
Sudah dua hari sejak kejadian itu Ivanna sama sekah udak mau berbicara bahkan hanya untuk sekedar melihat Bryan. Namun hal itu tak langsung membuat Bryan menyerah. la terus saja mengajak Ivanna berbicara, dan bahkan terus memberikan perhatian walaupun kali ini Ivanna tak meresponnya.
Saat ini Ivanna sedang duduk bersandar pada headboard ranjangnya. Tatapan matanya kosong. Bryan khawatir hal ini lama kelamaan akan membahayakan Ivanna dan juga bayi yang ada dikandungannya.
"Cukup amore, tolong berbicaralah. Aku benci kau mendiamiku." ucap Bryan pada Ivanna. Namun Ivanna sama sekali tak membalas ucapan Bryan. Bryan tak habis kesabaran, ia mengelus perut Ivanna dan mengajak bayi yang ada di dalam perutnya untuk berbicara.
"Lihatlah mommy kalian. Sepertinya mommy marah sama daddy. Apa kalian juga marah sama daddy?" ucap lirih Bryan sambil mengusap perut Ivanna, senyumnya mengembang saat bayi dalam perut Ivanna bergerak.
"Hahaha baiklah, daddy dan mommy juga menyayangi kalian." Bryan mendaratkan ciumannya di perut Ivanna. Lalu mata mereka bertemu. Ada rasa kerinduan besar bagi Bryan untuk memeluk Ivanna,
"Aku harus pergi amore." Ucap Bryan pada Ivanna, tak lupa ia mendaratkan ciumannya di kening Ivanna. Saat Bryan hendak mencium bibirnya, Ivanna memalingkan wajahnya.
"Baiklah. Aku harap setelah kepulanganku kau akan memelukku. Aku mohon berhentilah untuk mendiamiku." Bryan tak melihat respon Ivanna, dan akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Ivanna. Saat ia meraih gagang pintu Ivanna berbicara.
"Kau akan menyesalinya setelah keluar dari ruangan ini Bry." Bryan membalikkan tubuhnya, alisnya bertaut mendengar kalimat yang dilontarkan Ivanna.
"Apa maksudmu?"
"Kau benar-benar akan menyesalinya Bry, setelah kau pergi dari ruangan ini aku akan pergi meninggalkanmu dan membawa anak-anakku pergi jauh hingga kau tak berhasil menemukan kami. Mata mereka saling memandang ada perasaan aneh saat Bryan menatap mata Ivanna, tak ada kebohongan dimata itu. Bryan mendekati Ivanna dan berusaha untuk memeluknya, namun lagi-lagi Ivanna melayangkan tamparannya.
"Jangan mendekatiku, pembunuh!" Bryan meremas jari-jarinya, kini tatapannya pun berubah datar
"Tetaplah disini." Ucap Bryan datar sambil berjalan menuju pintu kamar tersebut. Ia menutup pintu itu dan menguncinya. Tak lama kemudian datanglah Lucian membawa koper milik Bryan.
"Perketat penjagaan di dalam mansion. Awasi jangan sampai Ivanna berhasil keluar, kalau gagal aku akan membunuh mereka satu persatu." Lucian mengangguk, kini mereka berjalan menuju lantai satu dan pergi menaiki mobilnya untuk pergi menuju markas BLACKWINGS.
********
Ivanna mengintip dari jendela menatap mobil Bryan yang berjalan meninggalkan area Mansion. la bergegas berlari menuju pintu kamarnya. Berkali-kali ia memutar knop itu namun ia gagal membukanya. Pintu itu terkunci.
Ivanna mencoba mendekati jendela, memastikan bahwa ada celah untuknya keluar dari dalam kamar ini. Ivanna berhasil membuka jendela itu. Namun jarak antara lantai atas dan juga tanah lumayan tinggi.
"Aku tak ingin terjun dan mengambil risiko jika terjadi hal yang membahayakan bayiku." Ivanna mengusap perutnya. Ia mendesah pelan lalu duduk didepan jendela menatap luar dari dalam kamarnya.
Tak lama kemudian datanglah berbondong- bondong mobil berwarna hitam. Tampak juga beberapa orang keluar dari dalam mobil itu dan
menembaki semua yang ada di luar mansion. Ivanna terkejut dan menutup mulutnya, tampak seorang pria berarmbut putih menatap kearahnya dan tersenyum smirk. Ivanna ketakutan dan menutup jendelanya.
"Aku harus pergi." ucap Ivanna.
la kembali mengetuk ketuk pintu berharap seseorang akan datang menolongnya.
