Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 33



Ting!!


Sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi di ponselnya. Sam membaca pesan itu, senyumnya mengembang.


"Lumayan juga punya papa bule." Samuel kembali mengetik sebuah pesan, semoga pesan itu membuat papanya mau memberikan lebih banyak uang kepadannya. Ia memasukkan ponselnya pada saku celanannya. Sudah dua hari ini Samuel terus pergi ke panti asuhan, memastikan dengan kedua matanya sendiri kedatangan Bryan, ia berdecih.


"Sepertinya aku hanya membuang waktuku, tapi mencari tempat tinggal Bryan membutuhkan lebih banyak uang untuk menyewa mata-mata! Sial!" Samuel meninju pohon di sampingnya, ketika ia hendak pergi tiba-tiba Maria berdiri di dekatnya.


"Hai, kamu ngapain di sini?" Ucap Maria yang membuat Samuel menatap risih,


"Kau tak buta bukan? Pergilah!" Maria memanyunkan bibirnya, mengapa setiap pria yang mengenal Ivanna begitu ketus kepadanya. Padahal Maria lebih dewasa daripada Ivanna, apa yang spesial darinya?


"Ya ya ya terserah. Aku menunggu perintah selanjutnya tuan pemarah!" Maria berlalu meninggalkan Samuel yang mematung di samping pohon, Maria berjalan kaki menuju rumah Leon yang berada tak jauh dari panti asuhan.


Bryan menatap tubuh bagian belakang Ivanna yang sedang berjalan kesana kemari karna sedang membersihkan meja kerjanya. Bryan mengigit bibirnya sensual melihat bongkahan besar yang seperti memanggilnya untuk di tampar,


"Hei bunny?"


Ivanna menoleh, menatap nyalang wajah pria yang sedang duduk di kursi kerjanya dan menatapnya mesum.


"Kenapa? Jangan panggil aku bunny, aku bukan kelincimu!" Ivanna meneruskan pekerjaannya, menata kembali buku-buku yang berserakan, serta abu dan putung cerutu yang tersebar kemana – mana.


"Aku mau mengajakmu pergi ke panti asuhan!"


Ivanna menghentikan pekerjaannya, menoleh kepada Bryan yang tampak tersenyum puas melihat wajah Ivanna yang tampak terlihat lebih ramah.


"Sungguh? Sekarang?”


Sial aku benar-benar sudah tidak tahan lagi, ****!' Batin Bryan sambil mengigit ibu jarinya.


"Tentu, tapi itu semua tergantung dengan bagaimana caramu menyenangkanku?" ucapnya tersenyum nakal, Ivanna menarik sebelah alisnya.


"Maksudnya?" Bryan mendesah pelan, Ivanna benar-benar menguras emosinya,


"Kau harus menyenangkan aku.." ucapnya sambil


Melirik bergantian antara Ivanna dengan miliknya yang berada di bawah sana, Ivanna memelototinya.


"Menjijikan! Aku tak membutuhkanmu untuk bisa kembali ke panti asuhan!" Ivanna menghentakkan kakinya pergi meninggalkan Bryan, ia mendesah kasar.


"Bagaimana aku bisa memilikinya, sialan!" Sebuah ketukan pintu membuat Bryan kembali


duduk dengan tegap, Lucian berjalan masuk dan


berdiri di samping Bryan.


"Tuan, ini kunci mobil yang tuan minta." Bryan mengangguk, lalu memakai kembali jasnya.


"Panggil Ivanna kedepan." Lucian pergi meninggalkan Bryan, lalu disusul Bryan yang berjalan keluar dari ruang kerjanya.


Di dalam paviliun Ivanna dan beberapa maid yang lainnya tampak sedang berbincang-bincang.


"Jadi Ivanna, kapan kamu libur?" Ivanna terdiam dengan pertanyaan salah satu dari maid tersebut. Ia tampak berpikir.


"Iya ya? Ivanna kan sudah hampir satu bulan bekerja di sini. Biasanya para maid dapat jatah libur selama satu bulan sebanyak dua hari.” Beberapa dari mereka mengangguk. Ivanna hendak membuka suaranya ketika Lucian datang ke paviliun untuk menjemput Ivanna.


"Ivanna, tuan memanggilmu." Selepas kepergian Lucian, Ivanna bergegas mengikuti Lucian dari belakang. Mereka berdua berjalan menuju ruang depan. Ivanna kebingungan ketika menatap Bryan yang sedang berdiri dan bersandar pada pintu mobil.


"Ada apa tuan?"


"Masuklah kedalam, aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat."


Ivanna tampak ragu, ia menatap Bryan dan Lucian bergantian. Bryan membuka pintu dan mempersilahkan Ivanna untuk segera masuk.


"Masuklah, kau akan menyukainya."


