Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 50



Pagi ini Bryan dan juga Ivanna berangkat ke Italia bersama Yoanna. Saat ini mereka sedang berada di pangkalan udara dengan menaiki pesawat pribadi milik Benvolio untuk menghindari kecurigaan Oregon.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Bryan pada Ivanna yang kini tampak gugup memegangi lengannya. Ivanna menggeleng.


"Aku baik-baik saja. Hanya saja mungkin ini adalah kali pertamaku naik pesawat. Aku sedikit gugup." Bryan berdiri di depan Ivanna, membetulkan rambut Ivanna yang sedikit berantakan terkena angin. Bryan tersenyum,


"Tenanglah. Kau aman bersamaku." Ivanna tersenyum kecil lalu mengangguk. Jam kini sudah menujukkan pukul 8 pagi. Mereka semua bergegas masuk kedalam pesawat pribadi yang dibawa oleh Yoanna sepulang dari Hawaii. Bryan memegangi tangan Ivanna ketika pesawat lepas landas, mengelus punggung tangan itu seraya mengatakan semua akan baik-baik saja.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup lama, kurang lebih sekitar 17 jam. Ivanna lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur dan makan. Untung saja kali ini ia bisa menikmati makanan yang di buat di dalam pesawat. Sementara Bryan tampak tengah menatap keluar jendela. Ia tengah memikirkan apakah Ivanna akan diterima di keluarganya? Bukan karena status sosial, namun karna Ivanna belum mengetahui apa pekerjaan Bryan dan juga keluarga BENVOLIO itu sendiri. Ia mendesah pelan, namun setidaknya pemandangan dari atas awan sedikit membuatnya merasa lebih baik.


On behalf of BNVL Airways and the entire crew, I'd like to thank you for joining us on this trip. We are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day!


Suara pramugari yang memberikann announcement fllight attendant membangunkan Ivanna yang tengah tertidur di bahu Bryan.


"Buenos dias, amore!" ucapnya kemudian mencium sekilas kening Ivanna. Ivanna yang masih dalam mode setengah sadar pun hanya bisa melongo mendapat perlakuan dari Bryan. Yoanna yang duduk di samping mereka hanya bisa tersenyum kecil melihat interaksi pasangan itu.


Tiga buah mobil Mercedez Benz Maybach Exelero terparkir tepat di depan pintu keluar bandara. Bryan menggandeng Ivanna dengan satu tangan lainnya membawa koper. Mereka berjalan menyusul Yoanna yang terlebih dulu berdiri di dekat mobil merah itu.


"Madre akan pulang dengan mereka, kalian bisa membawa mobil yang paling belakang." Yoanna melempar kunci mobil itu dan ditangkap dengan sangat baik oleh Bryan, Yoanna tersenyum.


"Kalian bisa berjalan-jalan terlebih dulu. Madre harap kalian pulang dengann mood yang lebih baik sebelum menghadapi padre." Bryan mengangguk, seorang anak buah Yoanna meminta koper Bryan dan membawanya pulang.


"Let's have a little fun!" ucap Bryan mengedipkan sebelah matanya lalu memegangi tangan Ivanna dan membawanya masuk kedalam mobil.


"Hahaha **** sudah lama aku tak mengendaraimu, Hose!" gumam Bryan lirih kepada mobilnya. Bryan membawa mobilnya membelah jalanan ramai Italia.


Brakk!


"Kita akan melakukan apa?" ucap Ivanna setelah ia menutup pintu mobil, tak lama kemudian Bryan turun dan berdiri di samping Ivanna. Bryan menundukkan wajahnya di dekat telinga Ivanna.


"A date." bisik Bryan sambil meniup pelan telinga Ivanna. Ia mengandeng tangan Ivanna dan berjalan beriringan di sepanjang trotoar. Destinasi pertama mereka kali ini adalah melihat seorang pengamen jalanan yang sedang memainkan piano di dekat air mancur. Beberapa orang tampak terpikat oleh dentingan pianonya yang merdu hingga membuat area tersebut di kerubungi banyak orang. Tak jarang juga ada dari mereka yang merekam aksi pria itu dan mengunggahnya di sosial media.


Ivanna bertepuk tangan ketika pria itu selesai memainkan lagu Can't Help Falling in Love dari Elvis Presley. Setelah itu mereka berdua meneruskan perjalananan mereka.


Kali ini Ivanna mengajak Bryan berhenti di sebuah kedai Gelato yang sepertinya ramai di tengah perkotaan itu. Namun melihat wajah memohon Ivanna membuat Bryan mau tak mau memilih untuk mengikuti Ivanna. Mereka memesan Gelato dengan rasa coklat dan juga mint, menikmati Gelatto mereka di kursi yang sebelumnya sudah tersedia di luar kedai itu.


"Kau suka?" ucap Bryan pada Ivanna yang tengah menikmati Gelatto rasa mint tersebut. Ivanna mengangguk dengan cepat. Bryan melirik jam di tangan kirinya.


"Setelah itu kita akan langsung ke Mansion utama. Kau tenang saja, aku yang akan bertanggung jawab penuh untukmu." Ivanna menatap lama Bryan, tiba- tiba pikirannya sedikit cemas.


Mobil yang di kendarai Bryan berhenti di sebuah Mansion bergaya Eropa dengan banyak pohon cemara di sisi kanan kiri jalannya. Ivanna meneguk pelan air liurnya, namun elusan Bryan pada punggung tangannya membuat Ivanna tersenyum kecil.


