Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 15



Samuel ambruk setelah mendapat tembakan pada perut bagian kirinya. Bryan mendekati tubuh Samuel dan mengguncangkan sedikit tubuh itu.


"Dia pingsan!"


Bryan mendatangi Ivanna yang tengah tertidur, kedua pergelangan tangannya memar diakibatkan memaksa untuk melepaskan diri. Ia menggendong Ivanna dan membawanya keluar dan menuju mobil diikuti oleh yang lainnya.


"Tuan harus kita apakan sam?" Ucap Lucian, Bryan tampak terdiam sebentar hingga akhirnya ia kembali meneruskan perjalanannya.


"Bawa Sam. Kalian bawa mobil kan? Masukkan dia kedalam mobil kalian." Bryan meneruskan perjalanannya sebentar hingga akhirnya ia sampai di depan mobilnya. Ia menidurkan Ivanna di kursi penumpang sampingnya dengan sedikit menurunkan jok mobilnya kebelakang. Setelahnya Bryan menutup pintu dan masuk melalui pintu lainnya.


Bryan mengetuk ketuk jarinya pada kemudi lalu tersenyum menatap Ivanna yang tertidur di sampingnya.


Rambut panjang dibawah bahu yang berwarna hitam dan alis tebal, bulu mata yang panjang dan lentik, hidung yang mancung dan jangan lupakan bibir berwarna pink layaknya buah peach yang terlihat tebal menambah kesan dewasa pada gadis berusia 16 tahun itu. Benar benar jelmaan Aprodhite.


"Ahh kenapa jantungku berdetak ketika berhadapan langsung dengan mu amore? Rasanya aku ingin segera membawamu pulang dan memakanmu. Kau benar benar sudah berubah menjadi wanita yang cantik dan seksi." Bryan memainkan rambut Ivanna, sesekali ia menciumi rambut itu. Tak lupa ia juga ikut menautkan jarinya dengan jari lentik milik Ivanna dan mengecup punggung tangan gadis itu. Matanya menatap bandul kalung milik Ivanna dan ia pun menciumnya singkat hingga pandangan matanya tertuju pada bekas kissmark di leher Ivanna.


"Ck! Menjijikan."


Drtt drttt


Bryan mengangkat panggilan dari Lucian, ada apa dengan mereka?


"Ada apa?"


"Tuan, setelah kita kembali rupanya samuel telah menghilang. Sepertinya seseorang mendatangi tempat ini dan membawa Sam pergi.” Bryan melirik Ivanna, lalu membuka pintu dan memilih berbicara di luar mobilnya.


"Kalian, bagaimana bisa sebodoh itu! Cari Sam beserta orang dibelakangnya!."


"Baik tuan."


Panggilan itu dimatikan, Bryan meninju pohon yang berada di sampingnya.


"****!"


Bryan merogoh rogoh kedua sakunya mencari sesuatu, lalu berpindah ke saku jas nya. Setelah memastikan barang yang dicari tak ada ia membuka pintu dan menemukan apa yang dia cari di dasboard mobilnya.


"There you are!"


Bryan mencoba menghilangkan emosinya dengan menghisap sebatang cerutu. Menghisap dan menghembuskan asapnya dalam dalam hingga habis. Lalu ia masuk kedalam mobilnya. Ia mengemudikan mobil dengan santai, hingga akhirnya Ivanna sadar dari pingsannya.


"Eunghh- Ah! Kau?" Ivanna terlonjak mundur hingga punggungnya terantuk pintu dibelakang. Bryan hanya melirik sekilas dan matanya tetap fokus pada jalanan didepannya.


"Sudah bangun, mi amore?”


"K-kau yang menculikku? Binatang!"


"Hey! Jaga mulutmu!”


Ivanna terdiam dan memilih duduk lebih jauh dari Bryan. Ia masih takut hingga berkali kali melirik pria disampingnya kini.


"Aku tahu aku tampan, jadi berhentilah menatapku seakan akan mau melubangi kepalaku.”


"Tampan? Bahkan Sam lebih tampan darimu!."


ciiiitttt....


Bryan menginjak rem secara spontan, untung saja jalanan dalam keadaan sepi. Ia menatap Ivanna dengan tajam.


"Kau? Kotor! Menjijikkan!." Bryan turun lalu memutari mobilnya dan membuka pintu Ivanna. Ia meraih wajah ayu gadis itu dan mendekati wajahnya dekat sekali dengan wajah gadisnya.


"Ada hubungan apa kau dengan pria brengsek itu?”


"Kau pria brengsek!"


"Tutup. Mulutmu. Ivanna, atau kau mau aku menutup bibirmu ini dengan caraku?"


"Goodgirl! Jadilah anak baik dan duduk di kursimu dengan tenang!" Bryan melepaskan cengkraman kasar pada dagu Ivanna, lalu kembali naik di kursi kemudi.


"Hiks aku mau pulang."


"Berhentilah merengek, aku sedang mengantarmu pulang."


"Benarkah?" Bryan tersenyum, senyum smirk andalannya.


Bryan mengemudikan mobilnya sampai di depan gerbang mansion miliknya, lalu tampak gerbang itu terbuka dengan sendiri.


"Ini bukan rumahku.” Ivanna menatap mansion mewah itu dari dalam mobil, lalu melirik Bryan yang sedang berusaha membawa masuk mobilnya kedalam garasi.


