Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 30



Ruang kerja mendadak hening. Bryan kembali duduk di kursi kerjanya. Ia mengetuk pelan meja kerja dengan jari – jarinya.


"What the ****!" Ia mengumpat. Bryan mengigit ibu jarinya.


"Tuan, sepertinya nona Ivanna tak mengetahui hal tersebut." Ucap Lucian menenangkan Bryan.


"Ya, dia belum mengetahuinya. Tugasmu sekarang adalah memastikan hal ini tak diketahui orang lain. Biarkan Ivanna tetap bekerja di sini. Lalu berikan surat tanah itu kepada Biarawati Grace." Lucian mengangguk, ia pergi meninggalkan Bryan yang masih dalam keadaan kalut. Bryan memukul meja kerjanya.


"Sial, sial, sial!"


Grace dan yang lainnya tampak bergembira ketika seseorang yang diketahui sebagai perwakilan pemilik tanah datang membawakan sertifikat tanah itu.


"Kau sudah memberi tahu Anna tentang ini bukan?" Grace menoleh kepada Irene dan Celine. Mereka berdua mengangguk.


"Tapi ponselnya tak aktif, namun aku sudah mengiriminya pesan singkat." Ucapan Celine membuat Grace mengangguk lalu tersenyum.


"Mungkin saat ini dia sedang sibuk. Semoga saja setelah Anna membacanya ia akan memilih pulang dan bekerja di dekat sini. Jujur saja aku tidak tega melihatnya bekerja jauh dari rumah." Mereka semua mengangguk. Sertifikat tanah kini sudah berada di tangan mereka, dan merekapun saling memeluk satu sama lain.


"Aku tak sabar menunggu kedatangan Anna. Pasti anak itu senang melihat sertifikat tanah ini."


Lucian mencoba menyelidiki siapa yang membantu para biarawati tersebut. Ia mengumpulkan beberapa bukti video dari cctv yang sengaja di pasangnya beberapa waktu lalu di sekitaran panti asuhan. Lucian akhirnya mendapatkan sebuah bukti berupa sebuah mobil tanpa plat dan sepasang pria dan wanita yang mengaku bahwa mereka adalah suami istri. Sebelum pria di dalam video itu masuk, pria itu tampak tersenyum pada cctvnya.


"Apakah mereka tahu bahwa ada orang yang mengawasinya? Mobil itu, walaupun terlihat baru namun itu adalah mobil lawas. Pasti mereka sengaja melepas plat itu dari mobilnya. Ada yang tidak beres disini." Lucian bergumam. Tiba-tiba Bryan masuk kedalam ruang kerjanya, ia melirik sekilah Lucian yang sedang sibuk pada layar komputernya.


Bryan menghisap cerutu yang tinggal sedikit itu, menyandarkan punggungnya pada kursi kerjannya.


"Ada pembaruan Lu?" Lucian menggeleng. Belum


Saatnya ia menceritakan hal ini kepada Bryan. Ia harus menyelidikinya lebih dalam.


"Aku sudah menambahkan point penting pada surat kontrak Ivanna, aku harap Ivanna akan merasa terbebani dan tetap berada di mansion." Ucap Bryan yang dibalas anggukan oleh Lucian.


Tok tok tok!


Pintu diketuk, lalu suara lembut dari balik pintu membuat Bryan dan Lucian mematung seketika.


"Bryan, ini mama. Boleh mama masuk sebentar?"


Lucian dan Bryan saling bertatapan, Lucian mengangguk kepada Bryan tanda ia setuju. Lucian membuka pintu itu, menampilkan Yoanna dengan balutan one set celana panjang berwarna biru tua dan blazzer yang berwarna putih tengah membawa sebuah map cokelat. Suara hak sepatu pumps berwarna hitam itu bergema di ruangan kerja Bryan yang sepi. Lucian izin untuk undur diri lalu meninggalkan Bryan bersama dengan Yoanna.


"Ada apa ma?"


"Besok mama akan terbang ke Hawaii. Papa dan Ben, mereka tak bisa kemari. Mama harap kamu kembali ke Italia sayang." Bryan mengangguk, ia melirik map coklat yang dibawa oleh Mamanya.


"Apa itu ma?" Yoanna menatap map coklat itu, lalu meletakkan map itu di hadapan Bryan.


"Apa yang kau bicarakan dengan mamaku?" Suara baritone itu mengeras. Ivanna meneguk ludahnya, ia menatap pergelangan tangannya yang digenggam kuat oleh Bryan.


"A-apa maksud Anda tuan?"


"Kau berpura-pura terlihat bodoh didepanku bukan Ivanna, jawab pertanyaanku! Apa yang kau bicarakan dengan mama ku beberapa hari yang lalu?” Ivanna terdiam, senyum sinis terbit di wajah Bryan. Dengan satu tangan yang lain Bryan melepas sabuknya.


"Jawab Ivanna, aku bukan orang penyabar."


"Nyonya bertanya apa alasanku bekerja disini, aku menjelaskan keadaan yang sebenarnya padanya. Apa yang salah?" Teriak Ivanna, Bryan mengikat kedua tangan Ivanna dengan sabuknya, lalu melemparkan tubuhnya di atas ranjang yang belum selesai di ganti spreinya itu.


