Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 32



"G-genosida? Kau gila hah?" bentak Bennedict membuat Bryan melirik tajam kearahnya.


"Ada yang salah?" Bennedict tak habis pikir dengan jalan pikiran Bryan. Apa yang dilakukannya justru membuat orang-orang semakin tak percaya kepadanya. Kini giliran Ben yang terdiam. Ia bingung harus melakukan apa agar mereka tak perlu membunuh beberapa orang yang tak terlibat sangkut pautnya dengan Oregon. Ben dan Bryan tahu, seseorang yang berada dibalik Antonio ada hubungannya dengan Oregon, karna hanya mereka musuh abadi BLACKWINGS.


“Apa kau punya ide yang lainnya sehingga berani menolak keputusanku huh?" Bennedict dan Lucian menggeleng, ia tersenyum puas.


"Kabari aku bila kau punya ide lainnya.” Bryan mematikan panggilannya, ia bersandar di kursinya dan mendesah pelan.


"Panggil Ivanna untuk membuatkanku kopi.”


Ivanna membawakan secangkir kopi luwak untuk Bryan. Ia mengambil nafas lalu membuangnya kasar di depan pintu ruang kerja Bryan.


"Huuuftt! Jangan takut Ivanna, kau membawa pepper spray di sakumu. Tak ada yang perlu kau khawatirkan." Ivanna bergumam pada dirinya sendiri. Memberi semangat bahwa semua yang terjadi akan baik-baik saja. Ivanna mengetuk pintu itu, suara dari dalam membuat ia memberanikan diri memasuki kandang singa itu.


Ceklek.


Bryan tersenyum mesum menatap Ivanna, ia menautkan jari – jarinya dan menggunakannya untuk menyangga kepalanya.


"How's cute. Kau tak perlu membawa pepper spray untuk menakutiku babygirl.” Ivanna terkejut, tangannya bergetar ketika kakinya hampir mendekati meja kerjanya. Bryan memegang pergelangan tangan Ivanna sesaat setelah Ivanna menaruh cangkir kopi di meja. Bryan menariknya hingga ia terduduk di pangkuannya.


"Kau mau apa?" Ketus Ivanna, Bryan menyandarkan kepalanya di bahu Ivanna sambil kedua tangannya memeluk lingkar perut Ivanna.


"Aku menyukai aromamu." Bryan mengendus ceruk lehernya hingga membuat bulu kuduk di leher belakangnya berdiri.


"Berhentilah bermain-main tolong. Aku tak menyukainya." Ucap Ivanna, Bryan mendudukan Ivanna di meja menghadap kearahnya.


"Kau ingin aku berhenti bermain-main? Baiklah dengan senang hati." Bryan mengusap pelan pahanya, Ivanna mendesah pelan sambil meremas lengan Bryan. Dengan lihai Bryan berhasil menyentuh milik Ivanna.


“B-bukan ini maksud-kuu nghh" Mendengar lenguhan Ivanna membuat jantung Bryan berdetak dengan kencang. Ia mengigit bibirnya gemas melihat raut sayu Ivanna.


"Don't be shy bunny! Perlihatkan kepadaku bagaimana caramu bertingkah seperti ******!" Bryan mengigit cuping telinganya hingga membuat Ivanna meremas dengan kencang lengan Bryan.


"Kau sangat cantik dengan wajah nakalmu babygirl! Can I just **** you now?" Ivanna menggeleng, Ia berusaha melepas tangan Bryan yang bermain-main di bawah sana. Bryan mulai memasukan salah satu jarinya kedalam sana, membuat Ivanna sedikit berteriak karna kesakitan.


"Ahhh s-sakit sekali, lepaskan!!"


Bryan mencium bibir Ivanna, ia mencoba mengalihkan rasa sakit Ivanna dengan membuat Ivanna melampiaskannya dengan ciuman. Ivanna mengigit bibir Bryan hingga berdarah.


"Wow bunny, kau agresif sekali." Bryan kembali memainkan jarinya dibawah sana, hingga tak lama kemudian Ivanna melenguh karna hendak mencapai puncaknya.


"Shhhh stophh aku merasakan anehh nghhhh!" Ivanna pingsan dan jatuh tepat di dada kokoh miliknya, sementara Bryan menatap jari tangannya yang basah dengan sedikit semburat warna pink. Ia tersenyum puas.


"Ahh damn it, I will tear you up 'till you cry and beg me to **** you babygirl." Bryan menjilati tangannya.


Bryan menggendong Ivanna, dan menidurkannya di atas kasur miliknya. Bryan menyelimuti badan mungil Ivanna dan mencium keningnya.


"Have a nice dream my precious bunny!" Bryan berdiri dan menatap celananya.


"****! Sepertinya aku harus bermain sendirian."


Bryan melangkahkan kakinya ke kamar mandi, meninggalkan Ivanna yang tengah tertidur karna pingsan.


"Bryan!!!"


Yoanna membuka dengan keras pintu ruang kerja Bryan. Ia menggeret kopernya dan membawanya mendekati Bryan.


"Astaga mama ada apa?" Bryan memijat pangkal hidungnya, ia melirik mamanya yang sedang bermain dengan ponselnya.


"Kemana Ivanna? Kok mama belum liat sama sekali ya seharian ini?" ucap Yoanna membuat badannya yang lemas tiba-tiba tegap seketika. Bryan berdeham lirih.


