Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 02



-Flashback on-


Pagi itu langit terlihat gelap, angin bertiup kencang tanda badai akan segera datang. Beberapa anak didalam panti asuhan itu tengah tertidur di kamar mereka. Namun, ada salah satu anak laki laki berusia kurang lebih 11 tahun sedang memeluk erat biarawati itu.


"Bunda, bryan takut!" Bryan kecil menutup telinganya dan bersembunyi dibalik pelukan biarawati yang dipanggil bunda. Biarawati itu mengelus pelan kepalanya.


"Tidak apa apa bryan. Kamu aman didalam sini" ucap bunda Grace sambil terus mengelus kepala Bryan. Saat itu biarawati lainnya sudah menutup dan mengunci seluruh pintu dan jendela panti asuhan. Tiba tiba terdengar suara langkah kaki, saat suara langkah kaki itu menghilang terdengar suara tangis bayi dari luar pintu utama. Sontak bunda Grace dan Bryan yang mendengarnya langsung membuka pintu utama.


Mereka menemukan sebuah keranjang yang berisi sesosok bayi mungil didalamnya. Bayi itu dalam keadaan telanjang hanya diselimuti kain tipis, serta ari ari yang masih tampak basah. Nampaknya ia baru saja dilahirkan. Bunda Grace menggendong bayi mungil yang masih tampak kemerahan itu kedalam panti asuhan.


"CECIL! IRENE!!" Dua biarawati lainnya tampak berlari tergopoh gopoh mendekati arah suara itu.


"Ada apa grace? Kenapa teria-, oh my?" Ucap biarawati dengan kacamata bulatnya itu. Ia menggedong bayi itu lalu membungkusnya dengan kain yang ia temukan bersama bayi itu.


"Irene tolong ambilkan beberapa pakaian bayi dan selimut" biarawati dengan kacamata bulat itu masih menggendong bayi yang menangis itu, Grace sigap membuatkan sebotol susu hangat khusus untuk bayi dan memberikannya pada biarawati yang bernama Cecil.


Cup cup sayang, "CECIL! IRENE!!" Dua biarawati lainnya tampak berlari tergopoh gopoh mendekati arah suara itu.


"Ada apa grace? Kenapa teria-, oh my?" Ucap biarawati dengan kacamata bulatnya itu. Ia menggedong bayi itu lalu membungkusnya dengan kain yang ia temukan bersama bayi itu.


"Irene tolong ambilkan beberapa pakaian bayi dan selimut" biarawati dengan kacamata bulat itu masih menggendong bayi yang menangis itu, Grace sigap membuatkan sebotol susu hangat khusus untuk bayi dan memberikannya pada biarawati yang bernama Cecil.everything will be okay!" Bunda cecil memberikan susu itu kepada bayi itu, lalu bayi itu menggeliat dan tertidur dalam buaian bunda Cecil.


Bunda Grace membuka keranjang bekas bayi itu ditempatkan, ia menemukan selembar kertas yang beberapa tulisannya luntur terkena air. Hanya tulisan yang berkata “... orang tua bayi ini meninggal". Tidak ada barang apapun yang ditinggalkan. Bayi itu yatim piatu.


Bryan mendekati bayi yang sedang dipangku oleh bunda Cecil, matanya nampak berbinar karna ini pertama kalinya ia melihat bayi baru lahir itu.


"Cantik kan Bryan?" Bryan mengangguk. Tunggu dulu, cantik?


"Adik bayinya perempuan bunda?" bunda Cecil mengangguk sambil tersenyum.


"Bryan suka sama adek bayinya? Kalau dipikir pikir, baru kali ini kan bryan liat bayi perempuan?” Ia menangguk.


Sejak kedatangan Bryan, ia tak melihat bayi ataupun anak perempuan seusianya. Kebanyakan mereka berusia lebih tua diatasnya. Makanya ia tampak senang begitu mengetahui ada bayi di panti asuhan ini, sekarang ia telah menjadi seorang kakak. Bukan lagi Bryan yang selalu dipanggil anak kecil.


"Namanya siapa bunda?" Ucapan polosnya tentu saja membuat ketiga biarawati itu terdiam. Benar juga, bayi ini belum diberi nama. Ketiga biarawati itu berdiam sambil memikirkan nama yang cocok untuk bayi mungil ini.


"Grace bukankah kini giliranmu ?" Bunda Cecil mengangguk mendengar ucapan bunda Irene. Grace selalu ingin memberi nama pada anak perempuan.


Bunda Grace menatap bayi itu dengan tatapan berbinar. Bayi ini akan memilik nama dari hasil buah pikirnya dengan mantan tunangannya dulu. Dulu sebelum sang mantan tunangan meninggal, mereka berdua selalu membayangkan akan memiliki dua anak laki laki dan perempuan dan memikirkan nama nama yang cocok untuk bakal anak mereka. Namun sehari sebelum mereka bertunangan, kecelakaan besar menimpa mantan tunangan Grace dan membuatnya meninggal ditempat. Sejak saat itu, Grace mencoba untuk move on dan mendedikasikan dirinya menjadi seorang Biarawati dan membangun sebuah panti asuhan untuk sedikit mengobati hatinya.


Air matanya bergulir, lalu tersenyum.


"Aku akan memberikannya nama Ivanna Isabella. Semoga kamu menjadi anak yang berhati baik dan cantik seperti namamu" ucap Bunda Grace sembari menyium kening bayi itu.


