Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 57



Brak!


Bryan menutup pintu mobilnya, ia menatap Ivanna yang berulang kali tampak menguap setelah selesai berbelanja.


"Kau bisa istirahat amore. Kita akan pulang" Ucap Bryan sambil sedikit menurunkan sandaran kursi mobilnya. Ivanna mengangguk dan memilih untuk merebahkan dirinya dengan nyaman. Bryan mengemudikan mobilnya dengan pelan. Sesekali ia melirik Ivanna untuk memastikan istrinya dapat beristirahat dengan sedikit nyaman.


Drtt drttt


Ponsel Bryan berbunyi, Bry memasang earbud dan menekan tombol hijau pada layar ponselnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Halo?"


"Tuan, semuanya sudah saya bereskan."


"Oke." Balas Bryan sambil mematikan panggilannya, ia memutar mobilnya dan berjalan berlawanan arah.


********


Bryan merebahkan punggungnya di sandaran kursinya, sesekali tangannya mengusap pelan rambut Ivanna.


"Bry?" ucap Ivanna saat ia merasa rambutnya


bergerak mengenai hidungnya.


"Yes babe?"


"Apa kita sudah sampai?" Bryan mengangguk mendengar pertanyaan Ivanna. Ivanna mengedarkan pandangannya ke seluruh pemandangan dari dalam mobil. Dahinya tampak berkerut ketika melihat sesuatu yang begitu asing.


"Kita ada di mana?"


"Rumah kita?"


Ivanna terkejut, ia melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya. Pemandangan yang indah namun tampak asing bagi Ivanna. Bryan membuka pintunya, dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya ia berjalan mendekati Ivanna.


"Ya, ini rumah kita. Apa kau suka?" Ivanna terdiam mendengar pertanyaan Bryan. Sorot matanya tampak meredup, ia menunduk.


"Tidak bisakah kita kembali ke Indonesia? Aka tak ingin jauh dari Bunda." Ucap Ivanna memelan. Ivanna dan Bryan memegang kedua tangan menggenggamnya.


"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku amore, disini kita lebih aman. Aku janji akan membawamu ke Indonesia untuk kembali menemui bunda, tapi jangan sekarang okay? Aku takut kau kelelahan, ingat kau membawa tiga nyawa di perutmu." Bryan mengusap air mata Ivanna yang luruh. Kemudian gadis itu tersenyum.


"Berjanjilah kau akan membawaku kembali ke Indonesia nanti." Bryan mengangguk, lalu ia memberikan sebuah ciuman untuk Ivanna.


********


"Ben?"


Bennedict menoleh ketika mendengar Louise memanggilnya, pria itu tampak menegak langsung minuman khas Brazil yang dibuat oleh Yoanna yaitu Caipirinha.


"Ugh madre kau menambahkan terlalu banyak gula." ucap Ben pelan sambil mengusap bibirnya, ia berlari mendatangi Louise.


"Ada apa padre?"


"Ikuti kedalam ruang kerja.” Ben tertengun mendengar ucapan Louise yang tampak berat. sepertinya sesuatu telah terjadi. Mereka berdua berjalan menuju ruang kerja dengan tampak tergesa-gesa. Sampai-sampai Bennedict tertatih mengikuti Louise berjalan.


Brak!


Louise membuka pintu ruang kerjanya dengan kencang, sementara Ben yang berdiri di belakangnya menutup pintu dan menyusul sang papa untuk duduk di sebuah meja bundar.


"Panggil Bryan kemari, kita akan benar-benar melakukan genosida terhadap anggota BLACKWINGS!" Ben terkejut dengan penuturan Louise, dengan cepat ia menekan panggilan ponselnya untuk memanggil Bryan.


"Crap!" maki Bennedict ketika Bryan tak kunjung menjawab panggilannya. Ia mencobanya sekali lagi, dan lagi-lagi Bryan tak mengangkat ponselnya.


"Ada apa padre? Apakah terjadi sesuatu?" Louise menatap tajam kearah Bennedict, ia melemparkan sebuah foto dari dalam saku jasnya.


