PERSONALITY : Domination

PERSONALITY : Domination
Episode 48



"Kuhk!!."


"Kau hampir membuatku mati... divisi kedua Octagram..."


"..."


"Tetapi jika rongsokan rongsokanmu telah habis... kau sudah tidak bisa melakukan apapun..."


Situasi pertempuran yang kini telah berbalik keadaan... Reiido Koton yang sudah terluka begitu parah, karena melawan dua iblis kematian secara bersamaan...


Iblis Kematian Morbus dan Blackjack.


Seluruh baja miliknya terlihat sudah hancur berkeping-keping setelah mengalami pertempuran yang begitu besar...


Meskipun begitu, kedua iblis tersebut juga mendapatkan banyak luka karena kekuatan ketua divisi kedua yang begitu kuat..


"BlackJack... kita harus segera membunuhnya..."


"Aku tahu... membiarkan dia disini begitu berbahaya.."


Iblis itu mengeluarkan sebuah kartu, dan menjepitnya dengan kedua jarinya.


"Kau memberikan luka yang begitu baik... tetapi, hidupmu akan berakhir sekarang..."


"Aku tidak akan mati semudah itu..."


"..."


"Lihatlah dirimu... kau sudah tidak bisa berbuat apapun disini..."


"Sayang sekali... jika tidak ada yang mengganggu... aku sudah membunuhmu daritadi."


"Jangan berlagak sok kuat... kau sudah akan bertemu dengan kematian.."


"Hentikan, Morbus... kau sudah tidak bisa mengalahkannya... jika bukan karena sifat baik dari tuan raja iblis, aku tidak akan pernah ingin membantumu.."


Dia langsung terdiam dan berkeringat hingga tidak berani untuk berkata-kata.


"Apa aku baru saja mendengar raja iblis dari kalian?."


"..."


"Kau tidak pantas untuk menyebut nama itu."


"Aku memang tidak pantas... tapi aku ada sedikit urusan yang belum diselesaikan dengan tuan kalian."


"Tidak ada gunanya mengurusi tentang itu... tuan raja iblis tidak akan pernah mempunyai urusan denganmu."


"Jahat sekali... setidaknya aku masih mengutuk wajahnya sampai detik ini... dengan apa yang telah dia lakukan kepada negerik-."


Tiba tiba iblis itu memotong lengan kiri dari Reiido Koton dengan begitu cepat... hanya menggunakan kartu yang ia pegang, dan sebuah bilah darah muncul membelah lengannya.


"Arrghkkkk!!!!."


"Sebaiknya perhatikan apa yang kau bicarakan pada tuan raja iblis... atau kau akan berakhir dalam penyesalan.."


Reiido menahan rasa sakit itu sambil meringkuk, dan menahan darahnya yang terus menerus mengalir...


Sungguh sebuah kenyataan yang pahit bagi dirinya... karena melawan dua iblis kematian secara bersamaan... dan kekuatan salah satu iblis kematian yang masih belum diketahui... apa yang bisa dia lakukan dengan sebuah kartu, dan itu bisa melampaui ekspetasi yang kau pikirkan jika dia sudah mengeluarkan kartunya.


Dan tiba tiba, seekor burung gagak dengan matanya yang begitu merah datang dan mendarat diatas pundak iblis kematian BlackJack.


"...."


Dan begitu burung itu pergi, iblis itu langsung mendekati Reiido yang masih tersungkur menahan rasa sakit pada lengannya.


"Sepertinya waktu untuk bermain sudah habis... matilah dalam penyesalan."


Iblis itu kembali mengeluarkan kartunya, dan menjepitnya kembali lalu melemparkannya keatas...


Kartu itu bersinar dan berubah menjadi sebuah bilah yang berwarna merah darah pekat, yang akan jatuh tepat kearah kepala Reiido Koton.


"..."


"Matila-."


*Buuzzhhh!!!


"..!!!"


"Ketua!!."


Tiba tiba mereka mendapatkan tamu yang begitu mengejutkan mereka bertiga...


Begitu datang, serangan langsung mengarah kearah kedua iblis kematian itu.


( Bola Tanah : Sword!! )


"Kuhkk!!."


( Rainstorm Slash!! )


*Cling!!


Serangan itu tertahan oleh sebuah pelindung merah pekat yang dikeluarkan dari kartunya.


"Tamu yang tidak biasa..."


"Menyingkir dari ketua!."


*Cling!!


Serangan itu membuat mereka berdua melompat jauh untuk mundur dari sana..


"Kalian... kenapa kalian berada disini?!."


"..."


Melihat luka yang begitu parah, membuat mereka tidak percaya akan kenyataan itu.


"Kami akan membantu ketua disini..."


"Jangan bercanda... kau tidak tahu siapa yang kalian lawan."


"Mereka hanya seorang iblis kematian dan satunya mungkin adalah seorang Servus... aku bisa mengatasinya, kau lebih baik membawa ketua pergi dari sini."


