
Sebuah ciuman itu lama kelamaan berubah menjadi sebuah ******* kecil. Bryan menggigit bibir Ivanna hingga ia refleks membuka mulutnya membuat Bryan lebih leluasa mengakses lidahnya. Ivanna dengan kekuatan yang tak seberapa mencoba mendorong agar tubuh pria didepannya ini terlepas darinya, namun ia tak kehilangan akal. Ia menendang ******** pria itu hingga akhirnya ia terlepas dari cengkramannya.
Iv"Huhuhuhu"
Ivanna masuk kedalam kamar dengan mengendap endap. Untung saja seluruh penghuni panti sudah tertidur, ia menutup kamarnya dan mneruskan tangisannya.
"Huhuhuhu hiks bunda" Ivanna memegang bandul kalungnya dan terus terisak.
Tok tok tok
Sebuah ketukan kecil membuat Ivanna menghentikan tangisnya seketika.
"Iyaa, sebentar!"ana dengan nafas yang hampir habis mencoba berlari sekuat tenaga menuju gerbang panti asuhan. Akhirnya ia berhasil mengunci pintu pagar itu dan lolos dari pria maniak itu. Ia terisak bersandar dari dalam pagar. Berkali kali ia mengusap bibirnya dengan kasar hingga membuat lipstik berwarna merah itu berantakan.
"Huhuhuhu"
Ivanna masuk kedalam kamar dengan mengendap endap. Untung saja seluruh penghuni panti sudah tertidur, ia menutup kamarnya dan mneruskan tangisannya.
"Huhuhuhu hiks bunda" Ivanna memegang bandul kalungnya dan terus terisak.
Tok tok tok
Sebuah ketukan kecil membuat Ivanna menghentikan tangisnya seketika.
"Iyaa, sebentar!"
Ia berlari menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya, mencoba mengecek wajahnya dari cermin kamar mandi. Matanya merah namun tidak bengkak. Setelah memeriksa wajahnya ia menuju pintu kamar dan membukanya.
"Vania?"
Gadis kecil itu menggendong boneka barbie sambil mengucek sebelah matanya. Ivanna dengan sigap menuntun adik kecilnya itu menuju tempat tidurnya.
"Nia belum tidur?"
"Nia sudah tidur tadi kak, terus nia terbangun gara gara dengar kakak. Kakak abis nangis ya? Siapa yang nyakitin kakak biar nia gigit orang itu?" Ucapan polos Vania membuat matanya berembun. Ivanna menggeleng. Ia tidak ingin terlihat cengeng di mata adiknya.
"Nia mau tidur sama kakak?" Ivanna mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mau! Tapi sambil bercerita ya kak?"
"Boleh. Yaudah yuk sini deketan kakak."
Ivanna merebahkan adiknya di sisi dekat tembok. Ia merapikan selimut dan memberikan boneka barbie itu agar dipeluk oleh Vania.
-Flashback on-
Menjaga Anna sudah menjadi keseharian Bryan sehari hari setiap pulang sekolah. Ia selalu bersemangat ketika hendak pulang sekolah.
Usia Anna saat ini sudah menginjak 5 bulan, ia tampak begitu cantik dan menggemaskan. Matanya bulatnya berwarna hitam, rambut keriting berwarna coklat tua yang selalu terlihat lucu ketika sedang diikat. Ia juga sudah bisa tengkurap dan sedang dalam tahap belajar untuk bisa duduk, tangannya terlihat lucu ketika sedang menggenggam sebuah biskuit seperti saat ini.
Anna sedang duduk santai bersama bunda Grace di taman belakang. Bryan berlari dari gerbang depan masuk kedalam rumah.
"Hhahh hhaaahh"
"Bryan hati hati nak nanti jatuh!" Seru bunda Irene dari dalam dapur ketika melihat Bryan sedang berlarian masuk kedalam kamar. Bunda irene hanya bisa menggeleng melihat tingkah Bryan.
Bryan mengganti bajunya, mencuci tangan dan berlari turun dari lantai atas menuju dapur tempat bunda Irene berada.
"Bunda dimana Anna?" Bunda irene tersenyum mendekati Bryan sambil terus mengaduk adonan dari dalam mangkuk yang dipegangnya.
"Anna sedang bersama bunda Grace, mereka ada di taman belakang"
"Ba ba ba"
"Bunda! Dengar kan anna sedang memanggilku? Bunda dengar kan?" Mata Bryan tampak berbinar ketika Anna memanggilnya dan tersenyum kepadannya.
"Bunda dengar kok" bunda Grace tersenyum melihat mereka berdua. Mereka sudah seperti adik dan kakak kandung. Dalam batin bunda Grace ia berdoa semoga mereka selalu bersama dan takkan terpisahkan.