-Flashback off-


Bryan duduk didalam mobil dan menghisap cerutunya, ia menaruh topi dan jaketnya sembarangan di kursi belakang. Jari jemarinya mengetuk kemudi mobil.


Ponselnya berbunyi, dalam layar terlihat jelas nama seseorang. Ia mengangkat panggilan tersebut.


"Ya?"


"Baiklah aku akan segera kesana !" Ucapnya sambil mematikan ponselnya lalu membuang bekas cerutunya keluar jendela mobil. Sekali lagi ia menatap kedalam minimarket tersebut lalu mengemudikan mobilnya pergi menjauh.


"Hei" seorang pria tua menyadarkan lamunan Ivanna. Ia menatap tajam kearahnya lalu menyodorkan beberapa makanan instan diatas meja kasir


"Totalnya 120rb" Pria tua itu menyodorka uang 150 ribu, dan Ivanna memberikan uang kembaliannya 20rb.


"HEI KALAU KAU MASIH TIDUR MENDING PULANG TAK USAH KAU BEKERJA!" Bentakan itu mengejutkannya. Ivanna menatap layar monitor itu dan mengambilkan kekurangan uang kembaliannya.


"Saya minta maaf” ucapnya menunduk dan menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada. Pria tua itu mengambil kembaliannya dan berdecak sinis.


"Lain kali tidur sana! Ngapain kerja kalau ujung ujungnya tidur ditempat kerja! Menyusahkan saja!" Umpatannya masih bisa terdengar dari dalam. Ivanna mendesah kasar.


"Hah gara gara pria misterius tadi aku jadi melamun. Ayo semangat Anna" ucapnya sambil memukul mukul pelan pipinya.


Bryan dan Lucian berjalan menunju sebuah ruangan dengan sebuah pintu yang besar, Bryan membuka pintu itu dan terlihatlah seorang pria duduk membelakangi meja kerjanya. Lucian mengundurkan diri dan menutup pintu itu dengan rapat. Sementara Bryan berjalan mendekat dan berdiri di depan meja kerja itu.


"Ada apa papa?"


Pria itu memutar kursi kebesarannya. Seorang pria yang usianya kini menginjak 58 tahun. Wajah pria itu tampak sedikit lebih tua dari saat pertama mereka bertemu 18 tahun yang lalu. Ia adalah tuan besar Louise Benvolio, seorang pengusaha dan pemilik gudang senjata api nomor satu di Italia, dan juga sebagai mafia kejam yang bahkan orang orang hanya tahu namanya tanpa pernah melihat wajahnya. Dia adalah ketua mafia BLACKWINGS.


"Kemarilah putraku!" Ucapnya kepada anak pertamanya. Bryan mendekati meja kerja itu dan duduk tepat didepannya.


"Aku ingin kau menjalankan BLACKWINGS, keberadaanmu sudah diketahui oleh kelompok lainnya. Aku tidak ingin kau pergi tanpa pengawalan yang tepat. Urusan gudang biarkan Ben yang menjalankannya. Saat ini hanya kau yang diketahui orang lain sebagai anakku. Dan besok adalah pertemuan anggota BLACKWINGS, aku harap kau datang saat aku akan mengumumkanmu" Bryan mengangguk, ia berdiri hendak meninggalkan ruangan papanya.


"Satu kali lagi, urus dia untukku!" Sang papa menyodorkan sebuah map yang telah terbuka, ia bisa melihat isi dari map tersebut. Foto seorang pria dan beberapa barang yang diketahuinya adalah barang selundupan dari gudangnya.


"Kau tahu kan harus "Aku ingin kau menjalankan BLACKWINGS, keberadaanmu sudah diketahui oleh kelompok lainnya. Aku tidak ingin kau pergi tanpa pengawalan yang tepat. Urusan gudang biarkan Ben yang menjalankannya. Saat ini hanya kau yang diketahui orang lain sebagai anakku. Dan besok adalah pertemuan anggota BLACKWINGS, aku harap kau datang saat aku akan mengumumkanmu" Bryan mengangguk, ia berdiri hendak meninggalkan ruangan papanya.


"Satu kali lagi, urus dia untukku!" Sang papa menyodorkan sebuah map yang telah terbuka, ia bisa melihat isi dari map tersebut.


Foto seorang pria dan beberapa barang yang diketahuinya adalah barang selundupan dari gudangnya.melakukan apa?" Papanya tersenyum, sedangkan Bryan menatap foto pria tersebut.


Ia menghancurkan foto itu dengan kepalan tangannya. Ia berjalan menuju pintu keluar, suara pintu yang terbuka membuat Lucian terlonjak kaget. Ia mengikuti Bryan yang sedang berjalan tergesa di depannya.


"Ada masalah?" Ucapnya. Bryan mengepalkan tangannya dan meraba celananya. Ia mengeluarkan Desert eagle dari saku celananya. Senjata api yang daya ledaknya mampu membuat objek tertembak dan langsung meledak.


"Bawa Nicholas ke gudang bawah tanah!" Louise menekan ponselnya, dan menelepon seseorang disana. Ia berjalan bersama Bryan menuju gudang bawah tanah tempatnya bersenang senang'.


"Mari kita lihat seberapa beraninya Nic bila disandingkan dengan 'kesayangan'ku ini" ucap Bryan mencium ujung senjata apinya sambil menunjukkan senyum smirk andalannya.