Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 39



Bryan dan Ivanna sama – sama berlari di pantai, Ivanna yang menggoda Bryan dengan terus melempari air membuat Bryan lebih sering berhenti untuk sekedar mengusap wajahnya yang basah. Tak lama kemudian Ivanna tampak terengah - engah dan membuat Brya memeluk Ivanna dari belakang.


"Bukankah itu menyenangkan amore?" Bryan membisikan kata-kata itu ditelinga Ivanna, mau tak mau Ivanna mengangguk karna ia pun mengakui bahwa saat ini ia sangat senang. Bryan memutar tubuh Ivanna hingga mereka saling berhadapan. Ivanna dengan gaun hitamnya yang tampak sedikit basah, rambut yang berantakan serta nafas yang terengah - engah membuat kesannya sangat terlihat menggoda. Bryan menjilat bibirnya sendiri,


"**** Ivanna, I want to eat you now!" Bryan berbisik parau, ia menggendong tubuh Ivanna dan membawanya menuju ke sebuah rumah kosong tersebut. Bryan mendobrak pintu tersebut. Didalam rumah itu ada sebuah sofa yang tampak kelihatan bersih, serta beberapa tumpukan kotak kardus yang berserakan. Bryan menidurkan Ivanna di sofa itu, ia menciumi Ivanna dengan buas sembari tangan - tangannya bergerak nakal menari di atas gaun Ivanna, ia berusaha membuka pakaian itu.


"Nghh shhh!" Ivanna mendesah pelan tak kala tangan Bryan berhasil memegang bukit kembarnya, wajah Ivanna tampak memerah karena suasana yang tiba-tiba mulai memanas.


"**** Ivanna, I love you so much!" Bryan mulai merangkak naik keatas tubuh Ivanna, namun Ivanna menahan dada Bryan dengan tangan kecilnya. Ia menggeleng


"Really amore? Kau menghentikanku saat ini?" Ivanna mengangguk, bibirnya bergetar.


"Aku mohon, jangan." Bryan mendesah kasar, ia berjalan menuju pintu keluar. Namun sebelum sempat ia keluar, Bryan nampak berdiri diantara pintu itu.


"Pakai kembali pakaianmu, kita kembali!" ucap Bryan lalu menutup kasar pintu kayu itu. Ivanna tersentak karna suara pintu yang ditutup sangat kasar.


Ivanna menyentuh bibirnya, ada yang berbeda dengan ciuman Bryan dan seketika badannya luruh kebawah. Ivanna merasakan jantungnya berdetak kencang.


“Ahh, apa yang terjadi denganku?" Gumam Ivanna.


Diluar rumah itu Bryan meninju penyangga rumah tersebut.


"****! Padahal ia begitu menikmati ciumannya!" Nafasnya naik turun, Bryan menatap mobilnya. Ia kembali memakai pakaiannya dan naik kedalam kursi kemudinya. Ia memijit pelan pangkal hidungnya, matanya melirik keluar ketika melihat Ivanna nampak berjalan mendekati mobilnya.


Brak!


Ivanna menutup pintu mobilnya, tak lupa ia memakai sendiri seatbeltnya. Bryan mengemudikan mobilnya menjauh dari area pantai, keheningan membuat semuanya tampak canggung. Ivanna bahkan tak mampu melirik kearah pria itu.


Waktu berjalan terasa lambat bagi Bryan, berkali -kali ia melirik kearah Ivanna yang saat ini sedang menoleh kearah luar jendela. Ia mendesah pelan.


Mobil yang ditumpangi keduanya masuk kedalam area mansion. Bryan menghentikan mobilnya dan menatap kearah Ivanna, gadis itu rupanya tertidur. Bryan menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Ivanna. Senyumnya mengembang menatap gadis itu tampak nyenyak dalam tidurnya.


"Masih ada waktu untukmu Amore, pikirkan dan segeralah menerimaku!" gumam Bryan.


Bryan turun dari mobilnya, berjalan memutari mobilnya dan membuka pintu di sebelah Ivanna. Bryan menggendong tubuh Ivanna ala bridal style dan membawanya masuk kedalam mansion.


Tap, tap, tap,


Langkah kaki Bryan menggema di seluruh mansion, tampak beberapa maid mendekatinya,


"Bawa kembali barang-barang Ivanna yang berada di dalam mobil, dan bawa kedalam kamarnya.” ucap Bryan kepada kedua maidnya, lalu melangkahkan kaki menuju pintu lift.


"Bukankah Ivanna begitu beruntung bisa mendapatkan hati tuan Bryan?" Bisik salah satu maid yang masih bisa didengar Bryan, ia reflek menghentikan langkahnya dan memilih menguling pembicaraan maidnya.


"Benar! Ahh betapa beruntungnya Ivanna, tuan Bryan sangat perhatian dan begitu terlihat menyayangi Ivanna. Aku sangat iri dengan Ivanna." Balas maid yang lainnya, senyum bangga tersungging di wajahnya.


Ting!


Pintu lift terbuka dan Bryan masuk kedalamnya, tak lupa ia kembali menekan tombol menuju lantai atas. Ketika pintu tertutup Bryan memfokuskan tatapannya pada Ivanna yang berada di gendongannya.


"Kau dengar amore? Kau harusnya beruntung bisa mendapatkanku, di luar sana banyak wanita yang iri akan posisimu." Ucap Bryan pada Ivanna, kemudian ia terkekeh.


"Hahh rasa - rasanya aku mulai gila karenamu Ivanna."


Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Bryan berjalan mendekati kamar Ivanna. Bryan membuka pintu kamar Ivanna, dan mendekati ranjang queensize milik Ivanna. Ia menidurkan gadisnya itu dengan nyaman. Bryan menutup badan Ivanna dengan selimut, kemudian mencium sekilas pucuk kepala Ivanna. Tak lupa ia membisikkan kata – kata manis untuk gadisnya,


"Sweet dreams amore, aku masih menunggumu untuk segera jatuh kedalam pelukanku.”


"****! Ada apa dengan jantungku? Sepertinya aku harus berhenti menghisap cerutu." Ucap Bryan dan pergi dari tempatnya berada.


Bryan berada di dalam kamarnya sedang mengeringkan rambutnya ketika mendengar seseorang tengah mengetuk pintu kamarnya.


Ceklek!


Pintu terbuka, menampilkan Lucian dengan suit serba hitamnya. Ia berjalan mendekati tuannya.


"Tuan, kita harus segera berangkat ke italia." Bryan menghentikan aktifitasnya dan menatap Lucian lekat - lekat, ia menarik sebelah alisnya.


"What's wrong Lu?” Lucian tampak menarik nafasnya dalam – dalam,


"Gudang 'hemp' milik kita terbakar, Tuan muda Bennedict dan yang lainnya tampak kewalahan memindahkan isi gudang yang selamat. Diduga ada beberapa orang yang masuk kedalam gudang dan membakarnya. Karna pekerja yang lain tak menemukan konsleting pada arus listrinya." Bryan mengangguk paham, namun kemudian ia terdiam. Ia memikirkan bagaimana dengan Ivanna jika ia dan juga Lucian terpaksa meninggalkan mansion?


"Baiklah kita berangkat malam ini. Siapkan beberapa bodyguard untuk menjaga wilayah Mansion, aku merasa ini ada hubungannya dengan Oregon dan Samuel." Lucian mengangguk, ia berlalu meninggalkan Bryan yang kini sedang berganti pakaian dan mempersiapkan keperluannya. Bryan berjalan keluar dari kamarnya, ia berhenti ketika melewati kamar Ivanna. Bryan menundukkan kepalanya di pintu kamar Ivanna.


"Aku akan memastikan kau aman Amore." Bisik Bryan lirih, lalu setelah itu ia pergi menuju lift. Dan pergi bersama Lucian dengan mobilnya menuju bandara tempat helikopternya berada.


"Nghhhh!"


Ivanna meregangkan badannya diatas kasur, matanya mengerjapkan berkali-kali beradaptasi dengan lampu redup di atas nakasnya. Setelah itu ia melirik jam pada layar ponselnya.


"Astaga, masih jam 12 malam." Ivanna terkejut dan duduk di ujung kasur. Pandangannya menelisik kearah pakaiannya. Ia ingat bahwa sebelum tidur ia masih berada didalam mobil bersama Bryan dengan pakaian yang setengah basah. Ia menepuk keningnya,


"Ugh sepertinya aku terlalu mengantuk hingga tak sadar bahwa seseorang mengganti pakaian-ku? A-apa?" Ivanna nampak terkejut, ia menoleh ke kiri dan kanan ranjangnya.


"Semoga bukan pria itu yang mengganti pakaianku!" Ucap Ivanna sambil tampak bergidik ngeri,


Ting!


Sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi, Ivanna menatap layar yang memperlihatkan lambang love sebagai nama pengirimnya.


"Aku tahu kau sudah bangun amore, kau belum makan sejak tadi? Kau bisa memasak sesuatu di dapurku. Kau bebas menggunakan bahan-bahan yang berada di dalam kulkas. All yours!"


Senyum tersungging di bibirnya,


"Tumben pria itu mengirimiku pesan singkat? Apakah ia tak ada dirumahnya?" Gumam Ivanna, ia berinisiatif untuk mengendap-endap menuju kamar Bryan. Suasana mansion ketika malam terasa sangat menakutkan, tak lama ia berjalan akhirnya ia sampai di depan pintu kamar Bryan.


Ceklek,


Ivanna membuka kamar itu, tampak kamar itu sangat rapi dan tertata. Ivanna mendekati kasurnya dan meraba bedcovernya.


"Dingin, itu artinya dia tak ada disini! Yes!" Bisik Ivanna, tak lama kemudian sebuah pesan singkat muncul di ponselnya. Alisnya berkerut ketika membaca pesan itu.


Merindukanku huh? Aku sedang melakukan perjalanan menuju bandara. Aku akan kembali ke Italia, tetaplah disana dan jangan pernah berani melangkahkan selangkah kakimu keluar mansion. Aku memperingatimu!' Ivanna menatap sekelilingnya sambil mengusap lengannya.


"Astaga pria itu benar-benar mengerikan, dan jangan bilang dia juga mengawasiku di dalam toilet?" Ivanna meninggalkan kamar Bryan dan turun ke lantai satu, Ivanna berjalan menuju dapur.


Didalam dapur ia membuka kulkas dan mengambil setoples kue coklat serta susu untuk dibawa kedalam kamarnya. Ia tersenyum smirk menatap toples kue coklat di pelukannya,


"Aku akan membuatmu bangkrut dengan menghabiskan persediaan makananmu Bryan bodoh!" Ivanna tertawa lalu membawa makanan dan minumannnya naik menuju kamarnya.


Didalam mobil Bryan tengah tersenyum menatap layar laptopnya yang menampilkan CCTV berbagai sudut di dalam mansionnya. Sesekali ia juga tertawa terbahak-bahak. Lucian yang sedang mengemudi hanya bisa mendesah pelan sambil sesekali melirik Bryan dari kaca depan mobil itu.