
Bryan mengemudikan mobilnya mengikuti rute yang di berikan oleh Ivanna. Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sampai juga di rumah duka, kediaman keluarga Maria. Ivanna segera turun dari mobil itu dan berlari menunju kearah Leon yang sedang terduduk di sebuah kursi. Bryan mengikuti Ivanna dari belakang setelah memarkirkan mobilnya.
"Leon?"
Leon yang saat itu sedang menunduk refleks mengangkat wajahnya yang tampak sembab dan mengusap air matanya..
"An-na?" Ivanna mendekati Leon, dan berusaha
memeluk sahabatnya itu.
"It's okay Le, semuanya akan baik-baik saja!" Ivanna memeluk Leon, mengusap pelan punggung sahabatnya itu. Ivanna merasa bahunya basah karna Leon menangis.
"D-dia masih bersamaku saat itu, dia meminta pulang. Kemudian aku mengiriminya beberapa pesan singkat dan juga menelponnya. Namun Maria tak mengangkat panggilanku. Aku resah Anna, besok paginya salah satu saudara iparku yang bekerja sebagai polisi menelfonku. Ia mengatakan bahwa mobil Maria terbakar dan mereka menduga bahwa Maria tewas terpanggang. Aku salah Anna, aku salah karna tak mengantarnya pulang waktu itu hiks!" Leon terus menangis, Ivanna yang begitu mudah tersentuh pun ikut menangis.
"Hey itu bukan salahmu Leon, apa yang terjadi memang sudah takdirnya." Ivanna menepuk pelan punggung Leon, kemudian Leon melepas pelukannya. Ivanna tampak prihatin dengan sahabatnya, jadi ia menggenggam tangan Leon.
"Kita doakan yang terbaik untuk Maria, okay?" Leon mengangguk. Tak lama kemudian Bryan datang mendekati mereka. Menyaksikan Ivanna dan Leon saling berpegangan tangan membuat darahnya mendidih. Bryan menarik Ivanna.
"Hey kau keterlaluan!" Tukas Ivanna kepada Bryan, sementara Bryan menatap keduanya dengan tatapan remeh.
"Aku hanya menghibur sahabatku, kau sungguh keterlaluan dan egois!" Ivanna menunjuk - nujuk dada Bryan dengan telunjuknya, sementara Leon menarik Ivanna.
"Sudahlah Anna, lebih baik kau segera temui orang tua Maria dan segeralah pergi dari sini. Sepertinya anjingmu sangat galak kali ini." Sarkas Leon sambil menatap sinis kearah Bryan, lelaki itu mengepalkan tangannya erat – erat.
"Watch your mouth! Siapa yang kau sebut anjing huh?" Bryan mendekati Leon, ia menarik kerah kemeja Leon. Atmosphere diantara mereka sangat buruk, Ivanna lekas menarik Bryan dan meminta maaf kepada Leon.
"Baiklah aku akan menemui orang tua Maria terlebih dahulu dan maafkan aku atas kelakuannya Leon!" Ivanna menarik Bryan menuju kedalam rumah. Didalam sana banyak sanak saudara dan juga sahabat Maria yang berdiri di depan foto dan juga sebuah kendi yang berisikan abu Maria. Nampak seorang wanita paruh baya tengah menangis dan dipeluk oleh pria yang mungkin adalah Ayah dari Maria.
"Maria anakku huhuhu!" Wanita paruh baya itu memegangi tisu, Ivanna dan Bryan mendekati mereka berdua.
"Tante, Om. Saya sahabat Leon dan juga Maria. Saya ucapkan turut berbelasungkawa atas apa yang terjadi dengan Maria." Mereka berdua menatap kearah Ivanna dan Bryan. Wanita paruh baya itu tampak mengelap air matanya dan memeluk Ivanna.
"Terima kasih ya, tante minta jika ada kesalahan Maria tolong dimaafkan ya!" Ivanna mengangguk sambil mengusap pelan punggung wanita itu. Setelahnya mereka berdua menuju tempat parkiran mobil. Ivanna dan Bryan masuk kedalam mobil itu dan saling berdiam didalam mobil.
