Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 31



Bryan melepas kancing bajunya satu persatu. Ivanna memelototinya,


"Kau jangan macam-macam!" Teriak Ivanna, Bryan terkekeh.


"Aku hanya mau melakukan satu macam, yaitu memakanmu." Ivanna bergerak mundur ketika Bryan mulai meraba kakinya.


"Kau maniak?!"


"Tidak, tapi aku menarik kembali kata – kataku. Bukankan umur hanyalah sebuah angka? Rasanya buah yang belum matang tak terlalu buruk bukan?"


Bryan mengelus kaki Ivanna, naik hingga ke paha. Ivanna terus meronta walau dengan tangan yang terikat oleh sabuk kulit milik Bryan.


"Hiks tolong lepaskan aku, aku mohon!" Ivanna memohon, ia menangis sambil menatap mengiba pada Bryan memohon untuk dilepaskan. Bryan tersenyum puas. Ia menyukai ketika Ivanna menangis dan memohon padanya. Bryan mengusap wajah sendu Ivanna.


"Teruslah seperti ini Ivanna, memohon dan menangislah padaku. Hanya aku yang bisa menyelamatkanmu saat ini dan seterusnya!” Bryan menjilat bibirnya, lalu mencium pipi Ivanna. Ia menarik kembali wajahnya, tak puas hanya dengan ciuman di pipi. Bryan mengigit bibir Ivanna hingga Ivanna mendesah kesakitan.


"Shhhh" Ivanna memilih pasrah mengikuti permainan lidah Bryan di dalam mulutnya. Bryan melepas ciumannya dan tersenyum puas.


"Well done baby girl, sepertinya kau belajar dengan baik hmm? Mari kita lanjutkan ke menu selanjutnya!" Bryan memasukkan tangannya di punggung gadis itu, tangannya lihai meraba dan melepas kaitan penyangga dada milik Ivanna dengan satu tangannya.


Ctik!


Ivanna terperanjat kaget, ia menatap sayu wajah


Bryan.


"Damn Ivanna, I have no idea how much I want


you!!" Bryan kembali menciumi Ivanna dengan buas.


Sebuah langkah kaki terdengar dari balik ruangan tersebut, Bryan mendengar seseorang memanggil namanya.


"Tuan, ada hal penting yang harus saya sampaikan!" Lucian tahu bahwa Bryan dan Ivanna sedang berada di ruangan tersebut. Bryan melirik Ivanna.


"Kenapa kau selalu beruntung huh?” Bryan melepas sabuknya dari tangan Ivanna, lalu Ivanna berlari meninggalkan Bryan yang sedang duduk di ujung kasurnya.


"****!" Bryan mengumpat karna Lucian selalu menganggu waktunya.


Ivanna membuka pintu ruangan itu, ia terkejut melihat Lucian tengah berdiri menatapnya. Lucian tak terkejut, sepertinya ia telah mengetahui apa yang terjadi diantara mereka berdua.


"Menjijikan!" Ivanna mengusap bibirnya dan pergi berlari menuju lantai satu. Disana beberapa maid tampak menatapnya kasihan. Ivanna menutup telinganya sesaat ia melewati kerumunan maid itu.


'Kasihan sekali dia!'


'Walaupun itu, kita tak punya hak untuk membantunya bukan?'


Ucapan itu mampu ia dengar walau ia sudah menutup telinganya rapat - rapat. Ivanna berlari di kamarnya, mengunci pintu dan duduk dengan bersandar pada pintu tersebut.


"Huhuhuhu bagaimana caranya agar aku keluar dari sini, rupanya aku sudah masuk kedalam kandang singa."


Bryan melangkah dengan tangan – tangannya yang sibuk memasang kancing baju tersebut, ia mengambil cerutu yang tergeletak di meja kerja dan mulai menghidupkan cerutu itu.


"Jadi? Apa yang mau kau bicarakan hingga berani mengganggu waktu berhargaku?"


"Maaf tuan, tuan Bennedict mengatakan bahwa Antonio kembali ke Italia. Sepertinya ada orang besar dibelakangnya yang membantu Antonio." Bryan menghembuskan asapnya, asap itu melambung tinggi - tinggi hingga aroma asap itu memenuhi seluruh ruangan.


"Oh ya? Lalu bagaimana dengan Samuel. Ada berita terbaru tentangnya?"


"Samuel kembali lagi ke Indonesia. Jadi tuan, mana dulu yang harus dibereskan?" tawar Lucian sambil tersenyum kepada Bryan. Bryan ikut tersenyum, salah satu tangannya menarik laci di mejanya dan mengambil senjata api miliknya. Ia mengelus senjata api itu dengan senyum misterius yang mengembang di wajahnya.


"Well, aku akan menghabisi Samuel terlebih dahulu. Sudah lama aku tak beraksi dengannya, bawa seseorang dan masukkan dia ke basement. Aku rindu melakukan pemanasan!"


"Tentu saja tuan."


Samuel tak mengetahui bahwa Ivanna kini bekerja pada Bryan, kini ia tampak berdiri di gerbang depan panti asuhan sambil menghisap rokoknya.


Leon dan Maria datang dari belakang Samuel, mereka berbincang-bincang hingga akhirnya Maria salah fokus dan melihat seseorang tengah berada di tengah jalan itu.