"Damian? Jadi dia pemimpin Oregon selama ini?" ucap Bennedict tak percaya, benar-benar gila. Selama ini Dominic begitu patuh kepada Louise dan ternyata Dominic adalah seorang pemimpin Clan lawan.


"Seseorang mengirim ini padaku. Entah apa tujuannya mengirim foto ini. Namun ini bisa sedikit membuat kita semakin waspada." Bennedict mengangguk, tak lama kemudian ponselnya berdering. Bryan memanggilnya.


"Holy **** bro? Apa yang kau lakukan huh?" Maki Bennedict.


Sementara di rumahnya Bryan melepas sebelah earbudnya dan menggosokk lubang telinganya. Suara Ben membuat telinganya penuh seketika.


[padre ingin segera melakukan genosida Dominic, dia adalah pemimpin Oregon.] Bryan mengeratkan genggaman ponselnya ketika mendengar jawaban Bennedict. Kini ia tahu mengapa dengan mudahnya Oregon membaca pertahanan BLACKWINGS walaupun tak seratus persen tepat. Mereka sengaja membuat beberapa anggotanya mati konyol demi mengelabuhi BLACKWINGS.


"Seluruh anggota BLACKWINGS kecuali BENVOLIO, semua sudah mendapatkan suntikan chip buatan yang ditanamkan di dekat jantung mereka melalui operasi kecil. Kau belum mendengarnya? Padre memiliki salinan chip itu di komputer rumahnya. Seharusnya chip salinan itu bisa membuat chip yang tertanam rusak dan melebur kedalam jaringan jantung. Efeknya adalah henti jantung." Terang Bryan panjang lebar. Ia mendongakkan kepalanya keatas, menatap langit senja sore hari.


"Aku tak bisa melakukannya sekarang. Aku mengkhawatirkan Ivanna." Ucap Bryan lirih. Seketika keheningan terjadi diantara mereka. Bryan dapat mendengar ******* kasar Bennedict.


"Fine! Jadi bagaimana kita mengatasinya?" Tanya Ben.


"Perkuat anggota pilihan yang berada di gudang Ben Mereka satu-satunya harapan kita. Aku merasakan akan ada kiamat antara BLACKWINGS dan OREGON, Persiapkan dirimu." Ucap Bryan, tak lama setelahnya Bryan mematikan panggilannya.


"****! What do I do?" gumam Bryan sambil memijit pangkal hidungnya. Bryan berjalan menuju dalam kamarnya. Setelah menemani Ivanna memasak dan juga memakan makanan mereka, Ivanna tertidur. Bryan mendekati Ivanna dan mengelus pelan perut Ivanna.


"Tetaplah aman di sana. Daddy akan melindungi kalian."


Bryan bangkit dan pergi meninggalkan Ivanna, membiarkan ibu hamil yang selalu tampak kelelahan karna membawa tiga calon bayi dalam perutnya.


********


"Apa kata kakakmu?" ucap Louise ketika Bennedict melemparkan ponselnya asal di kursi.


"Bryan menyuruhku untuk memperkuat anggota pilihan. Dan juga ia membahas tentang chip. Padre, darimana kalian menyuntikan chip itu?" Louise merebahkan pinggangnya di kursi.


"Bukan seluruhnya, hanya sebagian ketua elan dari setiap negara. BLACKWINGS tak hanya berada di Italia. Mereka menyebar hampir diseluruh dunia. Kakekmu yang mengumpulkan pemimpin- pemimpinnya dari berbagai negara, dan diturunkan oleh anaknya. Karna padre merasa, tak semua oramg mudah dipercaya jadilah padre memberikan rencana tersebut. Semua berawal ketika aku menemukan fakta bahwa di salah satu negara, pemimpin yang tak lain adalah anggota BLACKWINGS mendirikan serikat mereka sendiri. Kita mengalami kerugian karna mereka mencuri sedikit demi sedikit pengiriman ke sana dan menjual dengan harga yang lebih mahal. Sial! Harusnya aku tak memaafkan mereka."


