
Bryan berdiri di bawah shower.
Air menyirami badannya menghilangkan darah yang hampir mengering di tubuhnya. Setelah beberapa menit ia berdiri di sana ia merebahkan dirinya di dalam bath tub yang berisi air hangat.
"Oregon sialan!" Umpatnya.
Bryan menikmati acara berendamnya. Sesekali ia tampak sedang melamun memikirkan Ivanna, senyumnya mengembang.
"Tunggu sebentar lagi Ivanna, setelah semuanya selesai aku akan membawamu padaku seperti janjiku saat kecil dulu."
Bryan berdiri, melilitkan bathrobe nya dan berjalan keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam walk in closet. Pilihannya jatuh ke sebuah kemeja lengan pendek berwarna biru laut dan celana pendek selutut, setelahnya menemui Ben dan Lucian di ruang kerjanya.
Ceklek,
Seketika Ben dan Lucian yang sebelumnya berbicara mendadak diam ketika mereka tahu bahwa Bryan yang membuka pintu tersebut. Bryan melirik sekilas keduanya lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Lu! Bereskan kekacauan di basement, kau tahu kan harus melakukan apa padanya?" Lucian mengangguk, lalu meninggalkan mereka berdua dengan keadaan canggung. Bennedict bolak balik melirik kakaknya, namun seperti tertekan oleh aura menakutkan dari sang kakak, suara yang hendak keluar dari kerongkongannya mendadak seperti tertelan kembali masuk kedalam tubuhnya.
"Aku tahu apa yang kamu pikiran Ben. Karna sebentar lagi kebijakan baru BLACKWINGS akan segera di laksanakan sepertinya kau juga harus berubah!" Senyum smirk terbit dari wajah Bryan, Ben yang memang tak terlalu menyukai kelakuan keluarganya hanya bisa pasrah. Setidaknya ia tak harus membunuh orang.
"Aku tak mau mengotori tanganku untuk membunuh orang kak!"
Bryan bangkit dari duduknya, lalu bergegas pergi meninggalkan ruang kerjanya.
"Tidurlah, sudah waktunya anak kecil sepertimu tidur." Ucap Bryan meninggalkan Ben dengan wajah yang memerah karna kesal.
"Bunda?" Ucapan Ivanna membuat ketiga biarawati itu memghentikan kegiatannya, menatap Ivanna yang saling menautkan jari jarinya. Grace yang memang sangat dekat dengan Ivanna berinisiatif mendekati gadis tersebut.
"Ada apa sayang?"
"Bunda, Ivanna boleh izin buat ikut liburan sama Leon? C-cuma tiga hari kok bun, pumpung kerjaan Anna libur." Grace, Celine dan Irene saling berpandangan lalu mereka tersenyum.
"Tentu saja boleh dong sayang. Memangnya Anna mau liburan kemana?"
"Anna ingin pergi ke pantai bunda, Cuma Anna takut kalau Anna pergi berlibur bagaimana bunda mengurus adik adik?" Ivanna menautkan jari jarinya, selalu saja ia lebih memilih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Grace dan yang lainnya tampak kasihan kepada Ivanna. Harusnya di usianya ia bisa pergi kuliah, atau bahkan bermain bersama teman sebayanya. Mungkin, mengizinkan Ivanna untuk berlibur bisa membuat hatinya sedikit lega.
"Sudah, tidak apa apa sayang. Sejak dulu kan Anna selalu ingin pergi ke pantai, Bunda ikut senang kalau Anna akhirnya bisa pergi ke pantai."
"Biarkan rumah jadi urusan kita Anna, nanti selepas dari pantai bawakan bunda kerang ya." Ucap Irene menghibur Ivanna. Ivanna berhamburan lari ke pelukan mereka semua. Akhirnya ia bisa pergi ke pantai. Ia lari menuju kamarnya, disana ia mengirimi Leon pesan singkat.
Ting!!
Pesan masuk datang dari ponsel Leon, saat ini Leon sedang kencan dengan Maria.
"Yess! Akhirnya Anna bisa ikut ke pantai!" Seru Leon yang membuat Maria ikut kegirangan.
"Wahhh akhirnya, nanti kita bermalam di rumah aku ya? Suasana pantai A di malam hari indah banget loh!"
"Baiklah, kita berangkat sore ini ya?" Ucap Leon final sambil membalas Ivanna. pesan singkat untuk
Sore hari pukul 15.30 wib, Ivanna, Leon dan Maria menaiki sebuah bis tujuan pantai A. Mereka semua masing masing membawa tas ransel yang berisikan perlengkapan untuk menginap dan juga baju pantai. Perjalanan yang mereka tempuh untuk bisa sampai di pantai A memakan waktu selama 2 jam. Untuk membunuh waktu, Ivanna dan Maria lebih senang membahas tentang drama korea. Sedangkan Leon memilih untuk mengabadikan perjalanan mereka dengan ponselnya.
