
Jam menunjukkan pukul 09.30 pagi, namun entah kenapa matahari bersinar sangat terik hari ini. Leon dan Maria sudah berdandan santai memakai pakaian pantai mereka, keluar dari rumah dan mendekati Ivanna yang sedang duduk santai di beranda rumah.
"Anna, kami mau pergi ke pinggir pantai. Kamu mau bergabung?" Ucap Maria sambil membenarkan selendang yang terikat di pinggangnya. Ivanna menggeleng lalu tersenyum.
"Kalian duluan saja. Lagi pula nanti rencanaku mau berburu kulit kerang di pinggiran sebelah sana!" Balas Ivanna sambil menunjuk pinggir pantai dekat dengan karang. Maria dan Leon sama sama menolehkan wajahnya ke arah yang di tunjuk Ivanna.
"Yaudah kalau begitu aku mau jalan jalan duluan, kamu beneran gapapa kan Anna?" Imbuh Leon menatap Ivanna. Sebenarnya Leon dan Maria tak enak jika meninggalkan Ivanna, namun rupanya Ivanna sama sekali tak keberatan.
"Gak papa Leon, Maria. Take your time yaaa!" Akhirnya Leon dan Maria memilih meninggalkan Ivanna. Angin disekitar pantai berhembus pelan. Beberapa awan juga tampak sedang berjalan melewati lautan yang luas. Ivanna mengambil topi anyam miliknya dan berjalan melewati pasir berwarna putih yang hangat.
"Wah banyak banget kerangnya! Sayang sekali aku lupa bawa kantung plastik." Ivanna melepas sandal talinya, membawa dengan satu tangannya dan memilih berjalan di pinggir pantai. Walaupun cuaca saat ini sedang terik teriknya, nyatanya air laut nampak terasa segar. Sesekali Ivanna menyipratkan air laut dengan kakinya.
Bryan melepas kacamata hitamnya, menatap ke arah tempat dimana Ivanna sedang bermain di pinggir pantai. Ia mengambil ponselnya lalu mengabadikan momen tersebut secara sembunyi sembunyi.
"How's cute! Tapi sepertinya aku akan menghukumnya karna memakai pakaian seperti itu!" Gumam Bryan sambil sesekali tersenyum puas menatap foto Ivanna yang berhasil di ambilnya. Ia memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana lalu berjalan meninggalkan tempatnya berada.
Setelah beberapa menit ia habiskan untuk bermain dengan air laut, Ivanna memilih untuk beristirahat di sebuah kedai es cream tak jauh dari bibir pantai. Ia menikmati sebuah es cream rasa stroberry sambil matanya menatap ke arah laut luas. Tak sia sia ia memilih pergi ke pantai dan menikmati waktunya sendiri.
Seorang pria berkacamata dan bertelanjang dada menghalangi pemandangan Ivanna. Pria itu melepas kaca matanya dan bersandar pada meja tempat Ivanna berada dengan kedua tangan memegang meja sebagai tumpuannya. Ivanna yang mengenal pria itu otomatis tersedak es cream hingga sebagian es cream itu keluar dari lubang hidungnya.
"K-kau? Bagaimana kau bisa ada disini?" Ivanna ketakutan ditatap oleh Bryan, seolah pandangan Bryan menelanjanginya bulat bulat. Bryan tersenyum sinis menatap pakaian Ivanna, bagaimana tidak. Ivanna saat ini memakai dress rajut berwarna ungu seatas lutut, dengan rambut terurai panjang. Dan tak lupa kaki jenjang yang mulus tanpa alas kaki. Ivanna nampak terlihat seksi dan dewasa dari umurnya.
"Pakaiannmu, kau ingin menggoda laki laki lain hmm?" Suara baritone milik Bryan membuat bulu kuduk Ivanna merinding. Ivanna takut kejadian tempo hari terulang kembali. Ivanna berdiri lalu melelemparkan es creamnya ke arah Bryan hingga membuat dada bidang milik Bryan terlumuri oleh Es Cream stroberry tersebut
"Menjauhlah dariku binatang! Kau membuatku muak!" Ivanna berlari meninggalkan Bryan yang tampak terkejut dengan Ivanna, namun hal itu tak membuat Bryan marah. Bryan menyuruh seseorang yang sejak tadi mengawasinya menangkap Ivanna.
"Lepaskan aku!! Tolong!! Tolong akuu!" Teriakan Ivanna membuat beberapa orang yang sedang menikmati suasana pantai menoleh ke arah Ivanna. Bryan tersenyum manis dan menanggapi bisikan serta lirikan aneh dari beberapa orang yang menatap kepadanya.
"Maaf ya, sepertinya teriakan ISTRIKU mengganggu kalian. Istriku marah dan kabur, jadi aku memaksanya untuk pulang." Akhirnya Bryan dan anak buahnya membawa Ivanna ke dalam mobilnya.
"Lepaskan aku! Tolong!" Ivanna menggigit telapak tangan anak buah Bryan yang menutup mulutnya, Bryan yang duduk di samping Ivanna memegang dagu gadis itu hingga Ivanna terdiam.
"Diamlah. Aku tak akan melakukan sesuatu kepadamu. Kecuali, kau yang memancingku!”