Tak lama kemudian datanglah bunda Celine dengan langkah yang begitu panjang, nafasnya naik turun seperti sedang dikejar setan.
"*Grace, ada yang mencarimu!" Bunda grace menggangguk. Ia menggendong Ivanna dan juga mengajak Bryan untuk masuk kedalam rumah. Sesampainya didalam rumah ada sepasang suami istri yang kelihatannya bukan warganegara Indonesia dengan seorang laki laki Indonesia. Pasangan suami istri itu memiliki kulit yang putih, dengan rambut coklat dan juga badan yang lebih tinggi daripada orang disampingnya. Suami dari istri tersebut memiliki penampilan yang menakutkan dengan tato yang memenuhi lengan tangannya dan wajah yang terlihat seperti orang jahat, berbanding terbalik dengan istrinya yang memiliki mata yang teduh dan senyuman yang manis.
"Halo. Perkenalkan saya adalan Nyoman, mereka adalah pasangan suami istri asal Italia. Mereka adalah tuan dan nyonya Kael” Nyoman berdiri di depan mereka sebagai seorang penerjemah. Bunda grace mempersilahkan ketiga tamunya untuk duduk.
"Jadi mereka mencari anak untuk diadopsi karena mereka belum dikaruniai anak. Tentu saja mereka dari keluarga yang baik dan memiliki pekerjaan yang baik" Nyoman menyerahkan sebuah surat kepada bunda Grace, bunda membacanya dengan baik*.
Istrinya seorang Designer di Italia, suaminya memiliki gudang senjata di Italia. Meskipun begitu, tak ada catatan kriminal dari mereka berdua. Mereka bersih. Bryan sedari tadi bersembunyi dibelakang badan bunda Grace, ia tampak ketakutan dengan laki laki dewasa didepannya ini.
Tuan Louise menatap ke arah Bryan yang sedang sendiri. Setelah menatap Bryan ia berbicara dengan istrinya. Istrinyapun menatap Bryan sambil tersenyum lalu berbicara dengan bahasa asing dengan Nyoman.
"Mereka ingin anak itu!” ucap Nyoman menunjuk Bryan. Bryan yang ketakutan langsung berlari sambil menangis.
Bunda Celine menyentuh pelan lengan Grace lalu mengangguk seakan mengatakan biar ia saja yang membujuk Bryan.
Bunda Celine berjalan mendekati Bryan yang sedang duduk dibawah pohon.
"Hiks"
"Bryan?"
"Ya bunda?"
"Bryan mau punya keluarga sendiri?" Bryan tampak terdiam menatap bunda Celine.
"Keluarga bunda?"
"Iya, keluarga yang terdiri dari ayah dan juga ibu” Bryan mengangguk sambil mengusap matanya, bunda Celine tersenyum.
"*Tapi sepertinya orang itu menyeramkan bunda”
"Bryan baru pertama kali bertemu dengannya, bunda juga takut saat pertama melihatnya. Tapi sepertinya ia adalah orang yang baik. Apalagi ia juga membawa bidadari bersamanya"
"Tapi nanti anna bagaimana bunda?"
"Anna akan tetap disini sayang, nanti kalo sudah besar Bryan bisa main ke sini lagi kalau mau!”
"Sungguh bunda?"
"Benar sayang*"
*Bryan memeluk bunda Celine, air mata bunda Celine terus luruh karna sebentar lagi mereka akan berpisah. Bunda Celine menggandeng tangan Bryan dan membawanya masuk kedalam. Semua mata menatap kepada mereka berdua, Celine tersenyum menatap Grace.
"Bryan sini sayang" Bryan mendekati bunda Grace yang sedang duduk disamping pasangan suami istri itu. Nyoman mengatakan sesuatu kepada mereka berdua hingga sang wanita itu meneteskan air matanya saat menatap Bryan. Nyonya Yoanna memeluk tubuh Bryan sambil menangis.
Bunda Grace kembali dari ruangan kantornya dan ia memberikan sebuah map coklat kepada tuan Louise*.
"Mereka berdua mengucapkan terima kasih karna sudah merawat Bryan dan menyayanginya”
Bunda Celine membawa tas milik Bryan dan juga beberapa aksesoris yang ditinggalkan oleh orang tua Bryan saat pertama kali Bryan di taruh di Panti Asuhan ini. Mereka membawanya masuk kedalam sebuah mobil mewah dan bersiap untuk meninggalkan panti asuhan. Bryan menggenggam sesuatu dan berlari mendekati Bunda Grace yang sedang menggendong Ivanna.
"Bunda, boleh Bryan berbicara sebentar dengan Anna?"