Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 49



"Hoekk! Hoekkk!"


Pagi itu tampak keributan di dalam kamar Bryan. Ivanna sedang menggosok pelan tengkuk Bryan yang kini sedang berjongkok di depan toilet kamar mandi. Bryan mengeluarkan seluruh isi perutnya didalam toilet.


"Hey mari pergi ke rumah sakit. Kau tampak pucat sekali. Pasti gara-gara beberapa hari ini kau bekerja tanpa tahu istirahat." Ucap Ivanna, Bryan menggeleng dengan perasaan yang lemas. Tampak banyak keringat yang bercucuran di dahinya.


Ivanna membantu Bryan membawanya kembali ke atas ranjang, Ivanna duduk di ranjang di samping Bryan yang sedang berbaring.


"Apa yang kau rasakan sekarang? Aku akan memanggil dokter Chester." Ivanna bangkit dari ranjang itu, belum sempat ia melangkah Bryan memegang tangannya.


"Aku tak apa-apa amore, tetaplah bersamaku.' Ivanna melepas pelan pegangan tangannya, Ivanna menangkupkan tangan Bryan dan mengelus pelan punggung tangan pria itu. Ivanna tersenyum.


"Tenanglah. Justru aku akan khawatir kalau kau seperti itu. Tunggu sebentar okay?" Mau tak mau Bryan mengiyakan ucapan Ivanna. Gadis itu berjalan menuju lantai satu untuk menemui Lucian. Tampak Lucian sedang bergurau bersama beberapa maid di pinggir kolam renang.


"Lucian?" Panggilan Ivanna membuat para maid yang sebelumnya berkumpul pun terkejut dan meneruskan pekerjaan mereka. Lucian yang menatap manik khawatir pada wajah Ivanna pun mendekatinya.


"Ada yang bisa saya Nona?"


"Bisakah kau memanggil dokter Chester? Bryan-" belum sempat Ivanna meneruskan kalimatnya, dengan cepat Lucian berlari sambil memainkan ponselnya, Ivanna hanya bisa melongo melihat keabsurdan kaki tangan Bryan tersebut.


Hampir satu jam Ivanna menunggui Bryan yang bolak balik menuju kamar mandi, berusaha mengeluarkan isi dalam perutnya hingga tampak wajahnya memerah karna kehabisan tenaga.


Brak!


Chester berlari mendekati Bryan yang sudah tampak kelelahan, ia mengambil stetoskop dan juga sebuah infus dan juga jarum.


"Semuanya tampak normal. Tak ada racun atau benda asing yang berada di dalam tubuhmu." Ucap Chester menenangkan Ivanna yang tampak mengigiti kuku jarinya.


"Lalu sebenarnya ada apa dengannya? Astaga!" Ivanna menimpali ucapan Chester sambil menatap kearah Bryan yang tampak memejamkan matanya dengan lengannya yang menutupi matanya. Ivanna mendesah pelan.


"Tenanglah, Bryan hanya mengalami Syndrom Couvade." Ucapan Chester membuat Bryan yang semula hendak tertidur kini memindahkan lengannya dari wajah. Begitupun Ivanna yang sepertinya sangat ingin tahu jawabannya. Chester terkekeh.


'Astaga betapa polosnya wajah-wajah itu, gemas sekali mereka. Batin Chester menatap keduanya. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya pelan dan akhirnya ia mulai menjelaskan apa yang diderita oleh Bryan kepada keduanya.


"Hmm secara garis besarnya, Syndrome Couvade hanya diderita oleh sang calon ayah. Mereka yang mengalaminya akan merasakan morning sickness bahkan ngidam seperti yang biasanya di alami oleh calon ibu. Tidak ada hal yang perlu di khawatirkan." Ia melirik Bryan yang sepertinya mulai mengerti.


"Ivanna? Bolehkah aku meminta waktu sebentar. Aku ingin berbicara empat mata dengan Bryan." Ivanna mengangguk dan berjalan keluar meninggalkan kamar Bryan. Bryan mendesah pelan,


"Kau bisa menceritakan ini kepada la Zia. Atau jangan bilang kau belum memberitahunya?" Bryan menggeleng.


