
"Good morning amore" ucap Bryan ketika nampak Ivanna mengerjapkan matanya Berkali-kali. la nampak tersenyum manis melihat Bryan yang tiduran menopang kepala dengan satu tangannya, sementara tangan yang lainnya mengusap rambut Ivanna
"Good morning too Bry Ivanna membalasnya dengan suara khas bangun tidur, Bryan mencium bibir Ivanna tanpa aba-aba terlebih dahulu.
"Hey aku baru bangun." Ucap Ivanna menutupi bibirnya, Bryan terkekeh, Lalu bangkit dan membetulkan pakaiannya yang tampak kusut.
"Karna sepertinya tuan potri sudah bangun, akn akan mengajak pergi ke suatu tempat." Bryan melirik Ivanna sambil tangannya sibuk membenarkan letak jam nya. Ivanna tampak menatapnya dengan tatapan heran. Bryan tersenyum dan mengecup dahi Ivanna.
Apa kau menunggu aku untuk memandikanmı hmm?" Ivanna berlari mendengar pertanyaan Bryan. ia menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di pintu. Berkali-kali Ivanna mengipaskan wajahnya yang terasa panas.
"Dia benar-benar pria yang bahaya." Gumam Ivanna lirih.
Ivanna melakukan ritual mandinya lebih cepat karna ia penasaran, akan dibawa kemana dirinya oleh Bryan, La begitu curiga ketika di pagi hari ia melihat Bryan sudah begitu rapi dengan kemeja lengan panjang berwarna putih yang di padukan dengan celana bahan warna biru muda.
Ceklek.
Ivanna membuka pintunya, ia tampak terkejut
ketika ia melihat ada sebuah dress berwarna biru laut.
"Astaga ada apa sebenarnya? Gumam Ivanna, ia memakai dress itu dan berdiri di depan kaca. Dress itu begitu cantik membalut tubuhnya. Tak lama kemudian datanglah tiga orang wanita membawa dua buah koper besar dan kecil.
"Kalian siapa?" Wanita itu tersenyum,
"Kami akan membantu Anda nona, nyonya besar yang mengatus kami. Ivanna mengangguk lalu
menuju meja rías untuk di dandani. Selama kurang lebih dua jam Ivanna membuka matanya, ia begitu takjub dengan riasan natural yang membuatnya tampak lebih cantik. Sama sekali tak ada kesan bold di make upnya, membuat Ivanna tak merasa bahwa dandanannya membuat usianya lebih tua.
"Ini, cantik sekali Ivanna mengagumi sosoknya. di depan kaca Rambutnya di ikat ala fishtail braid dengan tampak anak rambut di sebagian sisinya dibiarkan memberi kesan natural pada penataan
rambutnya.
Sekarang Anda bisa pergi menyusul tuan Bryan di lantai satu Ucap penata rias itu sambil mengangguk, Ivanna mengambil tas tangannya dan berjalan menuju lift.
Ting!
Pintu lift terbuka, ia berjalan menuju Beyan yang kini sedang berdiri membelakanginya dengan kedua tangan di saku celananya.
"Bry?" Bryan yang mendengar namanya di panggil refleks membalikkan tubuhnya, la terpaku menatap Ivanna.
"Wow!" Bryan menatap Ivanna sambil mengusap mata kanannya, Ivanna berjalan mendekati Bryan Tampak mata Bryan terlihat berkaca-kaca dengan
wajah yang memerah.
"Hey kan menangis?" Ivanna menangkap tangannya, ia menggeleng.
"No, I just, argh aku tidak bisa berkata-kata banyak. Kau benar-benar cantik amore." Ucap Bryan sambil terkekeh. Ivanna tersenyum mendengar ucapan Bryan
"Ayo!" Bryan mengambil tangan Ivanna, lalu menautkan tangan itu melingkari lengannya.
"Kau mau memberiku petunjuk? Kita akan pergi kemana?" Bryan mengalam senyumnya.
"Hmm clunya adalah, surga dunia amore." Bisik Bryan lirih di dekat telinga Ivanna. Sesekali Bryan meniup leher Ivanna yang membuat gadis itu memegang tengkuknya.
Bryan membukakan pintu untuk Ivanna.
"Masuklah." Bryan mengedipkan sebelah matanya.
Setelah menutup pintu Ivanna, Bryan memutari mobilnya dan masuk melalui pintu yang satunya.
Brak!
Bryan melirik Ivanna, memastikan sabuk pengamannya sudah terpasang atau belum. Setelah itu ia memasang sabuk pengamannya.
"Kencangkan sabuk pengamanmu amore, aku
akan membawamu ke tempat yang paling indah."
Ucap Bryan.
Kini mobil itu mulai berjalan meninggalkan area Mansion. Bryan melirik Ivanna yang kini menatap
jalanan kanan kirinya dari dalam jendela.
"Boleh aku membuka jendelanya?" ucap Ivanna
meminta Izin pada Bryan, Bryan menggeleng sambil tersenyum.
"Kau tidak ingin make up mu berantakan bukan?Untuk kali ini diamlah di dalam terlebih dahulu Nanti kau akan menikmati waldu santaimu lebih lama."
Selama kurang lebih 1 jam Bryan mengendarai mobilnya, kini Ivanna dapat menyaksikan kembali pantai yang sebelumnya ia kunjungi bersama Bryan.
"Kau mengajakku ke sini lagi?" Bryan mengangguk, Bryan memarkirkan mobilnya di parkiran. La keluar terlebih dahulu lalu ia memutari mobilnya untuk membukakan pintu Ivanna.
Bryan menatap sandal bertalinya, kini ia paham
mengapa penata rias tadi memberikannya sandal
berwarna putih dengan tali yang mengikat kaki
rampingnya, juga dress dengan panjang dibawah
Iututnya.