Dengan lagaknya, Izo berjalan melewatiku sambil membawa pedang yang dia keluarkan tadi.


"Apa kalian berdua akan terus bertengkar disaat saat seperti ini??!."


Suara yang datang entah darimana, tetapi Reiido langsung mengenali suara itu.


"Shion?! kau juga ada disini?."


Dan dengan kedipan mata, Shion langsung berada disamping Reiido dan membantunya untuk menahan luka itu.


"G-Guru! sebenarnya aku tidak ingin kesini, tetapi mereka berdua sungguh membuatku terpaksa kesini!."


"Kalian... apa kalian tahu... apa yang telah kalian lakukan.."


"Kami akan segera membunuh iblis dan Servus itu... maka dari itu, ketua harus bertahan hidup dan menyembuhkan luka ketua terlebih dahu-."


"Yang kalian lawan adalah dua Iblis Kematian... Morbus dan juga... BlackJack!."


"Eh?."


Kami bertiga langsung terdiam kebingungan... akan perkataan ketua divisi kedua yang menyatakan jika ada dua Iblis kematian berada disini.


"J-Jadi...selama ini guru menghadapi mereka?! kita sudah salah untuk datang kesini!."


"Kenapa ada dua iblis kematian berada disini! tidak mungkin ini sebuah kebetulan."


"..."


"Sebaiknya kalian berpikir untuk mencari cara pergi dari tempat ini... aku akan mengulur waktu untuk kalian."


Sambil berusaha berdiri, Reiido Koton meminta kepada kami untuk melarikan diri sehingga dia bisa menghalangi iblis itu...


"..."


"Shion... bawa ketua ketempat yang aman."


Shion langsung menahan lengan kanan Reiido, sehingga dia kebingungan akan hal itu.


"Tunggu... apa yang kalian ingin lakukan?!."


"Kita sudah sampai disini... melarikan diri hanya akan membuat semua ini sia sia... aku akan membunuh iblis itu."


"Jangan berkata omong kosong... aku yang akan membunuhnya."


Aku dan Izo berjalan mendekati kedua iblis tersebut dengan santai sambil membawa pedang yang telah begitu lama ingin merasakan kekuatannya...


"Kalian..."


"Sepertinya semua ini masih belum berakhir..."


"Kenapa mereka bisa berhasil lolos dari bawah lereng gunung?? seharusnya bawahan terkuatku berada disana!!.'


"Oh, maksudmu tiga iblis bodoh yang ada dibawah sana? sayang sekali, tetapi mereka hanya akan mendapatkan ajalnya dibawah sana..."


Izo membuat Morbus terkejut dengan perkataannya.


"Tidak mungkin!!."


"Jika mereka bisa berhasil ketempat ini... berarti mereka bukanlah Barats biasa... aku memintamu untuk mengurus yang satu itu."


"Aku mengerti... aku akan membalas perbuatannya terhadap bawahan terkuatku!."


...


"Guru, maaf, tapi aku akan membawamu pergi dari sini..."


"..."


Melihat ketua divisi kedua yang ingin lolos dari tempat ini, hal itu tidak akan dibiarkan oleh iblis kematian BlackJack.


"Tidak akan aku biarkan kau lolos dalam kematianmu."


Dia melompat melesat kearah Ketua dan Shion, tetapi dengan cepat aku menghalanginya agar Shion bisa membawa pergi ketua.


"Jangan menghalangiku."


"Hehe... aku tidak akan membiarkanmu mendekati mereka kembali..."


"Baiklah, aku akan membunuhnya terlebih dahulu.."


"Jangan membicarakan mimpi konyol dihadapanku!."


*Sring!!


....


"Kau memang berhasil bertahan hingga sampai kesini... tetapi tempat ini akan menjadi tempat terakhirmu!."


"Ya... kata kata yang bagus... tetapi aku hanya ingin membunuhmu dan menjadi yang terkuat."


"Terkuat? omong kosong!."


*Dum!!


Sebuah benda panjang muncul dari bawah tanah dan menghantam Izo berkali-kali, tetapi Izo bisa menangkis mereka semua dengan mudah.


"Hanya ini?."


"Jangan terlalu sombong!."


*Dum!!


...


*Sring!!


Aku menebasnya berkali-kali, tetapi dia terus menerus menahan seranganku dengan alas merah yang bisa keluar kapan saja saat dia mengeluarkan kartunya.


"Pertahanannya sangat menyebalkan..."


"Aneh... seranganmu sama sekali tidak memberikan kekuatan elemen bumi apapun... apa kau sedang meremehkanku?."


"Maaf saja... aku tidak mempunyai apa yang kau inginkan."


"Tanpa kekuatan bumi? menarik sekali... sepertinya aku bisa bermain sedikit denganmu."


"Aku terima...."