Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 44



Ivanna terus memegangi perut sebelah kiri Bryan yang masih banyak mengeluarkan darah, walau begitu mereka tetap mewanti - wanti agar pisau yang tertancap tak dilepaskan demi menghindari Bryan kehilangan lebih banyak darah.


"Maafkan aku Bry, maaf karna aku tak mendengarmu waktu itu." Bisik Ivanna pada Bryan.


Mobil yang ditumpangi mereka akhirnya sampai kembali di Mansion milik Bryan. Dengan cepat Lucian beserta yang lainnya membawa Bryan ke lantai tiga. Ivanna dari lantai satu mendongak keatas ketika mereka membawa Bryan masuk ke kamarnya. Irish datang dari dapur dan memeluk Ivanna.


"Hey tenang Ivanna, semua akan baik-baik saja ." Irish menepuk pelan punggung Ivanna, ia tak memperdulikan bahwa kini bahunya basah akibat air mata Ivanna yang tumpah.


"Seharusnya aku mendengarnya Irish, aku benar - benar bersalah." Irish melepas pelukannya, ia memegang kedua pipi Ivanna sambil menggeleng.


"Bukan Anna, ini semua bukan salahmu."


'Aku harap, kau tahu sendiri siapa sebenarnya tuan Bryan Anna. Dan aku harap saat waktunya nanti kau akan terus berada di sisinya' batin Irish, ia terus berusaha menghibur Ivanna. Irish memapah Ivanna menuju kursi, lalu pergi ke dapur membawakannya segelas coklat hangat.


"Minumlah, supaya kau tenang." ucap Irish sambil menyodorkan segelas coklat hangat pada Ivanna, gadis itu menerimanya. Ivanna memutar – mutar gelasnya mencari sisi yang hangat untuk menghangatkan telapak tangannya. Kemudian ia meminumnya sedikit demi sedikit.


"Thanks Irish." Irish tersenyum mendengar penuturan Ivanna.


Tak lama kemudian, tampak Lucian keluar dari pintu lift. Ivanna dan Irish melirik ke arah Lucian yang berjalan mendekat, kemudian Ivanna langsung berdiri dan berjalan mendekati Lucian yang tampak kelelahan.


"Bagaimana keadaannya? Haruskah kita membawanya ke rumah sakit?" Lucian menggeleng,


"Tak perlu Nona, sebentar lagi dokter keluarga Benvolio akan datang kemari. Tuan tak perlu di bawa ke rumah sakit."


"A-apakah dia akan selamat?" ucapan Ivanna membuat Lucian tersenyum,


"Tentu saja, Tuan akan baik – baik saja.”


Setelah itu munculah seseorang dengan pakaian casual dan menenteng sebuah tas, Lucian mendekati pria itu.


"Kemari Tuan." Chester mengikuti arah berjalannya Lucian, saat hampir menuju lift matanya fokus kepada Ivanna. Chester yang notabene adalah seorang player mendadak ingin sedikit menggoda Ivanna. Ivanna tampah mengenyitkan alisnya ketika mendapati Chester berdiri di depannya.


"Halo cantik, siapa namamu hmm?" ucapnya sambil mengulurkan tangan. Ivanna tampak enggan untuk menerima uluran tangan itu, namun demi menjaga harga dirinya Ivanna menerima uluran tangan itu.


"Ivanna." Lucian mendekat Chester, membisikkan sesuatu kepadanya hingga matanya melotot dan refleks melepaskan kaitan tangannya.


"Wow hehe sorry, ternyata kamu adalah kekasih Bryan. Aku ingat aku permah merawatmu dulu. Baiklah aku pergi dulu." Ucap Chester sambir berlalu meninggalkan Ivanna dan Irish yang saat ini saling menatap seperti kebingungan dengan tingkah pria itu.


Tok tok tok,


Ivanna mengetuk pintu kamar Bryan. Lucian membuka pintu itu dan mempersilahkan Ivanna untuk masuk. Di dalam kamar Chester sedang memasang perban pada perut kiri Bryan, Ivanna mendekati mereka.


