Obsessed Stalker

Obsessed Stalker
chapter 40



Pagi itu Ivanna tampak terlihat bersemangat, ia sedang berdiri di depan kaca dan meliuk - liukkan tubuhnya.


"Hmm apa setelah makan kue coklat bisa bikin gemuk dalam semalam?" gumam Ivanna. Ia memakai dress berwarna biru laut dan sandal bulu untuk berjalan-jalan di dalam mansion.


Sesaat setelah ia berada di lantai satu berkali- kali Ivanna menyapa para maid yang melewatinya. Sesekali ia tersenyum menanggapi sapaan mereka. Ia menghabiskan waktu dengan mencoba membuat makanan di dapur, entah kenapa dirinya sangat ingin makan cupcake. Ivanna melihat Irish, salah satu maid yang bertugas di bagian dapur, senyumnya mengembang tak kala melihat maid itu mendekatinya.


"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" ucap Irish yang dibalas rautan sedih dari Ivanna,


"Hey aku bukan pemilik mansion ini, bisakah kau tetap memanggilku dengan namaku? Panggilan itu membuatku sesak.” Irish terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Astaga, bagaimana bisa aku tak memanggil Nyonya ketika Tuan sudah mengumumkan hubungan kalian?" Ivanna mendesah pelan, pria itu benar- benar membuatnya merasa sesak.


"Kalau begitu bisakah kau memanggilku Anna saat sedang bersamaku?" Irish tersenyum lalu mengangguk, toh tak akan jadi masalah bukan jika Anna yang memintannya?


"Tentu Anna, jadi apa yang kau inginkan sehingga kau berada di dapur?" Ivanna tampak menautkan jari - jarinya, ia tersenyum canggung.


"Aku ingin makan cupcake, sepertinya aku merindukan kue buatan bunda." Irish menatap Ivanna kasihan, sejak pertama Ivanna ia memang tak begitu dekat dengan Ivanna. Ia hanya mendengarkan cerita tentang Ivanna dari teman-teman dibagian dapur lainnya. Ivanna seumuran dengan adik laki- lakinya yang kini sedang berjuang untuk hidupnya. Irish sedikit terharu,


"Baiklah, aku akan membuatkannya untukmu.” Ivanna menggeleng, dengan cepat ia menolak Irish.


"Tak perlu Irish, aku ingin membuatnya sendiri."


"Kalau begitu izinkan aku membantumu.” Ivanna mengangguk menerima tawaran Irish untuk membantunya. Irish memberikan Ivanna sebuah apron dan sepasang sarung tangan plastik untuk memasak. Kemudian mereka mempersiapkan bahan- bahan yang akan digunakan mereka untuk membuat cupcake bersama.


Akhirnya mereka berdua sibuk membuat banyak cupcake di dapur. Sesekali mereka tampak tertawa karna cerita masing-masing. Irish sedikit lega karna bisa membuat Ivanna tertawa, ia ingat bagaimana seringnya ia memergoki Ivanna yang menangis dalam kamarnya.


"Lalu setelah itu, teman ku menangis karna malu mengompol di celana." Irish tertawa mendengar cerita Ivanna, ia tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan yang tampak kotor terkena tepung. Ivanna mendesah setelah tertawa, ia melirik Irish sambil tangannya sibuk mengaduk adonan yang sudah ditetesi dengan pewarna itu.


"Ceritakan tentang dirimu Irish, sepertinya sejak tadi kau hanya mendengar ceritaku." Irish tersenyum tipis,


"Tak ada yang menarik dalam ceritaku, tapi kalau kau mau aku akan menceritakannya untukmu.” Ivanna mengangguk, Irish menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya pelan sebelum bercerita.


“Aku memiliki seorang adik laki – laki yang sepertinya seusia denganmu, dia satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini. Kedua orang tuaku bercerai dan mereka meninggalkan aku dan adikku yang saat itu berusia 10 tahun, usiaku saat itu masih 17 tahun. Mereka berpikir bahwa aku sudah cukup dewasa sehingga mereka bisa tenang melepaskanku dan adikku. Kami berdua hidup sederhana di rumah peninggalan almarhumah nenekku. 5 tahun kemudian saat aku pulang bekerja, aku menemukan adikku pingsan di dalam kamar mandi. Aku langsung membawanya ke rumah sakit." Irish tampak tersenyum sambil menatap Ivanna, kemudian ia melanjutkan ceritanya.


"Adikku menderita gagal ginjal, dan setiap minggu ia harus bolak balik sebanyak 3 kali ke rumah sakit hanya untuk cuci darah. Saat itu gajiku hanya cukup untuk bertahan hidup, karna kedua orang tua kami tidak memberikan nafkah mereka untuk kita, mereka memiliki keluarga masing-masing. Aku harus menambah jam kerjaku untuk memastikan adikku dapat cuci darah. Dia adik yang ceria dan tak pernah mengeluh, aku sangat menyayanginya." Irish tampak mengeluarkan air matanya, ia mengusap matanya dengan punggung tangannya.


