Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
Chapter 01



Mobile mewah itu meluncur masuk ke dalam sebuah mansion dengan pagar yang tinggi serta pepohonan rindang di sekelilingnya. Bryan turun dari mobil itu, merapikan sedikit jas nya dan berjalan memasuki pintu utama. Seorang laki laki paruh baya membuka pintu itu dari dalam.


"Selamat datang tuan muda." berjejer kiri kanannya seorang maid perempuan yang tengah mengucapkan salam sambil menundukkan kepala mereka.


"Ya!" Ucap Bryan menaiki lift disusul Lucian disampingnya.


Ting!


Bunyi pintu lift tertutup, mereka naik ke lantai atas menggunakan lift khusus untuk Tuan muda mereka.


"Lucian, berikan berkas itu pada ruang kerjaku sekarang"


"Siap tuan muda." Lucian menunduk, membuka pintu besar yang mengarahkan mereka menuju ruang kerja milik Bryan. Aroma maskulin yang kuat dan aroma bekas pembakaran cerutu menguar dari seluruh sudut ruangan. Bryan duduk di kursi kebesarannya dan membuka laptopnya.


Lucian datang dengan membawa sebuah map coklat dan meletakkannya tepat di dekat Bryan.


"Pergilah, tinggalkan aku sendiri" Lucian memberikan salam lalu meninggalkan Bryan dengan map coklat yang sudah dipegangnya.


Bryan menatap map itu, membacanya. Lalu membuka dengan pelan agar isi map itu tidak berserakan.


Bryan menatap map itu, membacanya. Lalu membuka dengan pelan agar isi map itu tidak berserakan.


Srett!


Saat map itu dibuka, foto foto Ivanna bertebaran hingga jatuh ke lantai bawah. Tak lupa didalam map itu juga ada sebuah sapu tangan berwarna putih dengan rajutan berwarna emas yang bertuliskan nama Ivanna. Bryan mengendus sapu tangan itu.


"Hmmmm, Ahhh Ivanna"


Ia memperhatikan foto foto Ivanna yang berserakan, menjumputinya dan membawa foto foto itu kedalam sebuah kamar rahasia yang hanya diketahui olehnya. Bryan menekan sandi pada pintu itu dan memasukkan angka rahasianya.


Klik!


Pintu itu terbuka, ruangan itu sangat gelap. Bryan menekan saklar di sampingnya dan...


Seluruh tembok pintu itu ditempeli foto foto Ivanna sejak masih kecil, hingga saat ini Ivanna berusia 20 tahun. Setiap hari Bryan menyuruh orang untuk mengikuti Ivanna sejak 10 tahun yang lalu. Orang yang mengikuti Ivanna selalu melaporkan apa yang dilakukan dan memberikan foto foto kepada Bryan tanpa pernah Ivanna sadari.


Bryan merebahkan badannya. Ia menatap foto foto di kasur yang selalu berserakan itu, dan kembali menciumi sapu tangan Ivanna.


"You drive me crazy Ivanna"


"10 tahun belakang ini aku selalu merindukanmu, aku ingin merengkuh tubuh kecil adikku yang cantik. Aku bisa gila lama lama karena jauh darimu."


"Just wait a little longer, amore mio!" Ucapnya sambil menciumi beberapa foto milik Ivanna.


"****!"


Bryan merasakan sesak dari dalam celananya, ia menanggalkan pakaiannya dan pergi menuju kamar mandi. Didalam kamar mandi ia melepaskan hasratnya dengan memainkan miliknya sendiri sambil membayangkan Ivanna yang sedang mengulumnya.


"Ahh **** Ivanna"


"Shhh Ivanna aku hampir sampai!"


"Shitt!!"


Bryan memainkan miliknya cukup lama hingga akhirnya ia berhasil memuntahkan cairan miliknya.


"Hhahhh ahhhh" Selesai pelepasannya Bryan berendam didalam bathup yang berisi air hangat.


"Sebentar lagi Ivanna. Tunggu sebentar lagi hingga aku berhasil membawamu kemari dan memilikimu seutuhnya"


Pilihannya jatuh pada kaos hitam dengan celana pendek selutut berwarna senada. Ia berjalan dengan rambut yang setengah basah menuju kamar pribadinya.


Ivanna membuka sebuah pintu kamar, saat di buka semua orang yang berada di dalam tampak terkejut menatap Ivanna.


"Kak Anna!!!" ucap mereka serempak berhamburan memeluk Ivanna yang berjongkok untuk menyamakan posisi tubuh mereka.