"Jadi setelah kejadian itu, aku mengumpulkan semua anggota BLACKWINGS dan memperkerjakan hampir 500 dokter untuk memasangkan chip itu. Tak ada yang mengetahui secara pasti tentang chip itu. Sebagai balasan dari dokter-dokter itu, padre menyogok puluhan bahkan ribuan organ dalam untuk mereka. Pertukaran yang bagus bukan?" ucap padre memberikan senyum smirknya. Bennedict menatap tak percaya, Benvolio adalah keluarga yang berbahaya.


Louise bangkit dari duduknya dan mendekati Bennedict, ia menepuk pelan bahu putranya.


"Percayakan pada Bryan, persiapkan anggota pilihan. Kau tahu bahwa kami mengandalkanmu hm?" Bennedict mengangguk. Cepat atau lambat ia memang harus terjun kedalam jurang berbahaya yang sejak dulu diciptakan di dalam keluarganya.


3 month later,


"Awww!" pekik Ivanna yang membuat seluruh penghuni kediaman Mansion Benvolio mendekatinya. Tampak Yoanna dan Bryan yang begitu terlihat khawatir dari raut wajah mereka.


"Apakah terjadi sesuatu sayang? Apa kau merasakan sakit?" ucap Yoanna sambil mengelus


perut Ivanna.


"Ada apa amore?" sambung Bryan. Ivanna menatap semuanya terkekeh. la menggeleng dan tersenyum sambil mengelus pelan perutnya.


"Aku rasa mereka menendang." Ucap Ivanna lirih Bryan dengan cepat berjongkok di depan perut


Ivanna dan mengelusnya.


"Benarkah begitu? Hola baby, ini Daddy." Bryan mengusap pelan perut Ivanna, tak lama kemudian muncul gerakan ketika Bryan mengusap perutnya.


"A-aku merasakannya! Oh gosh mereka menyapaku!" Yoanna dan Ivanna terkekeh melihat betapa antusiasnya Bryan ketika dapat merasakan gerakan mereka.


********


Bennedict duduk di kursi kerjanya, beberapa bulan ini ia benar-benar melakukan perintah Bryan untuk memperkuat pertahanan BLACKWINGS.


Tok tok tok.


"Masuklah." Ucap Bennedict tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya. Seorang gadis yang terlihat seperti anak kuliahan melangkahkan sepatu ketsnya mendekati Bennedict.


"Ben!" ucap gadis itu memeluk Bennedict dari belakang, Ben terkekeh namun tetap melanjutkan kegiatannya.


"Aku tahu itu kau Red." Red berjalan menuju sebuah kursi yang berada di depan meja kerja Ben dan berhadapan langsung dengan Ben. Red mengetuk-ketuk meja kerja Ben.


"Bukankah kau terlalu fokus? Kau bahkan belum melihat kearahku!" Red melipat kedua tangannya di dada. Rambutnya yang terurai panjang tampak meliuk-liuk ketika ia menggerakkan kepalanya. Ben melirik Red sekilas, lalu dengan cepat ia kembali memperhatikan gadis itu dengan lebih teliti.


"R-red?" Ben tampak terkejut menatap penampilan gadis itu. Tak ada Red yang berdandan dewasa dengan bibir yang dipoles merah merona dan juga make up yang selalu on point. Hanya ada Red dengan skinny jeans dan juga crop top berwarna hitam dan juga make up yang cenderung natural. Ben tak sadar ia menjatuhkan polpennya.


"Ben? Are you okay?" ucap Red mencoba menyadarkan Bennedict. Ia mendekati Ben dan menepuk pelan lengan tangan pria yang usianya terpaut 5 tahun lebih muda darinya itu. Ben menggelengkan kepala dan kembali menatap Red dari atas kebawah secara bergantian.


"W-well, kau terlihat berbeda, Red." ucap Ben sambil memalingkan wajahnya, Red dapat melihat telinga Bennedict tampak memerah.