"Memang kenapa mama mencari Ivanna? Bukankah mama waktunya berangkat sekarang?" Yoanna mengipasi wajahnya, lalu melirik sinis anak laki-lakinya itu.


"Mama mau suruh Ivanna bawa koper mama dong, kamu kenapa sih sayang sensitif sekali kalau mama mencari Ivanna?"


"Mama mau pendekatan. Siapa tahu Ivanna mau sama Ben!" Yoanna melirik kearah Bryan, melihat responnya apabila ia menjodohkan Ivanna dengan Bennedict. Untung saja cara ini berhasil, Bryan tampak tersedak minumannya sendiri.


"Huh dasar malu-malu kucing" Batin Yoanna sambil tersenyum puas.


"MA? Kenapa harus Ben coba? Sudah sana mama pergilah." Bryan meraba saku celananya. Ia memanggil Lucian.


"Kemarilah Lu, antar nyonya besarmu pergi ke bandara. Beliau sangat tak sabar untuk segera menginjakkan kakinya di pantai Waikiki!” Bryan melirik kearah Yoanna. Ia mematikan panggilannya dan meletakkan ponselnya,


"Baiklah, selamat tinggal mama. Hati-hati dalam perjalanan dan semoga selamat sampai tujuan." Ucapnya lagi sambil terfokus dengan layar monitor di depannya, Yoanna berdecih pelan.


"Dasar anak durhaka ya kamu Bryan, mama doakan Ivanna berjodoh sama Ben!" Omel Yoanna. Tak lama kemudian Lucian datang hendak membawakan koper milik Yoanna.


"Mari Nyonya, kita segera berangkat ke bandara.” Yoanna melirik Lucian, setelahnya melirik tajam kearah Bryan. Ia mendesah pelan dan meninggalkan Bryan dengan kesibukannya. Setelah pintu tertutup, Bryan melepaskan kacamata yang terpasang di telinganya dan memijat pelan pangkal hidungnya.


"Haaahhhh menyebalkan."


Ponsel berwarna hitam yang berada di atas nakas itu nampak bergetar. Layar ponselnya beberapa kali berkedip dengan beberapa tumpuk pesan singkat yang tak terbaca muncul di layar utama. Antonio yang baru saja bergelut dengan wanita-wanita sewaannya kini harus bangun dan mematikan ponselnya yang terus saja bergetar.


"Huh Samuel meneleponku? Kalian pergilah dari sini!" Antonio mengangkat panggilannya, dua orang wanita itu dengan gaya sensualnya memakai kembali pakaian mereka dan mengambil satu orang satu lembar cek yang berada di atas nakas.


"Morning son! How are you?" Antonio berbasa – basi, namun Samuel hanya diam dari balik ponselnya.


"Aku baik, bisakah kau mengirimiku uang? Aku membutuhkan 200 juta sekarang." Antonio berdecih,


"Benar-benar mata duitan seperti wanita itu'"Batin Antonio. Ia tersenyum menjawab panggilan anaknya.


"Tentu saja, aku akan mengirimkanmu uang


sekarang."


Klik!


Panggilan itu diputus oleh Antonio, ia kembali bergulir di layar ponselnya dan mengetik sesuatu.


"Aku mengiriminya uang sebesar $20.000, apa yang akan dilakukan anak itu dengan uang tersebut? Ah apa yang aku pikirkan? Like father like son bukan?” Antonio tertawa sambil mengirimi Sam pesan singkat.


Takl lama kemudian Sam kembali membalas pesannya. Matanya mendadak membola ketika membaca pesan tersebut. Senyumnya terbit di wajahnya.


"Hahahaha gotchu Benvolio, aku menemukan salah satu kelemahan dari putramu. Bagaimana kalau aku mengambil 'mainannya'? Pasti bocah bau susu itu akan menggila, dengan begitu sedikit demi sedikit aku bisa menggoyahkan BLACKWINGS!"


Antonio kembali memakai pakaiannya, ia pergi menuju lantai satu.


Antonio di sembunyikan oleh Mr. X didalam basementnya, karena seseorang memblokir akses masuk kembali ke negaranya. Antonio berpikir bahwa ini semua adalah perbuatan Louise Benvolio. Tangannya mengepal ketika mengingat Loise dengan kejamnya membunuh anak buahnya di tepi lautan.


"Ingat baik-baik Louise, kau dan keluargamu akan membayarkan apa yang kau perbuat kepadaku!"


Ting!


Lift terbuka di lantai satu, ia menaiki tangga dan berjalan menuju ruangan milik Mr. X.


Ia berdiri di sebuah pintu yang dijaga ketat oleh ajudannya, ia menelan salivanya sebelum memberanikan diri mengetuk pintu.


"Masuklah!"


Salah satu ajudannya membuka pintu tersebut, dari balik pintu itu Mr. X nampak sedang memanjakan seorang gadis muda yang sedang duduk diatas pangkuannya. Salah satu tangannya menampar bagian belakang gadis itu hingga gadis itu berteriak dengan manjanya.


"Ada hal apa kau kemari Antonio?"


"Samuel telah menemukan kelemahan Bryan Benvolio." Mr. X tersenyum, matanya yang berada dari balik topengnya menyiratkan amarah yang besar.


“Bagus, biarkan Sammy kecil menjalankan rencananya. Kita lihat apakah anak itu berguna atau tidak bagi kelangsungan Oregon!"