Akhirnya Ivanna memilih masuk. Bryan menutup pintu dan pergi memutari mobilnya, lalu masuk melalui pintu lainnya.


"Baiklah kita berangkat!" Seru Bryan memutar kunci mobilnya, ia menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang. Ivanna tampak senang menatap pemandangan dari dalam mobil. Sesekali Bryan pun tampak melirik gadis yang sedang menyenderkan kepalanya pada kaca mobil.


"Kau menyukainya?" Tanyanya pada Ivanna, tampak gadis itu malas menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.


"Mhmm. Tentu saja, tak pernah keluar dari mansion sedikit membuatku gila karna harus merawat orang gila juga."


Citttt!


Mobil Bryan berhenti mendadak, Bryan menginjak remnya dan kembali menatap Ivanna dengan tatapan sinis.


"What the ****? Maksudmu aku gila?" Ivanna melipat kedua tangannya enggan menjawab pertanyaan Bryan. Bryan berdecih dan kembali menjalankan mobilnya. Mereka berdua sama-sama terdiam hingga akhirnya mobil itu melewati jalanan yang begitu familiar bagi Ivanna. Ia menegakan badannya dan menatap ke arah itu melaju.


"Bunda?" Ivanna terharu, mobil itu berhenti tepat di depan gerbang. Ketika Ivanna hendak membuka pintu mobil itu Bryan terlebih dulu menarik pergelangan tangannya.


"Jangan berani - berani bercerita tentang dimana kau bekerja, dan apa yang aku lakukan pada panti asuhan itu. Sampai satu patah kata terucap di mulutmu, aku akan melakukan sesuatu hal padamu dan membuatmu menyesalinya. Kau mengerti Ivanna ?"


Ivanna menelan salivanya ketika mata Bryan mengintimidasi, ia hanya mengangguk pasrah mendengar ucapan pria itu.


"Goodgirl, aku akan mengikutimu dari belakang." Bryan tersenyum dan mengusap bibir Ivanna lembut, lalu Ivanna turun dari dalam mobil sambil menyentuh bagian jantungnya yang berdetak kencang. Tak lama kemudian Bryan turun dan merekapun masuk kedalam panti asuhan itu bersama-sama.


Drttt drttttt


Ponsel Samuel bergetar, panggilan dengan nama kontak RATTLESNAKE. Sam mengangkat panggilan itu.


"Ya? Ada hal penting apa hingga kau memanggilku?"


"Aku melihat mobil yang biasa di tumpangi Bryan sedang parkir di depan panti asuhan. Sepertinya dia sedang datang sendiri ke sana."


Senyum Sam mengembang.


"Lakukan seperti yang aku minta, aku sudah memberimu sesuatu beberapa hari yang lalu di dalam tasmu." Samuel memutuskan panggilannya, Ia kembali menghisap rokoknya dan membumbungkan asapnya tinggi-tinggi.


"Huftttt akan seperti inilah aroma kemenangan Bryan, nantikan kehancuranmu!!"


Di sisi lainnya Maria sedang merogoh ke dalam tasnya, mencari sesuatu yang ditinggalkan oleh Samuel. Dan akhirnya ia menemukan sebuah obat.


Di sisi lainnya Maria sedang merogoh ke dalam tasnya, mencari sesuatu yang ditinggalkan oleh Samuel. Dan akhirnya ia menemukan sebuah obat didalam botol kecil.


"Obat apa ini?" Ucapnya, ia membaca nama obat itu dan mencari jawabannya di mesin pencari dalam ponselnya.


"Ahhh obat perangsang, sepertinya aku bisa mengambil keuntungan dari benda ini." Maria menggengam botol obat itu dan tersenyum misterius. Ia bergegas memasukkan obat itu kembali kedalam tasnya dan mulai menjalankan aksinya untuk pergi ke panti asuhan itu.


Ivanna sedang bercanda gurau dengan Grace, dan jangan lupakan Vania yang juga sedang duduk di pangkuannya.


"Kakak pulang kesini kan? Kakak nggak akan pergi lagi kan?" Mulut kecil Vania merentetkan segala pertanyaan kepada Ivanna, gadis itu melirik Bryan sekilas dan memilih tersenyum canggung menjawab pertanyaan Vania.


"Oh iya, bagaimana kalian bisa bertemu?" Pertanyaan dari Grace membuat keduanya terdiam, Bryan berdeham singkat lalu menjawab pertanyaan itu.


"Aku bertemu dengannya ketika Ivanna sedang bermain di pinggir pantai, bukan begitu Amore?" Bryan mengusap pelan paha mulus Ivanna, dengan sebelah tangannya Ivanna menyentil tangan itu dan melirik tajam kearah Bryan. Lalu tersenyum kepada Grace dan menjawab pertanyaannya.