"Huftt!" Ivanna menyenderkan punggungnya, dan mendesah pelan. Bryan melirik Ivanna dari balik kemudinya. Ia menegang paha Ivanna dan meremasnya. Ivanna melirik tajam kearah Bryan yang menatapnya dengan tatapan mesum.
"Apa yang kau lakukan?" Ivanna menepis tangan Bryan dari pahanya, kemudian ia mengipasi wajahnya dengan tangan. Bryan yang melihat itu menghidupkan wajahnya dengan tangan.
"Kau tahu, aku menyukai aromamu. Rasanya aku ingin segera menidurimu lagi!" Ucap Bryan yang dibalas tatapan tajam Ivanna. Matanya melirik seakan mempertanyakan apa yang terjadi dengan pria gila disampingnya ini.
“Kau menjijikan, aku merasa aku ingin mual mendengar semua ucapanmu." Ivanna menoleh kesembarang arah, kini Bryan menatap kearah Ivanna.
"Kau mual? Apa mungkin kau sedang hamil anakku?" ucapan Bryan membuat Ivanna menolehkan kembali wajahnya, mereka kini saling bertatapan.
"Aku? Hamil anakmu? Jangan pernah bermimpi. Aku tidak akan perhan hamil anakmu, bahkan bila aku ternyata hamil anakmu aku akan mengugurkan anak itu. Ingat baik-baik!" ucap Ivanna sambil menunjuk kepalanya sendiri. Bryan memukul setir mobilnya hingga membunyikan klakson miliknya dan mengejutkan beberapa kerumunan orang yang berada tak jauh dari parkiran.
"HEY, AKU AKAN MEMASTIKAN KAU BENAR- BENAR HAMIL ANAKKU. AKU AKAN MENGIKATMU IVANNA!" Bryan mencengkram roda kemudi mobil dengan sebelah tangannya. Sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk mencengkram pergelangan tangan Ivanna. Bryan mengunci pintu mobilnya, menghidupkan mobil dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Ivanna begitu ketakutan melihat Bryan mengemudikan mobilnya dengan ugal – ugalan.
“Apa yang kau lakukan? Hentikan mobilnya atau kita akan benar-benar mati!" Ivanna meronta dan berteriak, ia berusaha melepaskan sebelah tangannya yang dicengkram oleh Bryan.
"Aku rela mati saat ini Ivanna, asalkan kita mati berdua hahahaha!"
"Kau mengerikan! Lepaskan aku!" Ivanna memukuli Bryan dengan tasnya,
"Teruslah meronta Ivanna, aku akan memastikan kita berdua benar-benar mati kalau kau terus berusaha melepaskan diri dariku!" Ucapan Bryan membuat Ivanna menghentikan pukulannya, Ia duduk dengan tenang menatap keluar jendela dengan satu tangan yang masih dicengkeram Bryan. Ivanna merasakan hawa aneh dari dalam mobil ini, yang ia yakin mereka tak sedang berada di dekat Mansion. Walaupun posisi Mansion yang berada di tengah hutan. Ivanna merasa mereka bukan di hutan sekitaran Mansion.
"Tentu saja, melakukan apa saja untuk mengikatmu amore!"
Bryan menghentikan mobilnya, Ivanna melirik ke kanan dan kekiri yang sialnya adalah hutan. Bryan terdiam, jari-jarinya mengetuk ketuk roda kemudi.
Deg deg deg
Jantung Ivanna berdetak kencang. Ia melirik Bryan yang terdiam sambil menatapnya datar. Ivanna meneguk air liurnya. Ivanna bertambah panik ketika Bryan mulai melepas sabuk pengamannya dan bergerak mendekatinya.
"K-kau mau a-apa?" Ivanna meronta hingga tak sadar ia menekan tombol disamping kursinya yang membuat posisinya kini setengah berbaring. Bryan tersenyum,
"Kau tahu bukan, apa yang akan aku lakukan setelah ini?" Bryan membelai pelan rambut Ivanna, ia mengendus pucuk rambut itu.
