Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 27



"Mama, sedang apa mama disini" Suara Bryan membuat Yoanna mematung, ia membalikkan badannya melihat anak laki – lakinya tersebut.


"Mama mau berbicara dengamu." Bryan mengangkat sebelah alisnya, apa yang akan dibicarakan mamanya. Ia melirik foto yang tak asing di tangan mama nya. Saat ia menyadari foto tersebut ia matanya membola.


"M-mama berikan foto itu padaku" Yoanna memberikan foto itu kepada Bryan, lalu dengan cepat Bryan menyambar foto itu dan menyembunyikannya di bawah bantal.


"Sayang? Kamu tak melakukan hal 'mengerikan' yang ada di pikiran mama kan?" Bryan tampak gugup sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tak berani menatap mata mamanya yang tampak mengintimidasi.


"Jelaskan kepada mama, mama gak akan menyalahkan kamu." Suara Yoanna melemah. Ia tak pernah memarahi anaknya, ia begitu menyayangi kedua anaknya. Ya, dia adalah ibu peri bagi anak-anaknya. Bryan mendesah, ia menceritakan kepada mamanya tentang gadis yang ada di foto itu. Mamanya mengangguk paham setiap cerita yang di ceritakan oleh anaknya. Yoanna mengelus pelan pipi anaknya.


"Sayang, bukan seperti itu cara menyukai seseorang. Kamu harus bersikap lembut padanya, kamu mencintainya bukan?" Bryan mengangguk. Baru kali ini seseorang menjelaskan kepada Bryan bahwa apa yang di lakukannya ternyata salah. Namun ia harus bagaimana? Jarak yang jauh antara Bryan dan juga Ivanna membuatnya harus meminta seseorang mengawasi Ivanna.


"Yang kamu lakukan lama kelamaan akan berubah menjadi sebuah obsesi. Mama memang tak melarang anak-anak mama akan menyukai seorang gadis, tapi jangan sampai apa yang kamu lakukan malah menjauhkannya darimu.Ah anak mama sudah besar rupanya." Yoanna memeluk anak laki-lakinya itu, Yoanna mendudukan Bryan.


"Dan tentang papa, semoga kamu tidak seperti papa Louise sayang. Mama takut hal buruk terjadi di keluarga mama." Yoanna mengelus pelan punggung tangan Bryan. Lalu senyum kecil terbit di wajah anak laki-lakinya.


"Kamu lebih tampan jika tersenyum sayang, apa yang terjadi di luar sana. Mama harap, kamu tetap jadi anak yang manis dan baik untuk mama dan gadis yang kamu sukai nanti."


-Flashback off-


Bryan mengacak-acak rambutnya, lalu melirik Ivanna yang kini sedang tertidur. Ia mendekati gadis, duduk di tepi ranjang dan memainkan tangan kanan Ivanna. Ia juga mengecup cincin yang berada di jari manis gadis itu.


"Kau tahu Ivanna, aku benar- benar menyukaimu. Aku menyukaimu sampai tak ingin orang lain memilikimu, aku sudah menandaimu sejak dulu. Jadi kau hanya milikku!" Bryan mendesah pelan, bodohnya ia berbicara dengan orang yang sedang tertidur. Bryan mengelus wajah Ivanna, lalu pelan – pelan tangan itu turun hingga sampai di perut Ivanna.


"You're mine! Akan ku singkirkan siapapun yang berani mengusik milikku, jika kau lari dan menghindariku aku akan memotong kedua kakimu. Jika kau menolakku aku akan meninggalkan tanda kepemilikanku disini.” Bryan mengelus perut Ivanna, ia terkekeh.


"Tenang saja, aku tak akan meninggalkannya sekarang. Aku bukan binatang yang akan bercinta dengan seorang yang tidur." Bryan mengigit bibirnya saat matanya jatuh menatap bibir Ivanna, sial ia ingin sekali menggigit bibir penuh gadis itu. Wajah Bryan memerah.


"Damn Ivanna, aku benar - benar ingin menerkammu sekarang. Persetan tentang ucapanku tadi!," Bryan menunduk, ia menciumi wajah Ivanna. Pelan tapi pasti tangannya menyentuh gundukan gadis itu. Ivanna mendesah pelan dalam tidurnya saat gundukan itu di mainkan oleh Bryan.


"****! Kau mendesah Ivanna, bagus sekali. Aku menyukainya!” Bryan mengelus pelan paha Ivanna, saat tangan itu akan menyentuh bagian inti Ivanna sebuah ketukan pintu mengejutkannya.


"Tuan, tentang para maid-" suara Lucian mengagalkan rencananya, sial.


"Pergilah, aku akan kesana!" Suara langkah kaki menghilang, Bryan mendesah kasar.


"Kali ini kau beruntung amore!" Bryan mengecup dahi Ivanna dan meninggalkan Ivanna pergi ke belakang mansion.


Seluruh maid tampak gemetaran di dalam kolam renang, Bryan melirik satu persatu dari mereka.


"Benar-benar bodoh. Bagaimana bisa kalian tak mendengar suara Ivanna menjerit meminta tolong! Kalian boleh pergi, aku muak dengan kalian." Satu persatu dari mereka naik ke permukaan dan berlari menuju ke paviliun, Bryan menatap para maidnya.