Bryan dan Ivanna berdiri di samping mobil mereka. Bryan mengusap pelan punggung tangan Ivanna kemudian menciumnya.
"Tunggulah disini, padre akan menyusulmu."
Ucap Bryan sambil meninggalkan Ivanna yang tampak mematung
"Padre?" gumam Ivanna.
********
Bryan berjalan mendekati bibir pantai yang berada di tepat di balik tebing. Disana ia melihat keluarganya sedang berkumpul menjadi satu. Yoanna yang melihat Bryan pun langsung menyusul putra pertamanya itu.
"Sayangku." Yoanna memeluk Bryan, matanya
tampak berkaca-kaca.
"Please madre jangan menangis okay, ini hari bahagia buat Bryan dan Ivanna. Aku ingin melihat madre dan padre tersenyum." Ucap Bryan menangkup pipi Yoanna dengan kedua tangannya. Yoanna mengangguk pelan.
"Madre hanya terharu sayang, kan sudah besar
rupanya. Dan sifatmu mirip sekali dengan padre."
Bryan terkekeh.
"Begitu ya? Padahal kan Bryan anak angkat kalian."
"Bry, madre dan padre tidak pernah membedakan antara kamu dan Ben, kalian anak kami. Walau padre keras kepada kalian, tapi padre sayang kalian. Sifat kalian sama karna kamu didikan padre." ucap Yoanna terkekeh, wanita itu memasangkan jas berwarna biru laut kepada Bryan. Tak lupa dasi kupu -kupu berwarna hitam dan juga bunga di saku jasnya Yoanna berjalan mundur satu langkah untuk melihat betapa tampannya anak angkatnya ini.
"Sekarang baru sempurna. Pasti Ivanna akan takjub melihatmu dan Bryan, madre minta walaupun kamu akhirnya dah menikah, kamu tetap anak kami. Jangan tingalkan madre dan padre okay? Dan berjanjilah untuk menjaga menantu madre dengan baik. Bisakah kau menepatinya sayang?" Yoanna merangkul putranya, air matanya tumpah seketika.
Bryan mengelus pelan punggung Yoanna.
Bryan tahu kekhawatiran Yoanna selama ini. Wanita itu menyukai anak-anak. Yoanna takut apabila Bryan meninggalkan keluarga Benvolio ketika ia menikah nanti dan melupakan Yoanna dan juga Louise.
"Bryan anak kalian, aku akan tetap menyandang BENVOLIO dibelakang namaku. Jadi madre tak perlu khawatir lagi."
********
Ivanna berdiri di samping mobil, menikmati segarnya aroma pantai di pagi hari. Tak butuh waktu lama hingga Ivanna melihat pria tua dengan pakaian berwarna biru laut mendekatinya. Tampak tuan Louise begitu berbeda dengan pakaiannya saat ini, biasanya Louise memakai pakaian hitam. Ivanna sedikit terkekeh namun masih bisa di dengar Louise.
"Apa yang kau tertawakan anakku?" Ivanna
menutup mulutnya lalu tersenyum.
"Saya hanya takjub melihat Anda memakai pakaian hari ini padre."
Loise mengulurkan tangannya, dan diterima dengan baik oleh Ivanna. Mereka berjalan perlahan- lahan menuju bibir pantai.
"Kedatanganmu membawa banyak perubahan pada Bryan." Louise memulai pembicaraannya. Kali ini Ivanna tahu, bahwa Louise mengajaknya serius.
"Apakah perubahannya buruk?" Louis menggeleng.
"Tidak, justru akan bagus jika Bryan berada di keluarga yang baik-baik." Louise mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Aku mengadopsinya ketika ia berumur 11 tahun, aku melihatmu juga saat kau masih berada di gendongan Grace. Saat itu kami memutuskan mengadopsi anak ketika aku mengajak Yoanna berlibur ke Indonesia. Pernikahan kami yang sudah lama membuat Yoanna menginginkan seorang anak. Sejak kedatangan Bryan, ditambah lagi Yoanna berhasil hamil anak kita. Membuat ia dapat tersenyum kembali. Bryan dan Bennedict adalah anugerah buat kami. Walau Bryan tumbuh dalam didikanku yang keras, kau melihatnya bukan saat aku menampar wajahnya berkali-kali?" Louise melirik Ivanna, gadis itu mengangguk paham.
"Bahkan tamparan itu hanya sebagian kecil yang aku ajarkan pada Bryan."
"Aku akan memaklumimu jika suatu saat nanti. kau mengetahui kenyataan pahit lalu berencana untuk meninggalkan Bryan. Tapi aku mohon dengan sangat, sebagai orang tua sambung Bryan. Aku ingin kau juga tetap menemaninya dalam semua hal yang terjadi kedepannya. Berjanjilah untuk tetap berada di samping putraku, aku memohon kepadamu Ivanna. kau tahu bukan jika Bryan begitu mencintaimu?" Ivanna mengangguk, ia menatap tatapan Louise yang kini berkaca-kaca.
Ivanna berhenti, ia menghadapkan tubuhnya
didepan Louise.
"Aku akan menepati janjiku untuk tetap berada di sampingnya tuan Louise." Ucapan Ivanna seakan mampu mengundang angin segar dan sejuk yang menyapu wajah mereka. Louise mengusap matanya lalu terkekeh.
"Bryan benar, kau memang wanita yang pantas bersanding dengannya. Sekarang pegang lenganku, aku akan membawamu untuk menemui mempelai pria-mu!" ucap Louise yang membuat Ivanna sedikit terkejut.
"Mempelai?"
"Ya Ivanna, kau akan resmi menjadi istri Bryan." Bisik Louise lirih yang membuat wajah Ivanna memerah.