
Jet pribadi itu mendarat sempurna di atap gudang senjata api milik keluarga besar Benvolio. Lucian mendampingi Bryan untuk turun menemui adiknya, Bennedict Kael Benvolio. Bunyi langkah sepatu pantofel mereka memecah keheningan di lorong tersebut hingga akhirnya mereka sampai di sebuah pintu utama.
Ceklek,
Ben yang sedang fokus pada layar komputernya seketika berdiri saat mengetahui seseorang yang membuka pintu adalah kakak dan tangan kanan kakaknya.
"Hey big bro!"
"Hey mate, whats' up?"
Mereka berdua bersalaman, kemudian Ben menarik kakaknya dalam pelukannya. Mereka berdua saling menyalurkan rindu yang lama tak tersalurkan karna Ben harus menyelesaikan studynya di negeri paman Sam.
"Sudah lama ya kak?”
"Ya ben, bagaimana pekerjaanmu?"
"Really bro? Setelah beberapa tahun kita tidak bertemu kau menanyakan pekerjaan tanpa menanyakan keadaanku dulu?"
"Oh come on ben, aku sudah melihatmu dan ya. Kau masih hidup dan utuh" mereka tertawa bersama. Ben akhirnya mengetahui sisi gelap sang papa setelah ia berhasil mencuri dengar papa dan kakaknya saat ia masih kecil. Setelah mengetahui itu Ben terpaksa diasingkan di Amerika atas kemauan papa dan mamanya, mereka tidak ingin mengambil risiko jika ternyata clan musuhnya menemukan ada anak lainnya didalam keluarganya. Sudah cukup mereka menemukan bahwa Bryan adalah anak tertuanya.
Ben menatap kakaknya, ia ragu apakah setelah sang papa menyuruhnya pulang ke Italia ternyata kakak tercintanya mengambil alih 'KEHIDUPAN GELAP' keluarganya.
"Kak, apakah alasan papa menyuruhku pulang karena"
"Tenanglah. Biar itu menjadi urusanku, kau hanya tinggal meneruskan apa yang sudah aku pegang sebelumnya. Kau tak perlu ikut campur" Bryan tahu kekhawatiran adiknya, ia masih ingat tangisan Ben saat kedua orang tua mereka menyuruhnya untuk tinggal di Amerika. Bukan berarti orangtuanya menjadikan Bryan sebagai tameng untuk melindungi adiknya, tapi karna seseorang yang berkhianat membocorkan identitas Bryan sebagai anak dari keluarga Benvolio yang membuat nyawanya terancam.
Ben menghembuskan nafasnya kasar, kakaknya tidak berubah. Ia masih keras kepala seperti dulu. Tapi ia percaya bahwa kakaknya bukan orang yang lemah.
"Baiklah kak aku percaya kalau kau takkan mati semudah itu ditangan mereka" Ben menepuk pundak kakaknya, itu membuat sebagian kekhawatiran dari dirinya lepas begitu saja.
Akhirnya Ben mendiskusikan hasil masukannya kepada sang kakak, berharap kakaknya setuju atas langkah yang diambil kedepannya.
"Masukanmu lumayan juga. Jadi mereka tetap mendapatkan senjata terbaik tanpa harus membuat kita kehilangan senjata terbaik kita juga. Aku ingin kau sedikit memberikan modifikasi untuk sayangku" Bryan menyodorkan senjata api miliknya yang ia beri nama 'sayangku'. Senjata api berjenis Desert Eagle pabrikan Israel ini adalah hadiah dari sang papa saat pertama kali ia membunuh seseorang. Tentu saja senjata itulah yang menemani Bryan mengeksekusi lawannya sampai saat ini.
"Tentu saja, namun kau juga harus memiliki senjata cadangan lainnya" Ben membawa sebuah koper dan membukanya di atas meja kerjanya, Sebuah S&W model 29 serta M1911. Bryan mengamati senjata tersebut, mengambil S&W dan memasukan beberapa peluru didalamnya. Ia menargetkan patung yang berada di pojok ruangan tersebut.
Dorr!!
Asap mengepul dan sebuah peluru berhasil menembus di dahi patung tersebut.
"Hmmm lumayan"
"Kau suka?"
"Tentu saja, aku akan membawa dia bersamaku!"
"Bawalah semuanya, kau sekarang memerlukan mereka bukan ?" Ben tersenyum misterius. Bryan keluar dari ruangan tersebut dan pergi bersama Lucian.
"Siapkan pesawat jet, kita kembali ke mansionku"
"Baik!"
Sementara itu,
Ivanna sedang menikmati makan siangnya di kursi depan minimarket. Ia sedang makan nasi dan ayam goreng. Leon keluar dari dalam minimarket menghampiri Ivanna.
