Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 12



"Tuan, pasukan Alpha


melaporkan ada kurang lebih 5 orang anggota Oregon yang berdiri di menara pemancar!"


"Pasukan Alpha dimengerti, pasukan Omega?"


"Pasukan Omega melaporkan ada 21 orang berdiri didekat pelabuhan!"


"Bagus! Tetap awasi mereka. Saat kapal mendekat, tembak orang orang yang berada di menara pemancar, dua orang pengawas buat skenario kebakaran dari dalam ruangan tersebut. Alpha?"


"Siap dipahami!"


"Omega! Bunuh semua yang membawa senjata ketika api mulai membesar!"


"Siap dipahami!"


Tuttt


Bryan mematikan saluran komunikasi dengan kedua pasukannya, sementara itu Bryan serta beberapa anak buahnya tengah bersiap menunggu disekitaran pelabuhan.


"Lu, ada kabar tentang papa?"


"Tuan besar sudah mengepung villa tempat para penghianat itu menginap bersama beberapa anak buahnya. Semua sudah siap menunggu aba aba dari kita”


"Baiklah! Kapal akan mendekat dalam waktu kurang lebih 45 menit lagi. Pastikan seluruh anggota siap dalam posisi. Ingat dalam keadaan mendesak opsi B diperlukan! Paham semuanya?"


"Paham!!"


Bryan mengawasi orang orang yang berada di dekat pelabuhan menggunakan teropong jarak jauhnya. Mulutnya tampak berkomat kamit menghitung jumlah orang yang berada disana. Tak lupa ia melihat beberapa anak buahnya mulai berjalan memasuki menara pemancar dengan cara mengendap endap.


Pzzztt zzzt


Bryan mulai menghidupkan kembali saluran komunikasi kepada para sniper dan juga pengumpan.


"Siap semuanya?" Bryan berbisik


lirih. Ia berharap semoga aksinya berhasil.


"Pasukan Alpha, siapkan senjata kalian. Tembak dalam hitungan 3,2,1 !"


Brukk!


Suara jatuh dan beberapa erangan menggema dari saluran komunikasi pengumpan, itu tandanya satu persatu dari lawannya telah tumbang. Tampak Bryan memberi isyarat kepada mereka untuk membuat kebakaran dengan merusak sebagian peralatan supaya menciptakan efek konsleting pada arus listrik. Perlahan tapi pasti terlihat sinar kemerahan dari dalam menara pemancar. Tampak beberapa orang yang menunggu di dekat pelabuhan kebingungan.


"Hallo? Halo A? Ah sial!"


Salah satu dari mereka terdengar mengumpat, pasukan pengumpan telah menyelesaikan misinya. Mereka terjun ke bawah air menggunakan pakaian selamnya. Api perlahan mulai membesar, kembali Bryan menghidupkan saluran komunikasinya.


"Pasukan Omega? Mulai menembak!"


Bryan mengawasi lawan menggunakan teropong jarak jauhnya, senyum sinis ia tunjukkan tak kala beberapa dari mereka berhasil di jatuhkan. Bryan dan lainnya segera mendekati area pelabuhan.


Drrtt drtttt


"Ada apa?"


"Tuan! Orang orang kita yang sedang menunggu di pelabuhan ditembaki! Kita dikepung BLACKW- arghhhh!"


"Apaa? Halo pete, hal-!!"


Tak lama kemudian panggilannya terputus. Pria itu memukul pelan dinding disampingnya.


"Ada apa Ric?" Seorang pria paruh baya lainnya mendekati pria tersebut.


"Pelabuhan dikepung! Semua awak berjatuhan. Besar kemungkinan kita juga terkepung oleh BLACKWINGS!"


"A-apa? Sial kita harus bergegas !" Antonio menutup koper yang berisi cocaine dan beberapa puluh lembar uang dollar dan bergegas menuju bawah tanah.


"Basement kita terhubung langsung ke terowongan laut. Seharusnya tidak ada yang paham jalur ini karna mereka tidak menyertakan basement ketika menjual villa ini" ucap Antonio sambil kebingungan membawa barang curiannya, sementara Ricardo mengikutinya dari belakang.


Antonio membuka radar miliknya, beberapa bintik bintik merah mengepung villa mereka. Ia tersenyum sinis.


"Dasar bodoh! Mereka adalah clan bodoh yang berisi orang orang tolol dan kolot hahahaha. Sekarang kita kaya!"


Cukup lama mereka berjalan melewati terowongan yang sedikit lembab dan bau itu. Mereka melihat sebuah cahaya dari ujung terowongan tersebut.


"Itu dia!!"


"Kemana Diego?"


Antonio memanggil seseorang yang ia tugaskan untuk menunggu di ujung terowongan air itu, berkali kali panggilannya tak diangkat. Ketika mereka sampai diujung terowongan, seorang pria telah mengoyak tubuh Diego menjadi beberapa bagian ditemani oleh beberapa pria menyeramkan lainnya, pria itu menoleh. Dia adalah Louise Benvolio.


Antonio memanggil seseorang yang ia tugaskan untuk menunggu di ujung terowongan air itu, berkali kali panggilannya tak diangkat. Ketika mereka sampai diujung terowongan, seorang pria telah mengoyak tubuh Diego menjadi beberapa bagian ditemani oleh beberapa pria menyeramkan lainnya, pria itu menoleh. Dia adalah Louise Benvolio.


"T-tuan Louise?"


"Stttt! Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu. Mari kita selesaikan bersama!" Senyum smirk menghiasi wajahnya yang mulai berkeriput. Saat mereka lengah seseorang menendang punggung mereka hingga tersungkur.


