
"Bunda?"
Suara Ivanna memecah keheningan diantara yang lainnya. Grace yang sejak tadi melamun di meja makan seketika berdiri lalu berlari mendekati Ivanna.
"Anna? Ini kamu nak? Astaga!" Ivanna memeluk Grace dan menangis dalam pelukannya, begitupun Grace yang langsung menghujani wajah Ivanna dengan ciumannya.
"Kamu kemana saja sayang? Bunda sangat khawatir sama kamu."
"Maaf bunda. Ivanna di culik oleh seseorang. Ivanna juga hampir di lecehkan sama seseorang hiks!"
"Astaga sayang! Kamu kenal dengan orang itu?" Ivanna menggeleng, seketika tangis Grace pecah sambil memeluk Ivanna. Datanglah Cecil dan Irene yang saat itu sedang menidurkan anak anak dan langsung berhambur memeluk Ivanna dan Grace.
"Akhirnya kau pulang dengan selamat sayang!"
Ivanna makan dengan lahap ditemani oleh Grace, sesekali mereka saling bertatapan dan tersenyum. Setelah itu Ivanna mencuci piringnya.
"Bunda besok Ivanna mau masuk kerja."
"Kenapa tidak istirahat dulu sayang? Kamu kan baru saja pulang?"
"Anna tidak apa apa Bunda, anna takut kalau hanya berdiam dirumah anna bakalan kepikiran lagi bun." Grace memeluk Ivanna dengan salah satu tangannya membelai rambut panjang Ivanna.
"Baiklah sayang. Sekarang istirahat ya? Kamu pasti lelah." Ivanna mengangguk lalu meninggalkan Grace di ruang makan. Sesekali Grace mengusap pelan air mata yang sempat terjatuh di pipinya.
"Bunda berharap yang terbaik untukmu nak."
Bryan tampak sedang menandatangani berkas yang sejak dua jam tadi berserakan di atas meja kerjanya, ia berkali kali memijit pangkal hidungnya yang pegal karna menggunakan kacamata. Seperti biasa map coklat selalu berada di atas meja kerjanya setiap hari, tentu saja isinya tak lain dan tak bukan adalah foto foto Ivanna. Ia membuka salah satu map itu lalu menciumi foto Ivanna.
"Hahhh aku ingin sedikit bermain main denganmu Ivanna.”
Lucian menerobos masuk ruang kerja Bryan tanpa mengetuk pintu,
"Tuan ga-"
"Bodoh! Ketuk pintu sebelum masuk!" Ucap Bryan tanpa menoleh kearah pintu.
Bennedict sekarang berada di lantai satu" Bryan reflek berdiri terlonjak kaget dan map coklat berisi foto foto Ivanna hingga akhirnya semua foto tersebut berserakan. Ia menatap tajam kearah Lucian.
"What the ****? Kenapa dia bisa seenaknya datang tanpa memberi tahuku, ****!" Bryan dengan tergesa gesa membereskan kekacauan di ruang kerjanya, lalu mengontrol ruang 'rahasia' miliknya agar tak ketahuan oleh adiknya itu. Tak lama kemudian Ben dengan sebuah koper besar masuk kedalam ruangan kerja kakaknya.
"Buonanotte fratello mio!" ( Selamat malam kakakku)
"Berhenti bermain main Bennedict!. Bagaimana bisa kamu kemari? Bagaimana gudang?" Bryan memberondong adiknya dengan beberapa pertanyaan, sedangkan Ben tampak berjalan santai, menidurkan badannya di sofa panjang didekat meja kerja Bryan.
"Astaga chill bro, rupanya kau tak merindukanku ya?" Ben memasang ekspresi sedih dan dibalas Bryan hanya memutar bola matanya.
"Jawab dulu pertanyaanku!"
"Aku mengambil cuti, puas? Aduh rasanya badanku lelah harus mengurus gudang setiap hari sepanjang waktu. Aku butuh cuti!"
"Baiklah silahkan cuti SELAMANYA! Setelah ini biar papa yang membawamu pergi ke Amazon!" Bryan memainkan ponselnya sambil melirik Ben. Bennedict bangun dari tidurnya lalu mendekati kakaknya meminta pertolongan.
"Nah please jangan lagi diasingkan di negara yang jauh dari mama, aku tidak menyukainya! Bye the way aku datang membawakanmu 'sayangku?" Ben mendekati kopernya dan membuka koper tersebut. Senjata api kesayangan milik Bryan yang sudah dimodifikasi, serta beberapa peluru tambahan untuk Bryan.
"Kau membutuhkan ini kan? Makanya aku datang sekaligus ingin jalan jalan di negara tempat kau dilahirkan."
"Seharusnya kau memberitahu Lucian kalau hanya masalah sepele saja!" Ucap Bryan sambil menimang nimang Desert eagle miliknya, senyumnya mengembang. Lalu dengan tarikan pelatuknya Bryan menembak sebuah foto yang berada di samping kaki Ben.