"Cuih! Lepaskan aku brengsek!" Ivanna meludahi pipi Bryan. Beberapa orang yang sedang berada di dalam mobil tersebut melotot menatap Ivanna, tak terkecuali Lucian yang duduk di samping kursi kemudi di depan.
'Habislah kau Nona!' Batin Lucian melirik keduanya dari kaca spion. Sementara Bryan sedang membersihkan pipinya dengan tisu yang berada di dekatnya.
Sepertinya beberapa hari tak bertemu membuat sisi liarmu keluar ya? Tak mengapa. Aku menyukainya. Lucian! Bawa ke hotel" Ucap Bryan melirik Ivanna,
"Aku harus mendisiplinkan gadis liar ini dengan caraku." Lanjutnya di barengi dengan Ivanna yang melotot menatap Bryan. Ivanna memberontak hingga akhirnya seseorang yang sejak tadi memeganginya terpaksa membius Ivanna agar tertidur.
"Eunghhh"
Ivanna menggeliat dalam tidurnya, meraba selimut yang menutupi badannya.
'Halus' batin Ivanna.
Ia membuka matanya, mengedarkan pandangan ke segala arah lalu mengerjap. Ini dimana?
Ivanna mengecek pakaiannya yang berada di balik selimut itu, untung saja pakaiannya masih utuh.
Bryan yang saat itu duduk tak jauh dari tempat Ivanna berada hanya melirik sekilas tingkah absurd Ivanna dan memilih meneruskan untuk menghabiskan cerutu yang tinggal sedikit lagi. Setelah cerutu tersebut habis, ia berjalan mendekati Ivanna.
"Di kamar hotelku." Ivanna semakin mengeratkan selimutnya setelah mendengar jawaban dari Bryan.
"Sebenarnya kau siapa? Aku tak mengenalimu. Apa salahku?" Ucap Ivanna sambil terisak. Ia takut, bahkan setiap berada di sekitar Bryan ia selalu merapalkan doa doa meminta keselamatan dari dalam hatinya.
"Bryan. Kau hanya perlu tahu nama itu." Balas Bryan sambil memainkan rambut Ivanna yang panjang. Pandangan mata mereka bertemu, bahkan saat ini Bryan dapat merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang ketika bersama dengan Ivanna. Bryan mengendus rambut Ivanna.
'Harum' Batinnya.
Bryan mendekatkan wajahnya mendekat, pandangan matanya terfokus pada bibir Ivanna yang penuh dan pink mengkilat akibat lipbalm. Sedangkan Ivanna mendadak kosong, ia memilih menutup kedua matanya. Bryan terus mendekat hingga bunyi perut Ivanna menyadarkan mereka berdua.
Krucukk!!!
Bryan tampak melotot, sedangkan Ivanna membuka matanya lalu mengalihkan padangannya ke sembarang arah.
"Ah hahaha" tawa Ivanna sambil menutup bibirnya dengan punggung tangannya.
Ivanna berlari dengan kaki telanjangnya meninggalkan Bryan yang tengah terdiam. Bryan mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya, lalu melirik sesuatu yang berdiri di bawah sana.
"****! Gadis sialan itu benar
benar!"
Seorang pelayan menata makan siang di meja makan berbentuk bulat itu. Ivanna mengigit sendoknya menatap begitu banyak makanan yang berjejer di depannya. Bryan datang dengan rambut setengah basah dan berganti pakaian dengan baju santai, kaos putih polos dan sweetpants berwarna abu abu. Ia melirik sekilas Ivanna yang dibalas oleh tatapan sinis gadis tersebut.
"Makanlah."
"Kau tidak meracuninya kan?" Tanya Ivanna yang dibalas tatapan tak percaya Bryan.
"Aku bisa langsung membunuhmu saat ini jika aku berniat mencelakaimu. Makanlah, aku tak ingin kelinciku kurus tak terawat."
Mereka makan siang dengan tenang, hanya suara sendok garpu yang saling berdenting.
Ting!
Ponsel Bryan berdenting. Sebuah pesan masuk membuat Bryan refleks berdiri.
"Ayo! Aku akan mengantarmu pulang" mendengar kata pulang begitu membuat Ivanna bersemangat. Ivanna berjalan mengekori Bryan menaiki mobil mewah berwarna putih itu. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Bryan dan Ivanna sampai di dekat rumah milik Bibi Maria. Ivanna berusaha membuka seatbelt nya, lalu membuka pintu mobil. Sebelum Ivanna berhasil keluar Bryan menarik tangan Ivanna dan kembali mencuri ciuman Ivanna.
Cup!
"Turunlah!" Ivanna turun, menutup mobil dan berdiri mematung menatap mobil yang langsung berjalan meninggalkannya. Pipinya memerah ketika mengingat Bryan yang menciumnya beberapa detik yang lalu.
"A-apa apaan pria gila tadi? Brengsek!" Ivanna mengusap kasar bibirnya.
Ting!!
Sebuah pesan masuk di ponsel Ivanna, nomor baru. Ivanna membuka pesan itu,
"Thanks for today bunny. Cepatlah dewasa! Aku tak sabar ingin 'memakanmu" Wajah Ivanna memerah membaca pesan mesum itu. Bagaimana bisa tiba tiba mengiriminya pesan seperti itu? Dan bagaimana ia bisa tahu nomor Ivanna?
"Benar benar gila!" Maki Ivanna sambil berlari masuk kedalam rumah.