
Ivanna sudah bekerja di mansion tersebut selama kurang lebih 5 hari. Pekerjaanya tak terlalu berat sebab para maid melakukan pekerjaan bersama-sama. Tempat tinggal di paviliun belakang juga nyaman, para maid yang baik membuat Ivanna betah bekerja di sini. Hanya satu yang membuatnya sedikit risih, baju maid yang dipakai Ivanna tampak begitu ketat dan juga pendek. dan
Malam ini Ivanna bertugas mengontrol pintu dan jendela mansion. Ia membawa kuncinya dan berjalan mengelilingi mansion.
Kring kring kring
Bunyi kunci yang bergemerincing menemani Ivanna dari sunyinya malam ini. Tak lupa suara denting jam jang berbunyi sebanyak sebelas kali, tanda jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Jendela dan pintu belakang sudah terkunci, sekarang giliran pintu depan." Ucapnya sambil berjalan menuju ruang depan. Ivanna terkejut ketika seseorang tampak masuk dari pintu depan, ruangan yang gelap membuat Ivanna sulit mengenali siapa orang itu.
"Astaga? Apakah ada pencuri masuk? Tapi bukankah pak satpam selalu berjaga di depan?" Siluet orang itu berjalan menuju ke arahnya. Ivanna mundur hingga menyenggol sebuah gucci besar.
Prang!!
'Ah gawat' batin Ivanna ketakutan.
Lucian masuk kedalam mansion ketika mendengar sebuah benda pecah dari dalam, ia memanggil nama Bryan dan menghidupkan saklar lampu. Saat lampu dihidupkan Bryan dan Lucian menatap kearah asal suara itu, seorang maid nampak menunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"What the ****! Apakah kamu tahu berapa harga gucci itu? Sialan!" Umpat Bryan, Ivanna yang ketakutan berlari mendekati Bryan dan menunduk.
"M-maafkan aku t-tuan!" Ivanna masih menundukkan kepalanya. Lucian membisikkan sesuatu di telinga Bryan ketika menyadari siapa maid tersebut. Senyum smirk tergambar jelas di wajahnya. Ia menyuruh Lucian untuk pergi.
"Kau! Perlihatkan wajahmu!"
Ivanna mendongakkan wajahnya, pandangan mata mereka bertemu.
"Kita bertemu lagi, Ivanna!" Ucap Bryan melembut sambil menunjukkan senyum smirk andalannya, Ivanna semakin ketakutan.
"Apa? Ternyata mansion ini milik si maniak? Habislah aku!" Batin Ivanna sambil menggigit bibir bawahnya.
Bryan berjongkok, mensejajarkan badannya dengan Ivanna yang tengah bersimpuh. Ia menyentuh lembut bibir Ivanna.
"Mengapa kau mengigit bibirmu? Kau ingin menggodaku, hmm?"
"T-tidak tuan." Bryan tersenyum, senang sekali rasanya menggoda gadisnya. Bryan menepuk pipi Ivanna, pelan namun ia melakukan berulang kali hingga Ivanna sedikit mulai merasa kesakitan.
"Shhhh!" Rintih Ivanna, Bryan bangkit.
"Berdirilah. Karna aku sudah kembali dari pekerjaanku, mulai sekarang kau menjadi maid pribadiku." Ivanna memilih untuk berdiri, sadar karna dirinya disini bekerja langsung dibawah Bryan. Ia menatap lekat pria didepannya yang sedang berbicara dengan Lucian. Seorang maid lainnya datang dan membersihkan kekacauan yang di buat Ivanna. Setelah selesai berbicara dengan Lucian, Bryan menyodorkan kopernya kepada Ivanna.
"Bawa ke kamarku!" Ivanna mengangguk, lalu menyeret koper itu naik melalui tangga sedangkan Bryan naik menggunakan lift. Dalam tugas seorang maid, tidak diperbolehkan untuk naik menggunakan lift. Dengan nafas yang tak teratur akhirnya Ivanna sampai di lantai 3.
Ia berjalan menuju lorong yang terdapat 2 pintu disana, satu pintu yang menuju ruang kerja Bryan, dan satu lagi pintu kamar utama.
Ceklek
Pintu terbuka, menampilkan Bryan yang sedang bertelanjang dada menghadap kaca besar di samping tempat tidurnya. Ivanna yang melihat refleks menundukkan kepalanya.
"Astaga, maafkan saya tuan." Bryan melirik sekilas, sebelum akhirnya memilih untuk fokus dengan apa yang dilakukannya sekarang. Ivanna dengan menunduk berjalan menuju walk in closet dan menata pakaian yang sebelumnya tersusun di dalam koper. Bryan masuk kedalam kamar mandi, Ivanna yang mendengar pintu ditutup melirik keluar walk in closet.
"Sepertinya dia sedang mandi, aku harus segera keluar dari sini!" Ivanna berlari keluar kamar Bryan, bersandar dari balik pintu untuk menetralkan degup jantungnya.
"Astaga sungguh pria yang tak tahu malu!" Ucap Ivanna menutup kedua matanya, ia melirik jam besar di yang berada tak jauh di dekat tangga. Jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih sedikit, ia harus bergegas kembali ke paviliun untuk beristirahat.
Bryan sedang berendam di dalam bathup air hangatnya, rasanya pulang setelah bekerja nonstop selama 5 hari membuat badannya kelelahan. Dan berendam di air hangat sedikit membuat badannya lebih baik. Ia terdiam, lalu senyumnya menggembang saat ia memikirkan Ivanna, sekarang ia hanya perlu membuat Ivanna tetap disisinya.