"Hey kau gila!" Maki Ben sambil menatap ke bawah kakinya,
"Hampir saja mengenai sepatu mahal kesayangank-, hey siapa pria ini?" Ben mengambil foto Sam yang berlubang tepat di dahinya.
"Entahlah, sepertinya dia ada kaitan langsung dengan Oregon. Entah mengapa aku merasa semua saling berhubungan." Ucap Bryan sambil memasukkan senjata api kesayangannya di dalam laci meja kerjanya, Ben tampak mengangguk pelan.
"Dude, dia mirip seseorang. Tapi entahlah wajahnya seperti keturunan asia."
"Dia anak haram Antonio Edmondo dengan Wanita dari negara asalku. Tapi ku dengar wanita itu sudah mati sebelum mempertemukan anak itu dengan Antonio!"
"Aku dengar papa mencari Antonio."
"Ya. Dia berhasil kabur. Antonio dan Samuel, mereka sama sama menghilang. Sangat tidak mungkin Antonio yang menyelamatkan Sam, pasti anggota Oregon yang berada dibelakang mereka! Sial aku haru membunuhnya!" Terang Bryan sambil duduk di kursi kebesarannya. Ia mengeluarkan cerutunya dan menghembuskan nafas dalam dalam.
"Kau ada rencana?"
"Hmm untuk saat ini sepertinya aku akan sedikit melakukan bersih bersih kepada anggota clan BLACKWINGS. Setelah penghianatan Antonio dan Ricardo aku merasa sedikit was-was. Sepertinya aku harus merekrut anggotanya langsung dari bawahanku dan papa."
Tapi dengan kurangnya dukungan dari orang penting, BLACKWINGS tidak sebesar ini. Maksutku jangan sampai mereka mengatakan bahwa kau adalah ketua clan yang tidak tahu terima kasih." Protes Ben kepada kakaknya, Bryan mengetuk ketuk meja kerjanya. Harus seperti apa BLACKWINGS ditangannya? Namun penghianatan yang dilakukan mereka saat masih bersama Louise menunjukkan bahwa semua ini harus di hentikan. Bryan memikirkan sesuatu, lalu tersenyum smirk saat ia tahu ternyata ia memiliki jawabannya.
"Aku ada sebuah ide!"
Bryan dan Ben melakukan panggilan darurat dengan papanya melalui komputernya, disana papanya sedang duduk di meja kerjanya seperti yang Bryan lakukan.
"Jadi ada apa son?"
"Aku ingin membahas sesuatu dengan papa."
"Tentang BLACKWINGS?"
"Exactly. Aku ingin gudang senjata api milik kita menjadi markas BLACKWINGS, aku memerlukan bantuan kalian, papa dan Ben. BLACKWINGS benar-benar harus di isi langsung oleh orang-orang kita.” Bryan menjelaskan panjang lebar kepada papanya, nampah Bryan menarik nafas panjang lalu meneruskan kalimatnya.
"Dan secara tidak langsung, identitas Ben juga pasti terbongkar."
"Ben masih dibawah umur, dan Ben tak memiliki pengalaman apapun di bidang ini." Ucap Louise sambil menatap Ben, Bryan pun melirik Ben yang sedang berada di sampingnya kini.
'Sial!' batin Bryan.
"Ben bagaimana menurutmu?” Louise bertanya kepada Ben. Tampak Ben sedang berpikir sebelum akhirnya ia menarik nafas panjang.
"Aku pasti bisa, demi
BLACKWINGS dan harga diri BENVOLIO." Bryan dan Louise tersenyum,
"Semua ada ditanganmu nak! Papa percaya sama kalian."
Ben dan Bryan menghentikan panggilan mereka, lalu bersama sama mereka saling berpelukan.
"Lalu langkah kita selanjutnya apa kak?" Tanya Ben kepada Bryan yang sedang duduk memutar di kursi kebesarannya. Ia mengetuk ketuk meja dengan jari jarinya.
"Aku akan berpura pura membubarkan BLACKWINGS. Ingat? Hanya berpura pura. Kau kembalilah ke Italia sekarang. Mereka yang bekerja langsung di gudang selama berpuluh puluh tahun pasti lebih paham, jadi aku merekkrut mereka. Aku sudah memindahkan beberapa barang narkotika kedalam gudang." Bryan berjalan keluar dari ruangannya dan menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Sedangkan Ben tampak berkeliling didalam ruangan kerja Bryan. Saat ia berjalan tak sengaja kakinya menginjak suatu kertas foto. Saat ia membuka gambar yang ada di dalam foto itu senyum smirk tersungging di wajahnya.
"Sepertinya ada yang sedang mengejar wanita huh? Dasar psikopat!" Ucap Ben sambul menatap wajah Ivanna yang elok nan ayu pada foto tersebut.