"Tolong! Aku mohon buka pintunya!" Ivanna terus menerus menggedori pintu itu, ia menempelkan telinganya pada daun pintu. Ia semakin ketakutan ketika suara tembakan terdengar di bagian dalam mansion. Ivanna berjalan mundur, tiba-tiba saja ia merasakan sakit di bagian perutnya.
"Arghh s-sakit." Ivanna mengelus perutnya, bergumam dan terus mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Ivanna menatap ponselnya yang berada di atas nakas. Ia mendekati ponsel itu dan mencoba untuk menghubungi Bryan. Berkali-kali panggilan itu tak kunjung diangkat, jantungnya terasa hampir copot ketika seseorang berusaha mendobrak pintunya.
Brak! Brak! Brak!
Ivanna membawa ponselnya dan bersembunyi di didalam lemari pakaian. Ivanna bahkan tak sadar bahwa panggilannya sudah tersambung kepada Bryan. Ivanna menutup telinganya ketika ia mendengar suara tembakan yang kini terdengar di dalam kamarnya.
Ivanna menutup mulutnya berusaha untuk tidak bersuara.
“Huhuhu hiks."
Brak!
"Akhh!" Pekik Ivanna ketika seseorang berhasil menemukannya. Orang itu bahkan menyeret Ivanna dan membawanya bersimpuh di samping kasurnya. Ada dua orang yang memenganginya dan salah satu diantaranya berusaha mengikat tangan dan kakinya dengan borgol.
"Aku mohon lepaskan aku, ughh perutku. Selamatkan calon anak-anakku." Ucap Ivanna pada keduanya.
Plak!
Salah satu pria bengis itu menampar Ivanna hingga pipinya memerah.
"Kau bicara apa? Bicara yang benar!" ucap pria itu dengan bahasa Italianya.
"L-lepaskan aku" Isak Ivanna. Namun tampaknya pria itu sama sekali tak menggubrisnya. Ia terus berbicara bahasa asing dengan pria yang satunya. Tak lama kemudian datanglah pria yang sempat tersenyum padanya. Kini pria itu berdiri didepannya, mengapit dagunya dengan satu tangan kekarnya.
"Ah jadi kau yang namanya Ivanna hm? Kau memang cantik sekali, wajar jika Sam kecilku begitu menyukaimu." Ucap Antonio pada Ivanna. Ivanna membulatkan matanya, Sam?
"Siapa Anda?" tanya Ivanna pada Antonio, pria itu tersenyum smirk.
"Samuel adalah anakku. Sayangnya anakku sudah mati, kau tahu apa penyebabnya?" Ivanna terdiam, Antonio tersenyum sambil menyodorkan sebotol minuman pada Ivanna, Ivanna mengenyitkan alisnya.
"Tenanglah, ini hanya minuman. Ini tak akan meyakitimu." ucap Antonio, Ivanna menolaknya. Senyum Antonio memudar. Ia melirik kedua anak
buahnya.
"Uhuk uhuk!"
"Hahahaha!" Antonio tertawa ketika melihat Ivanna berhasil meminum sebagian besar air dalam botol itu. Tiba-tiba Ivanna mengenyitkan alisnya, mimik wajahnya berubah.
"Argh! S-sakit!" Pekik Ivanna, tak lama kemudian darah segar muncul diantara kakinya.
"Ah maaf, aku hanya bilang bahwa minuman ini tak menyakitimu bukan? Aku tak bilang bahwa minuman ini tidak akan menyakiti anakmu." Senyumnya tersungging ketika melihat Ivanna tampak menahan kesakitan di area perutnya.
"Kau tahu Ivanna? Bryan yang membunuh Samuel. Dia memotong-motong tubuh Sam, membiarkannya mati mengenaskan dengan perut yang sobek. Isi perutnya dibiarkan terurai dan hancur. Kau bisa bayangkan bagaimana hancurnya hati seorang ayah yang bahkan baru mengetahui bahwa ia mempunyai seorang putra?" mata Antonio memerah, Ivanna bisa membayangkan betapa hancurnya perasan Antonio.
Ivanna terus meringis, semakin lama perutnya terasa semakin sakit. Ia merasa seperti ada ratusan pisau yang menyayat perutnya.
"ARGHHH! A-aku mohon selamatkan anak-anakku!" Antonio menatap datar kearah Ivanna, hingga kemudian datanglah Bryan dengan tubuh yang kini penuh darah. Ia menatap tajam kearah Antonio yang membelakanginya dan menembakkan senjatanya tepat di jantung Antonio. Cipratan darah segar mengucur dan mengenai Ivanna. Seketika Antonio terkapar menyisakan Ivanna yang tampak sangat begitu syok. Datanglah berbondong-bondong orang untuk membantu Bryan menghabisi sisanya. Bryan membuang senjatanya dan mendekati Ivanna, kemudian Ivanna pingsan tepat setelah Bryan mendekatinya.
