
Sarapan sudah berjejer rapi di meja makan. Bryan turun lalu berjalan menuju kursi di ujung meja makan. Hari ini moodnya sedikit membaik setelah ia berhasil menggoda Ivanna berulang kali.
"Panggil Ivanna!" Ucap Bryan kepada seorang maid yang sedang membawakan sebuah kopi kepadanya, maid itu mengangguk lalu berjalan ke bagian dapur. Ivanna yang saat itu sedang mencuci tangannya terkejut takkala seorang maid menepuk bahunya.
"Kau dipanggil Tuan, Ivanna. Seharusnya kau yang melayaninya."
"A-ah baiklah. Terima kasih sudah menginggatkanku!"
"Tentu saja, bergegaslah."
Ivanna berjalan pelan mendekati Bryan yang sedang berbicara dengan Lucian. Bryan melirik sekilas Ivanna, lalu menarik tangan Ivanna hingga gadis itu limbung dan terduduk di pangkuannya. Ivanna terkejut, ia menatap Bryan yang sedang menatapnya juga.
"Suapi aku!" Ucap Bryan, mau tak mau Ivanna melakukan hal yang di inginkan Bryan walau ia harus duduk dalam posisi yang tidak menyenangkan.
"Lanjutkan Lu!"
"Seperti yang Anda inginkan sebelumnya, tuan Ben mau menggantikan posisi sementara Anda.
Dan tuan besar Louise juga menyetujui usulan Anda. Hanya saja, tuan besar meminta untuk kegiatan di luar negeri beliau menginginkan Anda yang turun tangan langsung!" Bryan mengangguk paham. Lucian berlalu membawa berkas berkasnya kedalam ruang kerja Bryan. Ivanna masih duduk di pangkuan Bryan dan menyuapi pria tersebut.
“T-tuan?”
"Diamlah, aku belum menyuruhmu untuk berhenti!" Ivanna mengangguk gugup, lalu meneruskan menyuapi Bryan. Sesekali karna instingnya yang sering menyuapi adik adiknya, Ivanna tak segan mengelap wajah Bryan ketika ada sebutir nasi yang menempel di sekitar bibir pria itu.
Tangan Bryan tentu saja tak tinggal diam, Ia mengelus pelan kaki gadis itu. Semakin lama semakin naik hingga mendekati ujung rok Ivanna, tentu saja Ivanna terkejut. Sendok yang dipegangnya perlahan bergetar.
"Aku tak menyuruhmu diam Ivanna, lanjutkan.” Ivanna tetap menyuapi Bryan walau dengan tangan yang gemetaran. Bryan melanjutkan aksinya, Ia mengelus elus paha Ivanna hingga sampai dibagian pangkal paha. Ivanna bangkit dari pangkuan Bryan, dan memilih untuk pamit pergi ke belakang.
"Maaf tuan, saya harus kembali bekerja di belakang."
"Apa-apaan gadis itu? Sial! Sepertinya aku harus mendisiplinkannya."
Ivanna berlari dengan air mata yang sudah sejak tadi membasahi pelupuk matanya, ia duduk di sebuah kursi di area taman. Menenangkan dirinya yang sudah kacau akibat ulah pria yang menjadi tuannya itu.
"Huhuhu hiks bunda! Kuatkan Anna. Atau haruskah Anna pergi dari tempat ini?" Ivanna terisak. Cukup lama sampai akhirnya ia merasakan tenang dan damai. Ia menyeka matanya.
"Aku harus pergi malam ini!" ucap Ivanna.
Ivanna melakukan tugasnya dengan tenang, untung saja setelah Bryan menggodanya habis-habisan tadi ia sama sekali tak menyuruh Ivanna datang kepadanya. Setelah selesai makan, Bryan dan Lucian menyelesaikan tugas mereka di ruang kerja. Ivanna ditugaskan untuk membuat dua buah minuman panas untuk dibawa ke ruang kerja tersebut.
Ceklek.
Ivanna mendorong troli berisi minuman panas dan juga beberapa cemilan. Ia menaruh cemilan dan minuman itu pada meja kerja masing
masing.
"Thanks Ivanna." Ucap Lucian, Ivanna hanya tersenyum membalas Lucian. Sementara Bryan tampak berdeham membuat keduanya menjadi canggung. Kini giliran Ivanna mendekati Bryan, menaruh minuman itu meja kerja Bryan.
