PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Chapter 28



"Hmm... begini saja, kelompok kita akan ditugaskan untuk menyerbu salah satu tempatnya yaitu Pegunungan Moete, maka dari itu, sepertinya bagi kalian yang mempunyai rencana untuk penyerangan, silahkan berikan ide kalian."


"Eh? kupikir kita sudah ada rencananya."


"Oi oi, apa kau lihat? di kelompok ini memiliki berbagai barats dari beberapa Pasukan divisi... pastinya ada kelemahan dan kelebihan kalian yang berguna."


"Hem! aku akan meratakan gunung itu menjadi sebuah lapangan!." Dia adalah orang yang satu kamar denganku dan Shion.


"Kau kira kau bisa meratakan sebuah gunung? menjatuhkan gundukan pasir juga tidak akan sanggup!."


"Apa kau bilang!!??."


"Apa!? kau memang seperti itu!."


Aku dan orang itu terus menerus saling menghina satu sama lain, dan tentu saja hal itu membuat ketua kelompok marah.


"Oi, berhenti bertengkar! aku tidak ingin membuang tenagaku untuk sesuatu yang tidak berguna."


"Kaito, hentikan! jangan membuat masalah!."


"Tch, kali ini aku akan membiarkanmu berkoar koar."


"Ha?! bilang saja kau takut! jika takut, lebih baik kembali saja ke markas divisimu dan minum susu dari gurumu."


Karena perkataannya, aku jadi terpancing dan mengikuti maunya.


"Kau ingin bertanding?!! aku akan bermain denganmu!."


"Hm? haha! baiklah!! siapa yang takut!."


"G-Guru... apa kau hanya diam saja melihat mereka?."


"Aku sangat malas melakukannya, lagipula aku juga ingin melihat... bagaimana kekuatan antar Barats divisi yang mempunyai rumor terkuat?."


"E-Eh? apa ini memang layak untuk ditiru sebagai ketua pasukan?."


"Sudahlah, jika ada apa apa aku akan menghentikannya."


Kami berdua langsung berpindah tempat ketempat yang lebih luas, dan aman untuk bertanding.


Mereka semua yang sedikit penasaran hanya melihat dari jauh pertandingan antara kami.


"Kalian berdua! jangan terlalu menghabiskan energi kalian ya!." Sambil melambaikan tangannya dari jauh.


"Justru diperbolehkan... kenapa guru membiarkan mereka saling menyakiti.."


"Ini hanya latih tanding... jika berlebihan aku akan berusaha menghentikannya, santai saja dan nikmati pertarungannya.."


Karena terlalu santai, dia hanya duduk dibawah payung yang menutupi sinar matahari sambil menikmati minumannya.


"Apa kau sudah siap untuk babak belur?."


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu.."


Saat dalam jeda waktu yang cukup lama, akhirnya kami berdua mukai bertarung.


Aku menarik pedangku dari sarungnya, dan berlari dengan cepat kearahnya.


"Pedang? apa kau meremehkanku?!"


"Berisik... mengalahkanmu cukup menggunakan pedangku saja!."


"Tch! kau akan menyesal!."


Dan pertandingan antar kedua Barats pun... Dimulai!!


*Cling!!


"Hm? apa yang baru saja kau lakukan?."


"Oh, bola bola tanahku? mereka adalah senjataku!."


Dia bisa mengeluarkan sebuah bola tanah dan bola itu bisa dipecahkan hingga menjadi sebuah senjata...


"( Bagaimana tipe pembuat bisa melakukan itu?..)"


"Rasakan ini!."


Dia kembali melemparkan bola itu dan seketika bola itu retak hingga keluar sebuah palu besar dari sana.


Padahal itu hanya bola yang terlihat seukuran bola tenis biasa, tetapi kelihatannya sangat berbahaya.


"Guru, apa tipe pembuat bisa melakukan seperti itu?."


"Ha? apa kau menganggap tipe kekuatan bumi dia adalah tipe pembuat?."


"Eh? memangnya bukan?."


"Tipe kekuatan bumi nya itu adalah tipe pengontrol, dia mengontrol elemen tanah untuk menyimpan sebuah benda unsur dan berapa besarpun ukurannya, benda itu bisa masuk kedalam bola kecil itu."


"Jadi, dia sudah menyiapkan banyak bola..."


"Kau tidak akan bisa mengira berapa jumlah senjata yang dimilikinya."


Palu itu jatuh menghantam tempat yang hampir mengenaiku, tetapi aku tetap terkena hantaman areanya.


"Argh!."


Aku tersungkur dan menahan sakitnya seperti berada disamping bom granat yang diledakkan.