Ceklek,


Pintu besar mansion terbuka, tampak seorang pelayan yang wajahnya nampak keriput membuka pintu tersebut dan menyambut Bryan dan Ivanna.


"Selamat datang Tuan Bryan, dan Nona Ivanna. Silahkan masuk, Tuan besar sudah menunggu kedatangan Anda." Bryan mengangguk dan menggandeng tangan Ivanna, sedangkan Ivanna tampak berkali-kali merapalkan doa - doa agar selalu dipermudahkan segala urusannya.


Ketika mereka berdua memasuki ruang keluarga, tampak Yoanna yang tengah berdiri di belakang seorang pria yang tengah duduk di sebuah single sofa. Ia melirik kearah Bryan dan juga Ivanna. Pria itu memiliki wajah khas ras Latin, dengan garis wajah yang tegas, hidung mancung dan juga sorot mata yang tajam dengan warna mata biru yang tampak seperti lautan dalam.


"Bryan, kemarilah." ucap Louise kepada Bryan, mau tak mau Bryan melepaskan genggaman tangan Ivanna dan mendekati Louise. Ivanna mencoba menormalkan degup jantungnya. Ia melirik kearah Yoanna seperti meminta tolong. Yoanna dengan sigap mengerti yang akan dilakukan oleh suaminya pun mendekati Ivanna dan memeluk gadis itu.


"Bersimpuh Bryan, dan letakkan tanganmu di dekat lututmu."


Louise berdiri lalu menapar kencang pipi Bryan,


tak hanya itu Louise juga memukul punggung tangan


Bryan dengan tongkat jalannya.


Bryan bahkan tidak berteriak atau meringis kesakitan. Ia tahu itu adalah konsekuensi yang harus dihadapi dalam keluarganya.


"Kau benar-benar anak kurang ajar. Padre tak pernah mengajarimu untuk melakukan hal tercela kepada seorang wanita, apalagi dia masih di bawah umur!"


Teriakan kencang itu menggema diseluruh ruangan keluarga yang berukuran luas, Bryan menundukkan kepalanya.


"Setelah ini datanglah kedalam ruanganku, ada hal yang harus kubicarakan denganmu."


"Ya padre." Louise mendengus kesal mendengar jawaban Bryan, lalu dirinya berjalan mendekati Ivanna. Ivanna nampak ketakutan setelah melihat apa yang dilakukan pria itu kepada Bryan. Namun elusan pelan dari Madre sedikit membuatnya tenang.


Louise menggenggam tangan Ivanna lalu mencium punggung tangan gadis itu,


"Aku berharap kau memaafkan anak laki-lakiku itu. Jangan takut dengannku, keluarga Benvolio akan menanggung semua yang dilakukan anakku kepadamu."


"T-terima k-kasih T-tuan!" Louise tersenyum. pelan,


"Kau bisa memanggilku padre, ah kau benar - benar gadis yang baik dan sopan. Alangkah baiknya kau menjadi anakku saja menggantikan Bryan." Louise melirik Bryan, lalu terkekeh.


"Kemarilah Bryan, ikut padre." Louise pergi meninggalkan Yoanna dan Ivanna, sementara Bryan mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan berjalan tertatih mengekori Louise.


"Bry?" Panggilan Ivanna membuat Bryan menoleh, tampak gadis itu menatapnya sendu. Bryan tersenyum tipis dan mendekati Ivanna. Ia mengusap pelan pipi gadis itu.


"Tenanglah amore, aku tak akan menyerah jika itu menyangkut tentangmu." Setelah itu Bryan benar - benar mengikuti Louise menuju ruang kerja Louise.


"Tenanglah amore, aku tak akan menyerah jika itu menyangkut tentangmu." Setelah itu Bryan benar- benar mengikuti Louise menuju ruang kerja Louise.


"Duduklah, dasar anak nakal!" Bryan duduk di depan meja kerja Louise. Pria itu tampak memainkan jari tangannya di atas meja.


"Apakah Ivanna tahu tentang BENVOLIO?" Bryan menggeleng, jawaban Bryan membuat Louise mendesah kasar.


"Bry, kau tahu dari awal mengapa padre tak pernah mengijinkan kalian untuk memiliki hubungan yang serius dengan wanita? Bukan! Bukan karna mereka merepotkan, tapi justru mereka bisa membuat musuh-musuh kita mengetahui apa kelemahan kita. Bukankah kau dulu pernah melihat apa yang dialami madre?"


"Padre tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Keputusan ada di tanganmu, tapi padre harap jangan sampai Ivanna memperlambat gerak gerikmu, apalagi Ivanna belum mengetahui apapun tentangmu."


"Namun yang pasti, padre akan selalu mendukung apapun keputusan kalian. Tanggung jawab seorang Benvolio adalah harga diri di dalam keluarga Benvolio. Kau tahu bukan?" Bryan mengangguk. Louise berdiri lalu mendekati Bryan, merentangkan tangannya seolah memberikan pelukan untuk anak laki-lakinya. Bryan membalas pelukan Louise.


"Welcome home son." bisik Louise sambil menepuk punggung Bryan,


"Thanks padre."


Ting!


Sebuah notifikasi email masuk berkedip berkali- kali di layar monitor milik Antonio, senyumnya tersunging ketika mendapat sebuah foto yang dikirim oleh mata - matanya yang sedang berada di kediaman keluarga Benvolio.


"Hahahaha welcome home Bryan! sebentar lagi kau akan merasakan kehilangan seperti yang ku alami. Dua kali! Dua kali kau dan juga si brengsek Loise membunuh kesayanganku, Samuel dan juga wanita itu. Kalian harus membayarnya!"