"Hai sayang sayangku!" Ivanna membalas pelukan mereka, di kamar ini terdapat 10 anak anak panti. Dari 10 anak, hanya ada 2 orang anak perempuan di sini. Salah satunya Vania.


"Kak aku mau es krim" ucap seorang anak laki lagi berperawakan gendut dan berkacamata itu.


"Aku mau juga kak"


"Aku mauuu" Ucap mereka serempak. Ivanna hanya bisa menggelengkan kepala.


"Sabar ya, nanti habis kakak gajian kakak beliin es krim semuanya" Mereka melompat kegirangan, ditengah riuh suara tawa mereka tiba tiba Bunda Irene mengintip dari balik pintu.


"Yuk anak anak, sudah jam 10 malam. Jangan lupa cuci kaki dan sikat gigi ya?"


"Iya bundaaa"


Satu persatu anak anak itu berbaris, di mulai dari yang lebih besar ke anak yang paling kecil. Ivanna membantu anak anak yang lebih kecil untuk berdiri di atas sebuah kursi dan membantu menyikat gigi mereka.


"Sudah semuanya?" Ucap Ivanna menutup pintu, mereka semua mengucek matanya. Bahkan ada yang sudah menguap. Ivanna tersenyum kecil.


"Ayo kita tidur adik adik" Ivanna menyelimuti mereka satu persatu, sambil sesekali mencium kening mereka. Setelah itu ia meredupkan lampunya dan menutup pintu.


Ivanna turun ke lantai bawah. Ia memperhatikan meja makan dan ruang keluarga. Mengecek pintu pintu dan mematikan lampunya.


Ivanna turun ke lantai bawah. Ia memperhatikan meja makan dan ruang keluarga. Mengecek pintu pintu dan mematikan lampunya. Setelah itu ia menuju kamarnya seraya menutup pintu.


Didalam kamar Ivanna merebahkan badannya, meraba raba lehernya dan menemukan sebuah kalung dengan bandul yang spesial. Bandul itu adalah sebuah cincin dengan ukiran 2 merpati didalamnya. Ivanna mencium cincin itu. Lalu tertidur.


Pagi itu seperti biasanya, Ivanna selalu bangun lebih pagi daripada anak anak panti lainnya. Ia membantu bunda Celine pergi berbelanja bahan makanan untuk stok beberapa hari kedepan di pasar.


Setelah pulang dari pasar, ia pergi membantu memandikan adik adiknya yang masih kecil, serta membantu merapikan peralatan sekolah untuk adiknya bersama sama. Tak lupa gilirannya untuk mandi dan bersiap berangkat kerja.


"Terima kasih kak Anna!" Ucap mereka serempak sambil berjalan beriringan menuju sekolahan yang tak jauh dari panti asuhan tersebut.


Ivanna masuk kedalam dan meminta izin untuk berangkat bekerja kepada bundanya.


"Bun, anna berangkat kerja dulu ya?" Ivanna mencium ketiga bundanya dengan sayang, lalu melambaikan tangannya kepada mereka sambil berlari kecil menuju minimarket tempatnya bekerja.


Jam menunjukkan pukul 08.30, artinya sebentar lagi waktunya ia membuka tokonya. Ia mulai menyapu, membersihkan konter dan merapikan display display yang terjatuh atau tercampur. Lalu pergi ke gudang untuk mengambil beberapa stok untuk dipajang pada displaynya.


Seorang pria bertopi hitam dengan postur tubuh tinggi dan mata yang tajam memasuki minimarket.


"S-Selamat pagi, s-selamat berbelanja!" Ucap Ivanna dengan gugup, entah mengapa tiba tiba bulu kuduknya terasa merinding. Ia berkali kali melirik suhu pada remot AC nya.


Laki laki itu berjalan memutari beberapa display, entah apa yang dicarinya namun ia berjalan menuju konter kasir tanpa membawa apapun. Ia berdiri menatap Ivanna dengan tajam.


"A-ada yang bisa s-saya bantu?" Pria bertopi hitam itu menunjuk display alat kontrasepsi disampingnya. Ivanna tampak jelas gugup.


"Ah ehhem, mau yang u-ukuran apa" tangannya bergetar meraba display disampingnya.


Ah Tuhan, malu banget Ia terus terusan berbicara dalam hatinya. Pria didepannya mencondongkan kepalanya, dan menyentuh tangan Ivanna yang tampak bergetar.


"Entahlah, bagaimana kalau kamu yang periksa sendiri?" Ivanna terlonjak ke belakang. Ia menunduk dan berteriak. Pria itu terkekeh sambil menaruh dua lembar uang seratus ribu membawa sekotak alat kontrasepsi dan meninggalkan Ivanna yang sedang terkejut.