
"Tuan, berkas yang anda minta-“
"Jelaskan saja!" Bryan menatap pria didepannya dengan kedua tangannya bertumpu pada meja kerjannya. Pria itu tampak gugup lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Dia Samuel Jarvis, anak haram dari Antonio Edmondo dan seorang wanita malam di Singapura tuan. Saat ini ia tinggal bersama nenek tua yang mengidap Demensia dan berpura pura menjadi cucunya untuk menumpang hidup dengan nenek tua tersebut. Sepertinya dia belum tahu siapa ayahnya"
"Antonio Edmondo?"
"Dia anggota BLACKWINGS, keberadaannya dalam clan bersih. Istrinya anggota geng sosialita terkenal yang beranggotakan nyonya Yohanna juga" Bryan menangguk sambil mengeluarkan senyum smirk andalannya.
"Hahaha laki laki kotor! Apakah istri tercintanya mengetahui anak haram dari suaminya itu?"
"Sepertinya belum tuan" Bryan bangkit dari tempak duduknya dan memutarkan badannya, ia sekarang berdiri menghadap jendela besar yang terpampang jelas hamparan danau luas ditengah tengah hutan yang rimbun. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam celana.
"Baiklah kau boleh pergi!"
Pria tersebut mengangguk dan meninggalkan Bryan yang sedang terdiam menatap jendela tersebut. Ia memikirkan tentang Antonio dan Samuel secara bersamaan. Apakah Antonio tak tahu bahwa ia berhasil meninggalkan benihnya pada rahim seorang wanita malam pilihannya?
Tak lama kemudian pintu di ketuk. Menampilkan Lucian datang membawa sebuah berkas berkas penting lainnya.
"Ada hal penting lainnya Lu?"
"Maaf saya hanya mengingatkan bahwa besok malam kita harus terbang ke Amerika. Sebagaian besar kotak pengiriman telah diisi dengan bahan tiruan. Dan sepertinya besok lusa kapal pengiriman sampai di pelabuhan X"
"Bagus. Apakah ada pergerakan dari Oregon? Atau mata matanya di dalam clan kita?" Bryan mendengarkan penjelasan Lucian semata mata untuk memikirkan langkah mereka selanjutnya.
"Oregon sudah siap di pelabuhan sejak semalam. Agen rahasia kita menyebutkan ada kurang lebih 30 orang yang mengawasi pelabuhan. Untuk masalah internal sepertinya ada 5 orang dari anggota Clan kita yang diam diam pergi ke Amerika, mereka dari keluarga Alfonso dan Edmondo!"
"Edmondo? Antonio Edmondo?"
"Benar tuan"
"Menarik. Baiklah kita persiapkan kejutan dari kita untuk mereka, beri tahu papa Louise. Untuk urusan Edmondo biarkan aku yang turun tangan. Dan panggil Ben apakah sayangku sudah selesai berdandan?"
"Siap tuan"
Lucian pergi meninggalkan ruangan kerja Bryan. Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, Bryan mengambil kunci mobilnya dan menyusuri jalanan yang ramai demi menemui Ivanna.
"Tumben sepi" ucap Leon sambil menata beberapa mie instan di stand pojok, Ivanna pun sedari tadi hanya menatap jalanan melihat mobil dan motor yang berlalu lalang. Ivanna mendesah pelan.
"Iya ya, tumben banget. Tapi ayo dong gaboleh lemes harus semangat!" Ivanna mengepalkan tangannya dan mengangkat setinggi kepala memberikan semangat kepada dirinya sendiri. Leon terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.
"Okey deh princess Ivanna. Oh iya besok boleh gantian shift gak?” Leon mendekati Ivanna membawa keranjang yang telah kosong. Ia bersadar pada meja kasir. Ivanna mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa? Kok tumben?"
"Hehehe aku mau kencan" Ucap Leon tampak tersipu, usia Leon lebih tua 3 tahun dengannya. Tentu saja usianya sekarang adalah masa masa indahnya pedekate. Ivanna nampak mengerjapkan matanya berkali kali, ia tak percaya sebab tiba tiba saja Leon mengatakan akan berkencan padahal ia tak pernah mengenalkan teman wanitannya pada Ivanna.
"Serius? Sama siapa? Mulai deh kamu gamau cerita ke aku. Katanya sahabat!" Ivanna tampak kesal, sedangkan Leon terkekeh menatap sahabatnya yang kini memalingkan wajah menghindari Leon.
