dia meningkatkan kekuatannya dangan Awakening...
Dia menyatukan kedua tangannya menjadi pedang hitam dengan aura gelap menyelimuti pedang itu.
"Kau hanya membuat dirimu lelah... dan pilihanmu hanya ada satu..."
*Tap Tap Tap...
Auranya semakin kuat... dan dia mulai memanjangkan pedang hitam tersebut.
"MAKA PILIHAN ITU ADALAH MATI!!!."
( AWAKENING! )
*Buzzhhhhh!!!
Pedang hitam itu melesat kearahku dengan begitu cepat.
Tetapi pilihannya telah membuat masa depan yang salah...
( Sword Style : Razor Slash )
Ornamen ombak biru yang menghiasi pedang ini, dan juga arus air yang menyelimuti ujung pedangnya.
*Swuuttt!!
*Krakk!
Seketika pedang hitam itu retak dan hancur karena seranganku yang langsung menebas jalur serangannya.
"Mustahil...!!."
Dan pedangnya yang masih ada di sampingku langsung aku belah hingga dia kembali menjadi sebuah tangan yang sudah terpotong.
"Arrghhh!!."
"Kau memiliki masa lalu yang kelam..."
Aku berjalan dengan menyeret pedangku yang beratnya hingga terasa ratusan kilo itu...
Entah mengapa tetapi hati ini begitu mengeluarkan amarah yang sangat besar...
Bahkan diriku tidak tahu dengan siapa aku begitu mengeluarkan emosi... bahkan aku tidak merasa membenci iblis itu... tetapi melihatnya saja sudah membuatku menggigit lidahku hingga berdarah.
"Manusia... tidak akan bisa hidup dengan dunia yang hancur ini!! bahkan kau sekalipun tidak akan bisa mengatasinya!!."
Dia semakin takut saat aku berjalan semakin dekat...
"K-Kau!!!."
Aku mengangkat pedangku yang bercahaya biru terang kedepan wajahnya...
"Tunggu!!."
Sudah terlambat untuknya memiliki kesempatan... aku mengayunkan pedangku tepat kearah lehernya... tetapi begitu melihat wajahnya, dia tersenyum begitu jelas dan terlihat kedua tangannya yang sudah buntung kini mengeluarkan warna aneh pada ujungnya.
Dan benar saja, sebuah pedang yang sama kembali keluar dari tangannya yang sempat aku tahan dengan pedangku.
*Criittttt!!!!!
Karena tujuanku untuk membunuhnya tertunda, aku kembali mundur dan kembali memikirkan cara untuk membunuhnya.
Tetapi dengan wujudnya yang kini berubah... seluruh tubuhnya dilapisi oleh sebuah besi dari pedangnya... seperti memakai sebuah zirah yang sangat tebal.
Tangannya berubah bentuk menjadi pedang hitam yang mengeluarkan aura hitam begitu kuat, dan kepalanya tertutup oleh dua bilah pedang didepan wajahnya...
Dia seutuhnya berubah menjadi iblis yang menyatu dengan kekuatannya.
"Aku akan membalas dendam diriku kepada semua umat manusia...bersama raja iblis, dan menghancurkan mereka hingga tidak ada satupun yang hidup di dunia ini!!"
Suaranya yang menggelegar sangat keras, berbeda dari sebelumnya... tubuhnya yang membesar dan seluruhnya hanyalah sebuah pedang...
"Kau sudah sepenuhnya menjadi iblis..."
"Benar! aku rela menjadi apapun untuk bisa membunuhmu!! dan menjadi yang terkuat!!."
"Kekuatan seperti itu tidak akan bisa membunuhku... kau hanya akan berakhir dengan kekalahan!!."
"Roaarr!!!."
Pertarungan ketiga dimulai, dan kini kekuatan keduanya lebih besar dibandingkan sebelumnya... disaat kedua serangan saling menghantam, seluruh area disekitarnya hancur menjadi butiran debu.... dan seakan mereka sudah bukan lagi beradu duel dengan sebuah pedang, tetapi ledakan di setiap hantamannya membuat langit menggelegar dan tanah bergetar hebat.
Aku dengan sekuat tenaga mengayunkan pedangku secepat mungkin dan beberapa dari seranganku lolos dari tangannya dan mengenai zirah pedangnya... dan hal itu masih belum cukup kuat untuk menembusnya.
"Keras sekali!."
*Dum!!!
Dia seperti monster yang mengamuk menyerangku secara brutal, dan menghancurkan seluruh tempat...
Aku sudah berusaha tetapi meskipun aku memenangkan kecepatan, aku pun kalah dengan pertahanannya...
Aku mengambil langkah mundur untuk kembali memikirkan rencana... tetapi dia tetap ingin menjaga jarak denganku terus dekat hingga dia bisa menyerangku secara liar.
*Clingg!! Cling!! Cling!!
Terus menerus, tebas dan tebas hingga kekuatan yang belum pernah dicapai...
