
Sebuah negeri yang berada ditengah hamparan gurun pasir... tempat yang terlihat begitu damai, namun hal itu hanyalah tampilan awal dari semua ini...
Bangunan bangunan yang memiliki ukuran kecil dan penuh... bahkan pasar makanan disini meskipun banyak tetapi tidak akan ada yang ingin memberikan makanan kepada orang miskin...
"Makanan..."
"Kita harus mencari penginapan yang aman dan tidak ada penjagaannya..."
"Tapi bagaimana kita bisa mencarinya?."
"Apa kita boleh makan terlebih dahulu?."
"Apa kau sudah melupakan apa yang telah kau lakukan beberapa saat yang lalu?."
"Itu... hanya ketidaksengajaan."
"Karena cacing besar yang kau kendalikan itu mengamuk didepan gerbang kota, begitu datang kita sudah ditandai menjadi buronan kau tahu??!."
"Itu juga menjadi perjalanan yang cepat untuk kita bukan!."
"Tapi apa gunanya kalau kita menjadi orang yang paling dicari cari disini!?."
"Sudahlah, nanti penyamaran kalian terbongkar.."
Kami bertiga yang dari awal kedatangan kedalam kota ini dan sudah membuat kekacauan hingga kita menjadi buronan yang dimana foto kami tertempel diseluruh tempat yang ada di negeri ini.
Jadi kita sedang menyamar dengan memakai sebuah baju kain seperti pakaian yang biasa dipakai warga kota... pakaian ini begitu panjang dan tertutup, berbeda sekali dengan pakaian biasa yang dipakai didalam kota Sun Of Peace.
"Tetapi... pakaian ini terasa sejuk meskipun dipakai dibawah cuaca yang panas.."
"Ini adalah pakaian yang selalu dipakai warga kota yang berada didalam daerah gurun pasir... kalau tidak salah, mereka menyebut pakaian ini dengan nama 'Khimar'."
[ Khimar adalah pakaian khas orang timur tengah ]
"Dan juga cukup bagus karena kita bisa menutupi sebagian wajah kita."
"Tapi, aku tidak bisa memakan semua makanan itu."
"Sudahlah! pikirkan hal itu nanti!."
Lalu kami berjalan untuk mencari penginapan yang bisa menjadi tempat beristirahat bagi kami hanya untuk dua sampai tiga hari.
"Sepertinya didalam jalan kecil ini mungkin terdapat penginapan."
"Kalau begitu ayo kita masuk.."
"Makanan..."
Ayumi langsung menarik diriku yang terlewat dari jalan kecil yang mereka berdua lewati.
Didalam sana, kami melihat sesuatu yang telah disembunyikan oleh kota yang terlihat damai ini.
"Entah mengapa hawanya terasa berbeda meskipun berada dalam satu kota.."
"Tempat seperti ini biasanya digunakan oleh orang-orang untuk berbuat kejahatan... karena pemerintah tidak akan bisa menyadari hal seperti itu."
*Bruk!
Aku yang sedang berjalan tiba tiba tidak sengaja menabrak seorang perempuan kecil hingga terjatuh.
"K-Kau tidak apa apa?."
Aku segera menolongnya untuk berdiri.
"Hei adik kecil, dimana orang tuamu?."
Ayumi yang menyelaraskan posisi dirinya dengan anak itu agar dia bisa berbicara dengan baik.
Tetapi anak itu hanya diam tanpa ingin berbicara kepada kami.
"Hei? apa kau sedang tersesat?."
Kami masih didiamkan oleh anak yang berusia sekitar 10 tahun-an, dan kami pun tidak tahu dimana orang tuanya berada.
"Ayumi, Kaito... lihatlah lehernya."
"Itu..."
Aku langsung merasa begitu heran entah apapun itu, tetapi melihat seorang anak kecil yang memiliki sebuah rantai yang mengikat lehernya, membuatku tidak bisa berkata-kata.
*Brakk!!
Tiba tiba seseorang bertubuh besar dan gemuk keluar dari dalam bangunan dengan menghancurkan pintunya.
"Tch! dimana kau!."
Saat dia melihat kearah kami, dia langsung berjalan dengan wajah yang terlihat penuh emosi.
Aku pun berbicara kepada orang yang sedang berjalan mendekati anak itu.
"Maaf, tapi apa dia adalah anak ka-."
*Plakk!!
Tanpa mendengarkan perkataanku, dia langsung menampar anak itu sangat keras hingga anak itu terjatuh sedikit jauh.