Akhirnya 2 jam berlalu, sinar matahari pun sudah hampir tenggelam. Mereka bertiga bergegas berjalan kaki kurang lebih 30 menit hingga akhirnya sampai di sebuah pemukiman asri khas pinggir pantai. Maria memimpin Ivanna dan Leon, mengetuk sebuah pintu rumah yang berada paling ujung dari jalanan tersebut.
Krekk
Pintu terbuka, seorang wanita cantik yang berperawan tinggi dan mungkin seumuran Grace membuka pintu tersebut.
"Halo bibi, perkenalkan mereka teman Maria!" Wanita tersebut menoleh menatap Leon dan Ivanna. Ivanna mengulurkan tangannya menyalami wanita yang ternyata adalah bibi Maria.
"Halo bibi, nama saya Ivanna dan ini Leon!"
"Astaga kamu cantik sekali nak,
"Astaga kamu cantik sekali nak, mari masuk! Untung saja tadi ibu Maria sudah bilang ke bibi kalau kalian mau main ke sini. Oh iya panggil bibi Keke saja ya biar gampang." Bibi Keke mempersilahkan mereka masuk.
Rumahnya terkesan kecil jika terlihat dari luar, namun ketika mereka masuk ruangan itu terlihat luas karna perabotannya yang tertata rapi bertema minimalis. Bibi Keke membawa nampan berisi teh hangat lengkap dengan cemilannya yaitu beberapa kue kue kering.
"Silahkan diminum teh nya pumpung masih hangat. Udara malam ini sepertinya akan dingin sekali."
"Terima kasih bi!" Ucap mereka bersama sama.
Malam ini Ivanna akan tidur dengan Maria, sedangkan Leon akan tidur di ruang tamu bersamaan dengan sepupu Maria. Namun sampai jam menunjukkan pukul 9 malam, sepupunya tak kunjung pulang.
"Aku tidur duluan ya sama Anna ya? Tenang saja pasti Dominic segera pulang. Kamu bisa nonton tv sambil tiduran." Ucap Maria pada Leon yang dibalas dengan anggukan kepala Leon. Maria menatap kiri dan kanan lalu dengan cepat mencuri sebuah ciuman pada pipi kiri Leon, setelah itu meninggalkan Leon dengan wajah yang memerah.
Ceklek.
Maria masuk kamar dengan wajah yang memerah karena malu, berkali kali ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ivanna yang saat itu belum tidur hanya bisa menatap heran kepada kekasih dari sahabatnya itu.
"Kamu kenapa? Kok muka mu memerah?" Goda Ivanna di tanggapi dengan pukulan kecil pada bahunya. Sontak saja Ivanna mengaduh.
"Eh Anna, bagaimana tipe pria yang kamu suka?" Tanya Maria pada Ivanna.
"A-apa sih pertanyaanmu. Kok tumben tanya itu?"
"Iyalah. Kan kita sekarang sahabatan hehehe." Ivanna tampak memikiran seseorang ketika ia hendak menjawab pertanyaan Maria.
"Entahlah. Kira kira dia harus baik, tinggi. Dan juga dia mau menerima masa kecilku yang tak punya orang tua dan hidup di panti asuhan." Ucapan Ivanna terkesan biasa saja, namun jauh didalam lubuk hatinya Ivanna adalah gadis yang malang. Maria merasa bersalah ketika mendengar jawaban dari Ivanna.
"Gak papa Anna, percayalah suatu hari kamu akan di cintai oleh pria yang tentu saja pria itu akan menyayangimu dengan tulus." Ivanna tersenyum mendengar ucapan dari Maria. Akhirnya mereka tertidur setelah beberapa menit mereka habiskan untuk saling berbicara empat mata.
Ting!!
Sebuah pesan masuk dari ponsel Bryan. Ia yang sedang fokus pada layar komputernya terpaksa melirik sekilas pesan itu. Sebuah pesan singkat dari Pete,
"Tuan! Nona Ivanna sedang berlibur ke pantai A bersama teman temannya'
Ting!
Sebuah pesan dari pengirim yang sama kembali berbunyi pada ponselnya.
"Mereka menginap di sebuah rumah milik saudara dari sahabat perempuannya!"
Senyum smirk mengembang di wajahnya. Bryan berdiri lalu memakai kembali jas hitam miliknya.
Senyum smirk mengembang di wajahnya. Bryan berdiri lalu memakai kembali jas hitam miliknya. Jangan lupa dengan cerutu dan sebuah senjata api yang selalu ia bawa kemana mana. Bryan melirik Lucian yang sedang mengerjakan tugas di mejanya.
"Lu! Pesankan sebuah kamar hotel di dekat pantai A. Aku akan pergi ke sana menemui Ivanna!" Lucian menghidupkan ponselnya dan membooking seluruh lantai kamar VIP di hotel Nirwana di dekat pantai A demi kenyamanan dan keamanan Bryan. Lalu berjalan menuju mobil yang berada di garasi dan mengendarai mobil berwarna putih tersebut menuju hotel Nirwana.
"Sampai bertemu kembali, Ivanna! Non vedo l'ora di conoscerti." (Aku tak sabar untuk bertemu denganmu)