"My precious bunny."
"Amore mio"
Bryan menggumamkan kata-kata panggilan yang selalu ia ucapkan untuk Ivanna, matanya menatap tajam kearah Ivanna yang nampak menatap dengan wajah sayunya. Bryan menelan air liurnya saat menatap bibir Ivanna yang penuh, dan juga leher jenjang putih itu.
Bryan menciumi Ivanna dengan beringas, tak jarang ia pun mengigit bibir itu agar Ivanna membuka bibirnya dan mempermudah Bryan dalam mengeksplor bagian dalam mulut Ivanna.
"Shhh!"
"Louder babygirl, let me hear you!" ucap Bryan sambil terus mengigiti bibir gadis itu.
Ivanna mendesah ketika ujung bibirnya digigit Bryan, jangan lupa kedua tangannya yang memukul -- mukul dada Bryan karna ciuman dari lelaki itu membuat pasokan oksigennya menipis. Bryan melepaskan ciumannya dan memegang kedua tangan Ivanna. Dengan mata yang berkaca-kaca Ivanna menarik nafas dalam - dalam.
"K-kau gila! Dasar psikopat gila, maniak! Lepaskan aku bajingan!" Ivanna mengumpati Bryan, sedangkan pria itu tampak terkekeh.
"Ya Ivanna, teruslah memakiku. Aku akan menganggap itu semua adalah pujian." Senyum smirknya mengembang. Ivanna menekuk kedua kakinya di depan dada menutupi badannya.
"Lepaskan aku! Binatang!"
Bryan terkekeh. Ia melepaskan cekalan tangannya dan mengelus pelan kepala Ivanna.
"Aku takkan lagi menggodamu. Jadi turunkan duri - durimu landak kecil."
Bryan kembali duduk di kursinya, memasang seatbelt dan mengemudikan kembali mobilnya. Bryan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, tak lupa ia membuka jendela mobilnya dan membuat angin sejuk dari luar masuk kedalam mobil. Ivanna mengeluarkan tangannya keluar jendela. Ia menutup matanya menikmati hembusan angin.
Samar-samar Ivanna mencium aroma segar yang bercampur dengan garam, ia membuka matanya.
Pemandangan sebuah pantai yang tampak sepi karena hawa dingin dan juga tampak awan mendung menyelimutinya. Namun itu semua tak membuat keindahannya serta merta lenyap begitu saja. Bryan melirik Ivanna sambil tangannya terfokus pada kemudi mobilnya, senyumnya mengembang takkala melihat Ivanna tampak senang melihat pantai.
Beberapa menit kemudian mobil itu behenti di sebuah rumah kosong di tepi pantai. Ivanna yang tampak sangat tak sabar memilih keluar terlebih dahulu dan berlari menuju bibir pantai. Ivanna meninggalkan tas dan juga sepatunya di dalam mobil.
"Wahhhh!!" Ivanna menatap hamparan laut biru yang luas dengan pasir yang berwarna putih. Ivanna bermain dengan menyiprat - nyipratkan air dengan kakinya.
Bryan mendekati Ivanna dengan bertelanjang dada dengan memakai boxer berwarna hitam yang memperlihatkan bentuk badan dan pinggang yang tampak seksi. Ia tersenyum smirk ketika melihat Ivanna menatapnya.
"Kau menyukai tubuhku bukan, amore!" Ivanna tampak berdecih mendengar pertanyaan Bryan. Ivanna tak kehabisan ide, ia mengambil air pantai yang sejuk dengan kedua tangannya lalu menyiram air itu kepada Bryan.
"Rasakan ini maniak hahaha!" Ivanna berlari setelah menyiram Bryan dan menyebutnya maniak. Bryan tampak terkejut dan mengusap wajahnya yang kasar.
"Sungguh gadis yang kekanak-kanakan! ucap Bryan lalu memilih berlari mengepung Ivanna.