"Bryan akan sadar antara dua sampai tiga hari.


Untung saja luka tusukannya tak terlalu dalam, walau begitu tusukannya nyaris menyentuh pankreas." Ucapan Chester membuat Ivanna terkejut, membayangkan Bryan bisa sadar dalam waktu selama itu membuat Ivanna tambah merasa bersalah.


"A-ahh baiklah, terima kasih atas waktunya tuan-“


"Chester, jangan terlalu dipikirkan apa yang terjadi dengan Bryan. Dia tak akan mati secepat itu." Chester terkekeh ketika mendapati Ivanna terkejut dengan ucapannya. Ia berjalan mendekati Lucian seperti biasa untuk mengantarnya ke lantai satu. Sebelum Lucian keluar ia melirik Ivanna yang tampak berdiri di samping ranjang Bryan, Lucian tahu sepertinya Ivanna butuh waktu berdua bersama Bryan.


Ceklek.


Pintu tertutup. Ivanna dengan tangan gemetaran meraih tangan Bryan. Ia duduk di samping ranjang kemudian menangis.


"Maaf, semuanya terjadi salahku bukan?" Ivanna menatap Bryan yang kini terbaring bertelanjang dada, dengan sebuah perban yang menutupi luka di perut kirinya dengan tangan yang di infus. Jangan lupa luka goresan kaca di pipinya dan juga luka memar di sebagian tubuhnya karena berduel dengan Samuel.


"Astaga aku ketiduran."


Ivanna terkejut ketika mendapati dirinya tertidur dengan kepala bersandar pada sisi ranjang. Ia menatap Bryan, laki-laki itu masih tetap pada posisinya. Ivanna menyentuh lubang hidung Bryan, ia mendesah lega ketika masih bisa merasakan nafas hangat dari Bryan.


Ivanna melirik jam yang berada di nakas, sekarang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia pun terkekeh.


"Bahkan aku melewatkan jam makan malamku, aku akan segera kembali okay?" ucap Ivanna sambil menggenggam tangan Bryan, kemudian ia turun menuju lantai satu untuk membuat makanan.


harum mulai menguar di seluruh ruang dapur.


"Irish?" Irish menoleh ketika mendengar Ivanna memanggil namanya, senyumnya mengembang.


"Kemarilah Anna. Aku tahu kau akan segera bangun jadi aku memasakkan makanan kesukaanmu.' Ivanna merasa terharu dengan perlakuan Irish padanya, ia mendekati Irish dan melihat apa yang sedang dimasak oleh Irish.


"Wah, kau memasak itu? Aku rasa beberapa hari ini aku pun ingin memakan itu juga."


Growl,


Mereka berdua tertawa ketika mendengar bunyi perut masing-masing.


Akhirnya Ivanna dan Irish menikmati makanan mereka, sebelumnya Irish akan memakan makanannya di belakang. Namun Ivanna menolak dan memaksanya untuk makan bersama di ruang makan. Ivanna mengatakan bahwa ia tak terbiasa makan sendirian. Setelah selesai makan, seperti biasa Ivanna hendak membantu mencuci piringnya, dan Irish menolaknya.


"Terima kasih karna sudah menjaga tuan Anna." ucap Irish pada Ivanna, ia mengelap tangannya di apron dan berjalan mendekati Ivanna. Ivanna meliriknya lalu tersenyum tipis.


"Aku hanya akan merasa bersalah kalau aku malah membiarkannya. Lagi pula, semua terjadi karna aku bukan?" Irish menggenggam tangan Ivanna,


"Sudah kubilang ini semua bukan salahmu. Mungkin setelah tuan sembuh, dia akan menceritakan semuanya padamu," ucap kembali Irish dengan suara yang semakin memelan. Mereka sama-sama terdiam. Ivanna mengecek jam pada ponselnya. Sudah jam sembilan malam,


"Aku harus kembali ke kamar Bryan untuk mengecek sebentar." ucap Ivanna pada Irish yang dibalas anggukan kecil,


"Kau juga jangan lupa istirahat oke?" Ivanna menoleh, lalu tersenyum kepada Irish. Ia berjalan menuju pintu lift dan naik kembali ke lantai 3.