"Kau terlalu banyak bicara Ivanna, kau seharusnya menyembunyikan semua masalahmu sendiri. Kebenaran itu menyakitkan! Kau mau mencoba tahu apa itu kebenaran yang menyakitkan?"


"Apa maksudmu?" Bryan tersenyum smirk, ia menindih tubuh Ivanna. Mencondongkan wajahnya pada sisi kanan Ivanna. Bryan tampak membisikkan sesuatu,


"Akulah yang membeli tanah panti asuhan itu. Akulah yang membuatmu dan sahabat konyolmu itu keluar dari tempatmu bekerja. Dan aku juga yang membuatmu bekerja padaku. Bagaimana?" Bryan menarik wajahnya. Menatap wajah Ivanna dengan senyum smirknya. Mata gadis yang berada di bawah kungkungannya memerah serta air mata yang menggenang di matanya perlahan lahan luruh juga. Ia menatap nyalang kepada Bryan yang sedang menindihnya.


"Kau benar-benar brengsek Tuan Bryan Benvolio. Bahkan iblis pun heran dengan kelakuanmu yang lebih buruk dari mereka. Kau adalah definisi manusia sampah yang sebenarnya!" Ivanna terus memaki Bryan dengan kata-katanya yang kasar. Bryan hanya mampu menatap Ivanna yang memakinya dengan tatapan kagumnya. Bryan bangkit dari tubuh Ivanna dan bertepuk tangan.


"Wow, impresive! Aku menyukai keberanianmu bunny!"


"Kau lupa? Bahwa panti asuhan adalah rumahmu juga. Apa yang terjadi dengan otakmu? Kau tidak menjualnya bukan? Kau pria konyol dan menjijikan!"


"WATCH YOUR MOUTH" Bryan menekankan setiap kalimatnya, namun tetap saja Ivanna memakinya.


"Kau pria menjijikan, aku muak denganmu. Aku menyesal telah mengenal kakak yang ku anggap baik, nyatanya ia hanya sampah. KAU BRENGSEK, ENYAHLAH DARI HADAPANKU! MATILAH DAN KEKAL DINERAKA!" Ivanna menangis hingga berteriak, memaki Bryan dengan kata-kata buruk yang bahkan tak terlintas di pikirannya untuk memaki seseorang.


"Aku membencimu." Tangan Bryan terkepal, Ivanna boleh memakinya tapi untuk membencinya?


"Kau sudah selesai Ivanna?" Ivanna tergugu, kekuatan untuk memaki dan mengutuk Bryan telah habis. Ia pasrah kepada hidupnya saat ini.


"Baiklah, giliranku untuk berbicara bukan?"


Bryan menepuk pelan pipi kiri Ivanna, semakin lama tepukannya berubah menjadi kasar. Sampai – sampai wajahnya menoleh ke kanan.


"Kau kira dengan siapa kau berurusan sekarang hmm? Kau boleh memakiku atau bahkan mengutukku dengan sumpah serapahmu. Tapi kau tak boleh membenciku. Kau tahu kenapa?" Ivanna tergugu.


"Karna aku mencintaimu Ivanna, hahahaha aku mencintaimu. Aku menginginkanmu sekarang! Ah ****!" Bryan mencondongkan kembali kepalanya, berbisik di telinga Ivanna sambil sesekali meniupnya.


"Sepertinya beberapa hari ini aku terlalu baik kepadamu? Baiklah. Aku rasa aku harus membuatmu sadar."


Bryan menggendong Ivanna layaknya karung beras, melewati pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang kerjanya. Ivanna meronta dan berteriak dengan keras, meminta pertolongan kepada siapa saja yang berada di dalam mansion. Bryan terkekeh.


"Berteriaklah Ivanna! Bahkan sampai kau kehilangan suaramu mereka tak akan berani masuk kemari. Kau hanya memiliki aku sekarang, kau tahu? Memohonlah padaku untuk melepaskanmu sebelum terlambat, dan akan kupastikan kau akan menyesalinya."


"Persetan dengan apa maumu sekarang. Bunuh saja aku!" Bryan tersenyum smirk,


"Kau ingin ku bunuh? Tentu saja! Tapi sebelumnya kau harus melahirkan anak untukku.”


"Lepaskan aku brengsek! Biarkan aku yang membunuhmu! Akan kuantarkan sendiri kau kepada Tuhan dengan kedua tanganku!”


Mereka sampai di ruang kerja itu, Bryan menarik sebuah buku hingga sebuah pintu terbuka. Ruangan itu sangat gelap. Namun ketika pintu itu tertutup, lampu otomatis menyala.


Ivanna begitu terkejut ketika melihat ratusan bahkan ribuan fotonya terpampang jelas di tembok dan menyebar begitu saja. Jangan lupa beberapa barang pribadi miliknya yang sempat ia kira menghilang ternyata benda itu tersusun rapi di sebuah nakas.


Bryan menidurkan tubuh Ivanna di ranjang itu,


"Kau benar-benar seorang maniak! stalker! Menjijikan!"