"Dia siapa?" Bisik Maria yang membuat Leon menatap kearah ujung jari Maria. Seorang laki-laki berperawakan tinggi dan wajahnya yang brewok mirip dengan artis Reval Hady. Leon mengerjapkan kedua matanya berulang kali.


"Entahlah. Mari kita dekati dia." Maria mengangguk, Leon menepuk pundak Samuel hingga sang empunya berjingkat karna terkejut dan menjatuhkan rokok yang sebelumnya berada di bibirnya.


"Hei mas ngapain disini?"


"Aku mau mencari Anna." Samuel menunduk dan mengambil rokoknya yang terjatuh.


"Kamu kenal dengan Ivanna?" Ucap Maria disambut anggukan oleh Samuel. Maria berdecih,


"Maaf tapi Ivanna nggak ada disini. Ivanna pergi bekerja dan dia tinggal disana."


"Kau tahu dimana Ivanna bekerja?" Leon menunduk, ia tak mungkin memberitahu orang lain dimana Ivanna berkerja. Maria menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Samuel.


"Tidak ada yang tahu, Ivanna tidak memberitahu kepada kami bahkan ibu panti. Kalau begitu kamu izin pergi. Permisi" ucap Leon sambil menggandeng tangan Maria,


"Yuk sayang?" Tambahnya lagi, namun Maria menolak. Ia beralasan sesuatu kepada Leon.


"Kamu duluan saja, aku mau mengambil jepit rambutku yang tertinggal di mobil." Leon mengangguk, lalu pergi meninggalkan Samuel dan Maria. Keheningan menemani mereka berdua, tak lama setelah itu Maria mulai memulai pembicaraannya.


"Kau terlambat, sepertinya kemarin ada bekas anak panti asuhan yang juga mengenal Ivanna." Ucapan Maria membuat Sam menoleh seketika.


"Kau tahu siapa nama orang itu? Atau bahkan ciri -cirinya?" Cerca Samuel,


"Hmm kalau tak salah namanya Bryan Kael, dan ada sebuah marga asing di belakangnya namun aku lupa." Jawab Maria sambil berpose layaknya sedang berpikir.


"Benvolio?" tanya Samuel dengan wajah datarnya, lalu Maria mengangguk.


"Yaa, dia sangat tampan bukan? Kau juga mengenalnya! Bolehkan kalau aku menjadi kekasih dari pria itu?" mata Maria berbinar ketika membahas tentang Bryan, sepertinya Sam sedang memikirkan sebuah ide untuk menghabisi dua burung sekaligus.


Samuel tersenyum smirk,


"Sepertinya aku tahu dimana Ivanna berada. Berikan aku nomor ponselmu, sepertinya kita bisa menjadi partner bisnis yang baik bukan?" Kini giliran Maria menoleh kepada Sam, dahinya berkerut.


"Maksudnya?"


"Aku bisa membawakan pria itu untukmu, dan aku juga akan mendapatkan apa yang aku inginkan darinya." Ucap Samuel sambil tersenyum smirk. Maria mengangguk paham,


"Jadi?"


"Berikan nomor ponselmu padaku, saat Bryan pergi ke panti asuhan kau harus memberi tahuku." Maria mengangguk lalu mengambil ponsel di tangan Samuel, ia mengetikkan nomornya dan memberikan ponsel itu kembali kepada Samuel.


Samuel menatap layar ponselnya, mengetikkan sebuah nama lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


"Nanti malam aku akan memberitahukan sebuah rencana itu kepadamu." Ucapnya sambil meninggalkan Maria yang memegang erat tas bahunya.


"Aku harus segera kembali masuk kedalam panti asuhan. Bisa gawat kalau si bodoh itu menungguku terlalu lama."


Bryan sedang duduk di kursi kerjanya dengan layar monitor yang sedang hidup menampilkan Bennedict dari seberang sana. Mereka sedang melakukan panggilan video berdua, serta Lucian yang duduk di depan Bryan.


"Kau sudah tahu bukan bahwa Antonio kembali ke Italia?" Ucap Bryan kepada Ben,


"Ya aku mengetahuinya, tapi aku masih belum menemukan siapa yang berada dibelakangnya. Kau tahu? Beberapa waktu yang lalu papal berusaha memblokir akses masuk Antonio dengan memblokir identitasnya. Sepertinya ada orang besar yang berusaha melindunginya." Penjelasan Ben panjang lebar membuat Bryan dan Lucian berpikir kembali, Bryan tampak menggigit kuku ibu jarinya.


"Kira-kira siapa orang itu? Ben, kau harus lebih fokus memperhatikan keamanan gudang dan juga perhatikan orang – orang yang berada di BLACKWINGS. Aku curiga ternyata masih ada penghianat dibalik semua ini. Segera atur strategi yang pas untuk mengubah anggota - anggota BLACKWINGS." Bennedict mengangguk. Ia akan membantu kakaknya untuk merencanakan misi tersebut, kembali memata-matai anggota lama BLACKWINGS.


Bryan mengetuk - ketuk meja dengan jari - jarinya. Sementara Ben dan Lucian tengah terdiam menatap Bryan yang sedang berpikir. Tiba-tiba senyum mengembang di wajah pria itu. Ben dan Lucian sepertinya hapal dengan yang di pikirkan Bryan.


"Bagaimana kalau kita melakukan genosida kepada anggota lama BLACKWINGS." Ucapan itu membuat Bennedict dan Lucian melotot menatap Bryan yang sedang tersenyum misterius.