Ditengah pertarungan yang sengit itu, dia dengan pedang dikedua matanya terlepas dan menembakkan keduanya kearahku hingga menancap pada kedua pundakku.
"Argh!."
Dan dia mengayunkan salah satu tangan pedangnya dengan kuat hingga aku yang bertahan menggunakan pedangku dan luka dikedua pundakku tidak bisa menahannya lalu terlempar hingga menghantam bebatuan besar.
*Dum!!
"Ughuk!!."
Dengan sekuat tenaga aku mencabut kedua pedang itu dan berdiri kembali...
"Sial!! bagaimana cara menembus pertahanannya?!."
Disaat aku yang memikirkan caranya melawannya yang begitu kuat... tiba tiba tanpa adanya sesuatu dia mengerang kesakitan seperti tersiksa.
"Ada apa dengannya??."
Dia bergerak kesana kemari sambil berteriak dan kesakitan...
Dan aku langsung mengetahui alasan mengapa dia terlihat tersiksa seperti itu.
Itu karena zirah yang ada ditubuhnya...
Zirah itu adalah sebuah pedang... tetapi dengan ujung pedang itu menancap pada tubuhnya...
Bahkan kedua matanya terlihat hancur dan kembali tumbuh sebuah pedang yang sudah dia lepaskan untuk menyerangku.
"Dia menukarkan tubuhnya dengan kekuatan besar itu..."
Tentu saja aku membayangkan begitu menyakitkan bertarung dengan kondisi seluruh tubuhnya tertusuk oleh ratusan pedang... dan itu adalah hal tergila yang pernah aku lihat.
"Apa yang sedang kau tunggu?."
Tiba tiba suara masuk kedalam kepalaku.. dan aku masuk kedalam dunia pikiranku.
"Kau melihatnya sendiri... dia harus segera diatasi..."
"Tetapi... aku merasa aku tidak pantas untuk menggunakan pedangku untuk membunuhnya..."
"Dia sudah tersiksa selama ini... meskipun matanya telah tertutup oleh kebencian... tetapi dia sudah berusaha sejauh ini... dan kau harus segera mengakhiri hidupnya..."
"..."
"Aku akan menyalurkan kekuatanku pada pedangmu... biarkan hatimu yang memilih..."
Begitu aku kembali... aku diperlihatkan oleh dirinya yang meronta-ronta kesakitan dan berteriak begitu kencang.
Sepertinya hanya pilihan ini... untuk menghentikan penderitaannya...
Masa lalunya begitu kelam... lalu hidupnya yang berjuang untuk membalaskan dendam keluarganya...
Aku pernah berada pada posisinya.. dan itu begitu menyakitkan hingga hati ini mati rasa.
Aku menggenggam pedangku dengan begitu kencang...
Dan mengangkat untuk mengambil posisi menyerang...
Aku akan menyerang dengan satu serangan...
*Zuusshhh
Sebuah aliran air yang muncul dari telapak tanganku melingkari pedang itu... dan pedang itu kembali menyerapnya dan bercahaya...
"Kau pasti menderita begitu lama hingga telah menjadi sekuat ini... tetapi kali ini saatnya untuk beristirahat..."
Aku berjalan mendekatinya dengan perlahan... sambil mengangkat pedang yang mempunyai cahaya biru berkilau.
Dan pada saat itu seketika hatiku dipenuhi amarah begitu dia berlutut di depanku... dan merintih kesakitan sambil mengatakan sebuah kalimat.
"Aku... ingin... hidup... aku... akan... membalaskan... dendamku... kepada... para... penguasa..."
Dia sudah tidak bisa diselamatkan... karena disela sela zirah itu terdapat darah yang mengalir tidak terhentikan... dia sudah mencapai batasnya...
Aku yang mengangkat pedangku... tidak akan lagi bisa membuatnya hidup... karena itu...
"Tenang saja... tujuanmu tidak akan berhenti..."
Aliran air itu mengalir begitu lembut... dan seketika..
( Sword Style : Rainfall )
*Zwuuzhhhh!!
*Sringg!!
Seketika tebasan itu menembus zirahnya dengan kuat...
Tubuhnya yang sudah terbelah... kini hancur menjadi serpihan besi... tubuhnya sudah dipenuhi oleh bongkahan besi hingga tidak ada yang tersisa dari dalamnya...
"Aku akan mengubah dunia ini... hingga tak ada manusia yang tersiksa..."
Kini amarah yang bergejolak didalam hatiku terhalang oleh sebuah tekad yang kuat...
Pedang yang sebelumnya begitu berat... kini begitu ringan seperti memegang sebuah kapas...
Aku sudah begitu tenang... hingga tidak bisa untuk mengeluarkan amarahku ini...
Pertarungan sudah selesai... dan sudah saatnya aku untuk meneruskan perjalananku untuk membunuh iblis itu... karena, dia tidak akan mati hingga aku bisa menebasnya...