Tak lama kemudian sebuah mobil mewah terparkir di halaman minimarket, saat pintu dibuka turunlah seorang pria dengan kemeja berwarna biru muda yang di lipat ke bagian siku dengan celana kain hitamnya, dan tak lupa kacamata bulat yang menghiasi matanya. Rambut hitamnya tampak disisir asal. Sesaat Ivanna dan Leon yang menatapnya terdiam, berkali kali Leon mengucek matanya yang tak
gatal.
"Wah ada pangeran penunggang mobil!"
"Dih mana ada?"
"Itu! Kamu liat juga kan, ganteng kan?" Ivanna refleks mengangguk. Pria itu memasuki minimarket, dan entah mengapa tiba tiba aura disekitarnya mendadak aneh. Ivanna dan Leon tampak sama sama gugup.
"Anna, kenapa tiba tiba perasaanku gak enak?" Leon yang semula berdiri di depan meja kasir mendadak berlari mendekati Ivanna dan berdiri dibelakang Ivanna. Ivanna pun mengangguk, ia juga merasakan hal yang sama.
Entah tiba tiba ia seperti mengingat seseorang, yang saat masuk kedalam minimarket tiba tiba ia juga merasakan gugup yang luar biasa.
Pria itu mendekati kasir, menunjuk beberapa rokok di belakangnya dan menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu. Ivanna dengan tangan yang gemetar memberikan rokok itu. Tanpa diduga saat mata mereka saling bertatapan tiba tiba Ivanna teringat sesuatu. Mendadak jantungnya seperti tersengat, ia memegang meja kasir dengan satu tangannya menumpu badannya agar tidak terkulai lemas saat itu juga.
"T-terima kasih!"
"Ya!" Suara bariton itu, ya! Ivanna mengingatnya.
Pria itu meninggalkan mini market dan memasuki mobilnya, lalu pergi. Saat itulah Ivanna merasa bebannya ikut terangkat.
"Hey Anna kamu kenapa?” Leon memperhatikan wajah Ivanna yang tiba tiba pucat, dengan tangan yang gemetaran. Ivanna memegang salah satu pundah Leon lalu meremasnya.
"Aku mengenal pria itu, ah bukan. Aku pernah melihat pria itu!" Ivanna menggambil nafas sejenak lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"D-dia maniak. Aku pernah melihatnya saat ia membeli kontrasepsi pertama kali, lalu aku mendengar suaranya saat ada seorang pria aneh yang menciumku saat malam hari aku pulang bekerja!" Ivanna terengah engah. Ia mengingatnya, dan apakah pria itu juga yang membuat Leon tempo hari ketakutan.
"D-dia menciummu?" Ivanna mengangguk, ia ingin menangis.
"Kau liat matanya kan Le? Jujur! Apakah pria itu yang membuatmu takut beberapa hari yang lalu?” Leon menggeleng. Ia sedari tadi bahkan hanya menundukkan wajahnya, tiba tiba nyalinya menciut saat berhadapan dengan pria tadi.
"Kalau seandainya saja benar dia, berarti dia mencariku. Tapi apa salahku?" Ivanna mengusap sisi matanya, ia menangis. Ia takut seseorang berbuat jahat kepadanya, apalagi sampai orang itu berani menyakiti orang di sekitarnya.
"Hey sudah. Everything will be okay, aku akan menemanimu pulang malam nanti. Takutnya pria itu menyerangmu lagi!" Ivanna menggeleng, ia tak ingin sahabatnya di sakiti oleh pria itu.
"Aku malah takut dia menyakitimu bodoh!"
"Hei kau meremehkanku? Aku laki laki yang kuat tahu?"
Ivanna terkekeh, tiba tiba ia seperti lupa bahwa ia menangis karna ketakutan oleh pria itu.
Disisi lainnya Bryan menghisap rokok tersebut, dalam satu hisapan ia membuang rokok itu dan menginjaknya.
"Aku tidak menyukai rokok!” Ia membuang semua rokok yang masih tersisa banyak itu di dekat semak semak. Ia menatap gerbang bertulisan nama panti asuhan tersebut. Lalu pandangan matanya mendadak fokus pada seorang laki laki yang mengendarai motor dan melewatinya. Mata mereka sama sama saling bertatapan.
"Well, aku menyukai tatapan itu Samuel Jarvis. Mirip seperti papamu yang menjijikan, aku akan mengatakan rahasia yang ia tutupi selama ini kepada istri dan keluarganya. Dan kita lihat bagaimana kehancuran keluarga Edmondo yang terhormat!" Bryan tersenyum sinis sebelum akhirnya ia mengendarai mobilnya melaju jauh menuju mansionnya.