"Thanks bunny!" Bryan menepuk pantat Ivanna, membuat gadis itu yang sedang berdiri membawa sepiring camilan terkejut.
"Ahh!"
Untung saja dengan sigap Bryan memegangi Ivanna. Ivanna tak sengaja duduk di pangkuan Bryan.
"Pervert!" Bisik Bryan dengan meniup lembut telinganya, Ivanna bangkit dan meninggalkan Lucian yang menatap keduanya keheranan.
Disore hari, Ivanna akan masuk kedalam kamar Bryan. Mempersiapkan baju ganti dan juga air panas untuk Bryan berendam. Ivanna duduk di pinggiran bathup sambil memainkan air dalam bathup dengan tangannya. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar.
"Bagaimana caranya kabur malam ini?"
Kalimat itu berputar putar di kepalanya. Entah keputusannya kali ini salah atau benar ia memilih untuk pergi dari Bryan. Ia takut dengan adanya kehadiran Bryan malah jadi menambah pelik hidupnya. Ia memegang erat cincin bandul kalungnya.
"Tolong beri aku kekuatan kak!"
Bryan membuka pintu kamar mandi, menatap kearah Ivanna yang sedang termenung memegangi kalungnya hingga tak sadar air dalam bathup telah meluap. Bryan berdecak pelan,
"Apa yang ada di pikiranmu, Ivanna?" Batin Bryan.
"Ceroboh!" Ivanna terkejut mendengar Bryan, lebih terkejutnya lagi rupanya air dalam bathup meluap hingga membuat roknya basah.
"Astaga!" Ivanna mematikan airnya, lalu bangkit. Sayangnya ok miliknya benar2 basah. Saat ia mengibas ngibaskan roknya Bryan mendorong Ivanna hingga jatuh kedalam bathup.
"Uhuk uhukkk!"
Bryan melepas bathrobenya, lalu ikut masuk kedalam bathup dan duduk berhadapan dengan Ivanna. Ia tersenyum puas melihat Ivanna tersedak air.
"Wah, kau lupa sedang berhadapan dengan siapa nona?"
"Aku tak peduli. Kau sungguh keterlaluan!" Bryan menekan dagu Ivanna hingga gadis itu meringis.
"Dan aku pun tak perduli, sepertinya mulutmu perlu di disiplinkan!" Bryan menyambar bibir Ivanna, mengigitnya hingga gadis itu melenguh. Ivanna tahu jika ia membuka mulutnya sedikit saja Bryan akan melakukan hal gila padanya. Sedangkan Bryan dengan mudahnya dapat membaca pikiran Ivanna, ia mengangkat tubuh Ivanna dan memangkunya. Jangan lupakan tangan nakalnya mencoba masuk kedalam rok milik Ivanna.
Ivanna melotot, ia tak diam begitu saja. Dengan kekuatan yang tersisa ia mencoba memberontak dan kabur dari pria gila itu. Ivanna mengigit kembali bibir Bryan hingga ia dapat merasakan anyir dari dalam mulutnya. Bryan melepas ciumannya, hal itu tak Ivanna biarkan saja. Sebuah tamparan berhasil mengenai pipi Bryan Kekuatan Ivanna yang tak setara dengan Bryan malah membuat telapak tangannya terasa kebas dan panas.
"Kau-! Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti ini pada gadis yang umurnya jauh dari mu? bahkan aku lebih layak menjadi adikmu. Benar - benar menjijikan! Aku muak bekerja disini, aku akan keluar!" Ivanna bangkit dari bathtub dan berlari keluar.
Bryan menyugarkan rambutnya kasar, masih dalam posisi berendam di dalam bathup. Sudut bibirnya terluka dan juga tamparan pada pipinya ternyata lumayan terasa sakit.
"Benar-benar gadis liar! Sungguh berbeda dengan imajinasiku padanya!"
Ivanna menutup keras pintu kamarnya, meringkuk di sudut kamar dan menangis sesenggukan.
"Bunda, maafkan Anna jika ternyata Anna tak bisa melunasi uang untuk mempertahankan rumah kita. Anna lelah harus berhadapan dengan pria memuakkan seperti dia!" Ia melepaskan pakaiannya, lalu menggantinya dengan baju yang ia gunakan saat pertama kali datang kesini. Mengemasi barang bawaannya dan pergi meninggalkan paviliun itu. Sialnya saat ia menapakkan kaki di di luar paviliun, hujan turun dengan deras.