Ivanna hendak menuju kamarnya untuk mandi dan ganti hain dengan pakaian tidur, sebelum akhirnya ia mendengar sedikit suara berisik dari kamar Bryan. Matanya membola, dengan cepat Ivanna berlari menuju kamar Bryan.


"Arghhh arghh!" Bryan meronta-ronta dalam tidurnya, sepertinya obat bius yang diberikan Chester mulai kehilangan efeknya. Ivanna berlari mendekati Bryan dan mencoba menenangkannya.


"Shhhh tak ada yang akan menyakitimu Bry, tenanglah." Seperti mantra ajaib perlahan-lahan Bryan mulai tenang, dan Ivanna mendesah lega.


"Sepertinya aku akan meminjam kamar mandimu." Ivanna berjalan menuju kamar mandi Bryan, ia melepas pakaiannya dan berdiri dibawah shower. Ia memulai ritual mandinya dengan cepat karna khawatir Bryan akan mengigau lagi. Setelah selesai mandi Ivanna sadar bahwa ia bahkan tak sempat membawa pakaian ganti maupun handuk. Ia menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Anna, kau bodoh sekali."


Ivanna ingat bahwa ia selalu meninggalkan bathrobe di sebuah lemari kecil di dalam kamar mandi. Ia membuka lemari itu. Untung saja masih ada sebuah bathrobe yang tersisa. Ivanna dengan cepat menggunakannya lalu berjalan keluar dari kamar mandi. Didalam kamar ia menimang - nimang haruskan ia pergi ke kamarnya atau memilih meminjam pakaian dari dalam walk in closet milik Bryan.


Ivanna melirik kearah Bryan, tiba-tiba pria itu sedikit menggerakkan tangannya. Dengan cepat ia masuk kedalam walk in closet dan menutup pintunya.


“Hahaha jadi kau memilih opsi yang kedua bukan?" Ivanna terkekeh lirih. Ia membuka lemari Bryan satu persatu, dari sekian banyaknya pakaian Bryan ia menjatuhkan pilihan pada kemeja putih yang kebesaran. Dan juga Ivanna sangat marah ketika didalam lemari ia menemukan sepasang pakaian dalam wanita,


"Dasar laki-laki huh? Aku akan memakainya biar siapapun nanti wanita yang menaiki kasurmu akan pulang tanpa pakaian dalam!" Ivanna tersungut - sungut sambil menatap kaca di depannya. Kemudian senyumnya mengembang ketika menatap badannya yang tenggelam didalam kemeja putih itu.


Ivanna mengendus lengan kemejanya,


"Entah sejak kapan aku mulai menyukai aroma ini."


Ceklek.


Ivanna membuka pintu walk in closetnya dan berjalan mendekati ranjang. Ia kembali menggenggam tangan Bryan dan duduk disamping ranjang itu.


"Maaf aku memakai kamar mandimu dan meminjam pakaianmu. Nanti akan aku cuci dan aku kembalikan lagi didalam lemari. Baiklah aku harus tidur juga malam ini." Ivanna beranjak dari kursinya, alangkah terkejutnya ia ketika merasakan Bryan menggenggam tangannya. Ivanna melirik Bryan.


"Ja-ngan per-gi Anna."


Deg,


Jantung Ivanna mendadak berdetak kencang, ia menoleh kesembarang arah sambil menutup wajahnya yang memerah dengan satu tangan lainnya. Ia melirik Bryan kemudian tersenyum ketika tangannya terlepas dari genggaman tangan Bryan.


"Tenanglah, aku akan menemanimu malam ini Bry."