"Hahahaha akhirnya, sekarang tinggal aku memastikan dia tak akan pergi dari sisiku.
"Sayang sekali ia masih waktunya aku milikinya, sial" hanya memikirkannya membuatku tegang.
Setelah ia merasakan lebih baik di bagian bawah sana, Bryan memakai bathrobe dan berjalan Keluar dari kamar mandi.
Ceklek!
Begitu keluar kamar, matanya menatap sekeliling kamarnya. Kosong. Ivanna pergi setelah ia masuk kedalam kamar mandi. Bryan memilih mengistirahatkan kepalanya dengan tidur dalam keadaan hanya memakai bathrobe.
Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, seluruh maid sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Ivanna, saat ini ia sedang berdiri di depan pintu kamar Bryan.
“Aku hanya perlu membuka gordyn dan membangunkannya kan? Dia tak akan melakukan hal yang menyebalkan bukan?" Ucap Ivanna sambil menautkan kedua tangannya menjadi satu di dadanya. Seorang maid yang berusia 3 tahun lebih tua darinya datang mendekati Ivanna.
"Anna? Kau sedang apa?" Ucap Maid itu, Ivanna yang pikirannya tengah kacau terkejut karna tak mendengar langkah kaki orang lain yang mendekatinya.
"Astaga Lusy, kau mengejutkanku!" Ivanna menormalkan kembali detak jantungnya.
"Hahaha maaaf kau melamun? Tugas baru pertamamu dimulai kan? Semangat! Oh iya sepertinya kau harus segera masuk deh, Tuan tak suka bangun terlambat. Aku pergi dulu byee!." Lucy pergi menuruni tangga. Ivanna menepuk pelan kedua pipinya.
"Semangat Ivanna, pekerjaanmu yang sebenarnya baru dimulai!" Ivanna mengetuk pelan kedua pintunya.
Tok tok tok!
"Tuan, ini saya pelayan pribadi Anda. Saya izin untuk masuk!"
Ceklek!
Ivanna membuka pintu itu, ruangan Bryan begitu gelap. Hanya ada sebuah lampu kecil yang dibiarkan menyala di atas nakas. Ivanna mendekati jendela besar itu dan membuka gordynnya. Perlahan lahan sinar matahari menerangi kamar Bryan. Ivanna menoleh menatap pria yang sedang asyik tertidur diatas kasurnya, matanya membola takkala ia menatap dada bidang pria tersebut.
"Ahh!" Ivanna menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia mendekati Bryan, dan memilih mengalihkan pandangannya ke segala arah sambil tangannya terulur membangunkan Bryan.
“T-tuan?”
Bryan yang sebenarnya sudah bangun sejak Ivanna mengetuk pintunya hanya menatap Ivanna tanpa mau bangkit dari tempat tidurnya. Ia terkekeh ketika melihat Ivanna nampak kebingungan karna ia tak kunjung bangun.
"Astaga aku harus bagaimana?" Ivanna mengigit bibir bawahnya. Bryan menatap bibir Ivanna, sial! Gadis itu sudah menggodanya di pagi hari. Bryan bangkit tanpa suara dan mendekati Ivanna.
"Hey!" Ucap Bryan sambil menjepit dagu Ivanna dengan tangannya. Ivanna mengikuti arah tangan Bryan. Kini mereka berdua bertatapan.
"Jangan pernah kau mengigit bibirmu sembarangan. Kau benar benar sangat berbahaya gadis kecil!" Ivanna menelan air liurnya, apa apaan pria ini? Kenapa tiba tiba suaranya berubah.
"Hahh sial!" Ucap Bryan sambil menyambar bibir Ivanna, ia menggigit bibir bawah Ivanna hingga Ivanna yang kesakitan reflek membuka sedikit bibirnya. Memberikan akses bagi Bryan untuk menjelajahi bagian dalam rongga mulutnya. Jangan lupakan lidah pria itu yang tampak mahir mengabsen setiap isi mulut Ivanna. Ivanna mengigit lidah Bryan hingga sang empunya melepas ciumannya.
"**** Ivanna!"
Ivanna terkejut, ia menyentuh bibir bawahnya. Pipinya memerah. Bryan tersenyum smirk sambil mendekati gadisnya. Ia sedikit menunduk membisikkan sesuatu di telinga kecil Ivanna,
"Well, aku menyukai hidangan pembukanya, Amore!" Suara serak Bryan membuat tubuh gadis itu merinding, Bryan menepuk pantat Ivanna lalu berlalu masuk kedalam kamar mandi. Setelah pria itu menutup pintu kamar mandi, perlahan lahan badan Ivanna merosot.
"maniak!" Maki Ivanna sambil menutup kedua wajahnya yang memanas.
Bryan keluar dari kamar mandinya, ia menatap Ivanna yang masih bersliweran di dalam kamarnya. Kaki jenjang yang berlari kesana kemari dengan pakaian maid itu menambah kesan menggoda bagi Bryan. Ia mengigit ibu jarinya.
"Tuan, pakaian Anda hari ini sudah saya siapkan." Ucap Ivanna membuyarkan lamunan Bryan yang sedang berimajinasi. Bryan berdecih lalu mendekati Ivanna.
"Pakaikan pakaianku!"
"H-hah?"
"Kau tak tuli bukan? Pakaikan pakaianku!"