"Dasar budak tidak tahu diri!! aku menyuruhmu untuk mengantarkan alkohol dengan cepat!."
Ayumi yang begitu shock dan tidak menyangka anak sekecil itu menerima pukulan darinya...
"Kaito... aku harap kau tidak terpancing... ini bukanlah tempat kita."
"..."
Aku yang masih terdiam dengan melihat hal seperti itu didepan mataku...
Anak itu masih merasa kesakitan akibat tamparan dari orang itu.
"Aku bilang berdiri dasar budak renda-."
Saat orang itu ingin memukulnya kembali, aku langsung menahan tangan besarnya itu yang ingin menuju kearahnya.
"Siapa kau?!!."
"Hentikan perbuatan yang kau lakukan.."
"Heh!! sepertinya kau orang baru disini... dengar ini baik baik... ditempat ini, siapapun yang kau jadikan budak... maka kau bisa melakukan apapun tanpa ada batasannya."
"..."
"Kaito..."
"Jadi lepaskan tanganku sekarang!."
Aku langsung melepaskan tangannya saat dia sedang berusaha ingin menariknya, hingga dia terjatuh dengan tubuh besarnya itu.
"Sialan! kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa!!."
"..."
"Kaito, ayo kita pergi dari sini."
Akemi yang tidak ingin membuat masalah lebih lagi ditempat ini, dia pun langsung mengajak aku dan Ayumi untuk keluar dari jalan kecil ini.
"Kaito, kita harus pergi.."
Karena perasaanku yang sudah mulai tenang, aku pun berbalik untuk kembali keluar dari jalan sempit ini.
"Tolong..."
"..!."
Suara yang begitu pelan, tetapi aku bisa mendengar suara itu yang persis berada didekatku.
Aku melihatnya yang sedang tersungkur dan tubuhnya begitu gemetaran...
Tetapi aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, dan juga ini bukanlah tempatku... jadi aku tidak bisa melakukan apa yang harus aku lakukan seperti biasanya.
Kami bertiga pun berjalan pergi meninggalkan sebuah hal yang tidak bisa kita lakukan.
"Jika aku akan bertemu kau... kau akan merasakan akibatnya! budak!! cepat kembali! kau hanya bisa membuat hidupku berantakan!."
*Buk!!
Aku mendengar sebuah pukulan yang kembali mendarat kearah gadis kecil itu...
Gadis kecil itu hanya mengerang kesakitan dalam diam dan tak ingin berbicara.
Dia berusaha menahan orang itu dengan kedua kakinya, tetapi dia terus menerus dipukuli.
*Buk!!
"Dasar tidak berguna!! jika bukan harga dirimu yang sangat murah, aku tidak akan membawamu!!."
*Buk!!
Kami berjalan tanpa adanya rasa untuk kembali menyelamatkan gadis kecil itu...
Karena setiap tempat pastinya memiliki sebuah hal yang harus dibiarkan membusuk...
Menganiaya anak kecil, memperbudak manusia, dan memperjualbelikan anak anak...
Sungguh sebuah hal yang sangat tidak bisa aku bayangkan, betapa sengsaranya mereka yang ingin memiliki sebuah keinginan yang begitu banyak, tetapi mereka terkurung, terikat, dan tersiksa oleh manusia manusia yang hanya ingin memuaskan hasrat dirinya sendiri.
*Plak!!
Gadis kecil itu terus disiksa dan dipukuli hingga dia ingin mengikuti orang tersebut.
Aku tidak bisa melakukannya...
*Buk!!
"Cepat jalan!! dasar budak sampah!!."
*Plakk!!
Aku memang tidak akan bisa membuatnya berhenti... karena hal itu bukanlah hak yang aku miliki di tempat ini.
*Plak!!
Gadis kecil itu semakin tersiksa hingga dia sudah tidak sanggup untuk menahan semua rasa sakit yang dia terima.
"Cepatlah jalan dasar budak haram!!."
Dia tidak hanya bisa menangis dan menerima semua itu...
Karena setiap manusia... memiliki sebuah kebebasan yang akan menunggu mereka suatu saat nanti.
"Tolong aku!! kakak!!!."
"Ha? apa yang kau katakan?!! tidak akan ada yang ingin menolong budak sepertim-."
*Bum!!
Tiba tiba orang bertubuh gemuk itu terpental hingga beberapa meter jauhnya karena sebuah pukulan yang tepat mengenai wajahnya.
Gadis kecil yang sudah begitu banyak bekas luka dan memar itu, melihat seseorang yang sudah menyelamatkan dirinya dari siksaan itu.
"Ka...kak."