"Sebaiknya kau gunakan kekuatan bumi milikmu, dan aku akan tetap memenangkannya."


"Aku... tidak mempunyai kekuatan membosankan seperti itu.."


"Apa kau bercanda?."


"Giliranku!!."


Tiba tiba aku melesat hingga tanah dibawahku hancur dan dia tidak bisa melihat kecepatanku.


"Tch!."


Dia melempar satu bola kedepan dimana itu adalah jalur ku menyerang sehingga aku langsung memotongnya jadi dua.


"Dasar bodoh, itu adalah ratusan shurike-."


*Cling! cling! cling!


Dia terdiam seketika begitu melihat ratusan shuriken itu ditangkis dengan cepat tanpa ada satu pun yang lolos.


"C-Cepat sekali! saat dia berlatih denganku, berarti dia saat itu hanya tidak bersungguh-sungguh?."


Senyuman menyeringai terlihat di wajah ketua setelah melihat betapa handalnya diriku menggunakan pedang. "Oh~ boleh juga."


"Jangan besar kepala!!." Dia mengeluarkan tiga bola tanah dan saat hancur, keluar sebuah bola meriam.


"Aku tidak akan takut dengan hal seperti itu!."


Tetapi aku tetap maju tanpa adanya keraguan.


"Oi oi, itu adalah meriam... apa dia ingin menghancurkan markas divisi ku?."


"G-Guru! i-itu adalah meriam!! tempat ini akan hancu-."


Saat dia menoleh kebelakang, tiba tiba sosok gurunya sudah tidak ada disana.


"Mati kau!! dasar pecundang!!."


"Aku akan membelahmu!!."


Dia melepaskan bola meriam itu bersamaan dengan aku yang mengeluarkan kekuatanku.


( Element Control : Fire Cannon! )


( Sword Style : Scythe Slash! )


*Deezzzhhhh!!!


"Hentikan sampai disini."


"Eh?."


"Ha?."


Tiba tiba sebuah roket kecil dari kumpulan besi datang menghalau kedua serangan kami dan meredamkan daya ledak dan tebasan dariku secara bersamaan lalu roket kecil itu membawa daya serangan tersebut keatas langit sebelum meledak.


Saat meriam itu meledak diatas langit.


*DUAARRR!!!!!


Ledakan besar tercipta diatas langit dan pada akhirnya kita bisa menghindari kerusakan disini.


"Oi oi... sudah kukatakan jangan membuat kerusakan... apa kalian tidak mengerti dengan perkataanku?."


Diantara kami yang masih diam melihat sesuatu hal yang terjadi begitu cepat, dan yang melakukan ini adalah Ketua divisi dua atau bisa juga disebut ketua kelompok ini... Reiido Koton.


Begitu menyadarinya, kami berdua merasa bersalah dan diam didepannya yang sudah menyelamatkan tempat ini dari kehancuran.


"Apa kalian sudah puas? atau kalian sudah tidak ingin ikut menjalankan misi besar ini?"


"T-Tidak! bagaimanapun aku tetap akan ikut dan membunuh iblis yang sudah merenggut nyawa warga kotaku!."


"Aku tidak akan terima jika aku tidak bisa ikut dengan misi ini.."


"Kalau begitu mulai sekarang, yang ingin kulihat adalah kerja sama kalian, bukan pertengkaran kalian... apa kalian mengerti?."


"Bekerja sama dengan dia? aku tidak akan mau!."


"Ha?! lagipula siapa yang ingin bertarung bersamamu?!."


"Oi oi... sudah kubilang, aku tidak ingin melihat pertengkaran... setelah latih tanding, apa yang seharusnya kalian lakukan?."


"..."


"..."


Keduanya masih keras kepala dan tidak ingin merendahkan harga diri mereka untuk memberikan sebuah apresiasi atas latih tanding ini.


"Apa kalian benar-benar ingin kembali ketempat markas divisi kalian masing-masing?."


Setelah mendengar itu, bulu kuduk kami langsung bergetar karena ada satu dua hal yang tidak akan bisa dipercaya jika kami akan kembali kesana.


Dan terpaksa kami berdua saling mendekat, lalu saling melewati sambil menepuk tangan kita.


"Pertandingan kita masih belum selesai... ingat itu."


"Berapa kalipun tetap aku yang akan menang."


*Pok!!!


Lalu kami langsung meninggalkan tempat itu sehingga kembali dengan yang lain untuk melanjutkan rencana misi besar ini.


Seiring dengan waktu aku begitu sadar... jika kekuatan setiap orang berbeda-beda dan begitu juga dengan keterampilan nya.