"Memang bukan, dan segera akan jadi rumahmu!" Bryan memutari mobil dan membukakan Ivanna pintu, namun Ivanna seolah engan untuk keluar dari mobil itu.


"Turun!"


"Aku gak mau turun sebelum kamu mengantarku pulang, penculik !"


"Baiklah silahkan tidur di dalam mobil. Kau tahu? Garasiku ada hantunya." Ivanna keluar dari dalam mobil sebelum Bryan kembali menutup pintunya, ia berjalan sejenak keluar dari garasi dan melihat mansion yang begitu besar dan megah. Ia bahkan tak terpikirkan betapa mewah mansion ini. Ia menatap Bryan yang berjalan di depannya.


"Tolong pulangkan aku, aku mohon." Rengek Ivanna kepada Bryan. Bryan menghentikan langkah dan berbalik badan hingga Ivanna yang berada dibelakangnya terantuk oleh dada kokoh milik Bryan.


"Aku harus memastikan sesuatu sebelum kau boleh pulang!" Bryan menggendong Ivanna ala bridal style naik menggunakan lift lalu pergi menuju kamarnya. Ia melemparkan Ivanna begitu saja diatas kasur.


"Kau biadab. Tidak bisakah kau memperlakukan seseorang dengan baik?"


"Aku akan memperlakukan kau dengan baik, begitu aku tahu kau bersih atau kotor!"


"A-apa maksudmu?"


"Kau akan segera mengetahuinya."


Bryan melonggarkan dasinya, mengikat tangan Ivanna dengan dasi yang sedetik lalu memeluk erat lehernya. Tentu saja Ivanna kaget, ia belum pernah diperlakukan seperti ini.


"H-hey! Kau jangan melewati batas Tuan!" Bryan menarik sebelah alisnya, lalu tersenyum.


"Kau sudah menyiapkan nama sayang? Ah sial aku ingin segera memakanmu!"


"Tolong nghhh-“ Bryan memainkan jarinya dari bibir Ivanna, turun mengelilingi dadanya hingga akhirnya ia sampai pada pinggul gadisnya. Ia memasukkan tangannya mencari sesuatu didalam sana.


"Tolong hiks! Jangan tuan aku mohon!" Ivanna menangis saat merasakan jari milik Bryan menyentuh miliknya. Ini aneh, dan Ivanna tidak menyukainya. Bryan memasukan sebuah jarinya, ia merasakan jarinya tak bisa menembus milik Ivanna. Matanya melotot dan segera menarik tangannya dari tempat tersebut.


Ia menatap Ivanna yang tengah terkungkung di bawahnya, Ivanna menangis hebat dengan keadaan dress yang berantakan.


"Aku mohon maafkan aku, tolong lepaskan aku hiks!"


Bryan dengan perasaan marah berdiri dari kasurnya dan membanting sebuah vas. Ia merogok saku celanannya dan menelepon seseorang.


"Lu! Kembalikan gadis ini pulang!"


Setelah mematikan ponselnya ia mendekati Ivanna dan mencium lembut bibir Ivanna.


"Maafkan aku amore, sekarang berhentilah menangis!" Sayangnya Ivanna seakan tuli, ia terus saja menangis.


"Damn it! Aku bilang berhenti! Sayang hey maafkan aku oke?" Ivanna terkejut ketika Bryan membentaknya, lalu ia mengangguk. Bryan menatap mata Ivanna yang memerah, bahkan saat menangis Ivanna mampu membangkitkan gairahnya.


"**** Ivanna, aku benar benar ingin memakanmu!" Bryan membelai rambut Ivanna, menciumi rambutnya dan tangannya bergerilya menggelitik telinga dan lehernya. Sial! Bryan mendekati wajah Ivanna, lalu membisikkan sesuatu di telinga mungil Ivanna.


"Cepatlah dewasa, lalu setelah itu lemparkan tubuhmu kepadaku, Ivanna!" Bryan melepas dasi yang mengikat Ivanna berbarengan dengan datangnya Lucian yang hendak mengantar pulang Ivanna. Ivanna yang melihat ada pria lain di depan pintu langsung berlari keluar mendekati Lucian.


"Tolong pulangkan aku. Aku rindu bunda!" Lucian melirik Bryan yang dibalas dengan sebuah anggukan kecil. Lucian menutup pintu.


"Tentu saja Nona, saya akan mengantarkan Anda pulang dengan selamat!"


Bryan masih berdiam di ujung kasurnya, Ia mendongkak kepalanya keatas lalu mendesah kasar.


"****! She's virgin."


Lucian dan Ivanna saling terdiam. Sesekali Ivanna yang berada di kursi penumpang belakang melirik kearah Lucian. Ia takut setelah apa yang terjadi padanya. Perasaannya mendadak tenang ketika Ivanna menatap gerbang milik panti asuhan. Seketika saat mobil itu berhenti, Ia segera bergegas berlari meninggalkan Lucian yang masih enggan untuk turun dari kursi kemudi. Ia memanggil Bryan.


"Tuan, nona Ivanna sudah sampai dengan selamat!"


"Bagus. Pulanglah, kita harus membahas sesuatu segera!"


"Baik tuan"


Lucian memutar mobilnya dan kembali menuju mansion milik Bryan.