"Amore, hey Ivanna! ****!" Bryan menggendong Ivanna, ia berlarian menyusuri koridor mansionnya dan berteriak memanggil Lucian.
"**** LUCIAN SIAPKAN MOBIL!" Lucian berlari menuju mobil dan membukakan pintu belakang untuk menidurkan Ivanna di pangkuan Bryan.
"Amore aku mohon bangunlah!"
Lucian melesatkan mobilnya pergi menuju rumah sakit terdekat. Untuk masalah Antonio dan yang lainnya Bryan sudah memanggil beberapa anak buah Louise untuk membereskannya.
********
Bryan duduk di sebelah Ivanna memengangi tangan Ivanna yang kini terpasang jarum infus. Tangan Bryan bergetar hebat, tak lama kemudian datanglah Yoanna didampingi oleh Bennedict yang kini ikut mendekati Ivanna dan memegangi pundak Bryan.
"Ini semua salahku Madre, aku kehilangan mereka." Ucap Bryan terisak, bahu kokohnya bergetar.
-Flashback-
Bryan menggendong Ivanna dengan tangannya menyusuri lorong rumah sakit. Setelah itu datanglah beberapa perawat yang mendorong bed dan membantu membawa Ivanna kedalam EMERGENCY ROOM. Seorang dokter mencegat Bryan untuk mengatakan bahwa ia belum bisa menemani Ivanna.
Bryan terduduk di kursi untuk menunggu Ivanna. Detik demi detik, menit demi menit dan kini entah sudah berapa jam ia lalui namun belum ada tanda- tanda bahwa dokter tersebut akan keluar dari ruangan tersebut.
Ceklek,
Pintu terbuka. Menampilkan dokter dengan pakain hijau yang tampak penuh dengan darah. Bryan bangkit dan mendekati dokter itu.
“Apakah Anda suami dari pasien?" ucap dokter
itu.
"Benar. Jadi bagaimana keadaan anak dan juga istriku?"
Senyap, dokter itu menggeleng sambil menepuk
pelan bahu Bryan.
"Maaf tuan, dua diantara tiga janinnya tidak bisa kami selamatkan. Kami sudah berusaha mengupayakannya tapi ternyata janin itu meninggal ketika dalam perjalanan kemari. Untungnya salah satu diantaranya berhasil selamat. Namun entah karna efek dari obat keras yang dikonsumsi istri Anda membuat detak jantung janin itu tidak stabil. Maaf, kami sudah berusaha semaksimal kami." Ucapan itu layaknya petir yang menyambar bagi Bryan. Kini ia kehilangan dua calon anak yang masih berusia empat bulan lebih itu. Bryan bersimpuh.
"ARGHHH!" Teriakannya menggema di seluruh
ruang tunggu.
-Flashback off-
Kini sudah lebih dari lima hari Ivanna dirawat di ruang VVIP rumah sakit itu. Setiap hari Bryan menemani Ivanna demi mengucapkan kata maaf dan bahkan mengajaknya berbicara. Dokter sempat mengatakan kepadanya bahwa efek trauma dan syok yang diterima Ivanna mungkin akan sedikit membuat Ivanna menolak untuk bangun.
Sejak saat itu, Bryan mulai mengkonsumsi obat penenang. Ia begitu merasa terpukul dan juga bersalah karna kelalaiannya membuat ia dan Ivanna akhirnya harus kehilangan anak mereka.
"Amore?"
Bryan memanggil Ivanna ketika ia merasakan tangan Ivanna mulai menunjukkan gerakannya. Ia menekan tombol yang berada di atas ranjang dan kembali menggenggam tangan Ivanna.
"Aku mohon sadarlah."
Tak lama kemudian datanglah dokter dan juga perawat untuk memeriksa Ivanna. Setelah melakukan pemeriksaan, senyuman terbit di wajah dokter itu.
"Selamat tuan. Istri Anda sudah berhasil untuk melewati masa kritis. Ia akan segera sadar." Ucap dokter itu lalu berpamitan untuk pergi dari ruangan itu.
Bryan tersenyum mendengar penuturan dokter itu, namun disatu sisi ia bingung. Ia takut untuk menceritakan apa yang terjadi selama Ivanna dalam masa kritis.
Ia tak mau kehilangan Ivanna.