"Maaf sudah membuatmu menceritakan semuanya Irish, aku merasa bersalah kepadamu." Irish menggeleng dengan hidung dan mata yang tampak memerah dan juga sembab.


"Tak apa Anna, aku senang melihatmu mendengar ceritaku. Dan rasanya aku juga sedikit merasa lega karna berhasil mengeluarkan semua beban yang ada di hatiku." Ivanna melepas sarung tangan plastiknya dan memeluk Irish, ia menepuk pelan punggung gadis itu.


"Aku merasa tersanjung bisa mendengar ceritamu Irish, kau adalah kakak yang paling hebat yang ada di dunia ini. Aku yakin pasti adikmu sangat bangga denganmu." Irish melepas sarung tangannya juga dan membalas pelukan Ivanna.


"Thanks Anna, kau baik sekali."


Mereka melanjutkan mengisi cup kue dengan adonan yang mereka buat, dan memasukkannya kedalam oven.


"Aku menangkap mereka big bro!" Bennedict menepuk bahu Bryan, Bryan mengangguk sambil membuang putung cerutu kemudian menginjaknya. Bryan meludah disamping kirinya.


"Kau yakin mereka semua?" Bryan menunjuk satu persatu dari ketujuh orang yang kini saling terikat di depannya, Bryan berjongkok sambil menatap wajah mereka satu persatu. Senyumnya tersungging ketika mengetahui ia pernah melihat salah satunya.


"Ah aku pernah melihatmu!" Bryan menepuk wajah pria itu, tatapan membunuh yang ditunjukkan Bryan membuat lawannya tampak ketakutan. Bryan meninju ulu hati pria itu hingga membuatnya terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Ughh hoekk!" mereka menatap terkejut dengan apa yang dilakukan Bryan pada salah satu diantara mereka.


"K-kau brengsek!" ucap pria itu dengan mulut yang berdarah. Bryan terkekeh.


"Bagaimana pelarianmu huh? Sepertinya tuanmu begitu senang ketika melihatmu bisa kembali selamat diantara orang-orang yang mati saat itu? Betapa penakutnya kau Miller!" pria yang dipanggil Miller itu meludah, lalu tersenyum smirk menatap nyalang kearah Bryan.


"Menarik Bryan, pelarianku begitu menarik hahaha bahkan dalam kesempatan kali ini aku bisa bertatapan langsung dengan bocah tengik sepertimu." Bryan menatap datar, lalu kembali meninjunya berkali-kali hingga Miller lagi-lagi batuk mengeluarkan darah.


"Uhukk uhukkk, blahhh. **** Benvolio!" umpat Miller, secara tak sengaja ceceran darah mengenai Bryan. Ia melirik darah di tangannya, meraih sebuah saputangan di saku jas Miller dan mengelap bekas darah di tangannya. Lalu membuang sapu tangan itu ke sisi kirinya.


"Ben?"


"Ya bro, what's up?"


"Berapa harga organ dalam manusia saat ini?" pertanyaan Bryan membuat mereka semua melotot. Senyum smirknya mengembang,


"Kau bisa menjualnya di darkweb dengan harga mahal bro!" Bryan mengangguk, ia mengeluarkan sebuah senjata api dan juga pisau dari saku kiri dan kanannya. Bryan mengarahkan senjata api itu ke kepala mereka satu persatu, Bryan meletakkan jari telunjuknya di pelatuknya, ia tersenyum sinis.


"Dor!" ucap Bryan yang membuat sekumpulan yang sedang diikat itu terkejut. Bryan tertawa lepas ketika melihat mimik wajah pucat nan ketakutan dari mereka.


"Seharusnya kau tahu apa balasan yang pantas untuk penghianat dan penyusup seperti kalian. Bahkan kalau kalian bisa selamat, kalian akan mati sebelum sampai pada tujuanmu. Kalian tahu bukan?"


Mereka semua terdiam menatap nyalang kepada Bryan, ia mendesah kasar lalu menusukkan pisau itu tepat di jantung pria yang ada di depannya. Tampak semuanya terkejut dan meronta, berusaha untuk melepaskan diri mereka masing-masing.


Darah menyiprat kemana-mana, tak butuh waktu lama untuk darah itu berubah menjadi genangan besar berwarna merah. Pria di depannya menjerit kesakitan,


"ARGHHHHH UGHHH!"


Crak crak crak


"Kau masih hidup huh? Menarik!" Bryan menarik dan menusukkan kembali pisaunya, melakukan gerakan itu berkali-kali sambil tersenyum smirk. Tawanya dan juga pekik kesakitan yang menggema membuat situasi berubah mencekam.


Bryan menusukkan lagi pisau itu, memastikan pucuk mata pisaunya benar-benar menancap di bagian dalam dari tubuh pria itu. Tak lama kemudian akhirnya Miller benar-benar tewas. Bryan menarik pisaunya, membersihkan pisau itu dengan cara menggesekkan setiap sisinya di pakaian Miller.


Ia berdiri dan menatap tajam ke enam pria yang terikat di depannya,


"Siapa selanjutnya?" ucap Bryan membuat atmosphere di sekitarnya menjadi hening.