"Argh aku tak bisa bayangkan bagaimana bila madre mendengar berita kehamilan Ivanna, bukan karena madre akan membenci Ivanna. Madre begitu menyukai Ivanna. Namun aku takut bila madre mengetahui bahwa aku memperkosa Ivanna." Chester menepuk pelan wajahnya.


"Aku cuma bisa mendoakanmu, aku pasti akan menyiapkan peti yang terbaik untukmu." Bryan meninju bahu Chester dengan mata yang melotot.


"Apa maksutmu?"


"Kau tahu bukan? La Zia begitu menyukai Ivanna, setelah mengetahui kebejatan anak laki – lakinya ia - pasti akan menceritakannya kepada Padre-mu. Dan kau pasti akan di kubur hidup - hidup!" Bryan mengacak rambutnya dan mendengus kasar. Tak lama kemudian pintu terbuka dengan kencang. Bryan dan Chester saling menatap kemudian meneguk air liurnya bersama-sama.


"BRYAN? Apa yang kau katakan tadi benar?"


Yoanna mendekati Bryan dan memukuli punggung anaknya, Bryan berteriak kesakitan.


"M-madre? Berhenti arghh!" Bryan berteriak kesakitan, tampak Chester hanya menatap keduanya secara bergantian lalu mengigit bibir bawahnya.


"La Zia hentikan, Bryan sedang sakit!" Chester berteriak membantu menyadarkan Yoanna untuk berhenti memukulinya.


"Bryan bagaimana bisa kau berkelakuan seperti binatang bejat huh? Kamu memperkosa Ivanna? Dia masih kecil! Sekarang terima pukulan dariku!" Yoanna begitu marah besar kepada Bryan. Ia tidak menyangka anak laki-laki yang begitu terobsesi dengan seorang wanita akhirnya akan tega merusak wanita itu.


Dengan keadaan yang seperti itu mau tak mau Chester berlari meninggalkan Bryan dan memilih keluar dari kamar itu. Ia melirik ke lantai bawah. Ia berteriak memanggil mama Ivanna yang tampak sedang berbincang dengan seorang maid di lantai satu.


"IVANNA!"


Ivanna menoleh keatas, ia menatap heran kepada Chester yang berteriak dari sana. Ia melihat Chester tampak memberikan isyarat untuk Ivanna agar segera naik ke atas. Ivanna mengangguk lalu berpamitan kepada Irish.


"Sepertinya mereka membutuhkanku, aku akan keatas." Irish mengangguk,


Ting!


Pintu lift terbuka, samar - samar Ivanna dapat mendengar teriakan kesakitan Bryan dan juga suara perempuan yang tampak sedang marah-marah. Ivanna berlari hingga akhirnya ia melihat Yoanna sedang memukuli Bryan.


"Oh god akhirnya Ivanna."


Suara Chester membuan Yoanna menghentikan pukulannya, ia menoleh ke belakang dengan mata yang sembab. Lalu setelah melihat sosok Ivanna, Yoanna berhamburan ke pelukan gadis itu.


"Sayang, maafkan aku yang tidak bisa mendidik putraku dengan baik."


Ivanna mencoba menepuk - nepuk pelan punggung wanita itu. Ia berusaha menenangkan Yoanna yang merasa gagal membesarkan anaknya dengan baik.


"Sebenarnya itu semua bukan kesalahan Bryan." Ucap Ivanna yang membuat ketiganya tampak membeku, mereka semua memandangi Ivanna.


"Saat itu aku mengantar Bryan kedalam kamar karna melihat ia tampak kesakitan. Ah bukan, tiba- tiba wajahnya memerah seperti sedang menahan sakit. Aku memegangi keningnya, aku pikir dia demam."


"Obat perangsang-" gumam Chester yang masih didengar oleh Ivanna dan juga yang lainnya.


"Apa maksutmu dok?"


"Gejala Bryan yang kau jelaskan padaku itu, menandakan dirinya telah meminum atau memakan sesuatu dengan obat perangsang di dalamnya."


"Seseorang telah menjebak Bryan?" Tanya Ivanna,


Chester mengangguk.