"Lihat anak buahmu?" Tunjuk Louise sambil berjongkok disamping kepala Diego, kemudian ia membuang kepala Diego kedalam laut.


"Dia terlalu mudah dikalahkan, jadi aku mulai dari mana? Kau dahulu atau kau, Antonio!" Ucap Louise sambil menyayat pisaunya di pipi Antonio.


"Arghhhh! Brengsek kau Louise!" Tawa Louise menggelegar disusul tepuk tangan darinya.


"Akhirnya kau membuka topeng aslimu Antonio. Kalian! bawa binatang ini kedalam ruang mainan, biarkan aku mengeksekusi Ricardo!" Antonio digelandang oleh 3 orang dan dibawa naik ke kapal menuju Italia. Sedangkan beberapa orang lainnya masih setia menunggu tuan besar mereka menurunkan aba aba untuk mengeksekusinya.


"Baiklah kita mulai dari mana Ricardo Alfonso? Ikat dia!"


"Siap tuan!"


Bryan bersama beberapa pasukannya mendekati pelabuhan. Disusul oleh Lucian yang berjalan dibelakangnya, lalu ponsel milik Lucian bergetar.


Drttt drttt!


Sebuah pesan masuk dalam ponsel Lucian.


'Tuan besar sudah membawa Antonio Edmondo kedalam sebuah kapal dan membawanya ke Italia'


"Tuan," Lucian mendekati Bryan lalu membisikkan pesan tadi. Senyum misterius terbit diwajahnya.


"Bagus, sekarang kita habisi mereka yang masih hidup. Lalu bakar pelabuhan ini sampai tak ada yang tersisa bahkan sebutir pasirpun!"


Bryan tampak asyik menembaki lawannya dari jarak dekat, tak jarang beberapa percikan darah mengenai wajahnya. Sementara yang lain ditugaskan untuk membakar beberapa gudang beserta isinya.


Bzzzt bzzzt


"Red code! Red code! Situasi berbalik, kita dikepung!" Suara samar dari alat komunikasi membuat Bryan dan lainnya terdiam. Ternyata Oregon lebih dulu memasang umpan mereka, Bryan mengangguk.


"Baiklah, sekarang kita gunakan plan B! Lucian, pancing mereka!"


"Baik tuan"


"Hmmm ahhhhh, aku mencium bau kemenangan" Ucap Bryan sambil mengembuskan nafasnya kasar. Beberapa orang-orang dari Oregon tampak menuruni bukit dengan membawa senjata mereka. Bryan menyuruh pasukan snipernya agar tak menembaki mereka sampai mati,


Crashhhh!


Lengan kirinya tertembak sebuah timah panas, Bryan yang tak memiliki rasa takut itupun semakin tertantang dengan mendekati Oregon.


"Damn! Peluruku kosong!"


"Lucian! Lemparkan bazzoka!" Lucian yang berada dibelakangnya melemparkan sebuah bazzoka, benda itu menggelinding dan berhenti tepat di samping kakinya. Bryan mengambil bazzoka itu dan mengarahkannya ke mereka.


"Hasta la vista, baby!"


Duarr!!


Pelurunya jatuh tepat di mengenai sasaran, suara ledakan yang besar memicu kengerian disekitarnya, jangan lupakan Bryan yang tampak senang saat ia berhasil menjatuhkan musuh musuhnya.


"Hancurkan lokasi sampai tak tersisa semuanya! Sekalian tenggelamkan kapalnya, dan biarkan mereka beristirahat dengan tenang hahahaha!" Bryan menyulut cerutunya, dan menghembuskan asapnya naik keatas.


"Haha..hahahaha benar! Tentu saja harus seperti ini aroma kemenangan milikku!" Lucian berjalan tergopoh gopoh mendekati Bryan, tentu saja ini bukan pertanda baik. Sepertinya. Bryan menatap dengan sebelah alis terangkat begitu Lucian sampai di depannya.


"Tuan, Edmondo berhasil kabur! Ia menguasai kapal dan menjatuhkan orang orang kita ke bawah laut!" Bryan tampak tak terkejut, ia menarik kasar kerah Lucian.


"Hah, sudah kuduga manusia kotor itu akan melakukan hal seperti ini" Bryan menampar pipi Lucian dengan tamparan yang semakin lama semakin kencang.


"Brengsek! Harusnya dia mati setelah aku memberitahu semuanya baj*ngan!" Lucian jatuh tersungkur, Bryan dengan tampak kalut menghabiskan sisa ceritunya. Mendadak ia mendesis karna peluru yang bersarang di lengannya.


"Mari kita kembali, kita hancurkan dia bersama kapal itu! Lucian, siapkan helikopter, sepertinya dia lebih memilih dikubur diatas kapal"


Lucian memberitahukan orang orangnya untuk segera meninggalkan pelabuhan, setelah diyakini semuanya sudah musnah ia naik ke helikopter bersama yang lainnya.


'Aku harus segera membawa Ivanna kepadaku!' Batin Bryan saat ia naik keatas helikopter.


"Tuan, radar menujukkan kapal berjalan bukan ke Italia. Ia menuju ke spanyol!"


"Baiklah, kita dekati kapalnya! Siapkan beberapa pasukan dengan Bazzoka, aku ingin dia langsung mati. Persetan dengan rahasianya aku harus membunuhnya dan anak haramnya itu!" Bryan tampak menggigit jarinya, sebuah kebiasaan yang ia lakukan bila dia sedang terlalu gugup. Tangannya pun telah diperban sesaat ketika ia naik ke helikopter.