"Ivannaaa!" Maria memeluk Ivanna, Vania yang terkejut memilih pergi untuk duduk di pangkuan Grace. Bryan melirik sinis ke arah Maria.


"Hai, bagaimana kabarmu?"


"Aku baikkk~ kamu? Wah kamu pulang bawa kekasih ya Ivanna!" Wajah Ivanna mendadak seperti kepiting rebus, ia memukul pelan lengan Maria.


"B-bukan, dulu Bryan pernah tinggal di panti asuhan. Oh iya kamu belum berkenalan bukan? Dia Bri-"


"Kami sudah berkenalan, aku juga sudah berkenalan dengan kekasihnya." Ucapan Bryan dengan mimik wajah yang tampak sinis membuat Ivanna menelan ludahnya, sementara Maria menatap Bryan dengan tatapan menggodanya.


"Ya, kami sudah berkenalan." Maria mengigit bibirnya. Bryan berdecih dan memilih pergi ke pintu depan untuk menghidupkan cerutu.


Maria dan Ivanna saling memandang, "Kapan dia kemari?" Tanya Ivanna,


"Hmmm kira-kira beberapa hari yang lalu." Ivanna mengangguk, lalu menatap Vania yang sudah tertidur di pangkuan Grace membuat Ivanna berinisiatif untuk menggendong Vania,


"Bunda, biar Ivanna yang gendong Vania ke atas." Grace tersenyum, ia mengusap pipi Vania.


"Terima kasih sayang, kau tahu? Vania begitu merindukanmu." Kini giliran Ivanna tersenyum, ia berjalan menuju lantai atas dan pergi menuju kamar anak-anak. Sementara Grace izin kepada Maria untuk pergi menyusul kedua biarawati lainnya di taman belakang.


Maria menatap kiri dan kanan, ia memasukkan obat itu kedalam minuman Bryan. Mengaduknya dengan tangan kemudian mengelap tangannya dengan tisu. Tak lupa botolnya ia masukkan kembali kedalam tasnya.


"Beres!" Gumam Maria.


Tak lama kemudian datanglah Ivanna bersama dengan Bryan yang selesai menghabiskan cerutunya. Bryan meminum minumannya hingga tandas, Maria menatap gelas kosong itu dengan senyum kemenangan.


Sayangnya tak lama setelah itu Leon tampak datang tergopoh - gopoh memasuki pintu pnti asuhan, Ia terkejut tak kala melihat Ivanna sedang duduk bersanding dengan Bryan.


"Anna?"


"Leon!!" Mereka berdua hendak berpelukan, namun sebelum mereka bersentuhan Bryan menarik tangan Ivanna.


"Kau tak mungkin memeluk seseorang di depan kekasihnya bukan?" Leon berdecih, alasan konyol macam apa itu? Namun ia memilih diam sebab tatapan Bryan saat ini membuat dadanya sesak.


"Lain kali kita berpelukan Ivanna, sekarang aku mau mengajak Maria pergi." Leon menarik tangan Maria, gadis itu menatapnya penuh keheranan.


"Ada apa? Mengapa kau menarikku?" Ucap Maria, Leon terus kekeuh mengajaknya pergi.


“Ayolah, aku mengajakmu pergi ke suatu tempat." Leon menatap Ivanna dan Bryan bergantian seolah meminta tolong kepada mereka berdua untuk membantu membujuk Maria. Ivanna mengangguk,


"Pergilah Maria, sepertinya Leon sedang mempersiapkan kejutan untukmu." Ucapnya sambil tersenyum, mau tak mau Maria mengikuti Leon dari belakang.


"Sial bisa gagal rencanaku!" Batin Maria sambil mengigit jari tangannya.


Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Bryan merasakan hawa panas dari tubuhnya. Ivanna menatap Bryan yang keadaanya saat ini tampak seperti kepiting rebus.


"Sial gadis itu sepertinya memberikan sesuatu kedalam minumanku. Untungnya aku bisa menoleransi dosis perangsang dalam minumanku walau hanya sedikit" batin Bryan.


"Ah kau sakit?" Tangan Ivanna hendak meraih kening Bryan, walaupun hanya sebentar sebelum akhirnya Bryan menampik tangan itu namun Ivanna bisa merasakan bahwa kening pria itu terasa panas.


"Menjauh dariku Ivanna!"


Ivanna berjalan mundur, apa yang sebenarnya terjadi?. Disisi lain ia tak mungkin membiarkan Bryan tampak seperti sedang menahan kesakitan seperti itu.


"Biarkan aku membantumu naik ke kamarku, istirahatlah disana." Bryan berjalan mengikuti Ivanna dari belakang. Pandangan matanya menatap kearah bongkahan padat yang terpampang didepannya. Nafasnya kini sudah tak karuan. Ia melepas sabuk dan juga dasinya.