Ivanna tak akan menyerah dan bertahan di tempat yang menyesakkan ini. Ia sudah mengingat jadwal beberapa penjaga dan juga maid di Mansion ini. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, sepertinya dewi fortuna pun menginginkan hal yang sama pada Ivanna. 2 menit lagi pergantian peniaga gerbang. Ivanna mengendap endap menuju sisi Mansion yang jarang dilewati penjaga itu.
Penjaga gerbang berlari masuk kedalam paviliun melalui sisi kanan mansion, Ivanna berlari menyelamatkan dirinya tanpa memikirkan risiko besar yang akan dihadapinya. Ia lupa, bahwa Bryan adalah orang yang tak pernah berpikir secara rasional.
"Hhhahh hhaaahh haaahh!" Ivanna berlari di tengah derasnya hujan, ia merasakan bahwa kali ini ia akan benar-benar terhindar dari Bryan.
"Tuan, nona Ivanna berhasil kabur!" Lucian yang mendapat panggilan dari paviliun menyampaikan pesan itu kepada Bryan yang saat ini sedang memakai pakaiannya. Bryan tersenyum smirk.
"Sebentar lagi akan ku beritahu kepadanya, orang seperti apa yang dihadapinya saat ini. Lu, kau tahu harus melakukan apa bukan?" Lucian meneguk ludahnya. Itu artinya ia harus menangkap Ivanna dan membawanya langsung kehadapan tuannya. Lucian menunduk hormat dan memanggil seseorang yang sudah mengawasi Ivanna tanpa diketahui oleh gadis itu.
Ivanna mulai merasakan pening akibat berlari di tengah hujan, badannya mengigil. Sebuah mobil melintas di sampingnya. Ia meminta pertolongan berharap penumpang dalam mobil itu mau memberinya pertolongan dan pergi dari sini. Ivanna salah, pria yang turun dari mobil adalah orang-orang milik Bryan.
"Lepaskan aku!!”
"Tolong! Seseorang tolong aku-"
Plak!!!
Salah satu pria itu menampar Ivanna.
"Diamlah nona, kau menyulitkan kita!"
Mobil itu bergerak memutar dan kembali menuju mansion.
Bryan menunggu Ivanna dengan menghisap cerutu miliknya.
"Setelah itu bawa dia ke kamarku, aku sendiri yang akan memberinya pelajaran!"
Ia bangkit dari sofa empuk itu dan berjalan menuju kamarnya setelah berbicara kepada Lucian.
Ivanna meronta, memohon untuk dilepaskan.
"Aku mohon lepaskan aku!"
Sayangnya, seluruh orang yang menatap Ivanna hanya mampu berusaha menulikan telinga mereka. Karna mereka tahu, ikut campur dengan Bryan Kael Benvolio sama saja dengan menyerahkan nyawa mereka secara cuma-cuma.
Ting!
Lift terbuka, dua orang pria itu menyeret tubuh mungil Ivanna dan membawanya kedalam neraka Bryan.
Ceklek
Bryan duduk di sofabed miliknya, menatap kearah orang-orangnya yang sedang membawa tubuh mungil Ivanna. Matanya melotot ketika melihat sebuah bekas tamparan tercetak jelas di pipi Ivanna.
"Siapa yang menamparnya?"
Salah satu dari mereka mendekati Bryan, tak disangka sebuah tamparan yang keras membuat pria itu terpental dan jatuh di samping Ivanna.
"Jangan lagi aku melihat orang lain menamparnya atau bahkan menyakitinya walau itu hanya seujung kuku jari, Ivanna milikku. Hanya aku yang boleh menyakitinya. Kalian paham?" Bentakannya membuat kedua pria itu mengangguk
"Bagus, sekarang pergilah!" Kedua pria itu pergi, menutup pintunya dan meninggalkan Ivanna yang sedang bersimpuh dan terisak berada satu ruangan dengan Bryan si pria gila. Bryan mendekati Ivanna, langkah kakinya bahkan terdengar seperti bunyi detik jam yang menakutkan.
Bryan tersenyum sinis menatap Ivanna yang sedang menangis sambil bersimpuh, benar. Harusnya seperti ini. Ivanna memohon dan bersimpuh, mengemis kepadanya. Bukan berlari dan memberikan penolakan kepadanya terus menerus.
"Kau sudah selesai bermain-main denganku bukan? Sekarang giliranku Amore! Akan kutunjukkan seberapa gilanya aku kepadamu!"