"Kau tahu mama akan kemari bukan Lu?" Ucap Bryan tanpa menolehkan kepalanya, Lucian yang berada disampingnya terkejut.


"Nyonya besar datang kemari?" Bryan mendecih, tentu saja mama Yoanna tak akan memberitahu kedatangannya pada Lucian. Ia memijit pangkal hidungnya.


"Mama berkunjung besok, disusul papa dan Ben dua hari kemudian. Suruh beberapa maid membersihkan kamar tamu, mama punya alergi pada beberapa bahan makanan. Pastikan kau memberitahukan itu kepada mereka.” Bryan bangkit dari duduknya dan pergi menuju ruang kerjanya.


Ivanna terbangun, kamar Bryan terasa sangat sepi. Ia memilih segera bangkit dan membereskan kasur itu. Setelah selesai ia pergi menuju paviliun. Ditengah perjalanan Ivann dicegat oleh seseorang.


Ivanna menoleh, dia adalah Thania. Gadis yang bekerja di bagian taman. Ivanna mendekati gadis itu.


"Hai, kamu perlu sesuatu?" Thania menggeleng, ia meminta maaf kepada Ivanna.


"Anna maafkan aku, aku benar - benar tak mendengar teriakan minta tolongmu." Ucap Thania sambil memegang kedua tangan Ivanna. Ia mengangguk,


"Tak apa-apa, lagi pula semua sudah berlalu kan? Dan aku selamat. Aku malah kasihan kepada kalian, apakah tadi hukumannya lama?" Ivanna menginggat saat Bryan menghukum seluruh maidnya untuk berendam di kolam renang. Thania menggeleng.


"Tidak, tentu saja tuan pasti marah jika kekasihnya tenggelam dan tak ada yang menyelamatkannya.


"Ke-kekasih? Bukan! Aku tak sedekat itu dengan tuan Bryan.” Ivanna menggeleng. Apa yang dipikirkan orang-orang tentangnya dan Bryan. Ia menepuk kedua pipinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Tania?" Ivanna berbisik kepada gadis itu, Tania menoleh kiri dan kanan lalu membalas bisikan Ivanna.


"Semua maid sudah mengetahui hubungan tentang kalian, kalian memakai cincin berpasangan bukan?” Ivanna menggaruk tengkuknya gatal. Lagi-lagi karna cincin sialan ini.


"Tidak, hanya sebuah cincin tak menjamin kita adalah pasangan. Lagipula ini cincin yang diberikan seseorang di masa lalu, sedangkan aku baru bertemu dengan Tuan Bryan baru-baru ini." Tania mengangguk. Lalu ia mengingat sesuatu, ia mengode Ivanna untuk segera mendekat dengannya.


"Kau tahu? Tuan punya sebuah ruang rahasia yang katanya berisi foto-foto seorang gadis dari panti asuhan yang sama dengannya!"


Deg!


Jantung Ivanna berdetak kencang, jika yang dikatakan Tania benar berarti Bryan sudah mengawasinya sejak dulu. Dan alasan Bryan mengganggunya dan juga Leon di minimarket karna Bryan sengaja?


Tiba-tiba bulu kuduknya merinding, Bryan seorang stalker.


"Kau tahu dimana letak ruangan rahasia itu?" Ucap Ivanna, Tania mengangkat kedua bahunya.


Ivanna kembali memikirkan ucapan Tania. Ivanna mengelus lengannya yang terasa merinding.


"Pasti akan sulit buatku untuk pergi dari laki-laki itu, dia sudah mengawasiku. Tentu saja dia tahu segalanya tentangku. Aku harus bagaimana?" Seorang maid mendekati Ivanna dan Tania, mengabarkan akan ada pengumuman penting yang akan di sampaikan oleh Lucian.


"Hei kalian! Segeralah masuk, Tuan Lucian akan mengumumkan sesuatu!"


Ivanna dan Tania saling menatap satu sama lain, lalu bergegas menuju ruang makan.


Didalam ruang makan, para maid saling berdiri memutari meja makan. Lucian berjalan mendekati Ivanna dan yang lainnya, berdiri di ujung meja makan.


"Tuan Bryan menyampaikan bahwa besok, Nyonya besar Benvolio datang berkunjung. Dan tak lama setelahnya, Tuan besar Benvolio beserta Tuan muda Benvolio menyusul kemari. Pastikan seluruh mansion dibersihkan, maid yang bertugas di dapur harus menyiapkan makanan yang tidak mengandung udang dan juga beberapa makanan. Yang lainnya membersihkan sesuai pekerjaan kalian seperti biasa. Dan Ivanna, Anda diminta menghadap Tuan Bryan. Yang lainnya silahkan bekerja!" Semua orang berbondong- bondong melakukan pekerjaan mereka, meninggalkan Ivanna dan Lucian berdua.


"Bukankah ini tak adil untuk mereka? Kenapa kau tak menyuruhku bekerja seperti yang lainnya?" Lucian terus berjalan didepan, Ivanna berjalan mengekori Lucian.


"Tugas Anda kan memang hanya melayani tuan Bryan.”


Ivanna mendesah pelan, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.


"Benar! Aku harus mencari tahu dimana ia menyembunyikan ruang rahasia itu!" Batin Ivanna dalam hati sambil tersenyum puas.