"Baiklah, semua sudah aku rapikan. Kau hanya tinggal membersihkan sampah dan membersihkan konter setelah tutup"
"Kau juga anna. Berhati hatilah, okay?" Ivanna mengangguk, dan Leon pergi meninggalkannya. Setelah selesai makan Ivanna membuang piring kertas itu di tempat sampah. Meminum minumannya hingga tandas lalu kembali menjaga konter.
"Selamat sore, selamat berbelan-ja, oh nenek!" Ivanna menghampiri seorang nenek renta yang masuk kedalam minimarket. Ia mendekati nenek tersebut dan mengambil tas belanjaannya.
"Nenek perlu sesuatu?"
Aduhhh, nenek lupa mau beli apa, tapi cucu nenek menuliskannya di sebuah kertas didalam tas itu" nenek itu menunjuk tas yang dipegang Ivanna. Ia mengangguk lalu menyuruh nenek untuk duduk di luar.
"Nek, didalam sangat dingin karena AC dan tidak ada kursi didalam sini. Jadi lebih baik nenek duduk di sini dan menikmati sinar matahari yang hangat di sore hari. Biar anna yang mencarikan belanjaan nenek" Nenek itu tersenyum dan menuruti keinginan Ivanna.
Dengan sigap Ivanna menyarikan beberapa barang yang nenek itu perlukan. Ternyata barang itu sangat banyak, bahkan Ivanna yang masih muda sedikit kesulitan membawa barang barang tersebut.
Tak lama kemudian seorang pria berperawakan tinggi besar menggunakan sebuah jaket kulit turun dari motornya dan mendekati nenek yang sedang duduk itu. Firasat Ivanna mengatakan bahwa pria itu adalah orang jahat, jadi ia langsung berlari mendekati nenek itu dengan membawa sebuah sapu.
"Ya ampun nek sudah kukatakan kalau urusan belanja biar aku saja, nenek harus istirahat di rumah"
"Tapi sam, nenek ingin jalan jalan"
"Nenek, tidak apa apa?" Kehadiran Ivanna membuat pria tersebut memandangi Ivanna. Ia membuka helmnya lalu terpampang jelas rupa pria yang membuat Ivanna curiga.
Pria tampan dengan wajah khas orang asing. Mirip seperti artis Refal Hady.
"Nenek tidak apa apa cu, oh kamu nanyain uang belanja? Ini uangnya!" Nenek itu mengulurkan uang kepada Ivanna, 3 lembar uang seratus ribu rupiah.
"Oh iya bentar ya nek saya kasih kembaliannya, dan juga barangnya-“
"Biar aku saja, barangnya terlalu berat untukmu" pria yang dipanggil Sam oleh nenek itu berjalan lebih dulu masuk kedalam minimarket. Lalu disusul Ivanna berjalan di belakangnya
"Ah? Oh baiklah"
Ivanna memutari meja kasir lalu mengulurkan beberapa lembar uang kembalian kepada pria tersebut.
"Ini kembaliannya, terima kasih dan silahkan datang kembali!"
"Thanks ya I-van-na" Ucap pria itu tampak memandang kearah kartu dan mengeja nama Ivanna. Pria itu pergi membawa tas belanja dan menggandeng neneknya naik ke atas motornya, lalu pergi meninggalkan area parkir Minimarket.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 09.30 malam. Ivanna membuang sampah lalu mengunci minimarketnya. Ia berjalan santai menuju rumahnya.
Ia sampai di rumahnya dengan selamat, untung saja malam ini tak ada maniak gila yang mengerjainya.
"Akhirnya bisa istirahat juga!" Seru Ivanna sambil menelungkupkan badannya di atas kasur queen sizenya.
"Akhirnya bisa istirahat juga!" Seru Ivanna sambil menelungkupkan badannya di atas kasur queen sizenya. Untungnya adik adiknya sudah tidur semua, jadi malam ini Ivanna bisa melakukan me time untuk dirinya sendiri yaitu bermain ponsel. Setelah lelah bermain dengan ponselnya Ivanna tertidur dengan posisi ponselnya yang masih menyala.
Tok tok tok
Pintu diketuk dan saat pintu itu dibuka muncul bunda Grace yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Lah sudah tidur rupanya!"
Bunda Grace berjalan mendekati Ivanna, lalu mematikan ponsel Ivanna, ia duduk disamping ranjang gadis itu lalu membelai pelan surai panjang yang berwarna kecoklatan itu.
"Semoga hal baik selalu menyertaimu anakku!"
Tak lama setelahnya, ia mematikan lampu dan mengganti lampu dengan yang lebih redup lalu pergi meninggalkan Ivanna yang tengah berada di alam mimpinya.