"****!" Umpat Bryan.


Sesaat setelah mereka masuk kedalam kamar, Bryan memutar kunci kamar itu.


Cklik


Ivanna menoleh kebelakang, tampilan Bryan yang acak-acakan dan juga sabuk dan dasi yang sudah terlepas membuat Ivanna bergerak mundur ketakutan hingga akhirnya ia terduduk di ranjangnya.


"Hey apa yang terjadi denganmu?"


Bryan memainkan sabuknya membentuk sebuah borgol, ia menangkap Ivanna dan mengikat tangan itu dengan sabuknya.


"HEY SADARLAH! KALAU KAU MELAKUKANNYA AKU AKAN MEMBUNUHMU!” Ivanna berteriak, Bryan tersenyum smirk lalu menciumi gadis itu dengan kasar,


"Hmppp!!" Ivanna berusaha memberontak walaupun kini tangannya terikat, Bryan mengangkat tubuhnya dan menyumpal mulut Ivanna dengan dasinya.


Bryan mengigit bibir bawahnya, sial tubuh Ivanna yang bergerak kesana kemari membuatnya ingin segera menyerangnya.


Bryan merobek paksa pakaian Ivanna, menciumi gadis itu dengan brutal.


Ivanna menangis dengan perlakuan Bryan, tiba- tiba Bryan melepas pakaiannya hingga kini hanya celana panjangnya yang tersisa. Ivanna menutup matanya ketika Bryan menarik restleting celananya dan memperlihatkan bagian paling intim dari dirinya. Ivanna terus merapalkan doa di dalam batinnya.


Tak lama setelah itu sesuatu yang padat berusaha memasuki intinya, Ivanna membuka matanya. Ia melihat Bryan sedang berusaha memasukkan miliknya kedalam tubuh Ivanna.


"Tenanglah baby girl, I'll be gentle." Bryan membisikannya di dekat telinga Ivanna, kemudian ia kembali mencium bibir Ivanna yang kini tampak lipstiknya yang berantakan.


"Ssshh **** you so tight Ivanna!" Bryan memasukkan miliknya dengan sekali hentakan, Ivanna menjerit kesakitan dengan mulut yang tersumpal kain itu. Bryan memompa miliknya tanpa memperdulikan tangis Ivanna yang tampak deras dari pelupuk matanya.


Bryan sedikit tertawa ketika ia menatap wajah sayu Ivanna dengan air mata yang membuat eyelinernya luntur.


"Hah aku bahkan rela mati detik ini juga Ivanna, aku menyukai milikmu. Akhirnya setelah sekian lama aku bisa memilikimu seutuhnya!" Bryan menatap Ivanna sambil menjilat bibirnya sendiri, sesekali Bryan mendesah.


Cukup lama Bryan mengagahi Ivanna hingga akhirnya ia mencapai puncaknya.


"**** **** **** shhhhhhhh!"


Bryan ambruk di samping tubuh Ivanna, gadis itu masih terisak. Bryan memiringkan tubuhnya dan menatap perut Ivanna dengan nafas yang naik turun, senyum smirk tercipta di wajahnya.


"Segeralah datang di perut Mommy son!" Ivanna menoleh, matanya menatap nyalang kepada Bryan. Bryan melepas dasi yang menyumpal mulut gadis itu.


"KAU BINATANG, AKU SANGAT MEMBENCIMU HINGGA AKU BERHARAP SEMOGA KAU MATI SETELAH INI!"


Bryan terkekeh, ia mengatur nafasnya dan berdiri memakai kembali celananya. Ia menatap tubuh Ivanna dengan pakaian yang terkoyak kemudian melepas sabuk yang mengikat tangan Ivanna, Bryan menggendong Ivanna dan membawanya berendam air hangat di dalam bathup.


Plak!


Sebuat tamparan mendarat di pipi Bryan, Ia menatap datar kearah Ivanna. Gadis itu menatapnya dengan mata yang memerah serta make up yang berantakan.


“Aku membencimu, aku berharap kau mati Bryan. Bahkan jika sampai kau meninggalkan jejakmu di dalam rahimku aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!”


Plak!


Bryan menampar Ivanna, ia meraih rambut gadis itu dan menariknya. Ivanna merasakan sakit akibat tarikan kasar pada rambutnya.


"Kau boleh mengutuk bahkan membunuhku Amore. Tapi kalau kau sampai membunuh bayi yang tak berdosa, akan kupastikan hidupmu menderita. Diamlah disini, semoga air hangat sedikit menghilangkan pikiran buruk diotakmu!" Bryan mencium bibir Ivanna, dan meninggalkan Ivanna yang kini berendam. Ivanna menangis tersedu-sedu.


"Aku benar-benar membencimu!"