"Benar sekali!"


"Tapi siapa?" Tanya Ivanna lagi yang membuat Bryan lebih memilih menyumpalkan bibir Ivanna dengan bibirnya, Ivanna mengigit bibir Bryan dan menendang tulang kering pria itu.


"Shhhhh sakit!" Ucap Bryan yang di balas Ivanna dengan menjulurkan lidahnya. Bryan memegang tangan Ivanna dan membawanya mendekati Yoanna. Yoanna dengan perasaan sedih ia mengelap air matanya.


"Madre, Izinkan aku dan Ivanna menikah! Dan sebenarnya, saat ini Ivanna sedang mengandung anak kami!" ucapan Bryan membuat kedua wanita yang disayanginya melotot. Tampak Yoanna mengambil nafas banyak lalu menghembuskannya pelan, melakukannya berulang kali hingga ia benar-benar tenang.


"Astaga. Madre sudah menduganya, baiklah madre akan merestui hubungan kalian. Tapi masalah ini kamu juga harus bercerita dengan Padre Bry." Bryan mengeratkan genggaman tangannya, tampak menyadarinya pun melirik Bryan. Ivanna


"Dan Ivanna, madre benar-benar meminta maaf atas apa yang dilakukan Bryan padamu." Ucap Yoanna sambil mengenggam kedua tangan Ivanna, ia pun menangis haru karna Yoanna memaafkannya dan tidak membencinya. Yoanna mencium kedua pipi Ivanna.


"Padahal madre berharap yang akan kamu nikahi nanti adalah adik Bryan." Yoanna melirik Bryan yang tampak tak terima ia berbicara seperti itu kepada Ivanna, biarlah kali ini Yoanna menggoda anak laki- lakinya itu.


"Madre!" Bryan melayangkan protesnya,


"Hahh tapi ternyata anak pertamaku yang menikahimu. Tapi tidak apa-apa, madre senang karna Ivanna yang akan menjadi menantu Benvolio." Ivanna tersenyum ketika Yoanna menangkup pipinya.


Untunglah, satu masalah sudah teratasi.


Dan kini, giliran Bryan dan Ivanna yang harus mendapatkan restu dari para Biarawati di panti asuhan dan juga kepada Tuan Besar Benvolio, Louise Benvolio.


Tampak Antonio sedang berdiri di sebuah pemakaman yang berada tak jauh dari markas besar Oregon. Ia menempatkan sebuah bucket bunga di sana memberi penghormatan terakhir yang layak untuk Samuel Edmondo, anak haramnya.


"Aku akan membalaskan kematianmu putraku. Aku berjanji bahwa aku dan tanganku sendiri yang akan menyeret Bryan kesini dan membuatnya mencium pusaramu!" Tangan Antonio mengepal sambil melayangkan sumpahnya. Angin sore hari bertiup sangat pelan. Entah mungkin karna bulan ini adalah musim gugur, pemandangan di sekitarnya terasa benar-benar terasa sunyi.


Srak srak srak


Bunyi daun–daun yang bergesek, serta beberapa ranting pohon yang tampak kering terinjak oleh sepatu Damian. Antonio melirik sekilas dengan mata yang tampak memerah karna kehilangan putranya.


Damian dengan memakai pakaian serba hitam membawa sebucket bunga dan menaruhnya di dekat batu nisan itu. Damian berdiri di samping Antonio.


"Aku turut berduka atas kematian Samuel yang begitu tragis." Antonio berdecih,


"Benar-benar tragis bukan? Tentu saja aku harus berterima kasih denganmu yang membuat putraku akhirnya mati ditangan Benvolio. Terima kasih!" Ucap Antonio sambil menepuk bahu Damian,


"Tenanglah, aku bersumpah! Aku sendiri yang akan membawanya ke sini dan menyuruhnya untuk bersujud di makam anakku! Bahkan semua itu tak cukup mengembalikan putraku! Dia harus benar- benar mati dengan cara yang sama seperti dilakukan pada Samuel! Camkan sumpahku ini!" ucap Antonio meninggalkan Damian yang kini berdiri di depan makam Samuel.